
“Kenapa semesta kehidupan seolah memintaku untuk selalu melihatnya? Kenapa Tuhan terus saja mempertemukan kami, di saat hatiku sedang sangat terluka karena harus merelakan Sunny?”
Bab 68 : Resepsi Kejutan
Fina, baru menyadari, suaminya sampai potong rambut. Karena meski tidak begitu banyak, tetapi gaya rambut Rafael menjadi terlihat jauh lebih rapi.
“Apakah acara ini begitu penting, sampai-sampai, aku harus dandan se-wah ini, sedangkan kamu juga sampai potong rambut?” tanya Fina yang membiarkan Rafael jongkok di hadapannya.
Rafael memang terlihat jauh lebih rapi dari biasanya yang memang sangat mengedepankan penampilan. Terlepas dari itu, Fina juga masih tidak menyangka seorang Rafael sampai jongkok di hadapannya hanya untuk memasangkan sepatu untuk Fina.
Fina sendiri kembali duduk di kursi Rias. Membiarkan suaminya itu memuliakannya. Rafael yang meminta meski Fina sudah sempat menegaskan, Rafael cukup meletakkan sepatu flat berwarna silver tersebut di depan Fina.
“Aku pikir, kamu akan memberiku sepatu yang memiliki hak tingga dan runcing. Syukurlah ...,” ucap Fina.
Rafael yang baru saja meraih sebelah tangan Fina, berangsur menengadah untuk menatap wanita itu. “Kamu pikir, suamimu ini egois?” lirihnya penuh penekanan. “Aku tahu kamu enggak bisa pakai hak tinggi. Makanya aku sengaja cari gaun berekor panjang seperti ini yang bagian depannya juga nyaris menutupi mata kakimu.”
Fina menatap Rafael tanpa bisa menyembunyikan kebahagiannya, terlebih Fina juga sampai tersipu. Sedangkan yang terjadi pada Rafael, pria itu segera memasangkan sepatu flat yang dipenuhi manik-manik batu permata warna silver.
“Jika aku mengatakan, menikahlah denganku dan benar-benar menjadi istriku, apakah kamu akan melupakan pernikahan kita yang sebelumnya?” ucap Rafel tiba-tiba kembali menengadah, menatap serius Fina.
“Apa maksudmu?” balas Fina yang justru balik bertanya. Fina menatap bingung Rafael seiring bibirnya yang menjadi mengerucut.
“Kita memulai semuanya hanya karena kita saling membutuhkan. Dan aku juga terbilang memaksamu, sedangkan itu tidak baik jika terus dilanjutkan.”
Meski Rafael masih menatapnya penuh ketenangan, tetapi Fina tidak bisa bersikap baik-baik saja. Bahkan Fina merasa dadanya mendadak terasa cukup sesak.
“Tapi semuanya baik-baik saja, kan?” tanya Fina setelah sempat kebingungan dan membuatnya terdiam untuk beberapa saat. Bahkan sekarang, sebenarnya Fina juga masih bingung dengan apa yang Rafael maksud.
Rafael yang masih menengadah berangsur mengangguk. “Iya. Tapi kita harus memperbaikinya. Dan di sini, akulah yang harus memulai sekaligus melakukannya.”
Fina menjadi tersipu. Dadanya tak lagi sesak, melainkan hangat, di antara kebahagiaan yang detik itu juga menyeruak. Dan bersamaan dengan semua itu, Fina berangsur menatap Rafael sambil mengangguk.
Rafael menyambut balasan Fina dengan senyum lepas. Mereka sama-sama tersenyum. Lebih tepatnya, mereka bertukar senyum dengan kesantaian yang menyelimuti. Kemudian, Rafael mengulurkan tangan kanannya dan memberikannya pada Fina.
“Apa?” tanya Fina.
“Ayo berangkat,” ajak Rafael dan kembali disambut senyum oleh Fina yang lagi-lagi tersipu.
Rafael berangsur bangun. Sedangkan Fina yang meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanan Rafael juga berangsur beranjak dan bangkit dari duduknya. Mereka melangkah dengan hati-hati sambil sesekali mengamati ekor gaun yang Fina kenakan.
Namun ketika mereka baru akan ke luar kamar hotel, tiba-tiba saja, Rafael izin ke toilet dan meminta Fina untuk beranhkat lebih dulu bersama ketiga wanita yang menyulap perubahan tampilan Fina. Ketiga wanita yang bahkan akan menjelma menjadi pengawal Fina.
“Rafael semakin serius dan mempertegas hubungan kami,” batin Fina yang melepas punggung Rafael dengan hati yang berbunga-bunga.
***
Fina keluar dari kamar hotel, dibantu ketiga wanita yang mengurus penampilannya. Ketiganya turut andil dalam memastikan ekor gaun Fina baik-baik saja, tanpa tersangkut, apalagi terinjak. Terlepas dari itu, selain Fina yang terlihat begitu bahagia, wanita itu juga terlihat sangat akrab dengan ketiga wanita yang membantunya.
Di waktu yang sama, Keandra juga baru keluar dari kamar hotel tempat pria itu menginap.
__ADS_1
Keandra dan Fina ada di lorong yang sama. Lebih tepatnya, Fina ada di depan Keandra, dan jarak mereka tak kurang dari tujuh meter. Dan Keandra yang melangkah sendiri dengan tampilannya yang jauh lebih rapi, tidak sengaja menoleh ke depan, hingga pria itu mendapati Fina.
Rona lelah sekaligus tak bersemangat yang awalnya menyertai Keandra, menjadi digantikan keterkejutan. “Itu yang tadi, kan? Fina ...?”gumam Keandra yakin.
Setelah mengamati Fina cukup lama, Keandra menjadi tersenyum getir. Pria itu menepis keberadaan Fina yang masih dibantu ketiga wanita dalam mengendalikan gaunnya. Akan tetapi, semua itu hanya berlangsung beberapa saat saja, lantaran Keandra justru ingin kembali menatap Fina. Keandra bahkan ingin melihat Fina lebih lama.
“Kenapa semesta kehidupan seolah memintaku untuk selalu melihatnya? Kenapa Tuhan terus saja mempertemukan kami, di saat hatiku sedang sangat terluka karena harus merelakan Sunny?” batin Keandra yang akhirnya tak lagi mendapati Fina lantaran wanita itu melangkah ke lorong seberang.
Fina terus dibantu oleh ketiga wanita berseragam setelan kemeja lengan hitam dan rok selutut. Gaya wanita tadi begitu khas, tak ubahnya bekerja dalam staff khusus.
“Wanita itu bahkan jauh lebih ceria dari Sunny. Namun sepertinya, ... dia bukan orang biasa? Tadi saja, selain sampai dikawal ketiga wanita yang membantunya, dia juga memakai gaun sangat mahal?” pikir Keandra lagi sambil terus melangkah seiring pintu kamar hotel keluarnya Fina yang langsung menyita perhatiannya.
Keandra menatap lama kamar hotel kemunculan Fina. “Dia menginap di sini?” pikirnya lagi. “Dan ini juga kamar mahal. Tidak sembarang orang bisa menyewanya?”
Tak lama setelah itu, Keandra melanjutkan langkahnya. Akan tetapi, meski tujuannya berbeda bahkan berlawanan arah dengan tujuan Fina, kedua mata Keandra tetap saja melihat ke arah lorong kepergian Fina yang sudah tidak dihuni siapa-siapa apalagi Fina.
Di sana tidak ada orang lain selain Keandra yang kali ini sengaja melakukan penyamaran untuk penampilannya. Keandra tak hanya mengenakan topi berikut kacamata tebal hitam. Sebab Keandra juga cenderung berjaga dan lebih sering menunduk dalam setiap langkahnya. Akan tetapi, semua itu terjadi lantaran Keandra tak hanya takut setelah skandal yang dibuat, melainkan juga malu.
Masihkah ada di luar sana yang mau menerima sekaligus mencintainya, bahkan sekadar seorang fans? Keandra tidak yakin.
“Mencintai Sunny yang dari kalangan biasa saja begitu menyakitkan. Apalagi mencintai wanita kaya sepertinya?” pikir Keandra yang kembali menjadi tidak bersemangat.
Keandra benar-benar baru saja mengedipkan kedua matanya, setelah beranggapan perihal mencintai, ketika sebuah langkah mendadak berhenti tepat di hadapannya. Sebuah langkah yang juga sukses membuat langkah Keandra berhenti.
Keandra mendapati sepasang sepatu flat berwarna ungu muda. Dan ketika Keandra menaikkan tatapannya, ada sepasang kaki tidak begitu jenjang yang menjadi penghuni sepatu flat di hadapannya. Tak beda dengan sepatu flat-nya, sosok tersebut juga mengenakan gaun pesta tepat di bawah lutut.
“K-kak Keandra, kan?” Rina nyaris pingsan hanya karena tidak sengaja berpapasan dengan idolanya.
Awalnya, Keandra tidak berniat melanjutkan pengamatannya. Keandra hanya mengamati sosok tersebut hingga bawah lutut, andai saja sosok tersebut yang kedengarannya lebih muda dari Keandra, justru menyebut namanya.
“Seberapa pun sulit, ... seberapa pun Kakak ingin menyerah, ... tolong, tetaplah berjuang bersama kami. Kami menyayangimu, dan ingin bersamamu hingga akhir.” Lidah Rina tidak bisa dikendalikan hanya karena melihat wajah Keandra yang begitu pucat.
“Jadilah Keandra yang baik. Yang selalu berjuang, menjadi teladan baik untuk kami!” tambah Rina.
“Tapi aku lelah!” balas Keandra yang malah mengeluh tanpa benar-benar menatap Rina.
“Kakak sudah telanjur melangkah. Ibaratnya, Kakak tak beda dengan seekor kumang yang telah menggunakan rumah baru. Dan kalau pun Kakak ingin kembali ke rumah sebelumnya, itu juga tidak kalah sulit dari ketika Kakak memutuskan untuk maju.”
“Gadis ini, ... apakah dia benar-benar mengidolakanku?” batin Keandra. “Kenapa dalam sehari ini, aku seperti menemukan sosok yang memiliki pemikiran sama? Ya ... dia mirip Fina. Tak hanya cara berpikit, melainkan juga garis wajahnya,” batin Keandra lagi yang kali ini menatap Rina.
“Aku nyaris pingsan hanya karena berhadapan dengan Kakak sedekat ini. ” Rina sampai berpegangan pada tembok di sebelahnya..
“Namun ... namun sebelum aku benar-benar pingsan, aku hanya ingin mengatakan, minta maaflah secara khusus kepada Sunny dan keluarganya. Kakak salah, dan tak mungkin juga, Kakak selalu menghindari kenyataan?” lanjut Rina yang seketika itu mendadak lemas dan memilih untuk jongkok.
***
Ketika Fina berhenti di sebuah ruang yang diminta menjadi ruang tunggu mereka oleh Rafael, Fina merasa ada yang aneh. Sebab di ruang yang juga masih berupa lorong dalam hotel tersebut, ada beberapa bingkai berukuran 20R yang menghiasi setiap meja di sana.
Bukan karena suasana setiap meja yang menghiasi kedua sisi lorong sampai dihiasi dekorasi bunga palsu berwarna putih dan pink muda, melainkan bingkai yang justru berisi foto kebersamaan Fina dan Rafael. Kenyataan tersebut membuat hati Fina berdesir. Dan diiringi rasa penasaran yang menyeruak, Fina melangkah mengamati semua foto yang ada.
__ADS_1
Bingkai pertama di sebelah sisi kanan Fina, berisi foto Fina dan Rafael yang saling tatap di depan puskesmas, sebelum mereka terguyur air yang menggenangi jalanan berlobang di sana. Bisa Fina pastikan, foto tersebut diambil dari dalam area puskesmas.
Dan di kiri Fina, bingkai foto yang ada berisi kebersamaan Fina dan Rafael yang sama-sama terguyur air di tepi jalan. Keduanya sama-sama terpejam dengan ekapresi terkejut yang tak dapat terelakkan. Dan melihat itu, Fina sampai merasa terharu menjadi tertawa kecil.
Ketika Fina melihat lebih jauh, di sana tak ubahnya ruang kecil yang memamerkan kebersamaan Fina dan Rafael. Termasuk ketika foto kebersamaan mereka yang sedang menjalani perjalanan ke Jakarta. Fina dan Rafael terduduk di bagian belakang mobil dengan Fina yang tertidur dalam dekapan Rafael, sedangkan Rafael sendiri dalam keadaan terpejam.
Semua foto-foto di sana terlihat begitu natural. Termasuk foto ketika Rafael menempelkan kertas memo di sebelah wajah Fina yang terpejam. Di situ, tubuh Fina yang meringkuk di atas kasur, tertutup sempurna oleh selimut. Fina tidur begitu nyenyak. Dan Fina yakin, foto tersebut merupakan kejadian di pagi ketika Rafael membantunya kerokan. Fina benar-benar bersyukur, dari semua foto yang di sana dan sukses membuatnya tersenyum sambil berlinang air mata, tidak ada agenda ketika Rafael membantunya kerokan.
Ketiga wanita yang mengikuti Fina, menyaksikan kebahagiaan Fina, dengan senyum bahagia. Ketiganya tetap menunggu di belakang. Pun meski kali ini, Rafael telah datang.
Rafael melangkah sambil menatap punggung Fina dengan senyum lepas. “Aku hampir memasang foto ketika aku membantumu kerokan!” seru Rafael dan sukses membuay Fina terlonjak.
Fina sedang melihat bingkai berisi foto ketika Fina memasangkan peci hitam. Itu kejadian di dalam kamar Fina yang ada di kampung halaman, sebelum acara syukuran.
“Sebenarnya ini acara apa?” tanya Fina sangat penasaran sambil menyeka sekitar matanya dengan hati-hati.
“Hasil jepretan Otoy dan Didin enggak kalah dari fotografer andal, kan? Mereka bisa diandalkan?” balas Rafael yang justru menggoda Fina.
Rafael terus melangkah mendekati Fina tanpa berkomentar terlebih memberi Fina penjelasan. Pria itu menuntun Fina dengan hati-hati memasuki lorong selanjutnya yang semakin dihiasi banyak dekorasi. Dinding di lorong tersebut dipenihi rias bunga palsu warna putih sementara di seberangnya berisi hamparan cermin.
Dan ketika langkah mereka semakin jauh, Fina mendapati kemeriahan yang semakin jelas yang terdengar dari balik lorong keberadaan mereka. Kenyataan tersebut membuat pikiran Fina campur aduk. Fina mencoba memecahkan, mencerna maksud dari bingkai-bingkai tadi dengan acara yang akan mereka jalani. Tanpa terkecuali, perihal mereka yang tampil dengan begitu mewah tak ubahnya mempelai pengantin.
Fina mendadak menghentikan langkahnya sambil menghadap dan menatap serius Rafael. “Kamu bikin acara, ya?” tanyanya.
Rafael langsung mengangguk-angguk sambil memasang wajah berhias banyak senyuman tak ubahnya bayi yang tak berdosa.
“Rafael ...?!” protes Fina tetapi sukses membuat senyum di wajah Rafael semakin lepas saja.
“Kita kan belum resepsi,” balas Rafael mencoba memberikan pengertian.
Di ruang luas nan megah yang Fina dan Rafael datangi tersebut, suasana meriah memang sedang berlangsung. Bahkan, MC di sana langsung menyebut nama Fina dan Rafael sebagai mempelai pengantin di sana, untuk memasuki panggung menuju altar mempelai yang sudah disiapkan.
“Ya ampun, baru datang langsung diminta naik panggung sedangkan di sana banyak orang begitu dan--?” protes Fina tetapi Rafael tetap menuntunnya melewati hamparan karpet merah yang menjadi jalan menuju altar pernikahan.
Jangan tanyakan bagaimana kemeriahan sekaligus kemewahannya. Semuanya tidak berbeda dengan acara akbar yang kerap Fina dapati dalam drama-drama yang menceritakan tentang kehidupan orang kaya.
“Demi Tuhan, Raf ... kejutanmu ini sukses membuatku tegang melebihi ketika kamu tiba-tiba meminta jatah tambahan,” bisik Fina yang sebisa mungkin menghiasi wajahnya dengan senyuman, terus begitu sambil berjalan selaras dengan Rafael menuju altar pernikahan.
Rafael yang semenjak awal tersenyum dengan gaya yang begitu keren, membuat pria itu terlihat semakin berwibawa dan Fina mengakuinya.
“Berarti sekarang jatah tambahannya dipermudah, ya?” balas Rafael yang sampai menatap Fina dan sukses membuat Fina gugup sekaligus tersipu.
“Aku berharap bisa memiliki banyak anak!” tambah Rafael.
“Bukan masalah,” balas Fina tak gentar dan sukses membuat Rafael tersenyum bangga.
Bersambung ....
Hallo, selamat siang? Karena Author mengikutkan naskah ini ke kontes menulis, tolong ikuti dan dukung ceritanya, ya. Semakin ramain, semakin naik juga performanya. Dan demikian, Author tambah semangat up. Syukur-syukur, ceritanya sampai anak-anak mereka 😆😄😄😄.
__ADS_1
Yuk, ramaikan. Like, komen, sama votenya, Author tunggu ~♥️