Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 55 : Menyusun Masa Depan


__ADS_3

“Dari wanita ini, aku akan memiliki segalanya. Aku akan memiliki banyak anak dan juga keluarga bahagia ... masa depan yang semakin indah!”


Episode 55 : Menyusun Masa Depan


Fina baru akan keluar dari kamar setelah membereskan semuanya termasuk mengeringkan kepalanya, ketika Rafael kembali dalam keadaan wajah berikut dada dan punggung kemeja biru muda lengan panjang pria itu yang basah.


“Mau ke mana?” tanya Rafael.


“Aku mau masak,” balas Fina.


“Jam segini? Bahkan kamu masih kelihatan capek banget?” balas Rafael. 


Rafael sengaja menghalang-halangi langkah Fina dan membuat wanita itu mundur, kembali masuk ke kamar. Setelah itu, Rafael segera mengunci pintu kemudian mengantongi kuncinya. Pria itu berlalu dari hadapan Fina, melangkah ke arah jendela kemudian membukanya.


Di luar, hujan deras masih berlangsung. Rafael mengamatinya dari balik jendela yang telah kembali dibuka sempurna. Ia melakukannya sambil menikmati air hangat dari teremos yang air mineral, yang ia racik sendiri. “Fina ayo tidur lagi ... toh sedang hujan dan enggak mungkin juga, kita jalan-jalan buat lihat matahari terbit, kan?” Rafael menatap Fina penuh keyakinan dengan tangan kiri yang tersempan di saku sisi celana bahan warna hitam yang ia kenakan, sedangkan tangan kanan masih mengendalikan gelas berisi air hangat.


Lantaran Fina justru diam penuh keraguan, Rafael yang terus memperhatikannya pun segera memberi kode gerakan wajah tepat ketika Fina menatapnya. Rafael mengisyaratkan agar Fina segera mendekat padanya.


Meski ragu, Fina pun melangkah mendekati Rafael tanpa benar-benar menatap pria itu akibat ketegangan yang tiba-tiba melandanya. Ya, ... Fina merasa sangat tegang setelah apa yang menimpa mereka tadi malam. Pun meski pada kenyataannya, mereka sudah menikah dan di antara mereka bebas melakukan apa pun. Hanya saja, karena sebelumnya mereka tidak dekat layaknya pasangan normal pada kebanyakan, yang sama-sama saling mengenal sebelum menikah, Fina merasa canggung bahkan aneh, jika dirinya bisa langsung dekat dengan Rafael. Bahkan meski jauh di lubuk hatinya, Fina juga sudah mulai merasa sangat nyaman hanya berada di dekat Rafael.


Ketika Fina sudah berdiri di hadapannya, Rafael segera meletakkan gelasnya ke meja. Kemudian ia cukup menunduk sambil menyibak rambut Fina yang terurai dan masih setengah basah. Tak ada tanda cinta yang ia tinggalkan di sana. Tanda cinta yang ia yakini bisa mempertegas jika wanita di hadapannya sudah menjadi miliknya dan benar-benar hanya miliknya.


Lantaran penasaran, Rafael pun berusaha memastikannya. Jemarinya mengusap-usap leher Fina, tetapi Fina segera menahan tangan Rafael.


“Jangan ... aku susah payah menutupinya ...,” keluh Fina sambil memasang wajah cemberut. Fina terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat, tetapi cenderung malu.


Rafeal tersenyum geli bahkan menjadi menertawakan Fina. “Kenapa? Bukankah kamu berharap, orang-orang melihatnya?”


Fina mengangkat kilat kedua bahunya sambil menggeleng. “Enggak ah ... malu ... apalagi kamu enggak kira-kira, ninggalin bekasnya banyak banget.”


Dengan tawa yang berangsur reda, Rafael yang menjadi tersipu atas keluhan Fina, membuatnya menyadari betapa gilanya dirinya yang sampai nekat melakukan semua itu, berangsur merengkuh, memeluk tubuh Fina. Rafael melakukannya dengan penuh kasih sekaligus ketulusan. Ia bahkan menyemayamkan wajahnya di sebelah wajah Fina. Dan Rafael tak sekadar mengendus aroma wajah berikut kepala Fina, melainkan melayangkan banyak kecupan di sana.

__ADS_1


“Kenapa aku mendadak lemas, ... mati gaya begini?” batin Fina yang memilih pasrah, memeluk Rafael sekuatnya, sebab jemarinya juga menjadi ikut menjadi tidak bertenaga.


“Dari wanita ini, aku akan memiliki segalanya. Aku akan memiliki banyak anak dan juga keluarga bahagia ... masa depan yang semakin indah!” batin Rafael. “Besok kita sudah ada di Jakarta,” ucapnya kemudian.


“Kenapa harus membahas Jakarta? Bukankah kita sudah melanjutkannya?” balas Fina dengan polosnya. 


Fina masih ingat perkataan Rafael yang mengatakan untuk melanjutkan apa yang telah pria itu mulai, di Jakarta. Rafael berdalih seperti itu lantaran semalam, Ipul terus saja berisik di balik jendela kamar mereka. Namun apa daya, belum lama setelah Rafael berkata seperti itu bahkan pria itu juga sampai meminta Fina untuk tidur, Rafael yang justru menghela napas panjang dan berakhir dengan mendesah, justru tiba-tiba menahan sebelah wajah Fina kemudian mengunci bibir Fina dengan banyak ciuman. Dan setelah itu, Fina tak kuasa menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Rafael. Fina bahkan tak kuasa mengingatnya lantaran ketika ia melakukannya, ia  menjadi merasa semakin malu.


Rafael refleks menahan tawanya. “Aku begitu karena kamu yang memulai!”


“Apa-apaan, jelas-jelas kamu yang memulainya? Kenapa justru melimpahkannya kepadaku?” protes Fina tak terima, apalagi jelas-jelas, Rafael yang memulainya. “Benar kata Rina. Rafael hanya menjadikanku alibi karena sebenarnya, dia memang sudah mencintaiku!” batinnya yakin. Sebab, untuk apa, dan kenapa juga Rafael cemburu pada Bian dan Ipul, jika pria yang sudah menjadi suaminya itu tidak memiliki rasa lebih bahkan mencintainya?


“Kalau kamu enggak tiba-tiba meluk aku, aku juga bisa tahan.” Rafael masih berusaha melindungi harga dirinya lantaran ia masih merasa gengsi untuk mengakuinya.


“Alah, alasan ....”


“Hahaha ....”


“Kenapa kita bisa dekat secepat ini?” tanya Rafael tiba-tiba.


Fina menggeleng pelan. “Aku, juga tidak tahu ...?” Ia balas menatap Rafael dan berharap, bisa mendapatkan jawabannya dari sana.


Rafael merenung seiring bibir berikut dahinya yang menjadi berkerut. Dan Rafael tetap belum bisa menemukan jawabannya. Kenapa mereka bisa dekat dengan sangat cepat. Tentu tak semata mereka yang bermula sama-sama membutuhkan, ... melainkan lebih. Dan Rafael yakin, ... pasti ada alasan lain yang sebenarnya sudah ia ketahui, tetapi sulit untuk mengungkapkannya.


*** 


Sore menjelang petang, setelah sholat mahrib, Rafael memboyong Fina sekeluarga. Mereka ditemani oleh orang sekampung Fina yang sejak siang hari sudah berdatangan. Mereka melepas Fina sekeluarga dengan ucapan sekaligus senyum hangat. Dan dari semuanya, hanya Ipul dan keluarganya yang tidak terlihat.


“Dadah ... sehat-sehat semuanya, ya!” seru mereka sambil melambaikan tangan.


Rafael sampai merasa tersanjung atas perlakuan orang-orang di kampung Fina. Mereka melepas Fina sekeluarga tak ubahnya orang penting—sejenis pejabat negara bahkan artis, di arak hingga mobil melaju jauh.

__ADS_1


Di depan, Otoy duduk di sebelah Didin yang menyetir. Sedangkan di tengah, Raswin dan Rafael duduk bersebelahan. Raswin sengaja Rafael minta duduk di sana agar mertuanya itu merasa jauh lebih nyaman. Sedangkan di belakang, Fina duduk di antara Murni dan Rina. Sedangkan di bagasi, selain beberapa barang bawaan, Ipul juga nyempil terduduk di sana.


“Raf ...,” ucap Fina tiba-tiba.


Rafael berangsur menoleh, melongok Fina untuk memastikan. Fina menatapnya dengan banyak rasa cemas. “Ada apa? Katanya sudah enggak ada yang ketinggalan?”


Saat berbicara di depan keluarga Fina, nada suara Rafael akan menjadi sangat pelan penuh perhatian.


Ketika Murni dan Raswin menjadi tersipu melihat kedekatan Fina dan Rafael dalam berkomunikasi, Rina justru sibuk berdeham sambil berusaha mengendalikan tawanya.


“Kamu manja banget, sih, Mbak, sama Mas Rafael!” cibir Rina lirih.


Fina hanya mendengus sebal sebelum kembali menatap Rafael yang masih menatapnya. “Aku rasa ada bau aneh dari bagasi. Kayak baunya Ipul,” keluhnya.


Wajah Rafael yang awalnya di penuhi raut perhatian menjadi dihiasi keterkejutan. “Bau Ipul?” pikirnya waswas.


Di dalam bagasi, Ipul yang bisa mendengarnya pun tersenyum girang. “Mai oli wan Fina memang debes! Tahu banget kalau urusan aku! Jangan-jangan, kami memang jodoh! Xixixi!” batinnya. “Omong-omong ... mobil si Kafur enak banget, ya? Duduk di bagasi saja senyaman ini. Apalagi kalau di depan? Apa mendingan jual kebo sama kambingku buat beli mobil kayak ini saja?”


Dan ketika memikirkan kerbau dan kambing-kambingnya, Ipul menjadi galau. “Bo ... Mbing ... maafin aku, ya. Aku mau ke Jakarta buat jaga mai oli wan Fina dulu!” batinnya lagi dengan mata yang menjadi memerah dan basah. 


Ipul yang masih mengenakan pakaian koko berikut sarung ketika acara syukuran di rumah Fina, menangis tersedu-sedu dan sebisa mungkin ditahan melalui kedua tangannya yang menekap mulutnya dengan erat.


Bersambung ....


Meski di bagasi, Ipul enggak akan pingsan apalagi mati 😂😂😂. Soalnya mobil sekelas Alphard kan nyamannya kebangetan. Ada terjal saja enggak terasa.


Terus satu lagi, perihal adegan ena-ena, Author enggak bisa nulisnya dengan gamblang. Melanggar kebijakan tulisan soalnya. Pastinya, Author masih takut dosa 🤣🤣🤣🤣. Samar-samar saja ya🤣🤣


Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2