Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 48 : Bayi Tua


__ADS_3

“Kan aku sukanya cuma sama kamu ... sudah sana masak yang enak,”


Episode 48 : Bayi Tua


Fina berangsur menarik diri, mengakhiri pelukannya terhadap Rafael lantaran wanita itu sadar, kini, di rumahnya sedang banyak orang. Bisa menjadi bahan pembicaraan jika orang-orang itu sampai mengetahui apa yang Fina dan Rafael lakukan. Pun meski pada kenyataannya, Fina dan Rafael merupakan pengantin baru yang seharusnya sedang mesra-mesranya. Akan tetapi Fina sadar, mulut tetangga juga tak kalah menyeramkan dari ancaman Den Bagus Saeful yang selalu menyakitkan. Dan tanpa benar-benar berlalu dari tubuh Rafael, Fina yang menunduk, berangsur menyeka air matanya dengan hati-hati.


Lain halnya dengan Fina yang masih bersedih, Rafael justru masih sibuk menahan tawanya. Hal tersebut terjadi lantaran Rafael terus teringat ulah Ipul ketika pria dekil itu meninggalkan pelataran rumah Fina. Tak hanya karena Ipul sampai kembali menangis meraung-raung, melainkan karena pria itu juga memacu motor dengan kecepatan penuh, hingga tubuh Ipul cukup loncat-loncat, tak ubahnya orang yang sedang memacu kuda di jalanan terjal.


Sungguh, meski Ipul memiliki sifat sangat buruk termasuk perihal pria itu yang begitu jorok, akan tetapi, Ipul juga acap kali membuat Rafael tertawa. Bahkan tak jarang, perut Rafael seperti dikocok, saking lucunya Ipul yang juga sering kali bertingkah di luar kewajaran.


Bahkan kali ini Rafael sampai berpikir, sorakan anak-anak yang terdengar begitu jelas dari luar, karena mereka juga sedang menertawakan Ipul.


“Ehm ... kalau di kampung, enak, ya? Ramenya karena anak-anak, dan semua suara manusia yang sibuk berinteraksi, selain suara burung atau kodok? Beda sama di kota. Rame, ya karena suara kendaraan atau mesin lainnya,” ucap Rafael kemudian dan memang masih berdiri di hadapan Fina.


Fina yang baru saja selesai menyeka air mata, dan akan mundur, berangsur mengangguk. “Iya. Nantinya, aku pasti bakalan kangen suasana di sini. Kangen teras rumah, ... kangen kamar, kangen suasana sawah ....”


“Sekalian saja satu kampung ini kamu masukin ke ransel, Fin, biar afdol!” balas Rafael penuh penekanan.


Fina tahu, Rafael sedang geregetan padanya. Karena meski belum mengenal pria itu dalam waktu lama, tetapi perlahan-lahan Fina mulai bisa memahami sifat Rafael yang bahkan ... pencemburu.


Sambil menengadah menatap Rafael yang masih ada di hadapannya, Fina pun berkata, “tadi kamu cium-cium kepalaku, karena kamu sengaja manas-manasin Ipul, kan? Kamu pikir aku enggak tahu?”


Fina sengaja menggoda Rafael. Meski apa yang Fina lakukan tampaknya berhasil membuat Rafael kesal. Karena di detik berikutnya setelah Fina baru selesai menggoda, tiba-tiba Rafael menarik sebelah tangan Fina hingga tubuh mereka kembali tak berjarak.


Fina benar-benar dilanda tegang, apalagi Rafael tak hanya menarik tangannya. Sebab di detik selanjutnya, kedua tangan pria itu langsung membingkai wajahnya. Dan apa yang Rafael lakukan selanjutnya, seolah-olah pria itu akan mencium bibir Fina. Bahkan andai saja tidak ada seruan lari yang terdengar mendekat dan Fina juga refleks mendorong tubuh Rafael sekuat mungkin, mungkin Rafael juga benar-benar melakukan hal yang lebih.


Sambil melirik Fina, Rafael berdeham. “Enggak harus setegang itu, kan?” godanya.


Fina mendengkus sambil melirik Rafael dengan sangat sebal. “Apa coba untungnya jailin aku?” cibirnya lirih.


Rafael refleks tertawa menyikapi balasan Fina yang kali ini menjadi begitu sinis meski wanita itu terlihat jelas salah tingkah.


Tak lama setelah itu, Rina datang dengan langkah cepat. Selain sangat antusias, wajah gadis itu juga terlihat begitu semringah.


“Ada apa, Rin?” tanya Fina yang sebenarnya dalam tahap pemulihan atas ketegangan yang masih menderanya gara-gara ulah spontan Rafael, beberapa detik sebelumnya.


“Itu, Mbak ... pengin lihat si Ipul katanya masuk kolam lelenya uwa Bejo!” balas Rina yang kali ini melalui Fina. “Maaf, Mas, permisi,” sambungnya lantaran posisi pintu memang dipunggungi Rafael.


Rafael langsung minggir ke arah Fina. Fina yang justru mengikuti kepergian Rina.


“Kok bisa? Nanti kalau lele-lelenya sampai pada mati kena virus Ipul bagaimana?” sergah Fina penasaran. Ia melepas kepergian Rina hingga teras rumah.


Rina yang awalnya sudah nyaris meninggalkan pelataran rumah di mana gadis itu juga melakukannya dengan langkah tergesa, segera balik badan. “Hahaha ... kayaknya semua orang lebih menkhawatirkan lele-lele uwa Bejo, daripada Ipulnya deh!” serunya.


Rina kembali lari dan gadis itu belok ke sebelah kiri selaku keberadaan kolam lele yang memang satu jalur dengan arah jalan menuju rumah Ipul.


Dan kenyataan kini membuat Fina terpaksa menekap mulutnya menggunakan kedua tangan, demi meredam tawanya yang detik itu juga menjadi pecah.


Tak kalah penasaran, Rafael pun menyusul Fina. Ia menatap penasaran kepergian Rina. “Itu jangan-jangan, anak-anak pada rame, karena menyoraki Ipul, ya?”


Fina yang masih berusaha meredam tawanya, segera mengangguk. “Bisa jadi!”

__ADS_1


Fina berlalu dari hadapan Rafael.


“Fin ... aku lapar, lho,” keluh Rafael tiba-tiba sambil menyusul Fina.


Fina refleks memelankan langkah sambil menoleh, sedangkan di belakangnya, Rafael juga melangkah dan menyusulnya.


“Kamu mau makan apa?”


“Aku juga bingung mau makan apa?”


“Dari kemarin kamu belum makan nasi?”


“Karena aku memang enggak makan nasi.”


“Diet, atau memang sengaja puasa nasi?


“Dari kecil aku memang enggak makan nasi.”


“Lho, ... kok gitu? Aneh ...?”


“Yang aneh itu nasinya.” Rafael melangkah mendahului Fina menuju kamar Fina yang keberadaannya di seberang kiri ruang tamu.


“Bahkan nasi pun kamu salahkan?” cibir Fina sambil menyusul kepergian Rafael.


Rafael berangsur merebahkan tubuhnya di kasur yang terbilang tidak lebih panjang dari tubuh Rafael sendiri. Nyatanya, kaki Rafael sampai menggantung.


“Ini kok kamu tempat tidurnya nanggung banget?” keluh Rafael sambil berusaha bangkit. Ia menatap miris kakinya yang sampai keluar dari ranjang tidur.


Fina segera menggunakan bantal yang ia bawa, untuk mengganjal kaki Rafael agar tidak menggantung lagi.


Mendapatkan itu, Rafael tersenyum puas sambil memejamkan matanya. Namun, ketika Rafael terlihat begitu nyaman, Fina yang mendapati kenyataan tersebut langsung mendengkus kesal.


“Fin ... jendelanya buka lagi, biar anginnya tambah kenceng. Spoi spoi kayak di pantai ini,” pinta Rafael kemudian dengan keadaannya yang masih terpejam.


Tepat di seberang tempat tidur memang ada jendela kayu dua muka. Jendela kayu yang juga sempat Fina gunakan untuk kabur ketika dipaksa menikah dengan Bian.


“Segitu saja, takutnya Ipul masuk,” balas Fina terbilang mengeluh.


Rafael berangsur membuka matanya dan menatap Fina dengan tatapan tak percaya. “I-ipul, ... sampai nekat masuk lewat jendela?” tanyanya memastikan pada wanita yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya.


Tanpa berkomentar, Fina langsung mengangguk serius.


“Ya ampun ....” Rafael menggeleng tak habis pikir. “Kalau aku ninggalin Fina di sini, bisa-bisa si Fina beneran diculik sama si Ipul!” batin Rafael.


“Terus, mau makan apa?” tagih Fina.


“Ah ... aku mau mi rebus terus minumnya air kelapa muda,” sergah Rafael bersemangat.


“Kelapa muda?” ulang Fina tidak yakin.


“Iya. Di sini banyak pohon kelapa muda, kan?” balas Rafael masih menikmati rebahan santainya.

__ADS_1


“Masalahnha, yang manjat sama petik kelapa mudanya, siapa?” balas Fina masih tidak yakin. “Bapak kan sakit,” tambahnya.


“Ya jangan bapak. Itu kan ada si Otoy sama Didin,” balas Rafael.


“Oh, oke ... terus, mi rebusnya? Ah, biar aku yang buat, kamu kan tinggal makan. Nanti kamu wajib habisin, lho!” Fina benar-benar dengan keputusannya tanpa mempertimbangkan kemauan Rafael.


Namun Rafael buru-buru bangun dan berseru, “kalau kamu asal masak, kamu yang makan, lho!”


Mendengar seruan Rafael yang terdengar mengancam, Fina yang baru keluar dari kamar, berangsur menghentikan langkahnya. Wanita itu kembali menghampiri Rafael demi meredam suara yang Fina takutkan akan sampai disertai umpatan, karena sekarang saja, ia mulai terbawa emosi.


“Apa?” tagih Fina.


“Mi kuah pakai telor, kuning-kuningnya diancurin. Kasih cabe dikit saja,” jelas Rafael.


“Pakai sayur, ya?” tawar Fina.


Rafael langsung menggeleng. “Enggak usah.”


“Ayolah, jangan seperti bayi,” keluh Fina.


“Karena aku juga enggak suka sayur,” balas Rafael meyakinkan.


“Dasar orang kota, makan saja pilih-pilih!” Dan pada kenyataannya, Fina mulai mengomel-ngomel. “Tadi enggak mau nasi. Sekarang sayur pun enggak mau!”


“Tapi aku memang enggak suka, Fina ...!”


“Kalau enggak suka nasi sama sayur, sukanya apa? Tinggal makan saja pilih-pilih!” Fina masih mengomel kendati masih dengan suara lirih.


“Kan aku sukanya cuma sama kamu ... sudah sana masak yang enak,” balas Rafael dan sengaja menggoda Fina.


Balasan Rafael sukses membuat Fina kikuk. Bahkan Fina sempat merasa sangat gugup. “Dasar!” umpatnya kemudian dan berusaha semarah mungkin demi meredam kegugupannya.


“Ya makanya jangan memaksaku melakukan hal yang enggak kusukai apalagi mengenai makanan.” Rafael kembali terpejam dengan gaya yang begitu santai--kedua tangan menjadi penopang kepala di atas bantal.


Dengan emosi yang masih memenuhi dadanya, Fina berujar, cepat atau lambat, ia akan membuat Rafael menyukai semua makanan khususnya nasi dan sayuran.


“Sudah jangan menatapiku seperti itu. Nanti kamu tambah cinta,” sindir Rafael yang bahkan masih bisa merasakan kehadiran Fina kendati kedua matanya sudah terpejam damai.


“Dasar bayi tua!” cibir Fina.


Dan tanpa melakukan perubahan berarti, Rafael membalas, “terima kasih.”


Setelah memejamkan kedua matanya demi meredam rasa kesal akibat mengurus Rafael, Fina beranjak pergi. Wanita itu menutup pintu kamarnya dengan hati-hati, mengingat Rafael tak ubahnya bayi yang tak segan merengek, melainkan sangat berbakat dalam menyalahkan.


Bersambung .....


Mau update tambahan, enggak?


Like, komen, sama votenya, yaaa 😆😆😆😆


Selamat menjalankan aktivitas,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2