
Hallo, para mai oli wan kesayangan Ipul 😂😂😂😂.
Maaf lama update, soalnya lagi sibuk urus kepentingan di dunia nyata. Tapi diusahakan tetap update, kok.
Oh, iya, tanggal 20 April besok, akan ada Q&A bareng Author di grup chating Author yang disponsori oleh AIDN. Author kepilih buat ngadain Q&A. Dan nanti, pertanyaan yang terpilih akan mendapatkan hadiah menarik. Jadi, buat kalian yang mau ikutan, langsung masuk ke grup Author saja, ya. Perihal waktunya belum ditetapkan, tapi tanggalnya, tanggal 20 April. Semoga sih rame dan kalian beruntung dapat hadiah juga 😊
Ya sudah, persiapkan diri kalian dari sekarang, dan selamat membaca!
***
“Kenapa ... kenapa yang sudah kita lepaskan justru semakin menghanyutkan? Kenapa Fina justru menjadi begitu cantik bahkan menarik, setelah dia bukan istriku?”
Episode 46 : Mendadak Reuni
“Seharusnya, si Kafur punya banyak duit, dan dia kasih aku banyak uang buat nyalon, kan? Harusnya sih aktingku sukses. Apalagi efek timpukan sapu Bian, mataku perih dan aku sampai nangis. Huahahaha
... rezeki emang ini! Kafur, awas saja kalau kamu enggak kasih aku banyak uang! Aku jamin, bakalan aku kirim kamu teluh spesial, atau malah aku kirim kamu ke akherat sekalian!!” batin Ipul yang memang masih pura-pura sedih tak ubahnya aktor andal.
Rafael dan Fina kembali merasa syok berat, ketika mereka melihat wajah Ipul yang sampai bergelepot oli. Belum lagi, beberapa butir pasir dan helai rambut juga tampak melekat di sana. Entah ulah apa lagi yang telah pria itu lakukan. Kalau pun karena efek pingsan di tengah jalan, harusnya tidak sampai separah itu. Terlebih di jalan beraspal di sana pun, semuanya tampak baik-baik saja. Bahkan boleh dibilang, jalan yang baru Ipul tinggalkan jauh lebih bersih dari tubuh Ipul sendiri.
Dan meski Ipul sampai menangis, kenyataan tersebut tak lantas membuat rasa syok Fina dan Rafael mereda. Rasa iba dari keduanya untuk Ipul juga benar-benar tidak ada.
“Dia itu sebenarnya manusia apa alien, sih?” gumam Rafael saking geramnya pada sosok Ipul. Ipul yang nyatanya waras, tetapi sangat tidak peduli pada penampilan.
Kini, wajah Ipul yang dekil hitam sampai menjadi merah padam. Ipul tampak dilanda kesedihan luar biasa. Meski jauh di lubuk hatinya, Ipul yang bersandiwara juga bersedih dan sampai berujar, lebih baik semua kambing dan kerbaunya mati, ketimbang Ipul harus kalah saing dari Rafael.
“Heh, Kafur, kasih aku moni! Kamu harus bayar aku pakai banyak moni karena mobil kamu sudah nabrak aku, bahkan tadi aku sampai pingsan!” todong Ipul tiba-tiba sambil menyodorkan tangan kanannya pada Ipul.
“Ya kan, apa aku bilang? ... ayo langsung pergi saja. Percuma berurusan sama dia. Kita masih banyak urusan buat syukuran pernikahan ... bapak sama ibu juga sudah menunggu kita,” tegur Fina lirih.
“Bentar Fin. Aku harus ngingetin dia buat mandi, biar dia enggak jadi sarang wabah,” tawar Rafael dengan suara tak kalah lirih.
Fina menggeleng tak habis pikir. “Ngomong sama Ipul itu percuma, Raf ... mending ngomong sama kambing sekalian!”
“Mai oli wan ... jangan takut. Bilang sama aku kalau kamu dipaksa, kayak pas kamu dipaksa nikah sama Bian yang enggak punya nyali bahkan sampai bunuh diri, hahaha ... ehm ... aku ... aku bakalan langsung selamatin kamu!” Ipul berusaha meyakinkan tak ubahnya ksatria pembela kebenaran.
“Sudah ... sudah, jangan rusuh! Lebih baik kamu mandi! Sebenarnya kamu pernah mandi, enggak, sih? Dan kamu sadar enggak, ... kalau kamu tuh bau banget? Bahkan sekarang wajahmu sampai gelepotan oli?” keluh Rafael sambil mundur dan menuntun Fina untuk masuk ke mobil.
Menyadari Otoy dan Didin justru melipir, Rafael juga menjadi mengomel. “Kok kalian malah pergi lari dari tanggung jawab, sih? Itu ditahan orang itu!” sergah Rafael sambil menunjuk-nunjuk Ipul, sedangkan
sebelah tangannya menekap kuat hidungnya yang sudah ditutup masker. Karena meski sudah mengenakan masker, tetapi aroma Ipul tetap saja tercium sangat menusuk.
Akan tetapi, Didin dan Otoy kompak memilih kalah sebelum perang jika lawan mereka justru Ipul. Keduanya tetap melipir bahkan bersembunyi di balik mobil sebelah pintu penumpang Fina duduk.
“Heh, Kafur! Sembarangan kamu asal jeplak kalau ngomong. Sudah hobinya nikung jodoh orang, sekarang kamu malah ngata-ngatain orang! Kata siapa aku bau! Hidung kamu mungkin yang gangguan! Wangi-wangi begini!” hardik Ipul sambil menyeka air matanya dan membuatnya semakin menyedihkan tak ubahnya adegan di drama gelandangan yang mengharapkan belas kasihan.
“Sekali lagi kamu panggil aku kafur, aku enggak segan laporin kamu ke ke polisi lagi!” ancam Rafael sambil kembali menunjuk-nunjuk wajah Ipul. “Stop!” tegasnya lantaran Ipul terus saja mendekat.
Jarak Ipul dan Rafael tak kurang dari tiga meter.
“Ayolah, Raf ... kita langsung pergi saja. Enggak ada gunanya,” bujuk Fina lagi sambil meraih sebelah lengan Rafael menggunakan kedua tangannya.
Fina berusaha menuntun Rafael agar kembali masuk ke mobil dan meninggalkan Ipul. Pun meski tujuan Rafael menyadarkan Ipul untuk mandi memang tujuan mulia. Terlebih, tidak semua orang mau melakukannya, dikarenakan hasilnya pasti sia-sia. Ipul ya Ipul, ... tetap tidak akan mandi meski tubuhnya sudah dekil bahkan menjadi sarang bau.
“Ipul, apa-apaan, sih?”
“Mai oli wan, Dek Fina ... kamu enggak boleh mengkhianati cinta kita! Jangan sampai tergoda sama si Kafur ini!”
__ADS_1
Namun, di luar dugaan, lantaran Ipul justru menerobos dan mencoba melepaskan tangan Fina dari lengan Rafael. Jadilah, meski enggan bahkan jijik, Rafael menggunakan tangannya yang tidak Fina tahan, untuk
menggetok kepala Ipul, sekuat mungkin.
“Ya Alloh, ... kepalanya saja sampai berminyak begini ...?” gumam Rafael menatap jijik tangannya yang baru menggetok kepala Ipul. “Serius, ni orang kayaknya enggak pernah mandi, deh!”
Rafael menjadi tak hentinya merinding. “Kamu tahu, Fin? Semenjak ke kampung kamu, harga diriku jadi terjun bebas gara-gara berurusan dengan si Ipul!” keluhnya kemudian sambil menatap miris Fina.
“Kan aku sudah bilang, jangan diladenin, ... kamu malah sibuk wawancara dia!” balas Fina yang sebenarnya juga lelah menghadapi ulah Ipul. Bahkan Fina menjadi semakin lelah, lantaran Rafael justru tidak kalah ngeyel dari Ipul.
Rafael bergerak cepat mengambil tisu basah dari sela jok penumpang di depan bekas tempatnya duduk. Ia menggunakan tisu itu untuk mengelap tangan Fina yang bekas ditahan Ipul.
“Ya ampun puyeng banget!” Ipul yang refleks mundur tak hentinya mengelus bekas getokkan Rafael yang sukses membuat kepalanya puyeng. “Eh, Kafur! KDRT, kamu! Kalau aku sampai amisnia bagaimana?”
“KDRT kepalamu! Kapan kita nikah? Dekat-dekat
sama kamu saja aku ogah!” omel Rafael sambil mengelap pergelangan tangan Fina yang sempat ditahan Ipul, untuk kedua kalinya lantaran takut kurang bersih.
Yang menjadi fokus perhatian Ipul maupun Bian,
bukan perihal Rafael yang masih meladeni Ipul. Melainkan pria itu yang begitu cekatan membersihkan Fina dari bekas Ipul. Rafael begitu peduli, sedangkan Fina sendiri membebaskan pria itu bersikap. Termasuk Fina yang mau-maunya saja digandeng bahkan dirangkul Rafael.
Samsul yang berdiri di sebelah Bian, jarak mereka tak kurang dari dua meter, melirik sang bos sambil tersenyum jail. “Wah ... wah ... mendadak reuni, nih. Serius, ya, Bos ... mantan istrimu cantik banget! Bos, enggak nyesel, gitu, lepas mbak Fina begitu saja?”
Bian melirik kilat Samsul sambil mendengkus kesal. Akan tetapi, ia tetap tidak bisa berpaling dari Fina lantaran apa yang Samsul katakan memang benar. Fina yang sekarang begitu cantik, mempesona, bahkan ... menghanyutkan. Hanya pria bodoh saja yang mau melepaskan wanita cantik layaknya Fina. Terlebih selain cantik, Fina bahkan pandai memasak.
“Apakah mereka benar-benar sudah menikah? Tapi, kapan? Kok sama sekali belum ada kabar? Namun, ... kenapa aku juga jadi sibuk mikirin hidup Fina? Bukankah aku enggak ada rasa lebih sama dia?” batin Bian menjadi bingung sendiri. Sialnya, kedua matanya tidak bisa mengakhiri tatapannya pada Fina.
“Kenapa ... kenapa yang sudah kita lepas justru semakin menghanyutkan? Kenapa Fina justru menjadi begitu cantik bahkan menarik, setelah dia bukan istriku?” Bian masih meronta dalam hatinya yang tiba-tiba saja menjadi galau. Terlebih, rasa menyesal berikut ingin memiliki Fina kembali, juga menjadi semakin besar.
“Aku ... masih punya kesempatan, kan?” pikir Bian lagi.
Bagi Bian, Ipul memang tidak tahu malu. Pada Rafael yang tidak Ipul kenal saja, Ipul begitu rese tidak mau diam. Tak hanya mulut pria dekil itu yang terus berucap, melainkan tingkah Ipul yang terus saja pecicilan.
“Ya ampun, Kafur! Ngapain kamu pegang-pegang mai oli wan terus?!” pekik Ipul geregetan. Kedua tangannya nyaris mencekik Rafael.
Rafael langsung membelakangi Fina, demi menjauhkan istrinya dari Ipul.
“Ipul, stop! Jangan panggil Rafael dengan sebutan sembarangan. Sekarang Rafael sudah menjadi suamiku, dan Rafael seorang mualaf. Jadi kamu jangan asal panggil lagi!” omel Fina dari sela ketiak Rafael yang sedikit ia angkat lantaran suaminya itu benar-benar membatasinya dari Ipul. “Kamu jangan kayak orang gila kenapa, sih? Bikin onar terus! Malu-maluin! ”
Awalnya, pengakuan Fina sukses membuat hati
Ipul hancur sehancur-hancurnya melebihi penampilan Ipul sendiri. Namun, lantaran menyadari tidak ada cincin yang menghiasi jemari Rafael maupun Fina, Ipul
langsung tersenyum lepas kendati kedua matanya juga masih basah.
“Hahaha ... ngakunya sudah menikah, tetapi cincin saja enggak pakai!” ledek Ipul.
“Lah, kamu yang pakai cincin, juga belum nikah-nikah, kan?” semprot Fina cepat.
Ipul refleks terdiam. Pria itu berangsur menunduk kemudian menatap sedih jari manis tangan kanannya yang memang mengenakan cincin emas dan sampai dihiasi batu akik besar. “Ini kan, simbolis pernikahan kita, mai oli wan ... tuh lihat saja, namamu terukir di batu akiknya. Batu merah delima ini. Bukan batu sembarangan. Ada penunggunya ... ini nih, yang bikin aku bisa pelihara banyak kambing dan kerbau.”
Rengekan Ipul langsung dibalas cepat oleh
Fina, “stres!”
Selanjutnya, Rafael yang tidak sengaja menoleh
__ADS_1
ke seberang sambil menghela napas, lantaran merasa lelah pada tingkah Ipul yang tak kunjung sadar diri, justru mendapati kenyataan Bian. Di seberang sana, Bian nyaris tak berkedip menatap wajah Fina. Bian, ... pria itu menatap Fina dengan banyak rasa sesal bahkan, ... ingin memiliki. Itu juga yang membuat Rafael bergegas menuntun Fina untuk buru-buru masuk.
“Bian, ... nanti malam datanglah ke rumah Fina. Kami akan menggelar syukuran pernikahan kami, ... sekaligus selamatan bapak Raswin yang alhamdullilah sudah membaik,” ucap Rafael sesaat sebelum ikut masuk ke mobil. Ia sengaja mengundang Bian langsung karena untuk pamer demi mengobati rasa cemburunya, berikut ulah Bian di masa lalu. Bukankah, sakitnya Raswin juga karena ulah Bian yang asal menceraikan Fina?
“Heh, Kafur ... mau dibawa ke mana itu mai oli wan Dek Finaku ....!” raung Ipul berusaha menahan pintu mobil yang berangsur menutup dengan otomatis.
“Jangan pegang-pegang mobilku, Pul! Kasihan mobilnya!” usir Rafael sambil memukulkan botol air mineral berukuran satu setengah liter yang masih berisi setengah. Ia menggunakan botol tersebut untuk menghantam tangan Ipul.
Ipul memasukkan sebelah tangannya ke dalam mobil sebelum pintu otomatis itu benar-benar tertutup. “Bagi duit, aku mau nyalon!”
Lantaran pintu sudah tertutup, Ipul pun menggedor-gedor kaca pintunya. Membuat Rafael yang semakin geram, segera membukanya.
“Apa lagi?” cibir Rafael.
“Bagi duit! Aku mau nyalon!” balas Ipun bersemangat sambil menyodorkan kedua tangannya.
“Kamu sudah mati-matian ngehina aku, tapi ujung-ujungnya doyan duitku juga! Bentar!” omel Rafael.
Di dalam mobil, Fina menatap tak percaya Rafael yang sampai menarik semua uang ratusan ribu yang memenuhi dompet. “Si Rafael dermawan banget?” pikirnya yang memilih tak acuh dan menyibukkan diri menganati suasana depan bengkel Bian. “Kenapa itu ban motor, berantakan banget?” gumamnya. Karena yang ia tahu, Bian sangat rapi dan tidak akan tinggal diam jika ada barang berantakan.
Ipul terperangah melihat isi dompet Rafael yang sampai dikeluarkan semua dan disodorkan padanya. “Si Kafur beneran kaya!” batin Ipul berbunga-bunga, tak sabar menerima uang dari Rafael yang akan ia gunakan untuk mengubah penampilan.
“Krincing ... krincing ....”
Beberapa koin seribu dan lima ratus rupiah, Rafael hujankan ke wajah Ipul dari dalam dompetnya yang sampai Rafael tuang.
Mendapatkan itu, Ipul refleks terpejam menahan kesal. Lain halnya dengan Fina yang langsung tergelak tak ubahnya Samsul yang sampai terpingkal-pingkal.
“Jalan, Din! Enggak sudi aku kasih uang sama Ipul. Lebih baik kasih orang yang benar-benar membutuhkan, daripada mahluk jadi-jadian kayak dia!”
Mobil yang membawa Rafael dan Fina, meluncur. Dan tak lama setelah itu, Ipul yang membuka mata, menatap kepergian mobil berwarna putih susu itu dengan sangat murka.
“Kafur tunggu pembalasanku!”
Tawa Samsul mendadak berakhir. Pria muda itu menepuk Bian penuh cemas, lantaran anak kambing yang mereka lepas, tertabrak kolbak yang sektika itu berhenti di hadapan mereka.
“Pul! Kambingmu ketabrak kolbak!” seru Samsul kemudian dan sukses membuat Ipul refleks menoleh ke belakangnya.
“Ya ampun kolbak sialannnn! Itu kambing sebisa mungkin enggak mau aku jual, eh malah kamu tabrak!” teriak Ipul yang kali ini benar-benar menangis.
Ipul langsung berlari ke tengah jalan dan kemudian mendekap erat anak kambingnya yang sudah berlumuran darah.
“Haaah aah ah ... gara-gara pengin nyalon, kamu malah kecelakaan!”
“Innallilahi wainallilahi rojiunnnnnn! Mbing, jangan mati dulu, Mbing ... nanti kalau Pae sama Bue marah, siapa yang bantu jawab?”
Bian menyikut Samsul. “Tolongin itu ...!”
“Emoh ah Bos ... bau!”
“Ya sudah ... kita tutup bengkel saja daripada direcokin Ipul.” Bian bergegas, buru-buru meninggalkan Ipul yang masih meraung-raung, sebelum pria itu kembali berulah.
Ipul masih mendekap anak kambing yang tampak hidup, tetapi seperti sudah sekarat. “Kira-kira, kalau kamu mati, bakalan ada yang sorjah (nyekar) terus kasih sumbangan, enggak, ya, Mbing? Kan lumayan uang sumbangannya,” pikir Ipul tiba-tiba.
Bersambung ....
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa. Like, komentar, vote, sama ratenya, Author tunggu 🤗
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.