
“Enggak ada kebahagiaan yang datang secara instan. Semuanya selalu berproses dan butuh perjuangan. Kamu saja bisa seperti sekarang, karena kamu mau berjuang, kan?”
Episode 73 : Sahur Pertama
Di ruangan yang sebelumnya menjadi pertemuan awalnya dengan Raden, Mey dan Burhan, Fina bersiap menunaikan sahur pertamanya dengan Rafael. Sahur pertama yang juga membuat Fina tidak menjalaninya bersama keluarganya.
Biasanya, Fina dan ibunya akan bangun lebih awal untuk masak. Dan andaipun Rina dan Raswin akan bangun bersama mereka, keduanya pasti memilih untuk bersantai. Rina yang akan sibuk makan sisa takjil, juga Raswin yang akan menghabiskan waktu tunggunya untuk meminum segelas teh atau pun kopi.
Barulah, ketika semuanya siap, mereka makan bersama dan Rina selalu ditunjuk untuk memimpin doa. Namun kini, hanya sahur berdua dengan Rafael, rasanya benar-benar ada yang kurang.
“Ternyata, begini, ya, suka-dukanya enggak bareng orang tua? Ya ampun, ... rasanya benar-benar ada yang kurang. Padahal, Rafael sudah enggak kurang-kurang dan kasih semua perhatiannya ke aku,” batin Fina.
“Makan yang banyak, biar kuat,” ucap Rafael yang sengaja memenuhi sebagian piring Fina yang terbilang lebar, deng nasi.
“Rafael, ... aku bukan raksasa ih ... masa iya, aku makan sebanyak itu? Secukupnya saja,” tegur Fina dengan suara lirih.
Fina segera mengambil alih centong nasinya dari tangan Rafael. Ia menuang kembali sebagian nasinya ke wadah nasi.
“Seharian enggak makan dan enggak minum juga, lho ... kalau kamu pingsan bagaimana?” ujar Rafael tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
“Ya enggak sampai pingsan, kali Raf ... kesannya drama banget?” balas Fina yang kemudian mencentongkan sedikit nasi ke piring Rafael.
“Stop, Fin ... lima biji saja nasinya,” tegur Rafael yang sampai menahan kedua tangan Fina.
“Masa iya, lima biji?” keluh Fina yang juga menatap cemas Rafael.
“Iya. Lima biji saja. Geli. Kalau aku makan nasi rasanya geli, maksudnya ...,” jelas Rafael.
“Cuma makan kentang panggang sama steak? Sampai pukul delapan pagi saja bisa langsung keroncongan lagi perutmu,” ujar Fina.
“Iya, aku juga bingung,” ujar Rafael yang mulai meraih garpu dan pisaunya.
Rafael segera memotong-motong steak miliknya sabil sesekali memakannya setrlah sampai memolesinya dengan bumbu. Tak lupa, Rafael juga menyuapkan potongan steak-nya.
Fina juga mulai memakan makanannya. Masakan khas Padang dengan berbagai lauk-pauk.
“Aku suka ini. Ini enak banget, Raf! Ini nasi Padang, ya? Bantes, banyak orang luar negeri yang klepek-klepek sama nasi Padang!” puji Fina yang sampai menuangkan kuah santan berikut sambal hijau ke nasi putihnya.
Rafael menertawakan Fina. Beruntung, di sana mereka hanya berdua, sedangkan pelayan berikut koki, terjaga di belakang sana.
“Ini sangat enak, Raf ... bahkan steak-mu lewat!” ujar Fina yang bahkan sampai meletakkan sendoknya di sisi piring.
Fina memilih untuk makan menggunakan tangan. Tak tanggung-tanggung, wanita itu menggunakan kedua tangannya untuk makan dan menyuir-nyuir ayam bakarnya.
“Tapi kalau dilihat-lihat, di tempatmu, nasi itu nomor satu, ya, Fin?” ujar Rafael.
Fina langsung membenarkan anggapa Rafael sambil mengangguk. “Ya iya, ... nasi ya nomor satu buat orang-orang di tempatku. Ennggak ada nasi ya enggak ada tenaga,” ucap Fina yang hendak menyuapkan nasi padang racikannya kepada Rafael, tetapi suaminya itu langsung menghindar sambil menggeleng.
“Aku mohon, jangan pakai nasi dulu. Geli. Takutnya keluar semua yang sudah aku makan,” pinta Rafael.
Jadi sebagai gantinya, Fina menyuapkan ayam bakar berikut sambal dan lalapan kepada Rafael. Dan Rafael langsung menerima suapan dari Fina yang memang duduk di kursi tepat di sebelahnya.
“Kalau memang kamu enggak kuat, jangan dipaksa puasa sehari. Puasa setengah hari saja,” ucap Fina sambil menghabiskan sisa makanan di piringnya. Karena setelah itu, beberapa potongan buah lengkap dengan segelas susu sudah menunggu untuk dihabiskan juga.
__ADS_1
“Tapi ya malu, ... masa iya, puasa setengah hari?” balas Rafael sambil mengambil sepotong ayam bakar dan kemudian menyocolnya dengan aneka sambal, yang tersedia di mangkuk kecil di hadapannya.
“Semuanya sih kembali ke niat ... kalau sudah niat, pasti semuanya bisa,” ucap Fina.
“Wah ... kami meragukan niatku?” ujar Rafael terkejut dan menatap sang istri tidak percaya.
“Ih! Bukan begitu ih maksudku. Tapi Raf ... ada hal yang sebenarnya ingin aku katakan,” balas Fina dan sengaja mengalihkan perbincangan mereka sebelum terlalu jauh.
“Kayaknya serius ini?” ujar Rafael yang sampai memelankan kunyahannya.
Rafael menatap serius sekaligus waswas Fina. “Kamu istriku. Masa istriku sampai punya masalah apalagi tanggungan berat?” ucap Rafael kemudian.
Fina menjadi tersipu. “Ini tentang Ipul ... memangnya, ada yang lebih berat dari Ipul dalam hidupku?” ujarnya.
“Tuh orang memang harusnya dikirim ke akherat,” gumam Rafael yang menjadi cukup berpikir keras.
Bagi Rafael, menghadapi Ipul yang tergolong kurang waras, memang bukan perkara mudah. “Ada enggak, wanita yang Ipul suka selain kamu? Kalau dari penganatanku sih, harusnya Ipul suka sama wanita lain dulu, baru dia bakalan bisa lupain kamu.”
Fina menggeleng tidak yakin. “Aku enggak yakin.”
Rafael sampai melipat kedua bibirnya seiring dahinya yang menjadi dihiasi kerutan tipis. Fina yakin, suaminya itu sedang mencoba mencari solusi terbaik.
“Gimana, ya?” lirih Rafael masih mencari-cari cara.
“Tadi tuh, sebelum aku bangunin kamu, aku kebangun gara-gara ponsel bunyi. Dan kamu tahu kenapa ponselku bunyi?” Fina menceritakan semuanya. Semua yang Ipul katakan dan sempat ia tonton, di siaran yang pria itu lakukan. Juga, perihal alasannya masih berteman dengan Ipul di Instagram.
“Aku takut kalau keluargamu sampai tahu. Atau, ... Ipul yang nekat cerita macam-macam ke keluargamu,” ucap Fina.
“Harusnya dia enggak bisa bertemu keluargaku,” balas Rafael.
“Aku pasti bahas ini ke orang tuaku, kok. Jangan khawatir,” balas Rafael meyakinkan. Tak lupa, ia juga sambil menatap serius Fina.
Fina mengangguk mengerti. “Baiklah, kita lanjutkan sahurnya.”
Rafael hanya berdeham sambil menghabiskan ayam bakarnya.
“Makan yang banyak, Raf ... dan kalau memang besok enggak kuat, kamu jangan maksain diri, ya. Enggak apa-apa, kok. Belajar pelan-pelan,” ujar Fina.
“Ngejar kamu sampai ke pelosok nusantara saja, aku bisa. Kenapa puasa yang sudah jadi kewajibanku saja, aku enggak bisa?” balas Rafael dengan entengnya.
Fina tersipi bahkan tertawa lepas. “Gila ih kamu. Tukang gombal!”
Rafael juga menertawakan ulahnya. “Tapi senang, kan, digombalin?” balasnya sengaja menggoda.
Di antara tawa yang masih tersisa, Fina berangsur mengangguk. “Ya iya, kalau kamu yang rayu-rayu. Kalau yang lain, langsung aku kibas!”
“Kamu enggak usah capek-capek. Biar aku saja yang urus semuanya,” ujar Rafael.
Fina menunduk sambil mengangguk, meski rasa haru yang memenuhi dadanya juga sampai membuatnya bersedih.
Tangan kiri Rafael yang tidak memegang ayam goreng, berangsut merangkul punggung Fina, sambil sesekali menepuknya pelan. “Nyesel, kan, enggak nikah sama aku dari dulu?” godanya.
“Iih ... Rafael!”
__ADS_1
“Iih ... senengnya! Hahaha!”
Ketika Fina dan Rafael menjalani sahur pertama mereka penuh keromantisan, tidak dengan Keandra yang menjadi semakin tertekan. Keandra tak hanya kesepian, ... melainkan benar-benar ingin menyerah.
Dulu, ... bahkan meski harus menjalani latihan menyanyi, dance, juga seabreg latihan untuk menjadi seorang idola, Keandra bisa-bisa saja menjalani puasa dengan mudah.
Karena berkat dukunga Sunny meski mereka dipisahkan jarak dalam waktu lima tahun, semua perjuangan berikut rasa sakit di dalamnya, selalu bisa Keandra lalui dengan sangat mudah. Namun kini, Keandra yang bahkan masih terjaga duduk di tengah-tengah kasur, benar-benar ingin menyerah. Karena nyatanya, hidup tanpa Sunny apalagi merelakan wanita itu dimiliki pria lain, bukanlah berkara mudah.
“Kak Kean ... kami sangat menyayangi Kakak.”
“Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Kakak!”
“Dan sebagai fans, ... kami selalu ingin Kakak mendapatkan yang terbaik!”
“Kami akan selalu mendukung Kakak!”
Kata-kata itu terucap dari Rina, siang tadi, Keandra mendapatkannya. Keandra sendiri tidak menyangka, masih ada yang tetap bisa mengenalinya, meski ia sudah melakukan penyamaran.
Terlepas dari kata-kata barusan, masih ada kata-kata yang cukup membuat hati seorang Keandra terenyuh perihal Rina--fans yang bahkan belum ia ketahui walau sekadar nama.
“Seberapa pun sulit, ... seberapa pun Kakak ingin menyerah, ... tolong, tetaplah berjuang bersama kami. Kami menyayangimu, dan ingin bersamamu hingga akhir.”
“Jadilah Keandra yang baik. Yang selalu berjuang, menjadi teladan baik untuk kami!”
Namun dari semua kata-kata Rina yang tak beda dengan penyemangat bahkan vitamin, ada dua pernyataan gadis itu yang sangat menampar Keandra.
“Minta maaflah secara khusus kepada Sunny dan keluarganya. Kakak salah, dan tak mungkin juga, Kakak selalu menghindari kenyataan?”
“Kamu tahu, Kak? Berjuang mendapatkan pasangan orang, ibarat kita nekat memeluk beton panas. Kita akan terluka dan luka itu akan meninggalkan bekas yang sangat kentara!”
Mengingat semua itu, Keandra menjadi semakin bersedih. Keandra merasa jika semua yang ia perjuangkan selama ini hanya sia-sia.
“Namun, ... mau sampai kapan kamu begini, Kean? Memangnya, diam seperti ini bisa membuat semua masalahmu teratasi? Memangnya, mengasingkan diri seperti ini bisa membuat Sunny kembali?” batin Keandra yang menasehati dirinya sendiri.
“Enggak ada kebahagiaan yang datang secara instan. Semuanya selalu berproses dan butuh perjuangan. Kamu saja bisa seperti sekarang, karena kamu mau berjuang, kan?” batin Keandra lagi.
Keandra, benar-benar ingin bangkit. “Bangun dan sahur, Kean!” gumam Keandra yang kali ini sampai memarahi dirinua sendiri.
***
Di rumah Rafael, Rina juga begitu bersemangat menyantap menu sahurnya. Bersama Raswin dan Murni, meski sahur kali ini merupakan sahur pertama mereka tanpa Fina, tetapi mereka tetap bahagia lantaran sekarang, Fina juga sangat bahagia. Bersama Rafael dan menjadi istri pria itu, mereka yakin Fina akan selalu baik-baik saja.
“Kalau sudah rada siang, aku mau WA mbak Fina ah ... mau minta bantuan mas Rafael buat ketemu Keandra!” batin Rina yang sampao senyum-senyum sendiri dan membuat Raswin berikut Murni yang melihatnya jadi bingung sendiri.
Raswin dan Murni saling berkode mata, sebelum akhirnya kembali menggeleng dan melanjutkan menyantap menu sahur mereka.
Bersambung ....
Hallo, selamat sahur.
Author masih berjuang demi menaikkan level novel ini. Karena kalau tidak naik juga, sama sekali enggak akan dapat penghasilan 😂😂😂
Dan kemarin, di saat Author drop gara-gara level cerita turun, ada komentar yang bilang Author jelek-jelekin agama lain di bab : Harus Menikah. Tambah drop lah pikiran Author.
__ADS_1
Kenapa tambah drop? Karena ada yang bilang, setiap komentar di sini juga terpantau editor. Jadi, tolong kasih komentar yang positif saja, ya. Kalau mau kritik, chat pribadi saja. Sesibuk apa pun, pasti Author balas kok 🙏 Bahkan kemarin ada pembaca yang bela-belain sapa Author ke WA. Makasih lho, yaa💓
Ya sudah, terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa ♥️