Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 49 : Rewang di Rumah Mantan


__ADS_3

“Aku baru sadar, Bu. Selama ini ... selama ini wanita yang benar-benar tulus ke aku hanya Fina.”


Bab 49: Rewang di Rumah Mantan


Fitri membuka pintu kamar Bian dengan hati-hati. Tanpa membuka penuh pintu itu, ia mendapati Bian sedang duduk termenung di tepi tempat tidur. Tatapan Bian begitu kosong. Hal tersebut pula yang membuat Fitri kembali mencemaskan sang anak.


“Bi ...?” panggil Fitri sarat perhatian sambil melangkah pelan menghampiri Bian.


Bian yang terkesiap pun refleks menoleh ke sumber suara. Di depan sana, Fitri yang baru saja meninggalkan pintu tanpa benar-benar menutupnya, menatapnya penuh perhatian yang turut dibubuhi rasa


cemas.


“Ada apa, Bu?” balas Bian tanpa melakukan perubahan berarti bahkan sekadar geser.


“Kamu masih saja memikirkan Lia?” balas Fitri sambil duduk di sebelah Bian.


Bian refleks menghela napas, menepis tatapan sang ibu, dan jelas menunjukkan tanggapan tidak nyaman. Bahkan, Bian sampai geser dan jelas menghindari Fitri.


“Kok Lia, sih, Bu? Jelas-jelas Ibu juga sudah tahu, kalau selama ini, ternyata Lia hanya memanfaatkanku!” gerutu Bian tanpa bisa menyembunyikan kekesalannya jika ia harus berurusan dengan Lia, bahkan sekadar mendengar nama wanita itu disebut.


Selama ini, nyatanya Lia hanya memanfaatkan materi Bian. Karena selebihnya, wanita itu tidak memiliki rasa lebih. Kalau pun memang ada, Lia hanya ingin bersenang-senang tanpa ada niat menjalin hubungan serius.


“Terus, kalau bukan karena itu, kenapa kamu mengurung diri seperti ini? Bahkan dari tadi sore kamu belum makan?” balas Fitri masih mencoba melakukan pendekatan pada Bian, agar anak semata wayangnya itu mau bercerita.


Bian berangsur menatap Murni. Kali ini ibunya itu berpakaian rapi, tak mengenakan daster layaknya ketika wanita itu akan menghabiskan waktu di rumah. “Ibu mau rewang ke rumah Fina lagi, ya?” tanyanya masih tidak bersemangat.


Mendengar nama Fina disebut Bian, dahi Murni refleks berkerut. Murni cukup terkejut lantaran pada kenyataannya, ternyata Bian masih memikirkan Fina?


“Rasanya sakit banget, Bu ... aku enggak rela lihat Fina sama pria lain,” lanjut Bian yang kali ini tertunduk di antara kesedihannya.


Mendapati hal tersebut, Fitri refleks menghela napas dengan sebelah tangannya yang juga mengelus dadanya. Karena di dalam sana, tiba-tiba saja hatinya terasa begitu perih. “Kamu, ...?” ucapnya mengira-ngira.


Bian yang masih menunduk berangsur mengangguk pasrah. “Aku baru sadar, Bu. Selama ini ... selama ini wanita yang benar-benar tulus ke aku hanya Fina.”


Sebelah tangan Fitri refleks menahan sebelah bahu Bian. “Tapi Fina sudah menikah, Bi.” Ia mencoba membuat Bian untuk menatapnya, tetapi Bian tetap saja menunduk.

__ADS_1


“Logikanya, Bu ... mana ada, sih, orang kota, bahkan orang kaya, mau sama Fina yang orang biasa bahkan dari pelosok?” keluh Bian sambil menyapu air mata yang telanjur jatuh, menggunakan sebelah tangannya.


“Lah ... itu nyatanya ada.” Fitri meyakinkan.


“Pasti mereka hanya pura-pura, Bu.” Bian juga tak mau kalah. Ia menatap sang ibu penuh keyakinan.


Sambil terus menatap Bian, Fitri menggeleng pelan, sebab ia juga dengan keyakinannya. “Enggak. Mereka benar-benar dekat. Suami Fina juga orangnya baik. Ramah. Bahkan dia enggak segan turun tangan buat mengurus pak Raswin.”


“Alah, itu pasti hanya pencitraan! Pati itu hanya sandiwara, Bu!” tepis Bian cepat.


Fitri kembali menggeleng dengan gelengan yang lebih cepat. “Tapi nyatanya mereka sudah menikah dan mereka sangat dekat. Fina akrab banget sama suaminya. Kayak kalau dia pas bercanda sama kamu sebelum kalian menikah.”


“Masa, sih?” batin Bian yang menjadi sangat penasaran.


“Kalau kamu enggak percaya, ayo kita sama-sama ke rumah Fina. Enggak apa-apa, enggak usah malu. Toh, semua masalahnya sudah jelas, dan semua orang juga sudah tahu,” ajak Fitri.


Kendati merasa semakin penasaran, tetapi Bian juga takut harga dirinya akan semakin turun jika ia sampai datang ke rumah Fina. Pun meski Rafael sudah sampai mengundang Bian langsung. Bian menjadi serba salah. Ia memang penasaran, tetapi Bian juga malu bahkan gengsi.


***


Kini, ruangan cukup luas itu hanya mengandalkan hamparan tikar sebagai alasnya. Dan beberapa hidangan kue tradisional yang tersusun rapi dalam piring juga tampak berjejer di tengah-tengah hamparan tikar.


Dari dalam kamar, Fina yang sudah mengenakan gamis warna putih senada dengan kemeja lengan panjang yang Rafael kenakan, keluar sambil memegang sebuah peci berwarna hitam menggunakan kedua tangan. Fina tampak mencari-cari, dan Bian yang diam-diam mengamati dari pintu dapur yakin itu.


Ketika Fina menoleh ke pendopo menuju ruang tamu, wanita itu menggeleng sambil menatap tak habis pikir punggung Rafael.


“Raf, pakai pecinya,” ucap Fina.


“Syukuran di kampung kok ribet banget, ya?” balas Rafael yang langsung balik badan dan membuatnya menghadap Fina.


“Ya memang gini. Saling bantu-bantu, dan kalau bahasa sininya rewang,” jelas Fina yang bersiap mengenakan peci warna hitamnya pada Rafael.


Sambil membungkuk dan menatap Fina, Rafael pun berkata, “tapi tadi yang rewang juga dikasih sembako tambahan, kan? Satu paket-satu paket?”


“Iya. Itu sudah dibagi semuanya, dan sisanya sudah disumbangkan ke warga RT sebelah,” balas Fina yang tiba-tiba saja menjadi mengomel, “ya ampun, Raf ... sini. Kamu ini kenapa sih, jadi hobi banget meledek!”

__ADS_1


Rafael yang sengaja menegakkan tubuh demi menghindari peci yang akan Fina kenakan padanya menjadi terkekeh-kekeh. Membuat Rina dan Murni yang membantu Raswin keluar dari kamar, ikut bahagia melihat kebersamaan keduanya. Mengenai Rafael yang begitu hobi menjaili Fina, juga Fina yang jadi hobi uring-uringan dalam menanggapinya.


“Benar ... mereka sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari yang aku bayangkan,” batin Bian yang memutuskan untuk berlalu. Ia masuk ke dapur dan berniat pulang, tetapi sialnya, Fitri meminta bantuannya untuk mengangkat dus-dus air minum kemasan gelas.


"Taruh di depan ya, Bi. Susun yang rapi di dekat pacitan," pesan Fitri sebelum keluar dari dapur. Karena untuk urusan masak-masaknya, memang sengaja menggunakan tungku. Karena di sebelah rumah yang sampai dipasang tenda biru, di sana ada beberapa tungku yang sengaja dibuat menggunakan tumpukan batu bata, dan menjadikan kayu sebagai bahan bakarnya.


Dus air mineral kemasan gelas yang jumlahnya ada lima, harus ditaruh di tempat kenduri sekaligus tahlilan. Dengan kata lain, mau tidak mau Bian juga harus melewati kebersamaan Fina sekeluarga. Kebersamaan keluarga yang kali ini disertai Rafael dan terlihat jelas menjadi sumber kebahagiaan dalam kebersamaan.


Bersamaan dengan Fina sekeluarga yang menepi, di mana Rafael juga mengambil alih Raswin dari Rina dan Murni—memapah sang mertua, Bian melewati kebersamaan sambil membawa dua dus air mineral kemasan gelas sekaligus, dengan perasaan campur aduk. Tegang, sedih, sebal, itulah yang Bian rasakan dan membuat pria berambut bergelombang itu memilih diam tanpa berani menoleh.


"Seperti dugaanku, ... kedatanganku ke sini hanya membuatku malu!" batin Bian.


"Si Bian punya nyali juga, berani datang ke sini," batin Rafael yang diam-diam mengamati Bian.


“Assalamualaikum!”


Seruan yang terdengar sangat lantang sekaligus khas itu, sukses mengurungkan niat Fina sekeluarga untuk menepi, duduk di sofa yang ada di depan kamar Fina. Sebab tanpa direncanakan, keempatnya refleks melongok ke depan selaku sumber suara. Di depan pintu sana, seorang pria yang mengenakan baju koko lengan panjang warna putih, berikut sarung berwarna hijau tua bergaris-garis hitam sebagai bawahannya, baru saja melewati pintu.


“Loh, kok salamku enggak ada yang jawab?” Dengan penuh percaya dirinya, Ipul yang kali ini juga kembali mengenakan kacamata hitam tebal lengkap dengan kalung tak ubahnya rante, melangkah gagah.


"Hahaha ... kamu di sini, Bi? Hahaha ... rewang di rumah mantan!" ledek Ipul yang tak segan mendorong punggung Bian yang awalnya sedang jongkok untuk meletakkan dus yang dibawa.


 "Y-ya ampun, Saeful!" pekik Bian geram.


Bersambung ....


Biang Kerok datang .... hahahahaha


Siap-siap sebelum Ipul ditinggal ke Jakarta 😂😂😂😂😂


Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.


Salam sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2