Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 36 : Merasa Berguna


__ADS_3

“Jangan melihat seseorang apalagi pasangan hanya dari tampang dan materi. Lihat bagaimana tanggung jawabnya. Materi dan tampang bisa diperbaiki, tetapi tidak dengan tanggung jawab yang sangat sulit didapatkan apalagi dibeli!”


Episode 36 : Merasa Berguna


Isak tangis yang mewarnai kebersamaan membuat hati Rafael terenyuh. Rafael sampai menunduk demi menahan semua sakit berikut kebahagiaan yang tiba-tiba menyesakki dadanya. Bahkan tak lama setelah itu, ia sampai merasakan kedua matanya yang menjadi terasa panas, juga basah. Ia menangis?


Rafael segera menyeka air matanya sambil terus menunduk. Ia tak kuasa menampik kebersamaan kali ini yang terasa begitu hidup.


Sebelumnya, Rafael belum pernah merasa seberharga sekarang. Entahlah ... membantu Fina dan membuat wanita itu kembali dipeluk hangat oleh keluarganya, membuat Rafael merasa begitu berguna. Terlebih selama ini, kehidupan Rafael hanya untuk bekerja dan benar-benar hanya bekerja. Dan kalaupun Rafael bersama keluarganya, semuanya benar-benar biasa bahkan cenderung hambar. Ibarat berjalan, ia berjalan mengambang tanpa bisa menyentuh permukaan.


Tak mau hanya berdiam diri di antara keempatnya, terlebih jika ia ikut menenangkan terlebih sampai mengelap air mata bahkan memeluk juga akan terkesan aneh, Rafael pun memutari ranjang rawat Raswin menuju nakas yang sempat Rina tinggalkan.


Di nakas tersebut ada sekotak tisu dan Rafael mengambilnya. Ia kembali ke posisi semula di belakang kebersamaan Fina, Rina, berikut Murni yang sampai berpelukan sambil terisak-isak berikut Raswin yang tak kuasa menghalau tangis. Raswin, di tengah keadaannya yang belum stabil, pria yang terlihat begitu kurus itu mencoba menyeka setiap air mata ketiga wanita di hadapannya.


Rafael mengetuk-ngetuk pundak Fina menggunakan telunjuk kanannya. Dan ulahnya sukses membuat wanita itu menoleh padanya. Akan tetapi, Rafael tak kuasa melihat Fina dalam keadaan sekarang lantaran kenyataan tersebut juga membuat Rafael semakin bersedih. Dan Rafael tidak mau membuat orang lain termasuk Fina, melihatnya dalam keadaan bersedih.


Fina mendapati kesedihan di wajah Rafael yang justru menepis pandangannya. Pria itu terkesan sengaja menghindar untuk menyembunyikan kesedihannya. Namun, usaha Rafael yang sampai mengambilkan tisu, setelah semua yang pria itu lakukan kepadanya sekeluarga, membuat Fina merasa semakin berhutang budi.


Fina segera menerima sekotak tisu pemberian Rafael. “Jika kamu memang enggak nyaman, enggak papa, kalau kamu mau keluar,” lirihnya.


Rafael refleks menoleh dan menatap Fina dengan raut menahan luka. Kemudian, setelah tatapan mereka bertemu, Rafael pamit melalui gerakan mata berikut anggukan.


Fina mengulas senyum sambil mengangguk. Ia melepas Rafael dengan banyak terima kasih yang belum bisa ia ucapkan hingga detik ini. Namun, Fina berjanji, secepatnya ia akan melakukannya. Mengucapkan terima kasih pada seorang Rafael Veanso.


Seperginya Rafael, Fina memberikan beberapa helai tisu pada Murni, Rina, berikut Raswin yang ia bantu dalam mengelapnya.


Suasana berangsur senyap. Hanya sesengggukan saja yang sesekali masih terdengar dari Rina, Murni, berikut Fina. Karena dari semuanya, tangis ketiganyalah yang paling parah.


Kini, tatapan menjadi tertuju pada Fina yang berdiri di antara Murni dan Rina, di sebelah Raswin. Sedangkan Fina yang menyadari menjadi pusat perhatian, berangsur menunduk dengan sekotak tisu yang masih ia tahan menggunakan kedua tangan, di depan perut.


“Semua yang dia katakan, benar? Kamu, ... sudah mantap menikah dengannya?”


Setelah sampai membuat ketiga orang di sana menunggu nyaris tiga puluh detik, Fina berangsur mengangguk. Dan ulah Fina sukses membuat ketiganya menghela napas lega sambi mengangguk-angguk dan melirik satu sama lain.


“Dia, ... yang selama ini membiayai kuliahku sampai tuntas, Pak. Selain itu, ... dia juga yang membiayai pengobatan Bapak,” ucap Fina yang masih belum bisa mengendalikan ketegangan sekaligus rasa takutnya. Bahkan, ia masih belum berani menatap ketiga orang di sekitarnya.

__ADS_1


Kembali, ketiga orang di sana dan memang tak kuasa berkomentar, saling berkode mata melalui lirikan.


“Tapi, dia terlalu gagah buat Mbak! Dia terlalu sempurna!” protes Rina tiba-tiba.


Fina langsung mendengkus. Ia menatap sang adik sambil cemberut. “Terus, ... aku pantasnya sama yang kayak Ipul, begitu?” balasnya turut mengeluh.


Murni dan Raswin menjadi tertawa diikuti juga oleh Rina yang sampai memeluk erat Fina untuk yang kesekian kalinya.


“Mbak ... aku juga mau, dong, kalau masih ada yang kayak Mas Rafael!” rengek Rina sambil mendekap Fina lebih erat.


“Kamu ini! Fokus kuliah dulu!” omel Fina sambil menoyor kepala Rina, kendati ia masih memeluknya.


Rina segera mengakhiri pelukannya. Sambil mengelus bekas toyoran sang kakak, ia berkata, “aku bakalan kerja dulu buat cari dana pendaftaran, terus--”


“Kamu cukuo fokus belajar. Kasih yang terbaik dan jangan mikir carinoasangan dulu. Benar-benar fokus belajar!” tahan Fina yang menatap Rina jauh lebih serius dari sebelumny.


Rina terdiam bingung. Ia menatap ketiga wajah di sana, silih berganti. “Maksudnya, aku enggak perlu kerja dulu?”


Fina segera mengangguk mantap. “Iya. Mas Rafael yang akan urus semuanya.”


Lanjutan Fina sukses membuat Rina girang dan sampai refleks loncat kemudian memeluk erat sang kakak. Terlepas dari itu, rona kebahagiaan juga terpancar jelas di wajah Murni bahkan Raswin.


“Tapi ingat, prestasimu bakalan jadi tolok ukur semuanya!” balas Fina masih bersikap tegas.


“Tapi, kok ... Rafael sebaik itu? Lihat ... dia kasih kita banyak banget ...?” sela Murni sambil menunjuk bawaan Rafael.


Kini, fokus pandangan, kembali tertuju pada Fina.


“Aku saja bingung,” ucap Fina sambil menunduk. Karena sesuai balasannya, ia juga masih bingung sekaligus sulit percaya perihal Rafael dalam hidupnya. “Tapi, ... Rafael dan keluarganya minta pernikahan secepatnya?” lanjutnya. “Bapak sama Ibu, setuju, enggak?”


“B-banget!” ucap Rina tiba-tiba dengan begitu mantap.


Namun, Fina segera memunggungi sang adik tanpa menatapnya. Ia menatap orang tuanya penuh keseriusan.


“Apakah kali ini, kamu merasa yakin sama Rafael? Enggak ada rasa terpaksa lagi, kan?” tanya Murni hati-hati. Ia berusaha meyakinkan Fina perihal pilihan hidup.

__ADS_1


“Jangan melihat seseorang apalagi pasangan hanya dari tampang dan materi. Lihat bagaimana tanggung jawabnya. Materi dan tampang bisa diperbaiki, tetapi tidak dengan tanggung jawab yang sangat sulit didapatkan apalagi dibeli!” ucap Raswin penuh penekanan meski suaranya masih terdengar sangat lirih.


Ketiga wanita di hadapan Raswin refleks terdiam tanpa terkecuali Rina yang sedari tadi heboh.


Fina menghela napas pelan. “Setelah semua yang terjadi ... semua yang Rafael lakukan kepada kita, ... apakah dia masih kurang bertanggung jawab?” ucapnya kemudian dengan keadaan yang jauh lebih tenang.


Rina, Raswin, berikut Murni, kembali berkode mata. Tak ada yang berkomentar, hingga suasana menjadi hening.


“Memangnya, selama ini, aku kurang tanggung jawab, ketimbang orang kota itu?” ucap Ipul tiba-tiba.


Kehadiran Ipul yang tiba-tiba berdiri tepat di belakang Fina sukses membuat kebersamaan menjadi bubar. Fina menggunakan kotak tisunya untuk memukuli Ipul sambil berlalu meninggalkan pria itu.


“Mai oli wan, Dek Fina,” rengek Ipul sambil mengejar Fina.


“Jangan mendekat!” Fina berjalan tergesa keluar meninggalkan kebersamaan.


Ketika Fina keluar, ia mendapati ajudannya sedang muntah-muntah dan ditampung ke dalam kantong, tak jauh dari bangku tunggu. Fina pun berinisiatif membantu pria itu, apalagi baik Rafael maupun Didin, tidak ada di sekitar. Pantas saja, Ipul bisa masuk ke ruang rawat. Yang dutugaskan jaga saja muntah-muntah tidak jelas.


Fina memberikan beberapa helai tisu pada ajudannya. Sedangkan Ipul yang hidungnya berwarna ungu dan sudah diolesi sejenis salep, tak hentinya terjaga di sebelahnya. Pun meski Fina sudah berulang kali menendang Ipul.


“Dek Fina jangan nikah sana pria lain. Kalau Dek Fina tetap nikah sama pria lain, aku bakalan pelet Dek Fina, terus kirim teluh ke keluarga suami Dek Fina sekeluarga!” ucap Ipul benar-benar memohon.


Beruntung, Rafael dan Didin datang. Fina menyerahkan urusan Ipul kepada Rafael, sedangkan Didin membantu ajudan bernama Otoy yang mabuk karena aroma Ipul.


Rafael, tak lantas mengurus Ipul. Sebab yang ia lakukan justru membawa pergi Fina dari sana. Ia menggandeng Fina, melangkah cepat menghindari Ipul yang terus mengejar.


Rafael mampir ke pos keamanan dan membuat ketiga satpam yang bertugas langsung mengamankan Ipul. Ipul yang tak hentinya meronta memanggil-manggil nama Fina. Sedangkan Rafael yang sampai memberikan beberapa lembar uang seratus ribu kepaada ketiga satpam yang menahan Ipul, kembali membawa Fina kabur.


Fina tidak tahu Rafael akan membawanya ke mana. Hanya saja, pria itu menggandengnya dengan sangat erat. Dan kembali, Fina dibuat gugup atas perlakuan pria itu yang sewaktu-waktu bisa menjadi sangat manis.


Bersambung ....


Kalau langsung rame, Author up lagi 😅😅😅


Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2