Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 56 : Selamat Tinggal, Pul!


__ADS_3

Catatan : Dari sekian ribu pembaca, tolong tinggalkan jejak kalian minimal like, jika memang kalian enggak ada waktu untuk menuliskan komentar. Sebab, peraturan di MT semakin ketat. Karya siapa yang ramai, itulah yang bakalan diutamakan dalam segala hal. Tolong banget, yaa. Masa iya, setiap harinya hampir sepuluh ribu pembaca, yang ninggalin jejak, bisa Author hafal? 😭😭😭


Selamat membaca,


***


“Selamat tinggal, Pul! Aku enggak tahu kapan kita bisa bertemu lagi. Yang jelas, meski lebih sering bikin emosi, aku juga akan merindukan masa-masa saat kamu bikin banyak ulah,”


Episode 56 : Selamat Tinggal, Pul!


Rafael berdeham seiring wajah tampannya yang menjadi cukup serius. “Berhenti, Din,” ucapnya sesaat setelah menelan ludah. Ia menghela napas kemudian menggigit bibir bawahnya, di tengah dahinya yang menjadi berkerut samar.


Hening menyelimuti kebersamaan kendati raut serius yang juga menyelimuti semua orang di dalam mobil, seolah bermuara pada hal yang sama. Perihal pengakuan Fina, berikut semerbak aroma tak sedap yang memang mulai menguasai udara di dalam mobil. Dan satu-satunya hal yang mereka pikirkan hanyalah Ipul. Benar-benar hanya pria itu.


“Buka bagasinya, Din,” titah Rafael.


“Siap, Bos!”


Bagasi langsung terbuka secara otomatis setelah Didin menekan tombol untuk membuka bagasi. Dan tak lama setelah itu, Rafael juga menekan tombol kunci otomatis pintu sebelahnya, dan langsung membuat pintu bergeser sekaligus terbuka detik itu juga. Sedangkan yang terjadi pada Ipul, pria itu menjadi sangat tegang. Bahkan Ipul sampai berkeringat sekaligus gemetaran.


“Bisa enggak, sih, aku mendadak berubah jadi nyamuk? Atau kalau enggak, butiran debu yang enggak pernah dianggap juga enggak apa-apa. Asal si Kafur enggak lihat! Pisss,” batin Ipul yang sampai berinisiatif tiarap kemudian merayap ke bawah jok penumpang di hadapannya.


Rafael yang nyaris berdiri di depan bagasi yang sudah terbuka sempurna pun berdeham. “Sudah jangan tiarap-tiarap. Di mobil ini ada tombol setrum otomatisnya, lho Pul!” sindir Rafael sambil bersedekap. Kini, dengan mata dan kepalanya sendiri, ia membuktikan kecurigaannya; Ipul benar-benar ada di bagasi.


Dengan wajah tak berdosa, Ipul yang tidak bisa merayap dikarenakan tubuhnya jauh lebih besar dari sela jok yang akan ia masuki pun berangsur balik badan.


Sambil bersedekap, Rafael geleng-geleng kepala. Di tanggul yang cukup panjang dihiasi aliran sungai kecil di kedua sisinya, sedangkan di sekitarnya merupakan bentangan sawah yang baru akan mulai ditanami, melalui empasan lirikan tajamnya, Rafael mengharapkan Ipul pergi dari dalam mobilnya. Mobil yang juga sudah Rafael jadikan sebagai mas kawin untuk Fina.


Fina menghela napas kesal. Merasa frustrasi dengan kenyataan Ipul yang terus saja mengganggunya. Pun dengan Rina berikut orang tuanya yang tak kalah muak. Kendati demikian, Fina memutuskan untuk turun menyusul Otoy dan Didin yang juga sudah turun mengawal Rafael.


“Aku mau ikut ke Jakarta biar aku bisa jaga mai oli wan!” sergah Ipul tiba-tiba. Ipul benar-benar memohon.


Kedua jemari tangan Ipul yang berkuku hitam sekaligus kotor, sampai menyembah-nyembah kepada Rafael. “Fur ... aku mohon Fur. Aku mohon!”


Rafael menepis permohonan Ipul dengan tatapan sebal.


“Mai oli wan Dek Fina! Kamu setuju kan, kalau aku ikut ke Jakarta?!” sergah Ipul tiba-tiba dan sampai mencoba meraih sebelah tangan Fina yang awalnya baru akan berdiri tepat di sebelah Rafael.


Rafael sudah mendelik dan nyaris menelan Ipul hidup-hidup, andai saja pria itu sampai menyentuh Fina. Untung, Fina langsung bergerak cepat menghindari tangan Ipul. Karena jika tidak, mungkin kedua tangan Rafael sudah mematahkan tulang-tulang tangan Ipul detik itu juga.


“Turun. Pulang. Berhenti dan jangan mengangguku lagi!” tegas Fina sambil menatap tajam Ipul.


Apa yang Fina lakukan benar-benar membuat Ipul sedih. Ipul yang sampai menitikkan air mata lengkap dengan kedua matanya yang menjadi merah.


“Mai oli wan Dek Fina ...,” rengek Ipul.


“Turun,” ucap Rafael penuh penekanan seiring empasan tatapan tajamnya yang meminta Ipul turun dari bagasi.

__ADS_1


Ipul menggeleng lemah. “Aku jadi tukang kebun apa babu kalian juga enggak apa-apa, asal aku masih bisa lihat mai oli wanku dari dekat!” pintanya masih memohon. “Dari babu jadi mantu, hihihi!” batinnya girang.


“Sudahlah, Raf ... sudah malam. Turunin saja di sini, biar dimakan demit sekalian!” keluh Fina. “Lempar ke kali sebelah juga enggak apa-apa biar dimakan buaya!”


“Demit sama buaya juga enggak bakalan doyan, kali, Fin. Yang ada mereka langsung kabur enggak tahan baunya,” balas Rafael masih memasang wajah angkuh.


Didin dan Otoy yang berdiri persis di kedua sisi Rafael, menjadi senyum-senyum menahan geli, hanya karena tanggapan Rafael perihal keluhan Fina.


“Kalau enggak diizinin, aku bunuh diri, nih, pakai kalung rante!” ancam Ipul tiba-tiba sambil menarik tinggi kalung rante yang masih menghiasi lehernya.


“Sudah lanjutkan saja. Sini aku bantu!” sergah Fina bersemangat.


Fina nyaris membantu Ipul, andai saja Rafael tidak tiba-tiba mengangkat tubuh wanita itu, melalui pinggang Fina yang terbilang kecil.


“Jangan dekat-dekat dia. Bahaya!” Rafael bahkan sampai memasukkan paksa Fina ke dalam mobil melalalui sofa bekasnya duduk.


Karena pada kenyataannya, Rafael tidak akan membiarkan pria lain menyentuh Fina apalagi sekelas Ipul yang tidak kenal aturan. Bisa dipegang tidak karuan jika Fina sampai dekat-dekat pria itu. Bahkan, saking protektifnya, Rafael sampai menutup pintunya sebelum kembali memutari mobil menuju bagasi.


Ketika Rafael kembali, Ipul sudah tidak mencoba bunuh diri lagi.


“Fur ... aku ikut ke Jakarta, ya? Pis ....” Ipul kembali memohon-mohon.


“Oke!” sanggup Rafael.


“Rafael kamu apa-apaan, sih?” keluh Fina dari dalam.


“Asal kamu izin dulu ke bue-mu. Aku tunggu di sini. Enggak boleh lebih dari dua puluh menit!” lanjut Rafael yang kali ini mengantongi kedua tangannya di sisi saku celana panjangnya.


“Cepetan, mau, enggak? Duh, ini sudah banyak nyamuk!” semprot Rafael sambil memukuli kaki kemudian tangannya yang memang diserbu nyamuk.


“Aku hitung sampai lima, kalau kamu masih di sini, aku usir kamu secara paksa, dan kamu juga enggak boleh ikut ke Jakarta!” ancam Rafael.


“Aku izin ke bue lewat telepon saja, ya?” tawar Ipul bersemangat sembari menurunkan tas gendong dari punggungnya.


“Izin langsung, Pul!” tegas Rafael. “Ayo cepat, sebelum aku berubah pikiran!”


Di dalam, di jok bagian penumpang paling belakang, Rina dan Murni sudah merasa semakin tidak nyaman lantaran Ipul tak kunjung turun atau setidaknya menuruti aturan main Rafael.


“Tapi jangan ditinggal, ya, Fur?” tawar Ipul waswas. Ia menatap Rafael penuh kepastian. “Si Kafur, di gelap-gelap begini saja, kelihatan ganteng banget, ... pantes saja mai oli wan Fina maunya sama si Kafur. Belum lagi, mobil Kafur juga nyes banget,” batin Ipul sembari bersiap turun.


“Pegangin,” ucap Ipul tiba-tiba dengan manjanya. Sebelah tangannya terulur ke depan, sedangkan sebelahnya lagi menjinjing sarungnya.


Rafael segera mundur sambil memberi perintah melalui lirikan sekaligus gerakan wajah, kepada Otoy dan Didin. Didin yang terlihat enggan segera mundur kemudian menyikut Otoy. Dan akhirnya, meski terlihat terpaksa, Otoy segera menarik tangan Ipul yang bahkan tak segan mendekap erat tengkuk Otoy tak ubahnya katak hijau yang menempel pada pepohonan. Dan ketika Didin maupun Rafael terkikik mendapati kenyataan tersebut, Otoy yang menjadi korban, sengaja tidak bernapas demi merampungkan misinya.


“Ingat, Fur, ... aku jangan ditinggal. Kalau kamu bohong, dosa berat, lho. Aku doakan--” ucap Ipul dan langsung ditahan oleh Rafael.


“Doakan agar kami cepat punya anak saja. Sudah sana pergi. Waktumu hanya dua puluh menit!”

__ADS_1


Meski tampak ragu, akhirnya Ipul bergegas lari. Dan kendati demikian, pria itu acap kali berputar-putar demi memastikan ke belakang.


“Sudah pergi, kan?” sergah Fina sembari berdiri dan membuatnya bisa melongok situasi di luar bagasi.


“Sebentar. Tunggu dia benar-benar enggak lihat kita. Biar enggak terlalu drama, Fin,” ujar Rafael tanpa mengalihkan fokusnya.


Rafael dan kedua orangnya masih terjaga melepas kepergian Ipul.


Fina juga mendapati Ipul yang lari tunggang-langgang di depan sana. Anehnya, meski berlari, Ipul sampai berputar-putar hanya untuk memastikan ke belakang. Dan ketika jarak semakin jauh, lantaran sarung yang dikenakan sampai melorot, pria itu bahkan nekat mengalungkan sarungnya ke tengkuk padahal Ipul tidak mengenakan dalaman lain. Kenyataan itu juga yang membuat Fina buru-buru urung, duduk tanpa ikut melepas kepergian Ipul lagi.


Dan kendati meresa jengah sekaligus jijik, Rafael dan kedua orangnya merasa cukup terhibur dengan tingkah gila Ipul yang kali ini tampak begitu girang.


“Selamat tinggal, Pul! Aku enggak tahu kapan kita bisa bertemu lagi. Yang jelas, meski lebih sering bikin emosi, aku juga akan merindukan masa-masa saat kamu bikin banyak ulah,” batin Rafael sembari bergegas meninggalkan bagasi mobil yang ditutup oleh Didin.


Semuanya kembali bersiap di posisi masing-masing. Dan setelah semua pintu sudah ditutup, Didin segera melajukan mobil.


Tak lama setelah itu, baik Fina maupun Rafael yang sama-sama menghela napas pelan atas kelegaan yang mereka kantongi, karena akhirnya terbebas dari Ipul, tak sengaja menatap kaca spion di atas Didin. Dan kenyataan tersebut membuat pandangan mereka bertemu. Mungkin ada lima detik, hingga akhirnya Fina memilih mengakhirinya lebih dulu, dan kemudian menyemayamkan wajahnya di bahu Murni.


Namun, Rafael masih bertahan memandangi wajah Fina yang meringkuk di bahu Murni, dengan sebagian rambut perempuan itu yang tergerai cukup berantakan menutupi sebagian wajah. Rafael melakukan itu, hingga lampu di dalam mobil dimatikan oleh Didin.


“Kamu hafal jalan, Din?” ucap Rafael sesaat setelah lampu mati dan kenyataan tersebut mengalihkan perhatiannya dari wajah Fina.


“Diusahakan hafal, Bos. Tapi hafallah, Bos! Apalagi kalau sudah lepas ke perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, menujun Pangandaran!” jawab Didin sambil tersenyum ramah dan menatap Rafael melalui kaca spion di atasnya.


Kaca spion yang juga sempat Rafael gunakan untuk mengamati wajah Fina.


“Ya jangan ke Pangandaran. Kita abil yang ke Jakarta. Kalau ke Pangandaran, bisa-bisa kita balik ketemu Ipul lagi!” balas Rafael yang justru mengajak bercanda dan sukses membuat semuanya tertawa kecuali Fina.


Karena dari semuanya, Fina memang langsung tertidur.


“Wah, Bos jadi bisa bercanda gara-gara si Ipul, ya?” balas Didin yang kali ini sengaja menggoda. Sebab, belasan tahun mengabdi ke keluarga Rafael, baru kali ini Didin melihat Rafael yang selalu serius bahkan sering marah-marah, sampai bercanda sekaligus tertawa lepas.


“Memangnya kamu enggak setres juga ngurusin dia?” balas Rafael di antara sisa tawanya.


Semuanya masih tertawa. Otoy dan Didin menceritakan perihal pengalaman mereka menghadapi kekonyolan Ipul dan bau badan pria itu. Sedangkan Raswin berikut Rina dan Murni, berusaha menikmati pemandangan suasana luar di antara rasa lega yang begitu luar biasa, atas kenyataan sekarang. Akhirnya, mereka bisa bernapas lega tanpa fitnah tetangga termasuk ulah gila Ipul. Dan pastinya, Fina sudah menikah dengan pria yang mereka anggap tepat.


Rafael mengeluarkan ponsel pribadinya dari saku sisi celana. Ia sengaja mengirim pesan pada kontak Fina yang ia beri nama Patner Masa Depan.


-Capek banget, apa? Yang lain masih pada ngobrol, lho ....-


Meski tampak terjaga, tetapi diam-diam Rafael melirik ke belakang, bertepatan dengan ponsel Fina yang sampai terdengar berdering. Akan tetapi, Fina tetap meringkuk dan bahkan sampai dirangkul oleh Murni untuk berbaring di pangkuan wanita itu.


“Jiah ... beneran tidur,” batin Rafael yang kemudian menjadi kepikiran perihal apa yang menimpa Ipul, ketika pria itu kembali ke tanggul tempat mereka menurunkan Ipul.


“Bisa-bisa, Ipul nangis tujuh hari tujuh malam enggak berhenti-berhenti?” pikir Rafael yang kemudian memilih untuk mengamati suasana sekitar.


Di antara gelapnya malam yang hanya dihiasi cahaya lampu redup dari setiap rumah perkampungan yang dilalui, Rafael menjadi bertanya-tanya. Kenapa ia bisa ada di tempat sepelosok sekarang? Dan ketika pertanyaan tersebut menghiasi benaknya, dengan sendirinya, tatapannya juga melirik ke arah keberadaan Fina.

__ADS_1


“Karena jodoh?” pikir Rafael.


Bersambung ....


__ADS_2