
Catatan : Karena novel Menjadi Istri Tuanku merupakan sekuel dari novel Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh), jadi selain ceritanya yang masih berhubungan, tokoh-tokoh di dalamnya juga akan saling berkaitan. Tanpa terkecuali perihal kemunculan Fina yang telah menjadi istri Rafael, ya. Nah ... kalian sudah baca cerita Rafael dan Fina di novel : Menjadi Istri Tuanku, juga, belum? Dibaca dan dijadikan ke daftar favorit bacaan kalian juga, ya ....
***
“Apa yang kita katakan, ibarat doa untuk diri kita. Jadi, baik buruknya pun, juga akan kembali pada diri kita.”
Bab 50 : Acara Syukuran di Rumah Fina
Sebenarnya, Bian sudah sangat ingin membalas Ipul. Terlebih, pria yang kerap menjadi biang kerok itu nyaris membuat Bian tersungkur, andai saja Bian tidak segera menjatuhkan dus yang dibawa, kemudian menahannya untuk berpegangan.
“Si Ipul memang enggak waras,” cibir Fina lirih. Namun ketika ia menoleh ke sampingnya selaku keberadaan Rafael, sang suami justru sedang menahan tawa. Entah apa yang terjadi pada suaminya, sampai-sampai terlihat begitu bahagia. Atau jangan-jangan, Rafael mulai merasa terhibur dengan ulah gila Ipul?
Dengan santainya, Ipul menyodorkan sebelah telapak tangannya kepada Bian. “Oh, sori, Bro Bian. Tadi, niatnya aku mau pegangan soalnya gelap banget. Eh malah kebablasan.”
“Makanya, malam-malam jangan pakai kacamata hitam! Kayak mau ngebeg saja!” cibir Bian.
“Santuy, dong, Bro-Bi ... enggak usah seserius itu!” Ipul masih bersikap sangat santai bahkan sampai menambah senyumnya yang menjadi semakin lebar.
“Santuy-santuy kepalamu!” batin Bian.
Tak mau semakin malu sekaligus kesal, Bian memilih abai tanpa menatap Ipul. Bian bersimpuh untuk membuka plaster dus air kemasan gelas yang baru saja ia letakkan, tak jauh dari deretan piring berisi kue tradisional selaku pacitan atau jamuan makanan.
Kali ini, Ipul memang tampak cukup berbeda. Tak hanya tampilannya yang terbilang cukup bersih meski Ipul sendiri masih saja terlihat kumal. Melainkan, bau menyengat bercampur bengik yang tak lagi menyertai pria itu. Dan sepertinya, kali ini Ipul juga sampai memakai parfum.
Merasa asing dengan salah satu kata yang baru saja Bian ucapkan, Rafael yang mengernyit pun menyikut Fina. "Fin, ngebeg itu, apa?” bisiknya.
“Itu ... di sini, ebeg itu sebutan lain dari kuda lumping. Jadi maksud Bian, si Ipul kayak mau main kuda lumping,” jelas Fina dengan berbisik juga tanpa menatap kebersamaan kedua pria di hadapannya.
Kehadiran Ipul dan Bian memang langsung membuat suasana hati Fina menjadi buruk. Itu juga yang membuat Fina enggan menatap apalagi dekat-dekat dengan keduanya.
“Tadi kamu katanya terjun ke kolam lelenya si Bejo, ya, Pul? Bahkan katanya kakimu sampai kepatil lele?” ujar Murni sekadar basa-basi karena sebenarnya, ia juga sudah sangat muak pada Ipul.
“Aiih, ... gosip itu, Mih! Itu hanya kecelakaan, soalnya aku lagi belajar terbang!” kilah Ipul dengan entengnya. “Gile aje, aku kayak artis pop, banyak yang ngegosipin! Hahaha ....”
"Top, bukan pop!" sanggah Rina. “Ngomong sendiri, dijawab sendiri, ... ketawa pun sendiri?” lanjutnya yang tak segan mencibir sambil menatap Ipul tak habis pikir. Akan tetapi, Ipul sama sekali tidak merespons cibirannya. Dan sepertinya, seorang Ipul memang sudah kehilangan urat malu.
Ipul, dengan tampilannya yang terlihat cukup bersih, bahkan bau tubuhnya juga cukup tersamarkan oleh aroma parfum, berangsur melepas kacamata hitamnya. “Woah ... enggak pakai kacamata jadi terang begini, ya?” ujarnya yang kemudian menyelipkan kacamatanya di baju koko bagian lehernya. Ia terperangah mengamati suasana rumah Fina yang nyatanya terang benderang.
“Mai oli wan, ... ke mana, ya ...?” Kali ini, Ipul langsung mengamati sekitar lebih tepatnya, mencari-cari keberadaan Fina.
Menyadari nama panggilan untuknya disebut, Fina yang langsung diserang rasa takut, segera mendekap erat sebelah lengan Rafael.
“Masya Alloh, mai oli wan Dek Fina ... warna baju kita sama?” sergah Ipul kemudian. Kedua mata Ipul berbinar-benar menatap takjub Fina.
Fina langsung merengut kesal dan buru-buru mendengkus, menepis tatapan Ipul, meski yang ada, apa yang Ipul lakukan justru membuat Rafael semakin sibuk menahan tawa.
Rina, Murni, berikut Raswin hanya menggeleng tak habis pikir menanggapi ulah Ipul yang nyatanya masih berani datang padahal seharusnya pria itu tahu, Fina sudah menikah. Bahkan, acara syukuran kali ini juga bertujuan untuk selamatan pernikahan Fina.
“Ya ampun, ini tandanya jodoh, lho, mai oli wan!” sergah Ipul lagi yang mendadak kebingungan karena seseorang menarik punggung bajunya dari belakang. “Ini kenapa, ini? Walayuh ....”
__ADS_1
Karena ternyata, Bian menarik paksa Ipul untuk mengikutinya.
“Ih, Bro Bian. Ngapain sih kamu sirik banget? Aku bahkan belum salaman sama tuan rumah!”
“Sudah, kamu enggak usah banyak ulah. Bantuin bawa ini dulu!”
“Lah bantu-bantu bagaimana? Yang sedang rewang kan kamu? Rewang di rumah mantan, kan? Hahaha ....”
“Kamu ini jangan kayak orang waras kenapa, sih, Pul? Enggak tahu malu banget!”
“Sembarangan kamu bilang aku kayak orang waras. Emang aku waras begini!”
Ada yang membuat Bian merasa aneh dengan Ipul. Bian bahkan sampai menatap saksama pria di hadapannya. “Tapi omong-omong, kok tumben, kamu bau parfum? Baunya juga enggak asing?” ucapnya yang kemudian melepaskan tahanannya terhadap baju Ipul.
Sambil membenarkan tampilannya berikut kalung rante yang dipastikan tetap berada di depan dada, Ipul berujar, “ya iyalah, bau parfum. Enak kan, baunya? Kan tadi, ... sebelum ke sini, ... aku tuh mampir dulu ke rumahmu. Dan karena parfum-parfum di kamarmu nganggur, ya aku pinjem buat semprot-semprot ... buahahaha!”
Ipul terpingkal-pingkai sambil memegangi perutnya menggunakan kedua tangan. Pria itu terlihat sangat bahagia, seolah-olah, dunia hanya miliknya.
Bian menghela napas sangat dalam dan menatap Ipul penuh kekesalan. Demi apa pun, Bian benar-benar tidak akan memberi Ipul ampun. “Kamu masuk ke kamar aku bahkan sampai pakai parfumku, Pul?!” umpatnya lirih penuh penekanan.
Meski menyadari mata Bian sampai merah dan menandakan pria tersebut sudah sangat marah, tetapi Ipul merasa tidak bersalah atas kenyataan tersebut. Pun dengan rasa takut, ... Ipul sama sekali tidak merasa takut.
“Kenapa? Kamu saja sudah membunuh anak kambingku!” balas Ipul sewot. “Ingat, Bi. Kamu enggak berhak marah, karena biar bagaimanapun, parfum enggak bakalan bisa balikin nyawa kambingku! Bahkan sekalipun kamu kasih suka rela semua parfummu!”
Balasan Ipul yang bahkan sampai mengancam Bian, membuat yang bersangkutan semakin murka. Dan di tengah tatapannya terhadap Ipul yang semakin tajam, Bian yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, langsung menarik sarung yang Ipul kenakan sekuat tenaga.
“Biaaaan!” teriak Ipul. “Semprul, kamu, ya! Burungku kedinginan!”
Bian melangkah puas meninggalkan Ipul berikut sisa dus air kemasan gelas yang belum ia susun. Dan beberapa bapak-bapak yang baru datang untuk ikut serta dalam kenduri, langsung menjadikan keadaan Ipul sebagai bahan tawa.
“Hahaha ... ngapain kamu di situ, Pul? Awas, nanti burungmu terbang!”
Ipul yang sadar menjadi bahan perhatian bahkan tawa, segera menarik dan kembali mengenakan sarungnya. Dan berbeda dengan Ipul, rona tidak suka sekaligus tidak nyaman justru menyelimuti keluarga Fina.
“Yang ngundang si Ipul siapa, sih?” keluh Rina tanpa bisa menyembunyikan rasa sebalnya.
“Ya enggak ada yang ngundang. Ipul ya Ipul, tanpa diundang juga pasti datang,” cibir Fina.
Sadar penderita tetanus harus benar-benar istirahat di tempat yang steril sekaligus tenang, Rafael menyarankan Raswin untuk kembali ke kamar. Dan lantaran sang mertua masih tertatih dalam berjalan, Rafael sengaja membopong Raswin. Rafael mengantarnya hingga tempat tidur, menyusul Murni yang segera membereskan tempat tidur termasuk menyusunkan bantal untuk Raswin berebahan.
Bagi Murni dan Raswin, Rafael merupakan menantu idaman. Menantu idaman yang selama ini mereka lafalkan dalam setiap doa, untuk jodoh Fina dan Rina. Dan selanjutnya, selain berharap hubungan Rafael dan Fina baik-baik saja, mereka juga sangat berhara Rina akan menemukan suami yang tak kalah baik dari Rafael.
***
“Mau jadi menantu yang baik juga, ah!” ujar Ipul.
Ipul mengangkat ketiga dus air mineral yang masih tersisa, sekaligus. Tak lupa, ia sengaja curi-curi pandang bahkan menggoda Fina yang kebetulan akan memasuki dapur bersama Rina.
“Mai oli wan ... malam ini kamu cantik banget, buju buset! Bidadari surga pun kalah!” ucap Ipul tanpa menatap ke depan lantaran pandangannya terus mengikuti kepergian Fina yang memimpin langkah di depan Rina memasuki dapur.
__ADS_1
“Ehm!” deham Rafael yang baru saja keluar dari kamar sang mertua.
Rafael sengaja berdeham lantaran selain Ipul yang masih berani menggoda-goda Fina, pria itu juga nyaris menabraknya lantaran melangkah tanpa melihat jalan.
“Jiah ... dasar Kafur! Sok ganteng!” cibir Ipul.
Rafael hanya menghela napas dan berlalu begitu saja menyusul kepergian Fina. Karena baginya, menanggapi Ipul hanya membuang-buang waktu. Percuma.
“Pul, ... kamu sadar, enggak, ... apa yang kamu lakukan di sini? Kan Fina sudah menikah?” seru seorang pria dari depan sana.
Mendengar pernyataan tersebut, Rafael sengaja memelankan langkahnya demi mengetahui tanggapan Ipul. Rafael berhenti tepat di ambang pintu menuju dapur, tanpa meoleh pada keberadaan Ipul. Kedua mata Rafael yang selalu memiliki sorot tajam, hanya sesekali mengerling, tak sabar menunggu reaksi Ipul.
“Lah enggak apa-apa. Nikah kan bisa cerai. Aku setia kok, nungguin janda mai oli wan Fina ....”
Dan apa yang Rafael tunggu benar-benar seperti yang sudah Rafael duga. Rafael memilih berlalu daripada kembali emosi, jika dirinya terus memaksa untuk menunggu penjelasan Ipul.
***
“Enggak boleh begitu, Pul. Apa yang kita katakan, ibarat doa untuk diri kita. Jadi, baik buruknya pun, juga akan kembali pada diri kita.”
“Lagian kamu juga enggak punya perasaan banget, ngomong begitu di sini. Kalau Fina dan keluarganya bahkan suami Fina sampai dengar, bagaimana?”
“Padahal sebelumnya, kamu bilang ini-itu tentang Fina dan nyatanya enggak terbukti, kan?”
“Iya. Jadi aneh kesannya, kalau kamu masih saja rusuh di sini. Bahkan seharusnya kamu malu, lho!”
Ruang tamu di rumah Fina semakin penuh oleh warga yang akan melakukan kenduri, di mana nyaris semua dari mereka merupakan lali-laki. Kendati demikian, pun meski tak hentinya mendapatkan nasehat, Ipul tidak peduli.
“Yang enggak berperasaan kan si Kafur. Jelas-jelas aku yang lebih dulu mencintai mai oli wan Dek Fina! Kalian ini
bagaimana, sih?” cibir Ipul. "Enggak jelas banget ...."
“Lah ... Finanya saja takut sama kamu. Fina enggak suka sama kamu!”
“Lebih tepatnya, ... Fina enggak pernah suka sama kamu, Pul!”
Mendengar nasehat lanjutan dari bapak-bapak yang akan melakukan kenduri atau yang warga setempat sebut dengan kepungan, telinga dan hati Ipul menjadi terasa sangat panas. Ipul sampai menjatuhkan dus air mineral kemasan gelas yang ia bawa begitu saja. “Ya ampun kalian kok pada rempong banget, sih? Julid! Sudah pada tua, bau bangke, ... masih saja sibuk rusuhi hidup orang!”
Tak ada lagi yang berani berkomentar. Karena selain Ipul yang nyatanya sulit dinasehati, Ipul juga masih belum sadar diri. Bahkan tanpa sopan-santun, Ipul berlalu ke arah dapur. Meninggalkan bapak-bapak di sana yang segera memunguti air mineral kemasan gelas. Karena efek dibanting sekuat tenaga oleh Ipul, dus air mineral kemasan gelasnya menjadi pecah hingga isinya berserakan di lantai.
“Mereka pikir aku enggak waras, apa? Dasar orang-orang sirik! Julid! Cepat mati kalian semua biar aku kenyang makan berkat kenduri!” gerutu Ipul sambil terus melangkah cepat.
Bersambung ....
Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1