Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 23 : Pamit


__ADS_3

“Dan setidaknya, ... kalian tetap percaya kepadaku walau hanya sedikit ....”


Episode 23 : Pamit


Setelah memastikan tidak ada yang membesuk lagi, di tengah suasana yang sudah gelap, Fina memutuskan untuk pergi ke ruang rawat Raswin. Fina dapati kedua jarum jam dinding di ruang tunggu depan ruang rawat Raswin, menunjuk tepat pukul sembilan malam. Dengan kata lain, hampir enam jam lamanya Fina terjaga di depan ruang jenazah. Dan selama itu juga, Fina yang terdiam merenungi nasibnya, mendapati dua kematian. Ada dua jenazah yang diantar dan kebetulan karena kecelakaan.


Kedua mayat yang merupakan anak SMA tadi bergelepot darah khususnya di bagian kepala. Dan menurut petugas yang mengurus, kedua remaja tersebut meninggal karena kecelakaan motor. Kenyataan yang semakin membuat Fina parno terhadap kendaraan beroda dua tersebut. Terlebih, Fina juga pernah mengalami sakit hingga trauma karena ditabrak dari arah berlawanan oleh pengemudi lain. Namun, ... kalau dipikir-pikir, kenapa semua yang ada dalam hidup Fina selalu berakhir dengan trauma? Kenapa semuanya benar-benar membuat Fina trauma? Mengendarai motor, trauma. Persahabatan, cinta bahkan nikah pun, trauma.


Dan semua pemikiran di luar permasalahan tersebut sirna dari pemikiran Fina, lantaran kehadirannya di ruang rawat Raswin, justru didiamkan oleh Rina mau pun Murni.


Fina yang baru saja meninggalkan pintu ruang rawat mulai curiga, apakah sesuatu yang buruk telah menimpa kedua wanita tersebut? Atau jangan-jangan, Rina dan Murni juga sudah teracuni berita yang berkembang? Perihal gosip Fina yang sudah menyaingi artis papan atas, di desa mereka tinggal?


“Bu, ... Rin? Kalian sudah makan?” tanya Fina basa-basi demi mencairkan suasana. Sebelah tangannya menggaruk pelan sekitar lehernya yang sebenarnya tidak gatal. Namun sekali lagi, ia tetap didiamkan. “Kalian mau makan apa?” Fina yang sebenarnya juga sudah kelaparan berangsur duduk di tikar sebelah ranjang rawat Raswin, selaku tempat Rina dan Murni duduk.


Sekali lagi, Rina dan Murni justru minggir bahkan terlihat tidak sudi untuk sekadar melirik Fina. Dan kenyataan tersebut sukses mengaduk-ngaduk perasaan Fina di antara kesedihan yang tiba-tiba menyerang. Fina bahkan sudah nyaris menangis, tetapi sebisa mungkin, ia menahannya agar tidak ada satu pun yang mengetahui apalagi adik dan ibunya, jika sebenarnya, ia sudah sangat lelah bahkan ingin menyerah.


“Mengenai masalah biaya pengobatan bapak ...,” ucap Fina yang memang menjadi tidak bersemangat. Ia yang cenderung menunduk, kerap melirik Rina dan Murni yang duduk berdempelan dan terlihat jelas menghindarinya. “Semuanya sudah beres ... bapak tinggal menjalani pengobatan ... dan ke depannya, keperluan pengobatan bapak juga enggak usah dipusingkan.”


“Tapi Mbak enggak seharusnya menghalalkan segala cara, kan, hanya untuk mendapatkan semua itu?” tuntut Rina yang menatap Fina sambil menitikkan air mata. Jemarinya bergerak cepat di layar ponselnya yang berangsur menyala. Dan tak lama setelah itu, ia menyodorkan ponselnya kepada Fina, di antara kekesalan berikut luka yang seolah membuncah.


Foto Fina yang sedang bersama Rafael, sebelum Fina dipergoki empat ibu-ibu saat akan membantu Rafael menemui Raden di awal pertemuan mereka, setelah sekian lama tak bertemu.


Tak beda dengan Rina, Fina yang terlihat jauh lebih tegar, dan memang sengaja memaksa dirinya untuk selalu tegar, juga berlinang air mata. “Demi keluarga, ... semuanya akan kulakukan tanpa terkecuali, Na!” Ia menghela napas dalam demi meredam rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi rongga di dalam dadanya. “Dan semua yang di foto, enggak seperti yang kalian pikirkan!” yakinnya.


“Foto-foto ini sangat jelas, Mbak! Dan enggak seharusnya juga, Mbak mengorbankan harga diri, Mbak!” tuntut Rina lagi dengan suara lirih yang dipenuhi penekanan. Sesekali, ia yang merasa kecewa sekaligus terluka, menyeka air matanya dengan asal menggunakan kedua punggung tangannya.

__ADS_1


Dengan air mata yang terus berlinang dan dibiarkan begitu saja, Fina berangsur menatap Rina. “Memangnya, ... sejak kapan aku punya harga diri, setelah semua yang terjadi? Dan setelah keadaan begitu mendesak sedangkan kita tidak memiliki pilihan lain ...? Diam ...? Apakah sebatas diam, bisa menciptakan perubahan apalagi keajaiban? Apakah mulut-mulut mereka bisa membuat bapak baik-baik saja, sembuh dari penyakitnya? Dan apakah semua yang kamu tuntutkan juga bisa membuat semuanya membaik ...?!”


“Fina, cukup! Kamu sudah kelewatan!” tahan Murni yang akhirnya angkat suara.


Fina menunduk kecewa. “Padahal, ... aku hanya menginginkan kepercayaan sekaligus dukungan dari kalian. Aku benar-benar hanya meminta kedua hal itu!” tegasnya meyakinkan. “Dan setidaknya, ... kalian tetap percaya kepadaku walau hanya sedikit ....”


“Ibu enggak pernah mengajarimu jadi wanita enggak benar, ya, Fina!” Murni kian tidak bisa meredam emosi. Bahkan panggilannya kepada Fina yang biasanya “mbak”, berubah drastis selain terdengar kasar sarat kemarahan.


Rina yang duduk di sebelah Murni, segera merangkul sekaligus mencoba menenangkan ibunya.


“Bahkan kalian lebih percaya pada orang lain ...? Dengan kata lain, ... sekarang, ... sekarang aku benar-benar berjuang sendiri?” batin Fina yang memilih mundur tanpa perubahan berarti. Ia melangkah loyo dan membiarkan air matanya bebas berlinang mewakili setiap luka yang selama ini ia tahan. Juga, ... luka yang akhirnya melesat dari bendungan yang selama ini selalu ia perkokoh.


Fina duduk di seberang kebersamaan Rina dan Murni. Ia bersimpuh di lantai sambil menyandarkan kepalanya pada tembok tempatnya menyandarkan tubuh. Tatapan Fina yang menjadi nanar juga menjadi sarat menahan luka.


Tak ada kata yang membersamai kebersamaan mereka. Lebih tepatnya, Rina dan Murni benar-benar mendiamkan Fina. Dan kenyataan tersebut masih berlanjut hingga keesokan harinya. Fina yang sengaja bangun pagi-pagi untuk mengompres tubuh Raswin, langsung mendapatkan penolakan tanpa kata. Karena setelah Murni merebut baskom berikut handuk kompres dari Fina, Fina yang awalnya baru memungut pakaian bekas Raswin juga langsung disingkirkan oleh Rina. Rina mengambil pakaian kotor Raswin kemudian berlalu dari kebersamaan, tetapi Fina yakin, Rina akan langsung mencucinya.


***


Mungkin sekitar dua puluh menit kemudian, Fina kembali sambil membawa kantong berisi makanan yang dibelinya. Di mana, Rina dan Murni yang sudah terjaga untuk Raswin juga langsung kompak mendiamkannya.


Fina yang tak lantas melanjutkan langkah, sebenarnya merasa sangat tersiksa atas penghakiman yang ia dapatkan dari kedua orang yang seharusnya memberinya dukungan. Namun, Fina juga tidak mau semakin larut dengan keadaan terlebih membiarkannya dalam diam. Ia menghela napas dalam kemudian melangkah ke arah Rina dan Murni. Ia siap mengakhiri semuanya.


Fina meletakkan kantong berisi makanannya di depan Rina dan Murni yang memang duduk di tikar. Ia berlutut di hadapan keduanya sambil terus menunduk.


“Bu ... Rin ... demi Tuhan, meski apa yang di foto memang aku, tetapi kejadiannya tidak seperti yang kalian pikirkan. Pria itu, ... kami hanya berteman. Dan dari pria itu juga, aku mendapat pinjaman uang.” Bagi Fina, ia tidak mungkin menjelaskan secara gamblang mengenai hubungannya dengan Rafael, termasuk jasa-jasa Rafael di masa lalu. Sebab, Fina takut, kenyataan tersebut justru hanya memperkeruh suasana. “Semua yang kudapatkan darinya adalah hutang. Hutang yang tentunya harus kubayar. Jadi, daripada bertahan di sini dan malah selalu mendapatkan banyak masalah, aku memutuskan untuk bekerja. Aku mau cari kerja di Jakarta, karena aku enggak mungkin mengandalkan gajiku sebagai guru honorer. Belum lagi, dengan kasusku yang terus saja berkembang, pasti cari kerja di sini juga enggak mungkin aman.”

__ADS_1


Rina dan Fitri masih kompak diam, meski kali ini, keduanya akan sesekali melirik Fina.


“Dan mengenai Ipul, kenapa dia sampai dipenjara, ... seharusnya kalian tahu alasannya.” Fina menghela napas dalam. Sebab, hari ini juga, ia berniat hijrah ke Jakarta. Ia benar-benar sudah tidak sanggup jika harus bertahan sedangkan gosip buruk tentangnga justru semakin menggila dan sangat menyakitkan. “Aku titip bapak. Dan kalian enggak usah khawatir aku lari dari tanggung jawab. Doakan saja, ... doakan saja supaya aku kuat. Sedangkan mengenai kekurangan pengobatan, ... nanti aku tinggali uangnya sekalian buat pegangan kalian.”


Rina dan Murni benar-benar tidak berkomentar. Kenyataan tersebut pula yang membuat Fina merasa semakin sakit sekaligus berat. Bahkan sekalipun ia sudah sampai berderai air mata, tetapi sepertinya luka, ego, sekaligus rasa kecewa kedua orang di hadapannya lebih kuat dari ketulusan Fina sendiri.


Fina berlalu dari hadapan keduanya sambil mengatur napasnya dengan pelan demi meredam sesak di dadanya yang kian terasa sangat menyisa. Tak lupa, ia juga menyeka air matanya hingga akhirnya, ia sampai di seberang Rina dan Murni. Fina berniat pamit juga kepada Raswin.


“Aku benar-benar enggak percaya, jika pada akhirnya, aku harus bertahan sekaligus berjuang sendiri tanpa sedikit pun kepercayaan ... Pak, ... aku pamit!” batin Fina yang kemudian menyalami tangan kanan Raswin.


Di waktu yang sama, Raswim berangsur membuka matanya. Ia menatap Fina yang kian berlinang air mata, sambil menitikkan air mata.


Fina tidak mengerti maksud air mata Raswin. Apakah air mata Raswin juga bentuk dari kekecewaan layaknya Rina dan Fitri? Atau ... rasa lain yang sangat Fina harapkan sejenis, ... kepercayaan? Akan tetapi, Fina tidak mau larut dengan semua itu. Toh, tidak ada gunanya dan memang tidak akan mengubah keadaan. Yang harus ia lakukan kini hanyalah bekerja, mencari uang yang banyak untuk mengganti biaya pengobatan Raswin, dengan tidaknya dukungan dari orang lain termasuk keluarganya sendiri.


“Pak, Bu, Rin ... aku pamit. Aku mau langsung siap-siap. Karena nanti sore juga, aku akan langsung berangkat.” Fina mengatakan hal tersebut sambil mengulas senyum di antara linangan air matanya yang tak hentinya berlinang. Berat dan sangat sakit, ... itulah yang ia rasakan sekarang.


Bersambung ....


Pagi-pagi, ini mata sama hidung sudah meler gara-gara nulis ini ....


Ya sudah, Author mau nulis lanjutan “Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh)” dulu, yaa.


Terus ikuti dan dukung ceritanya.


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2