Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 38 : Sengketa Keyakinan


__ADS_3

“Jika aku mau, kenapa harus ada kamu? Kenapa aku mati-matian memperjuangkan kamu? Kamu pikir, ... aku enggak capek? Aku sudah sibuk dengan pekerjaanku dan banyak urusan lain yang sudah menguras pikiranku! Kamu ini benar-benar enggak menghargai pengorbananku!”


Episode 38 : Sengketa Keyakinan


Ada begitu banyak kemarahan yang terpancar di wajah Rafael. Rafael yang sampai berdiri mengakhiri duduknya, menatap Ipul dengan banyak kemarahan.


Ketegangan benar-benar mengikat kebersamaan. Membuat rasa canggung berikut kegugupan yang awalnya menghiasi kebersamaan Fina dan Rafael, menjadi sirna seketika. Pun dengan aroma tubuh Ipul yang tak lagi menjadi masalah. Baik untuk Fina, maupun Rafael yang selalu merasa pusing ketika menghirup aroma pria bernama lengkap Den Bagus Saiful itu.


Fina yang mencemaskan keadaan Rafael, segera bangkit dari duduknya. Fina yakin, Rafael langsung tersinggung bahkan sakit hati. Terlebih dari cara Rafael bersikap, pria itu terlihat semakin gondok kepada Ipul.


Fina mendekap sebelah lengan Rafael, sedangkan sebelah tangannya lagi menahan dada pria itu. “Sudah, Raf ... kita waras. Bisa ikut gila, kalau kita meladeni dia!” bujuknya lirih seiring ia yang sampai mendorong pelan dada Rafael melalui sebelah tangannya yang masih bertumpu di sana.


Rafael menelan ludah. Ludah yang kali ini menjadi terasa kasar bahkan getir, atas kemarahannya yang memuncak. Ia mencoba meredam kekesalannya lantaran ia menghargai Fina sekaligus keluarga wanita itu. Dan Rafael juga tidak mau, sampai membua Fina sekeluarga kecewa atas keputusan berikut ulahnya.


“Ini yang menjadi alasanku parno sama agama. Dikit-dikit bilang kafir! Dikit-dikit bilang berjuang di jalan Tuhan! Bentar-bentar kawin siri tanpa sepengetahuan istri! Poligami mengatasnamakan agama, padahal jelas-jelas itu kepentingan nafsu semata!” tegas Rafael dengan suara lirih meski tatapan sengitnya terus menghakimi Ipul.


Fina bisa mendengarnya lantaran ia masih menahan sekaligus menuntun Rafael untuk pergi meninggalkan Ipul. “Enggak semuanya, Raf. Enggak semua orang di agamaku begitu. Dan enggak semua orang di agama tertentu, termasuk agamaku dan agamamu, seperti yang kamu keluhkan. Tergantung dan kembali pada pribadi masing-masing.” Fina mencoba meyakinkan Rafael.


“Tuhan kasih kita dua mata agar kita enggak hanya melihat suatu hal dari satu sisi saja. Kalau pun dari sisi satu, suatu hal terlihat cacat, bisa jadi jika kita melihat dari sisi lain, hal tersebut justru sangat bermanfaat.” Fina berusaha meyakinkan Rafael.


“Dek Fina ... aku enggak bisa hidup tanpa Dek Fina. Bahkan matahari enggak bakal terbit kalau Dek Fina enggak menikah sama aku!” keluh Ipul sambil mengikuti kepergian Fina dan Rafael.


Ipul melepas kepergian keduanya dengan pandangan sedih berikut wajahnya yang terlihat begitu memelas. “Dek Fina mai oli wan, cuek banget sama aku ... apa, gara-gara aku bau? Orang-orang bilang, tubuhku bau. Tapi kayaknya enggak deh ... mereka pasti salah cium!”


Meski Ipul berusaha mencari bau dari tubuhnya, mengendus semua sisi bahkan ketiak termasuk telapak kaki, tetapi pria itu sama sekali tidak menemukan bau tak sedap. Ipul merasa dirinya baik-baik saja dan memang tidak bau.


“Kan, benar, ... aku enggak bau!” gumam Ipul yakin. “Tapi kenapa mereka bilang tubuhku bau bahkan sampai jadi muntah-muntah?”


Fina dan Rafael tak lagi memedulikan Ipul. Sebab, masalah perbedaan yang mereka hadapi jauh lebih rumit dari masalah apa pun. Fina tetap menggandeng sebelah lengan Rafael hingga mereka sampai di tempat pendaftaran untuk pemeriksaan Fina.


“Aku rasa, ... lebih baik kita bahas perihal agama dulu. Mengenai periksa, bisa nanti saja.” Fina memecahkan keheningan kebersamaan antara dirinya dan Rafael.


Setelah meninggalkan Ipul yang memiliki bau badan akut, baik Fina maupun Rafael memang menjadi sama-sama diam. Bedanya, ketika Rafael diam karena marah, Fina justru karena bingung. Bingung dengan masa depan hubungannya dan Rafael.

__ADS_1


Fina merasa hubungannya dan Rafael menjadi tidak mempunyai masa depan, jika perbedaan kepercayaan agama, menjadi permasalahannya. Bahkan meski sekarang, Rafael begitu serius mengantre dan mendaftar pemeriksaan untuk kesehatan Fina. Masih ada dua orang lagi yang antre di depan mereka.


Fina yang ada di belakang Rafael dan telanjur pusing, menarik-narik kemeja bagian punggung yang pria itu kenakan.


Rafael langsung menoleh dan menatap Fina dengan wajah malas sekaligus lelah. “Apa? Pukul tujuh nanti, aku sudah harus memimpin rapat. Aku enggak punya banyak waktu,” ucap Rafael penuh perhatian.


Gaya berbicara Rafael berubah sangat drastis. Pria itu berbicara dengan nada lirih sarat perhatian. Tak ubahnya seorang pasangan yang begitu menyayangi pasangannya. Kendati hati Fina langsung tersentuh, tetapi mendengar pria itu harus memimpin rapat, membuat Fina merasa sangat sedih bahkan kehilangan.


“Kamu mau langsung balik ke Jakarta?” ucap Fina tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.


Rafael menatap Fina dengan wajah bingung. “Kapan aku bilang begitu?” ucapnya.


“Nah, tadi ... kamu bilang pukul tujuh harus memimpin rapat?” balas Fina masih dengan kesedihannya.


Rafael mengangguk dan masih menatap Fina dengan wajah bingung. Ia benar-benar bingung, kenapa Fina mendadak menjadi sesedih sekarang? Apakah masih berhubungan dengan perbedaan agama di antara mereka?


“Iya memang. Tapi aku enggak mungkin langsung balik ke Jakarta hari ini juga, sedangkan kondisi di sini masih belum mendukung,” ucap Rafael.


Fina mengangguk-angguk mengerti seiring kelegaan yang ia kantongi. Entahlah ... namun, mendengar Rafael tak langsung pergi dalam artian meninggalkannya, Fina benar-benar merasa lega. Padahal awalnya, Fina nyaris menangis hanya karena berpikir Rafael akan langsung meninggalkannya ke Jakarta, malam ini juga.


Bagi Fina, sebelum semuanya telanjur melangkah lebih jauh, ia harus segera memperjelas keadaan khususnya perihal perbedaan keyakinan antara dirinya dan Rafael.


Tak beda dengan Fina, Rafael juga menanggapinya dengan serius. Rafael mengangguk sambil menatap wanita di hadapannya dengan wajah serius.


Fina melangkah ke lorong yang terbilang sepi. Di depan bangku tunggu tak jauh dari tempat pendaftaran, Fina yang menghentikan langkahnya berangsur balik badan dan membuatnya menatap Rafael.


“Kita harus memutuskan sekarang juga. Dan aku yakin, kamu juga lebih tahu dari aku!” sergah Fina dengan dada yang berdebar-debar lantaran apa yang ia lakukan saat ini membuatnya dilanda tegang.


“Aku benar-benar enggak tahu perihal apa yang kamu maksud,” ucap Rafael cuek sambil memalingkan wajah. Rafael memang sengaja menepis tatapan Fina.


“Itu bukan jawaban dari Rafael yang aku kenal!” kecam Fina yang langsung menatap tak habis pikir Rafael.


Bahkan meski Fina memang tidak begitu mengenal Rafael, berikut ia yang belum pernah menghabiskan banyak waktu dengan Rafael, tetapi Fina yakin, Rafael pria tanggung jawab dan bisa mengayominya. Rafael pria yang bisa dipercaya.

__ADS_1


Rafael menghela napas dan berakhir dengan mendesah. Ia kembali menatap Fina penuh keseriusan. “Bukankah kita sudah sepakat untuk saling menghargai?”


“Namun saling menghargai, enggak bisa mengantarkan kita ke pernikahan. Di Indonesia enggak bisa menikah beda keyakinan, Raf ... kamu tahu itu, kan?” sergah Fina langsung bersikap tegas. “Kamu bilang aku harus realistis. Enggak boleh terpesona sama drama, novel, apalagi komik yang di ceritanya terlalu sempurna bahkan mengada-ngada?” tambah Fina. “Kamu maunya aku begitu, kan?”


Rafael menggeragap. Meski selama ini, ia bukan orang yang agamis, tetapi ia juga merasa aneh jika harus tiba-tiba berubah keyakinan. Dan, ... kenapa juga harus dirinya yang berubah keyakinan, bukan Fina saja?


“Meski pada kenyataannya, aku sendiri enggak yakin? Terlebih selama ini, aku enggak percaya kalau Tuhan itu ada,” batin Rafael. “Lalu, kenapa aku harus meminta Fina menghargai agamaku, sedangkan aku saja enggak percaya agama?” pikirnya lagi semakin berusaha mencerna keadaan, meski tiba-tiba saja, Rafael jadi malu sendiri. Kenapa ia harus mengajak Fina mengikuti jejaknya yang justru tidak percaya agama?


Fina sadar, apa yang ia lakukan pada Rafael, ... menuntut pria itu dengan halus agar berpindah keyakinan, sudah sangat keterlaluan. Namun, ia benar-benar tidak memiliki pilihan lain. Pun dengan ia sendiri yang tidak mungkin berpindah keyakinan.


“Maaf, ya, Raf ... aku egois. Tapi mau bagaimana lagi? Jika memang hanya sebatas saling menghargai, kita memang enggak mungkin bisa menikah, sedangkan kamu harus menikah secepatnya,” sesal Fina tulus.


Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Fina merasa sangat menyesal sekaligus kehilangan, jika pada akhirnya, ia tidak jadi menikah dengan Rafael. Terlebih di mata Fina, Rafael pria yang baik dan bertanggung jawab, terlepas dari Rafael sendiri yang juga memiliki fisik terbilang nyaris sempurna. Hanya saja, jika sudah menyangkut perbedaan agama yang begitu sensitif, Fina juga tidak mungkin main-main.


Fina menghela napas dalam. “Memangnya kamu enggak berpikir buat mengenal calon yang disiapkan keluargamu? Aku yakin, pilihan keluargamu pasti sesuai selera kam--”


Fina belum selesai berbicara, tetapi tangan kanan Rafael yang mengepal, menoyor kening Fina. Dan Fina yang refleks terpejam, menyeringai menahan sakit akibat ulah pria itu.


“S-sakit, lho, Raf ...,” keluh Fina sembari menunduk dan mengelus-elus bekas toyoran Rafael menggunakan kedua tangannya.


“Jika aku mau, kenapa harus ada kamu? Kenapa aku mati-matian memperjuangkan kamu? Kamu pikir, ... aku enggak capek? Aku sudah sibuk dengan pekerjaanku dan banyak urusan lain yang sudah menguras pikiranku! Kamu ini benar-benar enggak menghargai pengorbananku!” keluh Rafael.


Fina benar-benar bingung. Namun sungguh, ia sangat menghargai usaha Rafael untuknya. Rafael yang bahkan sudah mengangkat derajat keluarga Fina. “Jadi, maumu bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?” ucapnya pasrah.


Rafael yang masih terdiam, dan kembali dengan wajah judesnya, kerap mengamati Fina melalui lirikan. Pria itu benar-benar diam dan tak kunjung memberikan tanggapan.


“Dan kenapa juga, ... aku begitu menginginkan Fina yang menjadi istriku?” batin Rafael masih sebatas memperhatikan Fina melalui lirikan.


Bersambung ....


Semuanya, tolong kasih bintang 5. Rate dan kasih bintang 5 soalnya kemarin ada yang jail turunin bintangnya. Padahal Author sudah berusaha up sehari 2 kali. Ada saja yang jail. Tolong banget, ya. Sebelum pergi dari cerita ini, kasih rate 5 bintang 😩😩🙏


Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2