
“Benar, ya ... tidak ada yang bisa menandingi kecantikan seorang istri, bahkan ribuan bidadari sekalipun ...,”
Episode 67 : Bidadari Itu, ... Istriku
Fina mengerling, menatap bingung ketiga wanita yang mengelilinginya. “Kok, masih diam? Sepertinya ada yang salah, ya?” ucapnya.
Fina yang masih mengamati ketiganya melalui lirikan, mendapati ketiga wanita cantik itu saling berkode mata. “Apakah mereka sedang menertawakan bekas-bekas yang ditinggalkan oleh vampir Kafur? Ah ... leher dan dadaku kan tak berupa. Terlalu banyak bekas!” batin Fina yang kemudian terpejam pasrah seiring bibir mungilnya yang menjadi mengerucut.
“Ayolah Fina ... berpikir ... berpikir untuk mengelabuhi semua ini. Ipul yang hanya lulus esde saja selalu punya banyak ide, masa iya kamu yang lulusan sarjana, lola ...?!” Fina masih berbicara dalam hatinya, masih memaksa otaknya untuk mencari solusi. Di mana tak lama setelah itu, ia menjadi ingat untuk mandi. Dengan begitu, ia bisa mengenakan BB krim atau alas bedak yang bisa membantu untuk menutupi, atau setidaknya menyamarkan bekas-bekas tanda cinta yang Rafael tinggalkan.
“Jika acara yang akan kami kunjungi sangat penting, saya mau mandi dulu. Masih ada waktu, kan? Saya hanya butuh dua puluh menit!” tawar Fina.
Ketiganya langsung mengangguk, mempersilakan Fina untuk melakukan apa yang Fina minta. Ketiganya berangsur mundur sedangkan Fina yang diberikan jalan justru mengamati perlengkapan kosmetik di sana.
Tanpa pikir panjang, Fina yang juga sengaja cuek, sengaja mengambil alas satu botol BB krim dari meja rias sebelum berlalu.
“Enggak apa-apa. Sekarang aku kan bos. Rafael bilang, bos enggak pernah salah!” batin Fina yang meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah berhasil masuk kamar mandi, Fina buru-buru menutup dan megunci pintunya. Juga, Fina yang buru-buru melepas pakaiannya.
“Si Kafur memang aneh! Gila! Tahu-tahu ada acara penting, masih saja bikin dada bahkan leherku babak belur!” gumam Fina.
***
Di luar, ketiga wanita yang siap mendandani Fina, berangsur saling bertukar tatapan, setelah sama-sama memastikan pintu yang sampai terdengar dikunci. Ketiganya yang awalnya mesem mendadak menekap mulut, demi meredam tawa yang tiba-tiba pecah.
“Maklum pengantin baru!” gumam salah satu mereka dan diiyakan oleh keduanya, sebelum ketiganya kembali meredam tawa.
Kemudian, salah satu dari mereka berangsur melangkah, mendekati pintu kamar mandi yang tentunya masih tertutup rapat. Wanita tersebut mengetuk pintu dengan sopan, sedangkan dua yang tersisa, masih sama-sama berusaha mengendalikan senyum mereka.
“N-non ...?” ucap si wanita yang akan mengetuk pintu dan mendadak tak jadi. Ia menatap ragu kedua rekannya yang menjadi menatap bingung kepadanya.
“Kenapa?”
“Kok dari tadi, kita memanggil dengan sebutan Non? Harusnya, Nyonya, kan?”
“Ah, iya ... kita salah lagi.”
“Ya sudah, mulai sekarang, kita panggil Nyonya.”
“Oh, oke!” Si wanita yang akan mengetuk pintu kamar Fina pun berdeham terlebih dahulu sebelum akhirnya berseru, “Nyonya, ... jika ingin menutup noda di tubuh, kami ada olesan khusus. Jangan pakai BB krim. Nanti kami bantu. Lagi pula, BB krim bisa membuat gaun yang akan Nyonya pakai meninggalkan noda yang kurang sedap dipandang,” serunya. Kemudian, ia menarik napas dalam, sebelum akhirnya melanjutkan, “jangan pernah sungkan kepada kami. Kami akan selalu melayani Nyonya dengan sepenuh hati.”
***
Di dalam, Fina yang baru melilit tubuhnya dengan handuk pun menjadi terdiam bingung. Antara bahagia dan malu, tetapi ia justru berseru, “baiklah, ... saya mandi dulu!” Fina tersenyum lepas. Meski tak lama setelah itu, ia menjadi tersipu malu.
“Ya ampun ... aku mendadaj menjelma menjadi ratu!” gumam Fina yang langsung masuk ke ruang untuk bermandi.
***
Sekitar dua puluh menit kemudian, Fina telah duduk di depan cermin rias. Wanita itu menjalani rias dan membiarkan ketiga pekerja di sana mengubah penampilannya.
Satu orang mengurus riasan wajah. Satunya lagi mengurus susunan rambut Fina yang sepertinya akan disanggul modern. Sedangkan satunya lagi mengurus kuku-kuku Fina.
__ADS_1
Semua itu berjalan cukup mulus. Meski terkadang, Fina akan memelototkan kedua matanya demi menghalau kantuk yang menyerang, selain Fina yang meminta jeda agar tangan dan kakinya yang sedang dicat kukunya, tidak kesemutan.
Rias yang tidak terlalu mencolok kembali menyertai penampilan Fina. Fina juga menjadi terpesona pada penampilannya sendiri tanpa terkecuali kuku-kukunya yang begitu cantik, dihiasi kuteks pink muda dan beberapa ornamen. Ornamen di kuku Fina semakin mmepertegas kefemininan Fina.
Melihat Fina yang sampai tersenyum girang, ketiga wanita yang menangani pun merasa ikut senang. Ketiganya yang berdiri cukup berpencar mengelilingi Fina, berangsur bertukar pandang, sebelum akhirnya saling bertukar senyuman.
Kemudian ketiganya bekerja sama membuka gaun pengantin dari maneken. Fina yang sempat menganati kerja sama ketiganya, dituntun untuk mengenakan gaun tersebut.
“S-sekarang?” tanya Fina memastikan lantaran di sana tidak ada tirai untuknya bersembunyi dalam mengenakan gaun.
Ketiga wanita yang masih menahan gaun, berangsur mengangguk. “Iya, Nyonya. Enggak usah malu. Kita sama-sama perempuan!” ucap salah satu dari mereka berusaha meyakinkan.
Fina menjadi cemberut karena ragu. “Sama Rafael saja masih malu, apalagi sama kalian?” batinnya. “Kalian keluar dulu. Saya benar-benar tidak biasa harus ganti baju di depan orang, ... ya intinya begitu ....”
“Gaun ini cukup besar dan tidak mungkin dikenakan tanpa bantuan, Nyonya,” ucap salah satu dari wanita yang melayani Fina.
“Ayo, Nyonya ... nanti Pak Rafael keburu datang,” tambah salah satu dari mereka lagi.
“Duh, gimana, ini?” batin Fina kebingungan.
Tak ada pilihan lain, Fina memaksa ketiganya untuk tutup mata selagi ia melepas piama kimino warna merah muda yang dikenakan. Dan ketika Fina yang begitu berjaga, memastikan ketiganya tidak mengintip, akhirnya berhasil masuk gaun yang sukses membuatnya semakin mengagumi tampilannya sendiri, Fina pun meminta ketiga wanita yang mengurusnya, untuk membuka mata.
Ritsleting bagian punggung gaun berdada sabrina yang Fina kenakan, segera ditarik ke atas. Di mana, kenyataan tersebut sukses mempertegas bahwa gaun berlengan sesiku tersebut, sangat pas di tubuh Fina.
“Wah ... Nyonya ... Anda terlihat sangat cantik!” seru ketiga wanita yang mengurus penampilan Fina. Ketikanya tak hanya sampai refleks bertepuk tangan, sebab ketiganya juga kompal menatap Fina dengan mata berkaca-kaca.
Fina tersenyum haru seiring napasnya yang menjadi cukup terengah-engah. Bahkan saking bahagianya lantaran untuk pertama kalinya didandani sangat eksklusif bak ratu, Fina sampai nyaris menitikkan air mata.
“Jangan menangis, Nyonya!” seru ketiga wanita yang melayani Fina. Salah satu dari mereka segera menarik sehelai tisu dan mengenakannya untuk menyeka air mata Fina dengan sangat hati-hati.
“Dengan senang hati, Nyonya ... kami akan selalu mengupayakan yang terbaik!” lirih wanita yang sedang menyeka air mata Fina.
“Ah, masih ada yang kurang!” seru salah satu dari dua wanita yang tersisa.
“Ya ampun, mahkotanya!” saut wanita yang ada di sebelahnya dan sampai menepuk jidatnya cukup keras, menggunakan tangan kanan.
Keduanya bergerak cepat membuka laci meja rias. Dan salah satu mereka yang sampai bersimpuh, mengeluarkan kotak cukup besar. Kotak tersebut berangsur diletakkan di meja rias, sebelum akhirnya di buka. Sebuah mahkota kecil berwarna putih dan tampak begitu mengkilap, dikeluarkan dari sana.
“Wah ... indahnya?” gumam Fina yang sampai terbengong-bengong melihatnya.
Pelayan yang tidak mengeluarkan mahkota tersebut, segera mengalihkannya ke kedua tangan rekannya yang sudah bersiap di hadapannya. “Hati-hati,” lirihnya.
“Iya ...,” balas si wanita penerima yang kemudian melangkah terjaga menghampiri Fina. “Nyonya, ... ini asli. Jadi tolong, maaf, saya ingin Nyonya cukup membungkuk agar saya lebih mudah memasangnya,” ucapnya kemudian.
Meski terbilang cukup drama dalam pemasangannya, sampai-sampai membuat keempat wanita di sana tanpa terkecuali Fina, sama-sama ditawan tegang, tetapi berkat mahkota kecil tersebut pula, penampilan Fina menjadi semakin glamor. Elegan dan tidak berlebihan.
Keempat pasang mata di sana, berbinar-binar menatap pantulan bayangan Fina pada cermin rias di hadapan mereka.
“Serius, ini aku? Masa sih? Ya ampun ... masih enggak percaya. Wanita desa yang sudah dicap perawan tua hanya karena di desa hobi nikah muda, sekarang jadi cantik seperti ini? Duh ... pengin nangis tapi takut dosa. Dosa sudah merusak rias ketiga wanita yang Rafael utus!” batin Fina yang susah payah mengalihkan kesedihannya. Namun tiba-tiba ia ingat Ipul. Sewaktu pria itu digotong dan dijatuhkan paksa lantaran mendadak kentut dengan aroma sangat busuk.
Mengingat kegilaan Ipul, seulas senyum sukses menghiasi wajah cantik Fina. Dan tak lama setelah itu, Fina mendapati pantulan bayangan Rafael juga ada di cermin riasnya.
Di belakang sana, Rafael sampai bengong menatap tak percaya pantulan bayangan Fina di cermin rias. Dan mendapati kedatangan Rafael, ketiga wanita yang menyulap penampilan Fina, langsung menunduk dengan kedua tangan yang di letakkan di depan perut, sebelum ketiganya juga kompak melipir dan menepi.
__ADS_1
Fina terdiam. Bingung sekaligus gugup. Fina juga menjadi sibuk menunduk, demi menepis tatapan Rafael yang begitu berlebihan. Terlebih, jantungnya sampai menjadi berdegup sangat kencang. Dan semakin lama, degup jantungnya menjadi semakin keras, apalagi jika Fina tak sengaja menatap Rafael, meski hanya dari bayangan pria itu yang masih ada di cermin rias.
Rafael juga hanya diam. Bahkan saking bingung sekaligus tidak percaya, pria itu sampai lupa bernapas. Namun bisa Rafael pastikan, bayangan wanita sangat cantik yang bahkan mengalahkan kecantikan bidadari di cermin rias dan membuat matanya sangat jarang berkedip, memang Fina, istrinya.
“Benar, ya ... tidak ada yang bisa menandingi kecantikan seorang istri, bahkan ribuan bidadari sekalipun ...,” batin Rafael yang kemudian mengulas senyum.
Meski tampak malu-malu, senyum yang menghiasi wajah Rafael menjadi semakin berkembang, di tengah kedua matanya yang masih berkontak intens dengan kedua manik mata Fina. Masih melalui cermin rias di hadapan mereka.
Rafael yang sudah mengenakan setelan jas hitam yang menyertai kemeja warna putih, berangsur melangkah mendekati Fina. Dan bersamaan dengan itu, Fina menjadi tersipu sekaligus harap-harap cemas, sesekali menunduk, tetapi juga mencuri-curi kesempatan menatap Rafael. Rafael yang sudah sampai berganti pakaian.
Kali ini, Rafael terlihat semakin resmi sekaligus gagah. Tak hanya karena dasi warna merah hati yang melilit kerah kemeja putihnya. Melainkan karena di saku jas atas bagian dada sebelah kanan pria itu, sampai dihiasi sebuah lipatan entah kerta atau bahan, berwarna putih. Fina belum terlalu yakin dengan pengamatannya. Namun sungguh, penampilan Rafael kali ini benar-benar luar biasa. Ya ... dialah vampir tampan yang kadang akan menjelma menjadi bayi tua dalam hidupnya.
Sementara yang terjadi pada ketiga wanita yang telah menyulap penampilan Fina, meski mereka belum sampai mengenakan sepatu kepada Fina, mereka yang sadar situasi, memilih undur sebelum diusir.
Fina yang menyadari ketiga wanita yang telah menyulap penampilannya pergi bahkan sampai menutup pintu dengan hati-hati, segera berkata, “jangan menatapku seperti itu ....”
“Kenapa?” balas Rafael yang semakin tersipu dan berangsur mendekap Fina dengan hati-hati.
“Nanti aku pingsan!” balas Fina yang juga semakin tak karuan.
“Bagus, dong! Biar aku bisa kasih napas buatan!” balas Rafael yang bahkan sengaja menggoda.
Fina terpejam geli sembari menahan tawanya yang sempat pecah, seiring kedua tangannya yang bertumpu pada kedua tangan Rafael yang mengunci perutnya.
”Fin ... Fin ... tadi aku lihat bidadari ...!” ucap Rafael gemetaran dan memang sengaja menakut-nakuti Fina.
Fina yang terkejut sekaligus penasaran pun langsung membuka matanya. “S-serius, ... mana?!” sergahnya.
“Tuh ...,” balas Rafael dengan entengnya sambil menunjuk pantulan bayangan Fina pada cermin, melalui gerakan wajah.
Fina kembali terpejam, dengan kenyataannya yang semakin tersipu. Terlebih, ketika Rafael juga sampai mencium sebelah pipinya.
“Pokoknya hari ini harus dipuas-puasin! Karena besok sudah puasa dan enggak bisa bebas!” ujar Rafael menggebu-gebu dan sukses membuat Fina tertawa.
“Kamu ketawa terus kayak Ipul, ih!” gerutu Rafel.
“Ih, sembarangan kamu, nyama-nyamain aku sama Ipul ....”
“Cieee yang kangen Ipul?!”
“Rafael, siapa yang kangen Ipul?”
“Ya sudah ... aku yang kangen Ipul!” Rafael mengalah, kemudian kembali melayangkan ciuman di bibir Fina hingga sebagian gincu di bibir istrinya itu juga menempel di bibirnya.
“Hahaha ... sudah, gitu aja, biar cantik!” goda Fina.
Bersambung ....
Besok resepsi, ya ... tanpa atau dengan Ipul?
Tapi kalau Ipul datang, seisi gedung pingsan 😂😂😂. Bukannya senang-senang, malah bisa ada yang dikirim ke akherat gara-gara bau Ipul 😂😂😂.
Kecuali, kalau Ipul jadi nyalon. Tapi kayaknya, tukang di salon yang pingsan duluan 😂😂😂
__ADS_1
Yuk, diramaikan. Athor tunggu like, komen, sama votenya 😍😍😍