
“sekali lagi kutegaskan, ... tugasmu hanya menjalani perintahku. Dan di sini, aku yang mengendalikan semuanya!”
Episode 27 : Berkah, Atau Musibah?
“Jika menikah dengan Rafael akan menghapus semua luka keluargaku ... memberikan mereka kebahagiaan yang berlimpah, ... aku, ... aku rela untuk ke dua kalinya menjalani pernikahan yang untuk sekadar kubayangkan saja, tidak pernah. Hanya saja, ... bagaimana mungkin, aku menikah lagi, sedangkan perceraianku dan Bian saja belum jelas? Apakah untuk urusan ini, ... Rafael juga bisa mengatasinya?” batin Fina yang menjadi terdiam dalam keresahan.
“Lakukan semua yang aku perintahkan. Dan kamu, ... jangan sampai membuatku marah. Toh, aku enggak menyuruhmu kerja rodi apalagi bunuh diri.” Rafael masih menatap serius Fina seiring gerakkan matanya yang beralih dan tertuju pada menu makan di depan meja rias.
Fina yang menyimak, paham, kali ini Rafael memintanya untuk makan. “Iya. Aku mengerti.”
Jawaban Fina terdengar sangat pasrah. Benar dugaan Rafael, bahwa keluarga selalu menjadi nomor satu untuk wanita itu.
Sebelum berlalu, Rafael yang sudah memunggungi Fina sambil berkecak pinggang pun berkata, “sekali lagi kutegaskan, ... tugasmu hanya menjalani perintahku. Dan di sini, aku yang mengendalikan semuanya!”
Nada suara Rafael tidak disertai kemarahan, melainkan penegasan seseorang yang ingin menuangkan kekuasannya. Akan tetapi, Fina juga tidak mendengar keangkuhan maupun kesombongan dari gaya pria itu berbicara. Beda dengan penegasan-penegasan yang Fina dapatkan dari Ipul maupun Bian.
“Apakah dengan kata lain, kita akan membuat perjanjian?” tanya Fina cepat dan memang penasaran. Mana mungkin seorang Rafael tidak memiliki maksud lain, untuk pernikahan yang pria itu tawarkan, kan? Orang biasa saja bisa memiliki maksud terselubung ketika mendadak mengajak melakukan suatu hal, apalagi sekelas Rafael dan kali ini untuk urusan pernikahan?
Mendengar pernyataan Fina, Rafael refleks mengernyit. Pria itu berangsur balik badan dan membuatnya menatap Fina. “Apakah kamu berharap begitu ...?” Baginya, pernyataan Fina terdengar sangat konyol. Terlebih, maksudnya memilih Fina karena memang itu keputusannya lantaran Fina bukan tipikal yang banyak mau dan tentunya tidak akan membuat Rafael rugi.
“Kok Rafael malah bilang begitu? Dengan kata lain, ... dengan kata lain, dia serius ingin menikahiku tanpa perjanjian?” batin Fina yang menjadi gugup dalam diamnya, padahal sebelumnya, ia sampai menatap Rafael sambil memasang tampang menantang.
“Cepat makan dan segera jalani perawatan yang sudah kusiapkan. Kamu terlalu banyak menonton drama, jadi mikir sampai ke mana-mana!” omel Rafael dan sukses membuat Fina tersentak.
__ADS_1
“Kenapa Rafael sampai berpikir seperti itu?” Pikir Fina. “Aku enggak pernah menonton drama karena di rumahku enggak ada televisi. Karena semenjak tersambar petir, televisi di rumah memang dibiarkan mati, sedangkan saben hari tanpa kenal waktu, Ipul rese genjrang-genjreng main gitar di sebelah kamarku. Enggak bakalan fokus menonton kalau keadaannya seperti itu, kan?” balas Fina jengkel dan sampai tertuang dalam ucapannya.
Mendengar nama Ipul disebut, kepala Rafael mendadak pusing. Itu juga yang membuatnya terpejam sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, demi meredamnya.
“Kamu, ... baik-baik saja?” tanya Fina khawatir. Wajah Rafael sampai terlihat pucat. “Aku rasa, kamulah yang seharusnya makan?” tawarnya kemudian dengan keadaan yang mendadak serba salah. Karena baginya, ia dan Rafael belum akrab.
Sambil tetap terpejam, sebelah tangan Rafael menunjuk Fina, sedangkan sebelahnya lagi memijat pelipis. “Mulai sekarang juga, kamu buang ponsel kamu. Enek aku lihat foto dia di ponsel kamu. Ingat ulahnya saja sudah bikin emosi, apalagi sampai lihat fotonya!” uringnya.
“Nah, kamu saja yang baru beberapa hari kenal dia, sudah enek begitu, apalagi kalau kamu jadi aku? Sudah berulang kali bunuh diri bahkan mungkin sampai reinkarnasi, kayaknya!” balas Fina yang juga kebablasan curhat.
“Cepat, buang ponselmu!” tuntut Rafael masih mengomel.
“Kalau aku membuang ponselku, aku pakai apa? Lagian di situ masih banyak data penting,” tolak Fina.
Rafael yang tidak menerima alasan, segera mengambil alih ponsel Fina dari kedua tangan wanita itu. Kemudian, dengan langkah yang semakin cepat, Rafael membuka pintu kaca selaku pembatas antara kamar kebersamaan mereka dengan kolam renang di luar sana. Di belakang Rafael, Fina sampai berlari dalam menyusul. Dan segera, Rafael melempar gawai berisi foto Ipul yang membuatnya telanjur muak, dengan tenaga penuh. Ponsel Fina melesat keluar dari dinding luar ruang keberadaan kolam renang yang terbilang tinggi.
Puas dengan keputusan sekaligus ulahnya, Rafael sampai mengembuskan napas lega kemudian balik badan dan membuatnya mendapati Fina. “Hari ini juga, aku ganti yang baru lengkap dengan nomor baru! Tenang, enggak usah sekhawatir itu. Ponselmu bakalan beribu kalilipat lebih bagus dari ponsel lamamu yang sudah ternoda kelakuan Ipul!” cibir Rafael ketika melihat ekspresi Fina yang terlihat sangat menyayangkan ulahnya. “Tapi kalau sampai di ponsel barumu juga ada foto Ipul lagi, aku pastikan akan membuang ponselmu lagi!”
Fina merengut sebal lantaran dari ucapan Rafael, pria itu jelas menuduhnya sengaja menyimpan foto Ipul. “Dia itu kirim foto barusan! Buat apa juga aku simpan foto dia, ya Alloh Rafael, ... fitnah banget sih kamu!” cibir Fina mencoba memberi penjelasan.
Sambil berlalu masih dengan langkah cepat dan terlihat tergesa-gesa, Rafael berkata, “sudah ... sudah ... jangan bahas dia lagi. Sekarang kamu makan dan segera jalani perawatan. Jangan sampai kakek dan orang tuaku mengetahui keberadaanmu dari orang lain. Dan nalam ini juga, kita harus menemui mereka.”
Meski Rafael mengatakannya sambil berlalu, tetapi Fina masih bisa mendengarnya dengan baik. Rafael akan membawanya menemui kakek dan orang tua pria itu, malam ini juga? Luar biasa! Rafael sukses membuat jantung Fina nyaris copot dan Fina sampai menahan dadanya kuat-kuat menggunakan kedua tangan, demi menghindari kejadian tersebut.
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja Fina ingat, mengenai statusnya yang masih terikat dengan Bian, berikut perihal apa yang harus ia katakan kepada keluarga Rafael nanti. Karenanya, Fina buru-buru berlari menyusul Rafael sambil berkata, “bahkan aku dan Bian belum resmi bercerai, sedangkan perihal--?”
Fina belum selesai berbicara, tetapi Rafael sudah mengangkat tangan kanannya, seiring langkah pria itu yang berangsur berhenti. Dan kenyataan tersebut membuat Fina refleks diam sekaligus takut. Terlebih bagi Fina, Rafael sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan pria itu terkesan sedang patah hati.
“Aku mohon jangan membuatku marah, Fin. Lakukan saja apa yang aku minta. Aku enggak harus membuatmu bernasib sama dengan ponselmu, kan?” balas Rafael penuh penekanan dan hanya sebatas melirik Fina.
Dengan rasa takut yang tiba-tiba menyekap, Fina pun pasrah. “Baiklah.”
“Sepuluh menit dari sekarang, ... kamu harus selesai makan. Dan aku enggak mau mendapatkan laporan buruk mengenaimu.” tegas Rafael tanpa mengubah keadaannya.
“Iya.” Sekali lagi, Fina kembali menurut.
“Mulai sekarang, cukup lakukan semua perintahku, dan aku akan memberimu semuanya. Sekarang, hidupmu sesederhana itu tanpa harus bersusah-payah lagi!” Setelah berucap seperti itu, Rafael berlalu meninggalkan Fina untuk yang ke dua kalinya di hari ini.
Fina terdiam tak percaya. Wanita itu benar-benar masih belum bisa percaya mengenai apa yang menimpa kehidupannya. Bertemu Rafael, ... sebenarnya berkah, atau musibah? Rafael benar-benar akan membahagiakan keluarganya, kan? Pikir Fina yang buru-buru lari mengambil makannya lantaran teringat titah Rafael. Ia hanya diberi waktu sepuluh menit untuk menghabiskan makanan sebanyak itu yang bagi Fina bisa untuk tiga kali makan.
Fina segera terduduk di kursi rias. Wanita itu makan di sana dengan sangat cepat, tak hentinya memenuhi mulutnya dengan lauk pauk berikut sayuran, bak orang kesurupan, hanya demi mengejar waktu yang telah Rafael tuntutkan.
Bersambung ....
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa. Setelah ini, Author tinggal update “Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh)” sama “Selepas Perceraian”
Selamat menjalankan aktivitas dan tetap jaga kesehatan kalian!
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.