
“Di dunia ini enggak ada kehidupan semanis di dunia komik, Fina. Bahkan kamu sudah merasakannya, kan?”
Episode 24 : Tak Seindah Dunia Komik
Belum lama setelah Fina pulang dari rumah sakit, seseorang terdengar mengetuk pintu rumah dari luar. Jadi, Fina yang sedang mengemasi pakaian ke dalam ransel, memutuskan untuk memastikannya. Dan ketika Fina membuka pintu, sosok Bian yang menjadi memenuhi pandangannya, sukses membuat Fina menelan banyak rasa getir. Pria yang dulu menjadi sahabat, orang yang sangat dekat dengannya dan kali ini ada di hadapannya itu menatapnya dengan raut wajah penuh rasa kesal.
“Apa lagi?” tanya Fina dengan rasa malas yang tidak bisa ditahan apalagi disembunyikan.
Tatapan Bian begitu sinis. Dan tanpa mengakhiri tatapan sinisnya dari kedua manik mata Fina, ia melemparkan amplop putih cukup besar ke dada wanita tersebut dengan kasar.
Fina refleks menangkap amplop tersebut menggunakan kedua tangannya. “Makin ke sini, kamu makin enggak tahu diri, ya, Bi? Bahkan kamu lebih keji dari Ipul padahal kamu tahu keadaanku lebih dari siapa pun!” cibir Fina.
Menyadari Bian akan menjawab, Fina langsung menahan, “sudah enggak usah dijelaskan. Muak aku sama kelakuanmu!”
Bian mendengkus sebal di tengah keadaannya yang masih dikuasai rasa kesal. “Itu dari simpananmu!” ucapnya kemudian.
Fina mengerutkan dahi, menatap Bian tidak mengerti. “Simpanan?”
“Bilang ke dia, jangan mentang-mentang punya banyak uang, dia bisa seenaknya menghina orang!” balas Bian sambil menatap tajam Fina. Dan karena kejadian Rafael melemparinya dengan uang dolar kembali menghiasi ingatannya, rasa kesal kepada Fina juga semakin bertambah.
“Seenaknya? ... dia seenaknya sama kamu, terus kamu enggak terima? Lha ... kamu saja diperlakukan seenaknya enggak terima, kenapa kamu juga seenaknya ke aku dan keluargaku?” balas Fina ketus.
“Kok, Fina jadi pinter banget ngomong, sih?” batin Bian. Baginya, ia benar-benar kehilangan Fina yang dulu. Fina yang kini ada di hadapannya benar-benar asing. Ia tidak mengenali wanita itu kendati rupa Fina masih sama.
__ADS_1
Karena penasaran dengan apa yang Bian maksud, Fina pun melihat isi amplop tersebut. Lembaran uang dolar tersusun rapi dan menjadi isi amplop. Sedangkan yang berkemungkinan memiliki uang dolar dalam hidup Fina, hanya Rafael. Lantas, apa yang telah Rafael lakukan pada Bian? Dan kenapa pria itu sama sekali tidak menceritakannya kepada Fina?
“Maksudmu, ... pria yang di rumah sakit? Yang pakai jas, tampan itu, kan?” ujar Fina memastikan. Namun Fina masih bergaya angkuh dan memang sengaja. Bian saja bisa keji kepadanya, kenapa ia tidak? “Kayaknya Bian dan Rafael memang sempat mengobrol empat mata, deh,” pikirnya.
Bian menatap Fina tak percaya sambil menghela napas. Ia benar-benar merasa tak habis pikir. “Saking banyaknya pria dalam hidup kamu, kamu jadi enggak yakin, ya? Apa mau sengaja pamer?”
“Kok pamer, sih? Apa jangan-jangan, ... sebenarnya kamu memang ada rasa lebih ke aku, sampai-sampai, ... kamu jadi sinis dan semarah itu?” balas Fina dengan santainya. Terlepas dari itu, sambil membalas Bian dengan tatapan menantang, Fina semakin yakin bahwa memang Rafael yang sudah berulah pada Bian. Namun, kenapa Rafael bisa mengetahui perihal Bian? Dari mana Rafael tahu sedangkan Fina belum sempat cerita dengan detail?
“Gila saja, ... bertahun-tahun aku kenal kamu, tapi nyatanya aku enggak tahu apa-apa?!” keluh Bian dengan napas yang terdengar memburu. Bian merasa kecolongan bahkan syok.
“Nah, ... itu sih memang kekurangan kamu. Bertahun-tahun pacaran sama Lia saja, kamu enggak tahu, kalau ternyata Lia punya pria lain bahkan sampai hamil?!” balas Fina dan memang sengaja. “Dan lain kali, kalau kamu enggak ada tujuan, enggak usah pakai acara bunuh diri. Malu-maulin!”
Balasan Fina sukses menyulut emosi Bian. Bian begitu ingin mencabik-cabik Fina. Sayangnya, Fina langsung berlalu bahkan menutup pintu dengan sangat kasar.
***
“Baiklah, ayo semangat cari uang. Kita pergi ke Jakarta!” batin Fina menyemangati dirinya sendiri.
***
Menggunakan bus, Fina hijrah ke Jakarta. Ia mengarungi perjalanan malam dengan hati yang begitu gamang. Mengenai statusnya, juga keluarganya. Dan sepanjang perjalanan, Fina teringat kebersamaan dengan keluarganya. Kebersamaan yang selalu hangat penuh kebahagiaan walau dalam kesederhanaan, tetapi berakhir dengan banyak luka semenjak pernikahannya dengan Bian. Dan karena hal tersebut pula, Fina kembali terjebak dalam kesedihan. Fina tak hentinya menangis tanpa bisa mengakhirinya. Bahkan sekalipun Fina sibuk meyakinkan dirinya untuk tidak menangis. Yang ada, tangisnya menjadi semakin menjadi-jadi, membuatnya sibuk menyeka air mata sambil terisak-isak. Beruntung, selain mengarungi perjalanan di malam hari, bus yang ditumpanginya juga terbilang sepi penumpang. Bangku penumpang yang ada depan dan belakang termasuk sebelah Fina saja, kosong.
Sekitar pukul setengah tiga pagi, bus yang ditumpangi Fina sampai di terminal Kalideres. Dan di detik itu juga, Fina seolah tertampar perihal tujuannya ke Jakarta. Pergi ke Jakarta dengan maksud bekerja, tetapi justru tanpa tujuan? Bahkan Fina saja sama sekali tidak tahu mengenai Jakarta? Pun dengan posisinya kini. Fina ada di terminal Kalideres seperti keterangan yang ada di termina tersebut. Lalu, ia harus ke mana? Ke mana ia harus pergi untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa ia jalani dengan gaji mempuni?
__ADS_1
“Ya ampun, Fina ... memangnya cari pekerjaan itu gampang? Jangankan di Jakarta, ... di kampung saja susahnya minta ampun! Dan di Jakarta kamu belum ada tujuan!” Fina benar-benar ingin menangis detik itu juga atas tindakan bodohnya. Terlebih, ketika yang lain langsung pergi dengan tujuan masing-maaing setelah turun dari bus, ia justru hanya terdiam kebingungan di sebelah bus tak ubahnya orang tersesat.
Tak lama berselang, tiba-tiba saja, beberapa calo menghampiri Fina dan menawarkan banyak tawaran tumpangan. Kenyataan tersebut semakin membuat Fina kebingungan. Namun demi menghindari kejahatan, Fina sengaja bersikap tenang, berjalan tanpa tujuan dengan dagu yang sengaja ia angkat. Fina menirukan gaya Rafael. Gaya yang baginya akan membuatnya tak beda dengan orang kaya bahkan keren.
Fina benar-benar mengabaikan semua calo. Ia berjalan tak ubahnya model andal dengan tatapan lurus ke depan. “Salah, enggak, sih, ... kalau aku berharap dapat keajaiban kayak di cerita-cerita? Enggak harus semanis di cerita percintaan gadis biasa dengan CEO, kayak di komik-komik ... cukup pertemukan aku dengan orang baik yang langsung kasih aku pekerjaan, aku sudah langsung girang. Bakalan puasa Senin Kamis selama empat puluh hari, deh!” batin Fina.
Meski awalnya asal melangkah, tetapi langkah yang Fina ambil mengantarkan wanita itu menuju jalan raya. “Wah ... ternyata aku pintar!” gumam Fina dengan bangganya ketika mendapati jalan raya ada di hadapannya. Namun sekali lagi, ia yang memilih menepi tanpa buru-buru menyeberang, kembali dibingungkan dengan tujuannya. “Apa ... aku minta tolong sama Rafael saja?” pikirnya tiba-tiba.
Namun Fina sanksi jika harus meminta tolong kepada Rafael, sedangkan Fina sudah menolak pria itu berulang kali. “Malu lah! Nanti Rafael bisa mikir macam-macam. Dan kalau aku justru menghubungi dia, ... kesannya aku enggak punya harga diri!” Fina berbicara sendiri. Akan tetapi, tiba-tiba saja hati kacil Fina ikut berkomentar. “Bukankah kalian patner masa depan? Dan Rafael sendiri yang bilang, mereka harus selalu ada, membantu satu sama lain ketika sedang membutuhkan?”
Dengan semua keyakinan yang dikumpulkan, Fina segera mengeluarkan ponsel dari saku sisi celananya. Ia berniat menghubungi Rafael. Namun sial beribu sial! Seseorang tiba-tiba datang dan merebut ransel yang sedari awal ia tenteng berikut ponsel yang bakan belum sempat ia gunakan untuk menghubungi Rafael.
Kejadian tersebut berlangsung sangat cepat dan sukses membuat Fina tak berkutik saking syoknya. Meski tak lama setelah itu, setelah sesosok pria yang merebut ransel berikut ponselnya berlari bahkan menyeberangi jalan raya di hadapannya, Fina baru tersadar.
“Ya Tuhan, ... aku dijambret! Aduh ... tas ... ponsel ... bahkan aku belum sempat telepon Rafael! Bagaimana ini? Astaga ... duuuh ...!” Fina benar-benar bingung. Ia ingin berteriak minta tolong, tetapi lidahnya kelu. Pun meski ia juga ingin mengejar jambretnya. Kaki Fina mendadak lemas ditambah kepalanya yang mendadak pusing. Dan terakhir, pandangan Fina juga kabur. Gelap. Fina tidak bisa melihat apa-apa lagi seiring kehidupannya yang mendadak hening.
“Di dunia ini enggak ada kehidupan semanis di dunia komik, Fina. Bahkan kamu sudah merasakannya, kan?” batin Fina di bawah alam sadarnya.
Bersambung ....
Update sore enggak apa-apa lah, ya.
Buat yang sudah baca, like dan komennya Author tunggu, ya. Author penasaran siapa saja yang baca cerita ini. Serius. Like dan komen, Author tunggu.
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.