Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 64: Mesra


__ADS_3

“Kalau lusa puasa, berarti, aku juga harus puasa, dong? Terus, kalau aku lapar apa haus, aku masih tetap boleh makan atau minum meski hanya dikit, kan?”


Episode 64 : Mesra


“Aku salah, ya?” ujar Fina yang tiba-tiba saja merasa takut.


Fina takut jika pertanyaannya justru menyinggung bahkan melukai Rafael. Namun, kemungkinan besar memang ada masalah lantaran biasanya, Rafael tipikal yang akan langsung jujur dan mengatakan semua yang ingin Fina ketahui, dengan sangat rinci.


“Jangan pernah bertanya seperti ini kepada mama apalagi papa,” ucap Rafael yang sampai tidak menatap Fina.


“Benar dugaanku. Memang ada masalah di balik keharmonisan mereka yang bahkan mau-mau saja menerimaku sebagai menantu,” batin Fina. 


Fina yakin, ada alasan khusus bahkan mungkin sensitif, di balik permintaan Rafael yang melarangnya bertanya kepada orang tua pria itu.


“Maaf, ya ....” Fina mendekap kepala Rafael dan membelainya.


“Sejauh ini, aku sudah berusaha menjadi kakak yang baik,” ucap Rafael tak bersemangat.


“Oh ...?” lirih Fina cukup terkejut.


“Hampir setiap bulan, aku mentransfer uang. Namun aku tidak yakin, apakah dia menggunakannya, atau tidak?”


“Jika memang begitu, sepertinya memang ada yang tidak beres,” batin Fina. “Kenapa tidak menemuinya saja? Bukankah kamu bisa melakukan semuanya?”


“Dia pergi karena keinginannya sendiri,” balas Rafael, masih tidak bersemangat. “Kami sudah mencoba mendekatinya, tetapi yang ada dia semakin menjauh.”


Ucapan Rafael benar-benar dipenuhi penyesalan sekaligus rasa sakit.


“Semoga diberi kemudahan untuk penyelesaiannya,” balas Fina yang menjadi merasa serba salah.


“Tapi jika dia tidak pergi, sepertinya kita juga tidak mungkin menikah semudah ini,” balas Rafael lagi yang kali ini terdengar cukup bersemangat.


“Sudah kuduga,” balas Fina.


“Kau membuatku sesedih ini!” ucap Rafael yang tiba-tiba memukul pantat Fina sebelum akhirnya mendekap tubuh wanita itu dengan sangat erat.


Fina yang sampai nyaris jantungan gara-gara ulah spontan Rafael, menjadi sibuk mengatur napas.


“Fina ... jangan menertawakanku jika aku sampai menangis,” lirih Rafael dengan suaranya yang menjadi terdengar sengau. 


Rafael menyemayamkan wajahnya di dada Fina, tepat di bawah dagu wanita itu. Dan kenyataan kini juga sukses membuat Fina tak hanya merasa ikut sedih, melainkan juga merasa semakin bersalah.


“Ya sudah, tidurlah ...,” lirih Fina yang kemudian mencium kening Rafael.


“Lho, kok tidur, sih? Kan kamu sudah janji mau kasih jatah malam ini?” protes Rafael.


Fina mengerutkan dahi sambil menggaruk punggung kepalanya menggunakan jari telunjuk kanan. “Ini maksudnya jatah apa?”


“Yah ... amnesia nih, orang ...,” cibir Rafael yang menjadi tak bersemangat.


“S-serius, aku enggak ngerti apa yang kamu maksud!” balas Fina yang sampai mengomel. “Sudah tidur saja. Kamu bilang, besok harus berangkat lebih awal dan aku juga harus ikut kamu ke hotel?”


Bukannya membalas, Rafael justru memunggungi Fina. Dan Fina tahu, apa yang Rafael lakukan karena suaminya itu kesal bahkan marah.


“Ya ampun Rafael ... ini sudah malam ... jangan seperti bayi kenapa?” Fina mengetuk-ketuk punggung Rafael menggunakan telunjuk kanannya.


Lantaran Rafael tetap dengan keadaannya, Fina pun meminta maaf. “Iya ... iya, aku salah. Tapi serius aku lupa. Coba jelaskan lagi ke aku.”


“Jangan ngambek-ngambek begitu, kenapa? Lusa sudah puasa, masa iya kamu ngambek lagi? Nanti puasamu enggak sah, lho.”


Benar-benar tidak ada perubahan yang Rafael lakukan. 

__ADS_1


“Ya sudah, aku hitung sampai lima, ya. Kalau tetap diam juga, berarti lebih baik aku tidur saja,” ujar Fina.  “Satu ... dua, tiga ... empat,” ucap Fina yang kemudian mendekap punggung Rafael. “Lima ...!” lanjutnya sambil tersenyum jail kemudian mencium sebelah pipi Rafael. “Selamat tidur,” bisiknya kemudian.


Bagi Fina, mengenal Rafael ibarat sebuah keajaiban. Sebab, semenjak mengenal pria yang telah resmi memperistrinya, hidup Fina benar-benar hanya dipenuhi rasa bahagia. Bahkan, Fina juga sampai lupa, jika sebelum bersama Rafael, Fina telah mengalami banyak kesulitan yang bahkan nyaris membuatnya menyerah.


Tak ada lagi ingatan tentang Bian sahabatnya sendiri yang telah menorehkan luka yang begitu dalam. Ingatan tentang Ipul yang begitu gencar melayangkan fitnah. Juga, ... fitnah-fitnah yang berkembang dengan begitu cepat di kalangan tetangga perihal Fina.


“Makasih, ya ...,” lirih Fina yang sekali lagi mencium kening Rafael dan kali ini jauh lebih lama dari sebelumnya. “Maaf juga karena aku masih sering bikin kamu marah.”


Rafael menghela napas pelan. “Susah urusannya kalau aku harus marah ke kamu. Serius, aku enggak bisa marah sama kamu,” ucapnya pasrah sekaligus menyerah.


Fina tersipu. “Alhamdullilah kalau gitu.”


“Kalau lusa puasa, berarti, aku juga harus puasa, dong? Terus, kalau aku lapar apa haus, aku masih tetap boleh makan atau minum meski hanya dikit, kan?” tanya Rafael yang kemudian berangsur balik badan.


Rafael menatap Fina penuh kepastian.


“Yang namanya puasa ya enggak makan sama enggak minum,” balas Fina.


“Kan tadi aku bilang ya dikit. Ibaratnya kayak icip-icip,” kilah Rafael.


Fina segera menggeleng. “Tetap enggak boleh. Kita enggak boleh makan dan minum termasuk icip-icip, selepas imsak hingga waktu buka tiba, selama waktu yang ditentukan. Sama nahan hawa nafsu dari segala hal yang membatalkan puasa.”


“Waduh ... kira-kira, aku kuat enggak, ya? Aku enggak yakin bisa, sih,” balas Rafael yang menjadi ragu bahkan tidak yakin.


“Bisa ... pelan-pelan belajar. Puasa awalmu sampai pukul dua belas siang, terus lanjut lagi juga enggak apa-apa,” balas Fina meyakinkan.


“Oh, memangnya, boleh begitu?” Rafael menjadi bersemangat. Setidaknya, apa yang baru saja Fina katakan tidak begitu berat.


“Dulu, waktu aku masih kelas satu SD, aku puasa gitu. Kalau di tempatku, namanya puasa bedug. Setiap pukul dua belas, aku buka. Minum makan, terus lanjut lagi puasa,” jelas Fina.


“Dan dengan kata lain, kamu menyamakan mentalku dengan mental bocah?” tegas Rafael sambil menatap sebal Fina.


Fina terkikik. “Ya enggak gitu ... dan satu lagi. Dan besok, selama satu bulan menjalani puasa, meski kita sudah menikah, kita juga enggak boleh mesra-mesraan berlebihan, di siang harinya.”


Fina segera mengangguk. “Iya, bisa. Terus, nanti aku juga bakalan mulai ngajarin kamu baca Alquran. Apa, kamu mau cari guru ngaji khusus saja?”


“Enggak usah. Lebih baik aku belajar sama kamu saja. Biar tambah mesra!” balas Rafael cepat.


Kembali, Fina menahan tawanya.


“Kamu jangan ketawa terus, deh, kalau kamu enggak tahu apa yang aku maksud jatah,” omel Rafael kemudian.


“Oh, iya ... aku belum ngerti itu. Kasih tahu, dong,” balas Fina.


“Ya sudah, kita rapat dadakan. Aku bakal jelasin semuanya ke kamu, ya!” balas Rafael cepat sembari mencubit hidung Fina.


“Terkadang, aku merasa kalau Rafael enggak kalah nyeleneh dari Ipul. Tapi ya sudah, lah ... Rafael enggak segila Ipul. Rafael juga enggak ada niat jahat. Dia sayang sama aku. Tulus. Ya, meski dia juga sering manja kebangetan, dan kalau sudah ngambek, urusannya susah,” batin Fina.


Fina bersiap-siap menyimak rapat dadakan yang Rafael maksud. Ia sampai bangun untuk meraih sebotol air minum di nakas kemudian meminumnya.


***


Rafael membawa Fina ke hotel. Hotel pusat di Jakarta yang juga sempat menjadi hotel pertama Fina menginap. Keduanya dikawal Otoy.


“Gandengan dong, ... biar mesra,” keluh Rafael ketika Fina hanya berjalan di sisinya.


Mereka baru saja turun dari mobil tepat di depan pintu masuk utama, sebelum Didin bergegas pergi mencari tempat parkir.


Fina tak hanya membalas gandengan Rafael, sebab ia juga sampai mendekap lengan pria itu yang juga menggandengnya.


“Nanti kalau kita terlalu mesra, yang lihat jadi pada baper,” bisik Fina.

__ADS_1


“Itu sih derita mereka,” balas Rafael yang memang tak mau ambil pusing.


Fina tersenyum geli. “Oh, iya ... omong-omong, kenapa kamu bawa aku ke sini? Memangnya aku mau kamu suruh ngapain? Terus, aku juga pulang malam?”


“Gini, ya, Fin ... nanti kamu bakalan dilaminasi, terus ditempel di dinding buat pajangan dan biar orang-orang bisa lihat kamu,” balas Rafael sambil menggeleng tak habis pikir.


Fina mendengus sebal. “Katanya pengin mesra. Aku tanya serius jawabannya asal ....”


Memasuki hotel, keduanya langsung disambut dengan sapaan yang begitu sopan.


“Fin, jika ada yang bertanya kepadamu, kamu siapanya aku, kamu mau jawab apa?” tanya Rafael. Kali ini mereka masuk ke dalam lift khusus. Lift khusus untuk Rafael dan relasi penting.


Fina terdiam dengan wajah yang menjadi serius. Rafael yakin, istrinya itu sedang berpikir keras.


Rafael menggeleng heran. “Ini bukan ujian CPNS, Fin!”


“Tapi akibatnya jauh lebih fatal dari ujian CPNS, jika aku sampai gagal, kan?” balas Fina dengan lugunya.


“Lama-lama, aku beneran laminasi kamu terus aku taruh di dinding!” semprot Rafael.


Fina terkikik. “Jadi, nanti aku juga bakalan jawab kalau aku juga bekerja ke kamu, tetapi sebagai istri!”


“Lho ... kok begitu?” Rafael benar-benar syok mendengar jawaban Fina.


Lift baru saja terbuka, dan Rafael segera menuntun Fina untuk keluar.


“Dulu kamu mintanya gitu, kan? Kamu minta aku bekerja sebagai istrimu?” balas Fina sambil menatap bingung Rafael.


“Memangnya, selama nikah, aku pernah nyuruh-nyuruh kamu buat ini itu?”


“Enggak sih ....”


“Ya sudah ....”


“Iya, Rafael ... jangan marah-marah terus. Katanya biar mesra? Nanti kalau kamu sampai darah tinggi bagaimana? Ingat usia!”


“Usiaku masih lima belas tahun, lho, Fin! Bahkan aku masih di bawah umur, kan?”


“Lima belas tahun, sisanya dua puluh tahun, ke mana?” balas Fina sambil menggeleng tak habis pikir.


Rafael tertawa lepas dan sampai memegangi perutnya. Mereka telah sampai di ruang kerja Rafael yang tak beda dengan ruang pribadi di rumah. Ada sofa berikut meja besar, selain meja kerja yang luas, terlepas dari ruangan yang teramat luas tak kalah luas dari kamar mereka di rumah.


“Kalai aku bosan, aku boleh main ke luar, kan?” ujar Fina yang mulai mengambil salah satu majalah bisnis dari rak buku yang ada di sebelah meja.


“Kamu enggak bakalan bosan. Sebentar lagi akan ada yang mengirim banyak makanan. Kalau kamu mau, nonton apa bagaimana?” balas Rafael yang mulai serius menyalakan laptop di meja kerjanya.


“Bosan ah kalau harus nonton. Ujung-ujungnya layar televisinya cuma dipenuhi wajah Keandra!” cibir Fina.


“Sebenarnya aku juga mulai nek sama dia,” balas Rafael tak kalah serius.


“Bukan gara-gara Sunny, kan?” balas Fina yang masih serius membaca majalah.


Rafael langsung terdiam sebelum akhirnya menatap kesal Fina. “Sekali lagi kamu bahas itu, aku jitak kamu!” omelnya.


Fina memasa bodokan balasan Rafael yang justru Fina tirukan dan diakhiri dengan mencebik.


Sebenarnya, hingga detik ini Fina belum mengerti, apa maksud Rafael mengajaknya ke hotel? Terlebih, suaminya itu terbilang memaksa, mewajibkannya untuk ikut ke hotel, hari ini juga.


Masa iya, tujuan Rafael mengajak Fina ke hotel, hanya karena ingin selalu mesra?


Bersambung .....

__ADS_1


Author masih tahap pemulihan. Jadi, slow update yaa. Bisa jadi, updatenya enggak menentu, tapi diusahakan selalu up tiap harinya.


Terus ikuti dan dukung ceritanya. Semakin rame, semakin naik juga performa ceritanya 💜


__ADS_2