Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 43 : Cemburu


__ADS_3

Boleh dibilang, ... satu-satunya harta berharga seorang istri adalah sang suami, yang juga akan membuatnya menjadi seorang ibu, setelah melahirkan buah hati dari hubungan mereka.


Episode 43 : Cemburu


Raswin dan Murni melepas kepergian Fina yang melangkah mengikuti Rafael, dengan perasaan campur aduk. Sedih, senang, bahkan lega masih begitu kuat mereka rasakan dalam waktu bersamaan.


“Rasanya ... beda banget dari pas mbak Fina sama mas Bian,” ucap Rina dengan wajah yang terlihat begitu serius.


Rina memang sedang merenung. Gadis itu kembali memutar ingatannya demi membedakan ekspresi wajah Fina ketika menikah dengan Bian, juga ketika kakak perempuannya itu menikah dengan Rafael. Tadi, Fina terlihat begitu tenang. Sangat berbeda dari ketika wanita itu menjadi mempelai pengganti untuk menikah dengan Bian.


“Jangan bahas Bian lagi. Hargai mas Rafael. Dia sudah terlalu banyak berkorban. Toh ... pernikahan sebelumnya juga sudah dibatalkan. Tinggal pertemuan untuk peresmiannya sana,” tegur Murni.


Rina yang langsung diam, refleks memanyunkan bibirnya. Kemudian, tanpa direncanakan, baik Rina maupun Murni refleks menoleh ke arah Raswin yang masih terduduk selonjor di ranjang rawatnya.


Dari depan pintu kebersamaan mereka, Murni dan Rina mendapati Raswin yang terdiam dengan tatapan kosong lurus ke depan. Karenanya, setelah menghela napas pelan, keduanya segera menutup pintu dan menghampiri pria itu.


Tata letak meja dan kursi telah kembali ke tempat semula. Tak ada lagi meja yang menempel pada ranjang rawat Raswin, termasuk kursi-kursi yang tadi sempat mengelilingi. Dan ketika Rina memilih duduk di dekat kaki Raswin di mana gadis itu juga langsung memijati kaki sang ayah, Murni yang duduk di sebelah bahu suaminya juga melakukan hal serupa. Murni memijat bahu Raswin dengan penuh pengertian.


“Pak, jangan bengong begitu ... aku yakin, kali ini Mbak Fina benar-benar bahagia,” tegur Rina meyakinkan.


“Badai di keluarga kita telah berlalu setelah kehadiran mas Rafael, Pak. Jangan terlalu dipikirkan, nanti Bapak tambah stres,” tambah Rina lagi dengan kedua tangan yang masih sibuk memijat kaki Raswin kendati tatapannya fokus pada wajah pria itu.


“Rasanya ...,” ucap Raswin dengan hati yang terasa begitu damai. Kemudian ia menatap Murni berganti pada Rina.


Raswin menyalurkan rasa damai yang tengah membuatnya begitu lega sekaligus bahagia, melalui tatapannya. “Kayaknya sakit Bapak langsung sembuh, deh ...,” ucapnya.


Rina dan Murni yang terkejut mendengar pengakuan Raswin, menatap pria itu tak percaya.


“Rasanya sudah enggak ada yang sakit lagi ....” Raswin masih berusaha meyakinkan kedua wanita yang ada di hadapannya.


“Alhamdullilah ...!” ucap Murni dan Rina serempak dan benar-benar bersyukur.


Raswin, Murni, berikut Rina benar-benar bersyukur, lantaran pernikahan Rafael dan Fina membawa banyak perubahan positif bahkan, ... berkah.


***


Menjadi istri Rafael, membuat Fina mengikuti bahkan mengabdikan diri pada pria itu. Kini, ia pun duduk di sebelah Rafael yang sedang mengemudikan mobil.


Setelah acara ijab qobul selesai, disertai beberapa penjelasan pak Sholeh perihal pernikahan yang nyatanya menjadi bagian dari ibadah, tak lama setelah itu, Rafael memang pamit dan mengajak Fina ikut ke hotel.


“Kenapa kamu enggak ninggalin aku di rumah sakit saja?” tanya Fina dan berhasil memecahkan keheningan yang menyelimuti kebersamaan.


Rafael mengemudi dengan begitu tenang kendati jalan yang mereka lalui begitu lengah.


“Kamu itu sudah jadi istriku. Masa iya aku ninggalin kamu begitu saja apa pun alasannya? Justru aneh kalau aku ninggalin kamu tetap di sana apa pun alasannya,” balas Rafael dengan suara yang terdengar berat.


Sesekali, Rafael juga memijat pelipis berikut keningnya, sembari terus fokus dengan kemudinya.


Fina kembali menatap Rafael. “Kan kamu juga bisa sekalian menginap?”


Sebenarnya, Fina sedang merasa sangat galau. Sebab menjadi istri tak ubahnya menanam benih-benih rindu kepada keluarganya, dan sewaktu-waktu bisa menjeratnya dengan banyak belenggu. Bahkan, ... Fina merasa, menjadi seorang istri juga akan membuatnya kembali memulai semuanya dari awal. Fina akan memulainya sendiri. Dan Fina harus semakin dekat dengan suaminya demi keharmonisan rumah tangga mereka.


Boleh dibilang, ... satu-satunya harta berharga seorang istri adalah sang suami, yang juga akan membuatnya menjadi seorang ibu, setelah melahirkan buah hati dari hubungan mereka.

__ADS_1


“Aku ngantuk berat, Fin ... kan dari kemarin aku enggak tidur malam cukup,” balas Rafael yang bahkan kerap menekapkan sebelah tangannya pada mulut, lantaran ia tak hentinya menguap.


Fina menyadari jika pria di sebelahnya yang juga sudah resmi menjadikannya sebagai istri, memang sangat mengantuk.


“Sebentar lagi sampai, kan? Nyetirnya harus fokus. Tapi ...,” ucap Fina yang sengaja menggantung ucapannya. Ia memastikan waktu melalui jam otomatis mobil yang ada di hadapannya. Dan kini, waktu yang berjalan tepat pukul empat pagi. “Tapi sebentar lagi subuh ... kita sholat subuh dulu sekalian, ya?”


“Aku kan belum bisa,” balas Rafael dengan suara yang terdengar semakin berat, efek kantuknya yang juga semakin parah.


“Nanti aku ajarin. Pelan-pelan ...,” bujuk Fina.


“Baiklah ... syahadat, sholat, puasa, zakat, haji. Otakku masih bekerja dengan baik.” Rafael mengangguk-angguk bangga di tengah mata sipitnya yang kian pipih.


Melihat itu, Fina hanya tersenyum geli. Rafael terlihat sudah sangat mengantuk, dan beruntung, mereka telah sampai di hotel tempat Rafael menginap.


Rafael segera menepikan mobilnya di tempat parkir dengan wajah yang menjadi lebih hidup. “Akhirnya sampai juga ...,” gumamnya.


Ketika Rafael keluar dari mobil, Fina juga melakukan hal yang sama dari pintu sebelahnya. Tampak pria itu yang langsung membuka pintu penumpang. Pria itu mengambil ransel milik Fina dari tempat duduk di sana kemudian menentengnya.


Fina pun segera mengikuti Rafael. Dan hubungan mereka, benar-benar mengalir begitu saja layaknya sahabat dekat yang sudah sangat lama mengenal satu sama lain. Tak ada rasa canggung apalagi gugup seperti halnya ketika mereka akan melangsungkan ijab qobul sekitar satu jam lalu.


***


Di hotel tersebut, Rafael menginap di kamar terbaik. Kendati demikian, fasilitas berikut kenyamanan hotel yang sedang mereka tempati, tidak ada apa-apanya dengan hotel milik Rafael yang bagi Fina sangat mirip dengan istana.


Kini, meski sudah sangat mengantuk, tetapi Rafael menghargai usaha Fina yang membantunya mengenal Tuhan. Rafael segera melepas mantel yang dikenakan hingga menyisakan kaus berwarna putih yang cukup mengekspos tubuh bidangnya. Dan tak beda dengan Fina, Rafael juga berangsur jongkok untuk melipat celana panjang yang dikenakan hingga lutut.


“Kita mulai dari wudu lagi ...,” ujar Fina.


“Aku enggak begitu hafal sama doanya,” balas Rafael dengan dahi yang sampai berkerut karena ia memang belum begitu hafal.


Meski awalnya baik-baik saja tak ubahnya sahabat yang sangat dekat, bahkan hingga sholat berjamaah mereka usai, tetapi kenyataan layar ponsel Fina yang mendadak menyala, berhasil mengusik fokus perhatian Rafael.


Baik ponsel Rafael maupun Fina memang sama-sama ada di nakas sebelah kasur tujuan Rafael, bersanding dengan kunci mobil. Namun, menyalanya layar ponsel wanita itu membuat Rafael menaruh curiga. Sedangkan di belakang sana, di dekat lemari, sebagai pemilik ponsel, Fina sedang menggantung mantel Rafael menggunakan hanger, dan terlihat jelas tidak tahu-menahu.


Rafael yang kebetulan akan duduk di tepi kasur untuknya tidur, langsung melongok ponsel Fina, yang nyatanya tengah menampilkan telepon masuk dari Bian. “Kenapa dia harus menelepon Fina bahkan di waktu sepagi ini?” batin Rafael yang tiba-tiba saja merasa sangat kesal.


Fina yang baru saja menggantung mantel Rafael pada kaitan lemari, berangsur melangkah ke sisi seberang kasur yang Rafael punggungi. Ia sama sekali tidak curiga jika Rafael sedang serius menatap layar ponselnya.


“Katanya ngantuk. Kok malah main ponsel?” tanya Fina sambil bergegas duduk dan berangsur menyelonjorkan kedua kakinya di atas kasur.


Dengan raut yang masih dikuasai rasa sebal, Rafael refleks menoleh dan menatap Fina. “Kenapa dia meneleponmu bahkan di waktu yang masih sepagi ini?” keluhnya.


“D-dia, siapa?” balas Fina bingung dan justru balik bertanya.


Rafael tak langsung menjawab hingga membuat Fina yang menunggu semakin penasaran. Yang ada, Rafael justru terus menatap layar ponsel Fina namun sialnya, telepon masuk dari Bian kembali hadir.


Fina yang penasaran pun berangsur merangkak dan melongok dari balik punggung Rafael. Ia memastikannya sendiri, nama kontak Bian menjadi pemanggil telepon masuk di sana dan hanya Rafael amati tanpa menjawabnya.


“Kenapa dia masih menghubungimu, sedangkan dia tahu kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa?” tanya Rafael lagi dan terdengar semakin sewot.


“Ya enggak tahu, orang dia yang telepon. Jadi kalau kamu ingin tahu, langsung tanya saja orangnya, jangan tanya ke aku,” jelas Fina mulai merasa sebal.


Fina tak hanya sebal pada Rafael yang entah kenapa mendadak sesewot sekarang, tetapi juga pada Bian yang sampai menghubunginya lagi. Mau apa lagi Bian menghubunginya? Bukankah mereka memang sudah tidak memiliki hubungan apa-apa layaknya apa yang Rafael ucapkan?

__ADS_1


Dan Fina mendadak dilanda ketegangan luar biasa, ketika Rafael meraih ponselnya.


“Buang saja! Nanti aku belikan kamu ponsel baru saja. Dan lain kali, kamu enggak usah menghubungi siapa pun kecuali keluargamu!” gerutu Rafael sambil berjalan cepat memutari ranjang.


Rafael melangkah penuh kesal menuju jendela yang keberadaannya memang ada di sebelah Fina. Ia langsung menyibak gorden tebal yang menutup jendela kemudian melepas kaitan kuncinya.


Tak mau kalah, Fina segera turun dengan cukup loncat dari kasur. Ia segera mengambil alih ponselnya dari Rafael sebelum pria itu benar-benar membuangnya.


“Hobi banget buang ponsel! Kalaupun kamu punya uang dan harta lebih, bukan berarti kamu bisa seenaknya. Sukur-sukur kamu mau berzakat lebih,” keluh Fina sambil menatap Rafael tak habis pikir.


“Kamu pikir aku enggak pernah zakat dan berbagi meski selama ini aku belum masuk islam? Asal kamu tahu, setiap minggu aku--” jelas Rafael tertahan.


Rafael memang belum selesai berbicara, tetapi karena sebelah tangan Fina membekap mulutnya, mau tidak mau ia harus diam. Fina ... wanita itu tampak menghubungi kontak Bian. Lebih tepatnya, Fina menelepon balik kontak Bian.


Tak lama kemudian, setelah Fina menempelkan ponselnya ke sebelah telinga, wanita itu berkata, “Bi, kenapa tiba-tiba telepon sepagi ini?”


Fina sengaja mengaktifkan loadspeker ponselnya, terlepas dari ia yang cukup menyodorkan ponselnya ke hadapan Rafael.


“Aku enggak bisa tidur ...,” balas Bian dari seberang.


Balasan Bian sukses membuat emosi Rafael semakin menjadi-jadi. “Apa hubungannya kamu enggak bisa tidur sama menelepon istriku?” umpatnya sesaat setelah menyingkirkan paksa bekapan tangan Fina dari mulutnya.


Fina terpejam pasrah. Sebelah tangannya yang sempat menekap mulut Rafael berangsur menepuk-nepuk pelan dada pria itu. “Sudah dulu, Bi. Kami mau istirahat. Dan lain kali, enggak usah telepon lagi kalau bukan untuk hal penting,” ucap Fina yang kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.


Kemudian, tatapan Fina teralih pada Rafael. Ia menatap pria itu dengan sisa rasa kesal yang masih memenuhi dadanya. “Awas lho, kalau masih main buang-buang lagi ... sudah, katanya ngantuk. Mau tidur, apa mau marah-marah lagi?” ucapnya yang kemudian berlalu dari hadapan Rafael.


Dengan kemarahan yang masih tersisa, Rafael bergegas mendekati Fina yang sudah memunggunginya. Wanita itu meletakkan ponsel di nakas hadapan mereka. Dan demi mendapatkan ponsel itu kembali, Rafael sampai mendekap tubuh Fina dari belakang.


Rafael sengaja mengunci tubuh Fina, mendekap erat tubuh wanita itu dengan tangan kirinya, di tengah jemari tangan kanannya yang langsung bergerak cepat memblokir kontak Bian.


“Rafael ... semarah ini? Dia ... apakah dia sedang cemburu?” pikir Fina yang benar-benar hanya diam. Karena berada dalam dekapan Rafael, ia tak hanya tenang, melainkan tegang. Pun meski tak lama setelah itu, Rafael bergegas memutari tempat tidur dan segera tidur di sisi sebelah kasur keberadaannya.


“Kamu cemburu kepada Bian?” tanya Fina hati-hati sambil membaringkan diri di sebelah Rafael.


Rafael yang meringkuk membelakangi Fina dan awalnya sudah memejamkan kedua matanya, berangsur membuka matanya. “Cemburu ...? Masa sih?” batinnya bingung bahkan tidak percaya. Benarkah ia sedang cemburu? Kemarahannya pada Bian yang tiba-tiba menghubungi Fina, karena ia cemburu kepada pria itu?


Rafael tak lantas berkomentar. Ia menunggu dari belakangnya menjadi benar-benar sepi setelah selimut keberadaan Fina, sempat sampai ditarik-tarik, sedangkan Rafael justru tidak mengenakan selimut.


Mungkin sekitar seperempat jam kemudian, Rafael memutuskan untuk memastikan Fina. Ternyata, wanita itu juga meringkuk memunggunginya. Dan sepertinya, Fina sudah tertidur. Ada dengkuran pelan yang sampai terdengar dari sana. Bisa jadi, Fina langsung tidur karena wanita itu kelelahan.


Rafael yang masih menatap punggung berikut kepala Fina berangsur menelan ludah. Dan tak lama setelah itu, sebelah tangannya bergerak. Gerakan yang benar-benar lambat bahkan kaku. Namun, tangan itu berhasil mendarat dengan tepat. Tangan itu mengelus-elus kepala wanita di hadapannya hingga akhirnya Rafael terpejam dengan sendirinya.


Bersambung ....


Selamat pagi dan terus dukung cerita ini, yaaa!


Ada yang nunggu undangan pernikahan mereka? Memangnya, kalian mau kondangan? Sudah ada pasangan buat ke kondangan belum? Kalau belum, ... coba tuh, ajak si Ipul. Siapa tahu nanti kalian dikasih kebo dan dijadikan mai oli wan pengganti Dek Fina 🤣🤣🤣🤣


Di episode selanjutnya, Ipul mau jual anak kambing biar bisa nyalon sekaligus tampil beda demi mai oli wan 🤣🤣🤣


Enggak tahu kenapa, nulis cerita Ipul bikin Authornya ngakak sendiri 😂😂😂


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2