
“Jika aku tidak ada dalam hidupmu, apa yang akan kamu lakukan untuk menyelesaikan semuanya? Menghapus luka dan mengangkat martabat, bukan perkara yang mudah, kan?”
Episode 46 : Menghapus Luka Dan Mengangkat Martabat
Tak hanya berkat kenduri yang menjadi pokok dari acara syukuran pernikahan, syukuran keselamatan Raswin sekeluarga, beserta syukuran Fina sekeluarga yang akan pindah ke Jakarta, karena beras satu karung berisi dua puluh lima kilo gram, satu dus mi instan, dua kilo gram telur, lengkap dengan kecap dan saus botol, juga diberikan pada setiap kepala keluarga yang datang ke acara syukuran di rumah Fina.
Sebuah mobil truk yang mengangkut semua sembako baru saja meninggalkan pelataran rumah Fina. Sedangkan di teras rumah Fina yang tidak begitu luas, karungan beras tertumpuk rapi memenuhi di sana. Dan dus-dus mi instan yang jumlahnya ada seratus, juga memenuhi ruang tamu. Belum telur berikut kecap dan saus yang tertumpuk di sebelahnya. Rina dan Murni yang baru keluar dari di dalam rumah, menatap gila kenyataan itu.
Sembako dalam jumlah yang terbilang fantastis itu memang sengaja Rafael siapkan. Tak sekadar bagian dari syukuran atau selamatan, melainkan bagian dari bukti, bahwa hubungan Fina dan Rafael memang ada. Agar Fina sekeluarga tidak terus-menerus dipandang sebelah mata apalagi sampai kembali direndahkan.
Rina dan Murni sampai geleng-geleng melihat semua itu.
“Mas Rafael beneran, ya, Bu? Enggak tanggung-tanggung kalau mau melakukan sesuatu?” lirih Rina.
Murni yang sampai mengelus dadanya menggunakan kedua tangan, saking tidak percayanya dengan keputusan sang menantu, berangsur mengangguk. “Mas Rafael pasti telanjur marah sama orang-orang sini, makanya dia sampai bagiin sembako ini cuma-cuma.”
Di depan sana, tampak Fina dan Rafael yang masih berunding. Keduanya saling berhadapan, sedangkan Otoy dan Didin tak hentinya terjaga di sekitar keduanya dengan jarak sekitar tiga meter.
“Di sini enggak ada seratus kepala keluarga, lho. Kan tadi aku juga sudah kasih data jumlahnya?” ucap Fina yang masih saja berkeringat kendati rambut sepunggungnya sudah ia cepol tinggi.
“Fin, derajat seseorang akan lebih dipandang ketika kita juga memberikan pembuktian. Satu lagi, kalau mau kasih, enggak usah tanggung-tanggung. Nanti pasti bakalan bikin rezeki tambah ngalir.” Rafael meyakinkan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengamati suasana sekitar.
Rumah Fina berada di desa yang tidak begitu asri lantaran panas di sana nyaris mengalahkan panas di Jakarta. Sedangkan untuk airnya, baik PAM dan irigasi disana belum berjalan dengan baik. Sampai-sampai, warga sekitar masih banyak yang memanfaatkan sumur, atau malah kolam dan empang-empang di sekitar rumah yang kerap warga sebut blumbang.
Dengan kedua tangan yang kembali tersimpan di sisi saku celana semenjak kepergian truk pengangkut sembako, karena tadi, Rafael juga ikut mengangkat sembako meski sebatas dus mi instan berikut telur, pria itu berkata, “pantesan kamu hitam. Suasana di sini saja begini amat.”
Fina refleks mengerutkan dahi berikut bibirnya sebelum pandangannya menatap serius wajah Rafael. Pria itu tidak begitu serius, ada sedikit senyum jail yang menarik kedua sudut bibir berisinya.
“Kalau kamu di sini agak lama, seminggu, saja. Pasti kamu juga bakalan lebih hitam dari aku bahkan orang-orang sini. Tuh, lihat, ... wajah kamu saja sudah belang,” cibir Fina.
Sepanjang Fina membalas, Rafael justru menjadi senyum-senyum sendiri. Senyum yang membuat pria itu terlihat semakin jail di tengah kenyataannya yang sama sekali tidak menatap Fina bahkan sekadar melirik. Sebab Rafael begitu sibuk mengamati sekitar atau malah sengaja menyibukkan diri?
“Enggak apa-apa kalau aku hitam. Toh, dari dulu cita-citaku juga pengen punya kulit hitam,” balas Rafael dengan santainya.
“Nggilani kamu, Raf. Ngejeknya dalem banget!” balas Fina yang langsung bergidik ngeri.
Fina bergegas meninggalkan Rafael, andai saja, Rafael tidak tiba-tiba menahan sebelah tangannya.
“Apa lagi?” keluh Fina yang sampai menoleh dan membuatnya menatap Rafael.
Fina mendapati raut wajah Rafael yang seolah sedang menahan geli bahkan takut. Pria itu menatap ke depan bawa. Dan ketika Fina memastikan apa yang mencuri perhatian suaminya, ternyata ada sekor kadal yang merayap mendekat.
“Nih orang takut sama kadal? Hahaha!” batin Fina yang menjadi sibuk menahan tawa. Dan demi menjaili sekaligus membalas sang suami, Fina justru mendorong pria itu sekuat tenaga.
“Fi-fina, geli!” jerit Rafael detik itu juga dan langsung kembali menahan sebelah tangan Fina yang nyaris kabur.
__ADS_1
Rafael memutuskan masuk ke dalam rumah demi menghindari kadal yang membuatnya geli sekaligus ngeri. Tak lupa, agar benar-benar terhindar, ia juga sampai menutup pintu, di tengah kenyataannya yang masih ketakutan. Dan di luar sana, Otoy maupun Didin masih sibuk menahan tawa. Tawa yang pecah dengan sendirinya karena ketakutan bos mereka kepada kadal.
“Sama kadal saja takut?” ujar Fina lirih sambil menatap tak habis pikir Rafael.
Rafael kembali bergidik ngeri dan buru-buru membalikkan tubuh Fina agar membelakanginya. Ia menuntun wanitanya itu untuk duduk di salah satu sofa yang ada di sana, sebelum akhirnya, ia juga duduk di sofa yang berbeda.
Ketika Rafael tampak meredam ketakutannya sambil menghela napas pelan dan sesekali melirik Fina yang masih sibuk senyum-senyum, terlepas dari Fina yang tak hentinya menepis tatapan Rafael, dari luar justru terdengar tangis meraung-raung dan sangat kencang.
Tangis yang dibarengi dengan suara motor itu sukses mengusik kebersamaan Rafael dan Fina bahkan semua orang. Tanpa terkecuali mereka yang sedang rewang atau bantu-bantu masak di dapur Fina.
Funa dan Rafael kompak beranjak dan keduanya memastikannya melalui jendela sebelah pintu yang awalnya Fina belakangi. Keduanya yang berdiri di depan jendela, refleks tertawa kecil, tatkala mendapati Ipul sebagai pelaku onar dari tangis meraung-raung.
“Ya ampun, Pul ... Pul ... kirain beneran ada kematian, kamu sampai nangis-nangis begitu kayak kucing mandung yang mau kawin saja!”
“Bikin geger saja, kamu ini!”
“Iya, ... jangan asal nangis-nangis begitu, kenapa? Di sini tuh sudah banyak yang tua. Hati kami tuh jadi nyes trataban! Ini jantung sampai dagdigdug kayak mau copot!”
Ipul yang sampai menghentikan motor yang ranjangnya masih membonceng ranjang kambing, di pelataran depan rumah Fina, langsung menjadi bulan-bulanan ibu-ibu yang awalnya sedang bantu-bantu masak untuk syukuran di rumah Fina.
“Pul ... Pul, kapan kamu sembuhnya? Kasihan kamu. Lihat, tuh, ... Fina beneran nikah sama orang kaya. Kaya banget malahan. Nih, beras berkarung-karung bakalan dibagikan ke setiap yang datang ke syukuran nanti. Hayo, kamu mau apa lagi?”
“Iya, kamu mau apa lagi? Semua berita yang kamu sebarkan selama ini, bohong, kan?”
“Iya! Bahkan kamu juga sempat bilang, Fina wanita enggak benar dan sudah hamil anak kamu! Huh dasar enggak jelas, kamu Pul!”
“Pantes saja kamu sampai dipenjara. Orang kamu saja begitu, ya suami Fina enggak terima!”
“Ya sudah, yuk, ibu-ibu, kita lanjut masak biar cepat beres.”
Ketika ibu-ibu yang menghakimi Ipul sambil menunjuk-nunjuk wajah Ipul dengan pisau, centong, juga spatula yang mereka pegang, berangsur bubar, kembali ke belakang rumah Fina, lewat pintu samping, yang membuat Otoy dan Didin penasaran, bukan Ipul yang refleks diam. Melainkan kambing di dalam ranjang yang terus saja terpejam tetapi juga sampai bergelepot darah.
Namun demi mencari aman, Otoy dan Didin yang sampai menekap hidung berikut mulut dengan sangat erat, memilih ikut menyusul ibu-ibu tadi. Sebab mereka takut, Ipul yang *** hanya rese melainian gila, tiba-tiba mengamuk kepada mereka.
Semua penghakiman terhadap Ipul, turut membuat Fina dan Rafel menjadi bersedih. Bahkan Fina yang kembali merasa sangat sakit karena teringat semua luka di masa lalunya, sampai berlinang air mata.
“Jika aku tidak ada dalam hidupmu, apa yang akan kamu lakukan untuk menyelesaikan semuanya? Menghapus luka dan mengangkat martabat, bukan perkara yang mudah, kan?” ucap Rafael tanpa menatap Fina yang berdiri persis di hadapannya. Namun Rafael sadar, wanita itu sudah sampai berlinang air mata.
Pertanyaan Rafael membuat sakit yang Fina rasakan menjadi berkali-lipat. Fina sampai merasa sangat sesak, bahkan ia juga menjadi sesengggukan. Dan tanpa menjawab, Fina berangsur balik badan, membuatnya menghadap Rafael.
Sambil terisak-isak, Fina berangsur merapatkan tubuhnya pada tubuh bidang di hadapannya. Ia mendekap tubuh itu sangat erat tanpa bisa berkata-kata. Hanya Tuhan yang tahu, betapa Fina begitu berterima kasih kepada Rafael. Betapa Fina merasa sangat berhutang budi kepada pria itu. Bahkan karenanya, ... Fina sampai tidak tahu, bagaimana caranya membalas semua kebaikan Rafael yang telah berusaha menghapus luka berikut mengangkat martabat Fina sekeluarga.
“Dipeluk Fina tiba-tiba seperti ini, kok aku jadi sangat tegang, ya?” batin Rafael sambil balas mendekap punggung berikut kepala Fina.
“Menangislah jika itu membuatmu lebih lega. Namun setelah ini, kamu jangan sampai menangis lagi,” bisik Rafael yang kemudian mendaratkan kecupan di pucuk kepala Fina.
__ADS_1
Rafael yang tidak sengaja melihat Ipul, ternyata mengamati kebersamaannya dan Fina, sengaja semakin rutin menciumi kepala Fina.
***
Apa yang Rafael lakukan sukses membuat kesedihan Ipul semakin menjadi-jadi. Ipul yang kembali menangis meronta-ronta, segera menyalakan mesin motornya. Pria itu memacu motor dengan kecepatan penuh, di tengah suasana jalan sana yang masih terjal. Namun tak lama setelah itu, sorak-sorai anak-anak terdengar begitu riuh.
Sorak-sorai itu terdengar mengejek Ipul yang nyatanya sampai mental dari motor dan kemudian masuk ke empang berisi lele dumbo, milik warga.
“Ya Alloh, Pul ... kenapa kamu masuk ke situ? Duh ... mati semua lele dumbo peliharaanku!” ucap seorang pria selaku pemilik empang yang langsung berlari kencang dari dalam rumah. “Cepat-cepat keluar! Nanti leleku pada mati!”
Sambil membasuh wajahnya, Ipul pun berkata, “ya ampun, Uwa ... bukannya khawatir ke aku, malah ke lele! Tuh, kan, aku digigit-gigit lelelnya.”
“Enggak mungkin. Yang ada leleku keracunan gara-gara gigit kamu! Cepat keluar, enggak!” ancam si pria yang sampai menyodorkan tongkat agar Ipul segera beranjak dari kolam yang dalamnya ada di ataa dada pria dekil itu.
“Apes bener sih aku ini ... awas saja kamu Kafur ... tunggu pembalasanku!” batin Ipul sembari menepi dan keluar dari kolam lele.
“Kalau leleku sampai ada yang mati, kamu harus ganti rugi, lho, Pul!”
“Tai, lah ... ganti rugi ganti rugi ....”
“Hus! Bocah gemblung! Ngomong sama orang tua kok malah *** ... ***!”
Ipul benar-benar tidak peduli dengan teguran pemilik empang. Barulah ketika seekor lele yang menyangkut di bajunya, jatuh kemudian terinjak, Ipul refleks menjerit kesakitan sambil loncat-loncat mengangkat sebelah kakinya. Kaki yang menginjak lele, tetapi patilnya sampai menyangkut di telapak kaki Ipul.
“Hahaha ... syukurin! Kapok!” seru pemilik empang dengan girangnya.
“Uwa ... aku loporkan kamu ke polisi, ya!” ancam Ipul sambil menyeringai kesakitan.
Sekali lagi, anak-anak yang tadi sempat menyoraki Ipul dan tadinya sedang bermain kelereng di pelataran rumah sebelah, kembali berdatangan sambil berlari. Mereka yang jumlahnya lebih dari tujuh orang kembali menyoraki Ipul.
“Semprul yah, kalian!”
“Hahaha ... makanya mandi! Biar enggak mandi sama lele!”
Ipul berusaha mengejar bocah-bocah itu. Namun apa daya, mereka justru melempari Ipul dengan kelereng, tanpa henti.
“Bue ... Pae ... tolong aku!” tangis Ipul pecah sepecah-peracahnya, seiring pria itu yang sampai meringkuk di jalanan terjal lantaran kalah perang.
Bersambung ....
Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1