
Catatan : Dari sekian ribu pembaca, tolong tinggalkan jejak kalian minimal like, jika memang kalian enggak ada waktu untuk menuliskan komentar, ya. Biar performanya naik dan cerita ini juga ikut melejit. Masa iya, nasib cerita ini ketinggalan, kayak Ipul yang ditinggal ke Jakarta? 😂😂😂👏👏👏
Selamat membaca,
“Aku ... belum pernah merasa sebahagia ini. Meski aku sadar, di depan sana masih banyak rintangan sekaligus kesulitan yang harus aku lewati. Namun, bersamanya, asal benar-benar bersamanya ... rasanya semuanya selalu menjadi lebih mudah,”
Episode 57 : Perjalanan ke Jakarta
“B-bu ... Bue? Pae ...? Kok sepi gini, ya? Ini si Kafur mobilnya masuk sungai apa bagaimana? Tadi mobil Kafur di situ. Di sini, Bue. Kok sudah enggak ada?”
Ipul galau. Kedua matanya sudah mencari-cari. Mengandalkan senter yang ia kendalikan menggunakan kedua tangan, Ipul menelisik ke setiap penjuru tanggul tempat terakhir kali mobil Rafael berhenti. Akan tetapi, pencarian Ipul yang kali ini ditemani orang tuanya, tidak mendapatkan hasil. Tidak ada jejak mobil Rafael yang mendadak hilang bak ditelan bumi. Pun di sepanjang sungai yang sampai ia dekati, benar-benar tidak ada.
“Masa iya, mobilnya si Kafur terbang? Coba? Nah kan di atas juga enggak ada?” gumam Ipul yang menjadi berbicara sendiri.
“Pul ... Pul ... ini kayaknya bekas mobil si Kafur!” ucap Sukat bersemangat.
Masing-masing dari ketiganya memang mengendalikan senter. Dan kini, demi memastikan, Sukat sampai tiarap kemudian mengendus bekas ban mobil di atas tanggul yang tanahnya masih cukup basah bekas hujan kemarin.
Sumi dan Ipul yang awalnya berpencar segera mendekat. Keduanya ikut nimbrung dan melakukan apa yang Sukat lakukan.
“Ini wangi bekas mobil Kafur, lho, Pul.” Sukat benar-benar yakin.
“Bapak hafal bau aroma mobil si Kafur?” tanya Sumi terheran-heran lantaran suaminya hafal aroma mobil Kafur.
“Ya hafal. Wanginya kan enggak jauh beda dari si Kafur. Wangi banget!” balas Sukat antusias. “Kemarin Bapak sempat salaman sama si Kafur, ya, Bue ... wanginya awet sampai seharian masih nempel di tangan Bapak!”
“Masa, sih? Lha mungkin gara-gara habis salaman, Bapak enggak cuci tangan, ya tetap nempel baunya!”
“Hehe ... kan biar ikut wangi juga, Bue ... lagian, si Kafur, keringetnya saja wangi banget!”
Ketika Sumi dan Sukat sibuk mendebatkan aroma tubuh Rafael berikut semua yang ada pada pria itu, tanpa terkecuali aroma mobil yang sampai ikut wangi, di belakang keduanya, Ipu yang semakin galau sudah sampai terduduk lemas sambil terisak-isak.
“Mai oli wan ... kamu pasti sudah ke Jakarta, ya? Si Kafur bohong ... Kafur bohongin aku, Bue ... Pae ... Kafur ...! Bedebah kamu!”
Sumi dan Sukat menatap bingung Ipul. Dan kenyataan tersebut membuat mereka tersadar, tidak ada kemungkinan lain perihal menghilangnya mobil Rafael kecuali mobil itu telah pergi. Rafael membohongi Ipul anak kesayangan mereka. Sebab, belum ada sepuluh menit dari perjanjian Ipul dan Rafael, Rafael justru ingkar!
“Bue ... Pae ... pokoknya aku mau menyusul ma oli wan ke Jakarta!” tangis Ipul yang sampai terduduk bahkan kejang-kejang.
Sumi segera mengambil alih ransel dari punggung Ipul. “Jangan nekat, Pul. Kalau kamu ke Jakarta sendiri, nanti kalau kamu diculik bagaimana?”
“Aku culik balik pokoknya, Bue ... siapa pun yang berani sama aku, aku balas lebih! Kafur pun begitu! Aku bakalan balas dendam sama dia! Bedebah ...!”
Sumi dan Sukat juga menjadi ikut sedih melihat kesedihan sang anak yang begitu terpukul ditinggal Fina. Terlebih, meski sudah dibujuk dan dilamarkan gadis lain, Ipul tetap tidak mau selain Fina. Ipul hanya mau menikah dengan Fina.
“Pokoknya jual saja semua kambing dan kebo kita Pae ... Bue ... buat beli mobil yang enak kayak punya Kafur! Biar mai oli wan mau sama aku!” teriak Ipul masih meraung-raung sekaligus kejang-kejang di tanah.
“Kalau kebo sama kambingnya dijual semua, kita mau makan apa? Jilatin jalan? Gila saja kamu!” balas Sukat yang menjadi kesal sendiri.
Merada tak didukung, Ipul pun semakin menjadi-jadi. “Bue ...,” rengeknya manja sambil memasang wajah melas kepada Sumi.
“Sudahlah Pul, jangan teriak-teriak. Nanti kalau kamu kesurupan demit bagaimana?” tegur Sumi masih berusaha memberikan pengertian.
“Ya sudah lebih baik kita pulang saja!” sergah Sukat sembari bangkit.
“Enggak mau! Lebih baik aku mati saja!” rajuk Ipul yang kali ini sampai bangun. Ipul bergegas menarik tinggi-tinggi sarungnya, kemudian lari dan nekat loncat ke sungai.
“Den Bagus Saeful?!” teriak Sumi meronta-ronta.
“Biarkan saja, Bu. Nanti kalau kedinginan apa kelaparan juga pulang!” tegur Sukat memilih membawa pulang Sumi tanpa menghiraukan Ipul lagi. Toh, selain Fina memang sudah menikah dengan Rafael yang jelas-jelas tidak bisa ditandingi apalagi oleh Ipul, pergi ke Jakarta juga butuh banyak biaya apalagi suasana sekarang sedang sangat paceklik.
“Pae ... Bue ... kok enggak nolongin aku?” teriak Ipul kebingungan dari terpi sungai.
“Sekarepmu!” balas Sukat yang telanjur emosi.
“Kalau gitu aku mati saja ....”
Ancaman Ipul benar-benar diabaikan oleh orang tuanya. Sumi dan Sukat terus melangkah meninggalkan keheningan suara tanggul yang memang tidak disertai orang lain selain Ipul yang masih berendam di sungai. Sialnya, semakin lama bertahan, Ipul justru menjadi takut sendiri. Ia yang di sungai, juga perihal suasana di sana yang terkenal angker.
“Hih! Bukannya ke Jakarta buat nyusul mai oli wan ... aku malah bisa jadi abdi dalem lelembut! Hih!” Ipul segera menepi menyusul kepergian Sukat dan Sumi.
“Bue ... Pae ... tunggu, ... aku takut!” Ipul sampai setengah berlari guna menyusul orang tuanya.
“Di situ saja, siapa tahu ada yang kasih wangsit biar kita cepat kaya!” cibir Sukat sambil terus melangkah tanpa sedikit pun melirik Ipul yang sampai ngos-ngosan berlari mengejarnya.
***
Sekitar pukul dua belas malam, mobil Rafael berhenti di sebuah rest area. Semuanya benar-benar turun tanpa terkecuali Raswin. Hanya saja, karena Fina masih tidur, Rafael sengaja mengambil alih. Pria itu duduk di sebelah Fina, mendekap tubuh istrinya dengan hati-hati.
“Fin, kamu beneran enggak mau turun dulu? Ke toilet atau makan?” lirih Rafael sambil membelai kepala Fina. Ia melakukan itu tanpa benar-benar menatap Fina.
“Rafael, aku capek ... aku mau tidur dulu sebentar,” keluh Fina dengan kenyataannya yang masih terpejam.
Fina mengeluh, tetapi wanita itu justru kian meringkuk dalam dekapan Rafael. Kenyataan tersebut pula yang membuat Rafael terkikik.
“Mentang-mentang sudah lepas dari Ipul, ... hidupmu jadi sedamai ini, ya?” seloroh Rafael. “Ayolah ... kamu sudah tidur dari kemarin. Tuh ... sudah pukul setengah satu pagi. Bangun sebentar. Turun. Ke toilet terus ikut makan. Nanti siapa yang bayar-bayar kalau bukan aku?”
__ADS_1
Lantaran Rafael masih saja mengoceh di dekatnya, Fina memutuskan untuk membuka matanya. “Ya Alloh, aku pikir aku masih tidur sama Ibu ...,” gumamnya yang memang benar-benar terkejut lantaran ia justru terbangun dalam dekapan suaminya.
Rafael mencebik sambi menggeleng. Menatap Fina tak habis pikir. “Sudah setengah jam. Dan yang lain sudah pada kenyang,” cibirnya.
Fina yang menjadi cemberut, berangsur menarik diri. “Lagian, ... kok kamu jadi bucin gini, sih? Dan enggak ada yang nyuruh kamu buat gantiin ibu, kan?”
“Lho ... kok kamu jadi ngomong begitu? Sudah ayo turun sebentar,” bujuk Rafael lantaran Fina justru meringkuk ke sebelahnya dan jelas menghindarinya.
“Aku tuh bingung, Raf ... sebenarnya kepalaku tuh pusing banget,” keluh Fina.
“Kamu mabuk perjalanan?” tebak Rafael yang kemudian meraba kening Fina dengan hati-hati. “Aku pikir aroma Ipul juga sudah hilang dari mobil ini?”
“Bukan mabuk perjalanan, tapi pusing gara-gara kamu! Sebenarnya kamu ini sudah bahas kalau kita sudah menikah belum, sama orang tua dan keluargamu?” omel Fina yang kemudian beranjak. Akan tetapi, ia sengaja menjaga jarak dan duduk di bagian paling ujung, membiarkan tempat duduk antara dirinya dan Rafael kosong.
Sambil menatap Fina dengan wajah kebingungan, Rafael pun berujar, “kalau aku bilang, sebenarnya aku belum bahas masalah pernikahan kita, perihal kita yang sudah menikah, bagaimana?”
Balasan Rafael sukses membuat Fina terkejut. Emosi Fina juga langsung tersulut, bahkan wanita itu ingin menelan Rafael hidup-hidup detik itu juga.
Namun apa daya, Rafael justru tertawa lepas. Lebih tepatnya, mentertawakan kemarahan Fina yang sampai memelotot dan memang terlihat jelas ingin menerkam Rafael hidup-hidup detik itu juga.
“Dasar gila, ih! Aku serius! Rafael, serius dikit kenapa?!” keluh Fina semakin kesal.
“Ehm ... oke ... baiklah. Aku bohong!” ucap Rafael kemudian sambil sesekali akan berdeham demi meredam tawanya.
“Bohong bagaimana? Gila kamu ya! Beneran enggak waras!” omel Fina sambil bersedekap dan kembali duduk di sudut sambil menatap kesal Rafael.
“Iya ... aku rasa memang begitu. Aku sudah enggak waras. Bahkan seumur-umur, aku belum pernah tertawa sampai capek begini. Termasuk duduk di mobil penumpang paling belakang, ... aku juga baru kali ini. Demi Tuhan.” Rafael mengatakannya dengan serius meski sambil meredam tawa.
Kendati demikian, kemarahan Fina belum juga sirna. Fina benar-benar tidak peduli pada hal lain selain kejelasan statusnya dalam hidup Rafael, di mata orang-orang terlebih keluarga sekaligus orang tua Rafael.
“Rafael aku serius. Bahkan aku belum pernah seserius ini!”
“Aku juga serius Fina ....”
“Serius apa?”
“Kamu pikir untuk apa aku bawa kamu sekeluarga ke Jakarta? Mana mungkin aku berani kalau aku belum berbicara dengan orang tuaku?” balas Rafael dengan suara yang lebih tenang.
“Terus?” balas Fina yang juga menjadi lebih tenang.
“Ya ... mama bilang, aku malu-maluin ....”
Kali ini, raut wajah Rafael menjadi diselimuti banyak kesedihan.
“Kok gitu?” tanggap Fina yang menjadi waswas.
“Rafael, aku serius!” sergah Fina sembari mendekati Rafael.
“Serius. Mama bilang, aku malu-maluin, karena semuanya keluar dari rencana. Bahkan mama sampai belum berani ngobrol sama kalian, karena mama kecewa sama aku.” Rafael balas menatap Fina. Ia menatap wanita itu di tengah kenyataannya yang tiba-tiba merasa sangat buruk bahkan ... gagal.
“Terus?” lanjut Fina lagi yang juga menjadi serba salah sekaligus bingung.
Sejah ini, memang baru Raden yang menghubungi Fina. Benar-benar baru Raden yang berbicara dengan keluarga besar Fina perihal pernikahan mereka.
“Papamu bagaimana?” tagih Fina. “Apa komentar papamu?” Fina sampai ikut menunduk demi bisa menatap wajah Rafael.
Rafael balas mengangkat tatapannya kemudian menatap Fina.
“Jangan bikin aku tambah tegang!” keluh Fina.
“Papa sih enggak ada tanggapan, ya. Dan memang orangnya diam begitu.”
“Rafael, aku serius! Kamu ini!”
“Aku juga serius, Fin!”
“Rafael ... aku nangis beneran ini!”
“Kok kamu kayak Ipul, sih? Dikit-dikit main ancam ... dikit-dikit manin ancam?”
Saking geregetannya, Fina benar-benar mencubit kuat-kuat kedua punggung tanga Rafael, hingga punggung tangan pria itu menjadi benar-benar merah.
“Beneran, sakit, Fin!” keluh Rafael sambil mengusap-ngusap bekasnya.
“Aku serius, Raf!”
“Aku juga serius. Kurang serius apa lagi? Kurang bagaimana lagi?” Rafael berusaha meyakinkan sambil terus mengelus bekas cubitan Fina, kendati kedua matanya terus menatap kedua manik mata Fina. “Sudah, jangan setegang itu ... aku benar-benar sudah bilang, kok ....”
“Terus, setelah sampai ke Jakarta, bagaimana?” balas Fina.
“Kita ke rumah yang akan ditempati orang tuamu dulu, setelah itu, kamu ikut aku pulang.”
“Pisah?” ujar Fina. “Kok ribet, sih?”
“Masa iya, aku pulang sendiri, sedangkan kita sudah menikah? Enggak lucu, kan?”
__ADS_1
Fina segera menggeleng. “Aku enggak mudeng, Raf ... aku enggak maksud.”
“Ya makanya ayo kita turun dulu. Cuci wajah duku terus makan biar nyawa kamu kumpul total.” Rafael berangsur beranjak, melangkah meninggalkan Fina.
Fina buru-buru meraih sebelah tangan Rafael, menggenggamnya sangat erat. Kenyataan tersebutnpula yang membuat Rafael berangsur menoleh dan menatapnya.
“Semuanya aman, kan?” tanya Fina memastikan untuk yang terakhir kalinya.
Rafael melihat begitu banyak ketakutan yang tengah Fina kendalikan. Karenanya, ia segera kembali kemudian memeluk wanita itu dengan hati-hati.
“Iya ... semuanya aman. Aman banget,” lirih Rafael kemudian.
Fina memang tidak membalas atau sekadar berkomentar. Namun, wanita itu juga balas mendekap Rafael. Fina mendekap erat Rafael melebihi dekapan Rafael sendiri.
“Aku rasa, kita ini terlalu aneh,” lirih Fina kemudian.
“Aku pikir juga begitu ....”
“Aku bahkan jauh lebih tegang dari ketika harus sidang skripsi menghadapi pembimbing super angker ....”
Rafael tersenyum menertawakan keluhan Fina sebelum akhirnya mereka turun dari mobil dan Rafael memberikan kunci mobilnya kepada Fina.
“Ngapain juga aku pegang kunci mobil?” keluh Fina nyaris mengembalikan kunci mobilnya kepada Rafael.
“Itu kan milikmu?”
“Aku enggak ada niat menyetir mobil. Motor saja takut, apalagi mobil sebesar ini?”
“Ini kode kamu minta mobil yang lebih kecil?” Rafael tak hentinya menertawakan Fina.
Kedua sejoli itu terus meledek satu sama lain sambil terus berpegangan tangan ke arah kamar mandi, sebelum akhirnya bergabung dengan yang lain ke dalam reatoran. Di mana, semuanya nyaris selesai makan.
“Aku ... belum pernah merasa sebahagia ini. Meski aku sadar, di depan sana masih banyak rintangan sekaligus kesulitan yang harus aku lewati. Namun, bersamanya, asal benar-benar bersamanya ... rasanya semuanya selalu menjadi lebih mudah,” batin Fina yang tak hentinya memperhatikan Rafael.
Selain merasa sangat tenang, hati Fina juga menjadi berbunga-bunga. Mereka yang kali ini telah meninggalkan rest area, menyisakan cerita indah dalam kebersamaan kali ini, akan segera sampai di Jakarta.
“Nak Rafael mau duduk di mana?” tanya Murni tiba-tiba ketika mereka akan masuk.
“Aku bakalan pakai headset, Mas! Aku juga janji bakalan tidur! Pokoknha aman!” timpal Rina bersemangat namun sukses membuat Rafael tersipu.
“Aku masuk duluan!” sergah Rina yang buru-buru masuk ke mobil.
“Ya sudah Bu ... biar aku yang duduk di belakang jagain Fina. Ibu di sebelah Bapak,” ucap Rafael yang masih begitu santun jika sedang berbicara dengan orang tua sekaligus keluarga Fina.
Fina berangsur naik menyusul Rina. Di bangku penumpang sebelah tengah memang hanya berisi dua tempat duduk dalam keadaan terpisah dan akan ditempati oleh Raswin dan Murni.
“Kamu masih saja ngefans sama Keandra, setelah skandal yang menimpanya?” cibir Fina ketika melihat Rina sibuk menonton acara Keandra di youtube.
Fina segera duduk di sebelah Rina, sedangkan Rafael yang baru datang, berangsur duduk di dekat jendela. Fina kembali duduk di tengah.
“Kenapa? Yang namanya cinta kan harus menerimanya dalam segala keadaan. Jangan mentang-mentang karena dia sedang dalam keadaan buruk bahkan banyak masalah, lantas langsung kita tinggalkan. Iya, enggak, Mas?”
“Setuju!” saut Rafael sembari menyodorkan kedua jempol tangannya pada Rina.
“Apaan sih kamu Raf! Ikut-ikutan saja! Jelas-jelas Keandra memang salah. Bahkan di mata beberapa pakar, Keandra sudah tergolong melecehkan kaum wanita!” semprot Fina.
“Efek sudah cuci muka sama makan, nyawanya kembali terkumpul sempurna dan sekarang jadi tambah lancar marah-marahnya,” batin Rafael yang menjadi senyum-senyum sendiri.
“Gila saja! Wanita sudah bersuami dicium di depan umum!” tambah Fina.
“Serius?” ujar Rafael cukup menanggapi.
Fina segera mengangguk. “Serius! Tuh cewek emang mantannya ... tapi cewek ini sudah menikah! Untung suaminya sabar,”
“Mbak Fina ... siapa tahu Keandra khilaf ...,” sanggah Rina tak mau artis idolanya terus dihakimi Fina.
“Khilaf kok dipelihara!” cibir Fina lagi.
“Tapi mama ngefans juga lho, ke Keandra,” ucap Rafael.
“Nah, lho ... mertuamu saja ngefans Keandra! Hahaha!” Rina benar-benar girang.
“M-masa, sih, Raf? Mama?”
“Iya ... serius.”
“Keandra itu empat tahun lebih tua dari aku ...?”
“Tapi mama memang ngefans sama dia.”
Penjelasan Rafael sukses membuat Rina semakin tertawa bahagia. Bahkan, Rina sengaja melakukannya di sebelah telinga Fina.
“Bisa-bisanya, mertuaku masih ngefans sama berondong?” batin Fina sambil terus menyingkirkan kasar wajah Rina dari telinganya.
Bersambung ....
__ADS_1
Maaf telat ... Author kehabisan kuota ... gila anak Author ngabis-ngabisin kuota. Boros banget 2 minggu tembus 50 GB 😌😌😌