
“Jika hanya untuk acara penting, masa iya aku harus sampai memakai gaun seperti pengantin? Apa jangan-jangan, acaranya semacam acara penghargaan akbar, artis-artis yang disiarkan di televisi?”
Bab 66 : Alasan Rafael Mengajak Fina Ke Hotel
“Aku baik-baik saja. Sudah, jangan secemas itu.” Fina tak hentinya mengelus pelan punggung berikut kepala Rafael.
Degup jantung Rafael terdengar begitu kencang sekaligus keras. Menandakan pria itu begitu ketakutan terlepas dari dekapan Rafael yang begitu erat, sampai-sampai, Fina kesulitan dalam bernapas.
“Raf ...?” lirih Fina dengan kedua tangannya yang kini mengunci punggung kepala Rafael.
“Aku belum baik-baik saja. Biarkan aku seperti ini sampai semuanya terasa lebih baik,” pinta Rafael dengan suaranya yang sampai terdengar gemetaran.
Hati Fina terenyuh. Fina merasa begitu dihargai. Bahkan Fina mendadak merasa menjadi wanita paling bahagia lantaran dicintai begitu sempurna oleh suaminya sendiri. Sampai-sampai, Fina berujar, kenapa mereka tidak menikah dari dulu saja? Oh tidak ... Fina baru ingat jika dari dulu, Fina selalu menolak Rafael. Fina sudah berulang kali menolak ajakan nikah Rafael, semenjak Fina masih SMA. Dan kini, setelah mereka menikah, mereka bahkan baru merasakan indahnya proses pacaran.
“Caramu begini, ... membuatku menjadi manusia yang begitu berharga. Terima kasih,” batin Fina yang kemudian menurunkan tangannya untuk mengunci punggung Rafael.
Rafael mengendus kepala Fina sangat lama. Kemudian turun, dan menyemayamkan wajahnya di leher Fina. Dan bersamaan dengan itu, Rafael melakukannya sambil memejamkan matanya.
Mereka sudah berpelukan sangat lama. Sampai-sampai, Fina merasa ngantuk saking nyamannya ada dalam posisi itu. Namun, lantaran Rafael belum berkomentar, Fina terpaksa memelotot-memelototkan kedua matanya, demi menghalau kantuk yang menyerang dengan sangat kuat, tak kalah kuat dari pelukan Rafael sendiri.
“Jangan jadi vampir di sini, Raf,” bisik Fina lantaran Rafael terus saja menyemayamkan wajah di leher Fina.
Fina sampai menjadi terus menengadah demi mengimbangi Rafael. Dan terakhir, Rafael benar-benar menjelma menjadi vampir, menyesap sangat kuat leher dekat dagu Fina, hingga wanita itu menggeliat dan refleks memeluk Rafael semakin erat.
“Rafael!” tegur Fina yang kemudian memukul cukup keras punggung Rafael. “Aku enggak bawa BB krim, atau apa pun buat nutupin bekasnya!”
“Aku hampir gila gara-gara kamu enggak ada di ruang kerjaku, sedangkan di hotelku sampai ada kebakaran!” keluh Rafael yang akhirnya mengakhiri dekapan mereka. Kali ini Rafael kembali meledak-ledak.
Kendati demikian, kedua tangan Rafael tak lantas melepaskan Fina begitu saja. Kedua tangan Rafael masih menahan kedua bahu Fina.
“Iya. Aku salah. Maaf. Tadi, niatnya aku hanya jalan-jalan.” Fina berangsur mengelus-elus dada Rafael. Ia menatap kedua manik mata suaminya itu sarat pengertian.
Rafael segera menelan ludah kemudian menggeleng. “Aku enggak marah sama kamu. Jadi kamu jangan minta maaf. Kamu enggak salah.”
Fina menghela napas dalam, mencoba menguasai keadaan sekaligus menguasai dirinya agar lebih sabar menghadapi segala kondisi. “Kita masuk ke ruanganmu, ya. Aku akan jelaskan semuanya.”
Fina mendekap sebelah lengan Rafael kemudian menuntunnya ke ruang kerja di hadapan mereka.
“Kenapa harus dijelaskan?” ujar Rafael masih belum bisa mengerti perihal apa yang dimaksud oleh Fina. “Fina, serius ... aku enggak marah sama kamu. Kamu enggak salah.”
“Tapi sebenarnya mengenai kebakaran yang sampai membuat hotel ini kacau, aku juga salah. Karena aku berbohong untuk itu!” Fina masih berusaha meyakinkan.
Apa yang Fina katakan, sukses membuat Rafael penasaran. Mereka segera memasuki ruang kerja Rafael. Di mana, Fina segera mengambil air minum untuk Rafael maupun untuknya sendiri. Dan setelah mereka sama-sama selesai minum, Fina segera menepikan botol air mineral mikik mereka yang masih tersisa.
Di sofa bekas Fina duduk, Fina sengaja merapatkan jaraknya dari Rafael yang juga sudah menatapnya. Rafael terlihat sangat penasaran, terlepas dari pria itu yang sampai begitu serius menyikapi Fina.
Kedua lutut Fina sampai menyentuh sebelah lutut Rafael.
“Sebenarnya, aku berbohong kepada pekerja hotel yang bernama pak Tio, dan dia sampai mengenaliku,” ucap Fina yang memulai pembicaraan.
“Semua pekerja di hotel ini sudah mengenalimu sebagai istriku,” balas Rafael di tengah kenyataannya yang masih sangat serius.
Rafael bahkan sangat jarang berkedip dalam menatap Fina.
__ADS_1
“Oh ....” Fina mengangguk-angguk mengerti.
“Lanjutkan,” pinta Rafael tanpa mau membuang-buang waktunya. Meski tak lama setelah itu, tanpa menatap tangan Fina, ia berhasil meraih keduanya.
Rafael menggenggam erat kedua tangan Fina, dan kenyataan tersebut, sukses membuat Fina tegang sekaligus tagut. Fina sampai penasaran, apa yang sebenarnya Rafael pikirkan atas kenyataan sekarang? Perihal pengakuan yang akan Fina katakan?
“Kok kamu seserius itu? Kamu bikin akuntakut ...,” keluh Fina yang menjadi takut.
Rafael segera menggeleng. “Katakan saja,” ucapnya sambil sesekali mengelus kedua tangan Fina yang masih ada dalam genggamannya.
“Tadi itu aku berbohong sama Pak Tio,” ucap Fina sambil menunduk.
“Terus?” sambut Rafael yang sebenarnya sangat penasaran. “Katakan Fina. Jangan takut. Asal bukan laki-laki lain, aku enggak bakalan marah. Bahkan meski kamu habisin semua uang di ATM-ku, aku enggak bakal marah!”
“Laki-laki lain siapa? Memangnya aku kenal laki-laki lain selain Ipul, Otoy atau Didin?” keluh Fina yang kali ini sampai menatap sebal Rafael.
Rafael mengelus-elus kening hingga kepala Fina seiring rasa lega yang ia karungi. Sebab satu-satunya hal yang sangat Rafael takutkan kini hanyalah Fina berpaling kepada laki-laki lain.
“Tadi itu, ya, Raf ... yang bikin kebakaran itu ternyata Keandra. Dia menginap di hotel ini. Di lantai bawah tepat dari lantai ini. Dan kamu tahu bagaimana keadaan kamarnya?” keluh Fina yang kembali merasa geregetan hanya karena ia teringat Keandra berikut ulah pria itu.
Rafael menanggapinya dengan serius sambil sesekali mengangguk.
“Kamarnya itu benar-benar berantakan. Ada botol minuman, wine! Gelas, ponsel, korek, rokok, dan semua itu terkapar di lantai. Dan parahnya, televisi di sana juga pecah bahkan mengeluarkan asap pekat. Dan asap pekat inilah yang menjadi penyebab bunyinya sirine!”
“Andai aku enggak lihat dia sebagai Keandra, idolanya Rina sama mama, juga apa yang dia lakukan di hotel ini, sudah aku bejek-bejek dia jadi pepes!”
“Hajar saja, kenapa? Nanti biar aku yang urus!” tanggap Rafael tak kalah geram.
“S-serius, aku boleh hajar, dia?” tanya Fina sambil menatap tidak yakin Rafael.
Rafael segera mengangguk mantap. “Serius! Memangnya kapan aku bohong sama kamu?”
“Ini, jadi, aku boleh balik ke sana buat hajar dia?” balas Fina sambil menunjuk-nunjuk pintu.
Fina yang terlihat begitu lugu berikut semangat balas dendam wanita itu yang begitu menggebu, sukses membuat Rafael tertawa lepas.
“Rafael, kok kamu malah ketawa seperti itu?” keluh Fina.
Rafael berangsur mrnyudahi tawanya sambil menggeleng, menepis anggapan Fina yang ia takutkan merasa dipermainkan. “Tapi kok kamu bisa tahu, dia menginap di sini?” ucapnya kemudian.
“Oh, itu ...? Ya tahu. Kan aku pas jalan-jalan ke sana. Tiba-tiba ada asap keluar dari pintu kamar Keandra. Ya sudah, aku gedor-gedor pintunya, eh ... yang keluar Keandra!” Fina menceritakannya dengan emosi yang kembali menggebu-gebu.
“Oh, bisa kebetulan banget, ya? Bayangkan kalau yang ada di posisimu itu mama apalagi Rina. Bisa pingsan mereka mati bareng di kamar sana!” Rafael mengakhiri ucapannya dengan tawa lepas.
Bahkan Fina yang mendengar balasan Rafael juga ikut tertawa lepas. “Kok kamu bisa mikir sampai situ?”
“Hei, ... yang sudah jadi fans fanatik biasanya menganggap idolanya ibarat dewa. Di mata mereka, idola mereka suci meski sudah berulang kali bikin kesalahan!”
Di tengah tawanya yang berangsur reda, Fina berkata, “semoga, Rina sama mama cepat sadar.”
“Memangnya kapan mereka pingsan apalagi koma?” balas Rafael yang malah menggoda Fina.
Yang Rafael herankan, kenapa Fina sama sekali tidak tertarik kepada Keandra? Bukankah wanita seusia Fina harusnya menyukai Keandra layaknya wanita-wanita pada kebanyakan, tanpa terkecuali Mey mama Rafael yang sudah dimakan usia?
__ADS_1
“Tapi aku sudah tegur dia dan harusnya dia sadar. Aku juga sudah minta dia buat urus semua kekacauan yang dia buat,” ucap Fina kemudian.
Rafael segera mengangguk. “Ya sudah. Kamu istirahat. Nanti bakalan ada yang datang buat rias kamu.”
“Kenapa harus sampai rias?” balas Fina bingung.
“Karena sekitar dua jam lagi, aku harus menghadiri acara sangat penting, dan kamu harus menemani aku ke sana.” Rafael menatap Fina penuh keseriusan.
Fina mengangguk mengerti. “Ya sudah. Aku mengerti. Jadi ini, alasanmu bawa aku ke hotel?”
Rafael buru-buru mengangguk sembari melebarkan senyumnya.
***
Tak lama setelah menghabiskan satu mangkuk salad buahnya ditemani Rafael, Fina bersiap menjalani rias, sedangkan Rafael langsung pamit untuk mengurus pekerjaan. Namun, Fina tidak menjalani rias di ruang kerja Rafael. Melainkan di sebuah kamar hotel yang bahkan sudah dihiasi sebuah maneken yang mengenakan gaun pengantin warna putih gading, mengusung tema ball gown yang bahkan bisa menyala dalam suasana gelap.
“Kita enggak salah kamar, kan?” tanya Fina memastikan.
“Enggak, Non. Toh, kunci kamarnya juga benar, kan?” balas salah satu dari mereka, ketiga wanita yang selalu menjadi perias sekaligus penentu penampilan Fina, khususnya di acara-acara penting.
Salah satu dari ketiga wanita yang menyertai Fina, berangsur menyalakan lampu kamar hotel kunjungan mereka.
“Iya, juga, sih. Tapi itu gaun pengantinnya siapa?” balas Fina yang sampai menjadi enggan masuk kamar. “Atau jangan-jangan, gaun itu punya saudara Rafael?” pikir Fina.
“Ya gaun yang harus Non pakai nanti,” balas salah satu dari mereka lagi.
Balasan yang baru saja Fina dapatkan sukses membuat Fina tak percaya. “Tapi itu lebih cocok jadi gaun pernikahan, kan?” balas Fina sangat yakin. “Tadi, Pak Rafael bilang, saya harus menemaninya ke acara penting?”
“Tapi masa iya, Rafael sampai salah kasih kostum?” pikir Fina yang lagi-lagi berbicara dalam hati.
“Iya. Acara sangat penting, Non. Dan kami akan berusaha memberikan pelayanan terbaik!” balas salah satu dari mereka.
“Mari, Non. Kita harus segera memulai rias untuk mengejar waktu,” pinta salah satu dari mereka lagi yang untuk berbicara saja, sampai bergiliran.
“Kok jadi kaku begini, ya? Jika hanya untuk acara penting, masa iya aku harus sampai memakai gaun seperti pengantin? Apa jangan-jangan, acaranya semacam acara penghargaan akbar, artis-artis yang disiarkan di televisi?” pikir Fina.
“Jadi ini, alasan Rafael mengajakku ke hotel? ... masuk akal, si ...,” pikir Fina sembari melangkah mengikuti tuntunan seorang wanita yang menuntunnya untuk segera duduk di kursi rias.
Di meja rias tersebut, seperangkat alat sekaligus keperluan rias telah terpampang di hadapan cermin rias yang di sekitarnya dihiasi banyak lampu dan nyalanya sangat terang.
“Rafael memang sudah menyulap hidupku menjadi seorang cinderella,” batin Fina yang berangsur duduk dan menatap pantulan bayangannya pada cermin, di hadapannya.
“Begini saja sudah sangat cantik. Mau diapakan lagi?” tanya Fina sambil menatap tak bersemangat, wajah-wajah wanita di sana, melalui bayangan yang terpantul di cermin rias.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Fina. Namun ketiganya sama-sama tersipu, tanpa benar-benar menatap Fina.
Bersambung .....
Tetap ikuti dan dukung ceritanya. Oh, iya, Jangan lupa baca cerita Author yang judulnya : Selepas Perceraian. Di sana sudah banyak episode masuk season 3 😍
Salam sayang dan semoga sehat selalu,
Rositi.
__ADS_1