
“Lah, kok ditinggal? Disuapin dong, biar lebih romantis!”
Bab 63 : Makan Malam
Seperti apa yang Rafael katakan, orang tuanya mengenakan gaya pakaian yang begitu santai. Mei bahkan mengenakan kaus lengan pendek yang dipadukan dengan celana di atas lutut. Sedangkan baik Raden maupun Burhan, keduanya kompak mengenakan kaus hem lengan pendek menjodohi levis warna biru tua.
Yang berbeda dari pertemuan sebelumnya, sebelum Fina dan Rafael menikah, adalah sambutan orang tua Rafael tanpa terkecuali Burhan yang sampai mengelus-elus kepala Fina. Setelah sebelumnya, Mey lebih dulu memeluk Fina sembari melayangkan ciuman gemas di kedua pipi berikut kening menantunya itu.
“Enggak setegang yang aku bayangkan,” lirih Fina sambil mendekap sebelah lengan Rafael kendati pandangannya terus tertuju pada kebersamaan orang tua mereka.
Orang tua mereka berbincang hangat menuju teras depan kolam ikan yang memang di sertai bangku berikut meja terbuat dari kayu yang tampak begitu kokoh. Selain itu, di sekeliling kolam juga merupakan hamparan taman yang rindang bahkan sejuk.
“Ayo kita siapkan makan malamnya. Di taman saja,” lirih Rafael yang juga sampai menunduk demi mengucapkannya di sebelah telinga Fina.
Tak beda dengan Fina, kedua mata Rafael juga terus mengamati kebersamaan orang tua mereka.
“Ayo,” balas Fina menyanggupi ajakan Rafael.
Mereka segera melangkah menuju dapur dan pastinya, Fina sengaja mengakhiri dekapannya. Tak lama setelah itu, Fina yang tidak sengaja mendapati Rina baru keluar dari kamar mandi, juga mengajak adiknya itu untuk ikut serta.
Dibantu pekerja di rumah mereka, mereka menyiapkan semuanya dan memindahkannya ke meja di depan kolam ikan.
Nasi hijau dengan aneka lauk seperti ayam goreng, empal, perkedel aneka sambal lengkap dengan lalapan, telur balado dan masih banyak lagi pelengkapnya.
Yang cukup mencuri perhatian, lantaran bukannya mengambilkan nasi, Rafael justru diberi tiga buah perkedel kentang yang seolah menjadi pengganti nasi, oleh Fina. Dan kenyataan tersebut cukup mengusik keluarga Fina. Terlebih selama bersama Rafael, mereka juga tidak pernah melihat Rafael memakan nasi.
“Mbak ... kok Mas Rafael enggak dikasih nasi?” bisik Rina yang kebetulan duduk di sebelah Fina.
“Lagi diet,” balas Fina sengaja memasang wajah serius.
“Oh ....” Rina mengangguk-angguk mengerti.
“Mas Rafael enggak diambilin nasi?” bisik Murni yang kebetulan duduk berhadapan dengan Rina.
“Diet!” bisik Rina yang langsung membuat sang ibu meng-oh-kan balasannya sambil mengangguk mengerti.
“Katanya mau bikin aku makan nasi?” bisik Rafael yang mulai meraih garpu dan sendoknya. “Selamat makan ...,” lanjutnya sambil tersenyum ramah pada semuanya.
“Nanti saja kalau kita cuma berdua. Kalau ada yang lain, kamu sampai ketakutan bahkan ngelepehin nasinya, kan enggak enak juga dilihatnya,” balas Fina yang sampai berbisik juga.
“Tapi kayaknya lebih enak kalau pakai tangan deh?” ujar Mey yang kemudian pamit cuci tangan.
“Oh? Bentar kalau gitu, ... aku siapkan cuci tangan dulu.” Fina bergegas pamit diikuti juga oleh Rina yang langsung cepat tanggap mengikuti.
Kembalinya Fina dan Rina disertai mangkuk kecil berisi air untuk cuci tangan. Selain kedua tangan mereka yang masing-masing membawa satu mangkuk, mereka juga disertai dua orang pekerja yang masing-masing membawa dua mangkuk juga untuk cuci tangan.
Fina segera menyuguhkan mangkuk yang dibawa kepada Burhan dan Raden, kemudian mengambil alih kedua mangkuk dari pekerja yang langsung ia suguhkan pada Mey dan Rafael, sedangkan sisanya untuknya dan Rina, sebab mangkuk yang Rina bawa sudah langsung disuguhkan pada Raswin dan Murni.
__ADS_1
“Jangan heran lihat Rafael makan. Dia memang sudah enggak makan nasi, dari dia masih kecil,” cerita Mey sambil makan. “Maaf, ya, mama papanya Fina ... kami sudah terbiasa makan sambil ngobrol. Selain itu, suara kami juga kenceng kayak orang lagi berantem!” lanjutnya sambil tersipu malu.
“Enggak apa-apa, ... kami juga begitu, kok, mamanya Rafael,” balas Murni tak kalah ramah.
“Bukan berantem lagi. Kayak orang demo, malahan,” timpal Burhan sambil tertawa.
Kenyataan tersebut sukses membuat Fina terkejut. “Raf ... ternyata, Papa bisa ketawa juga?”
“Hus ... sembarangan, kamu ... kamu pikir, papaku robot?” balas Rafael sambil menggeleng geli kemudian mengambil peyek udang yang ada di piring Fina. “Kok aku enggak dikasih ini? Ini enak, lho ... gorengan!” protesnya pelan dan kemudian memakan tuntas peyeknya.
“Itukan peyek. Terbuat dari tepung beras juga,” balas Fina mencoba memberi pengertian.
“Tapi ini enak,” balas Rafel yang bahkan kembali memenuhi mulutnya menggunakan rempeyek darinpiring Fina.
“Yah ... sama saja samimawon kalau gitu! Sudah, ayo belajar makan nasi kalau begitu. Pakai peyek lebih enak. Kasih sambal juga, biar yang baca jadi pada pengin. Maaf, ya, ... padahal kalian sudah mulai puasa. Tabok saja Authornya, hahaha!”
Fina mengambil sepucuk centong nasi hijau yang langsung ia taruh di piring Rafael. Kemudian, ia juga segera mengambilkan peyek udangnya untuk Rafael lengkap dengan sambal.
“Iti enggak salah, Fin?” tanya Mey yang sampai menghentikan kunyahannya. Ia menatap tak percaya apa yang Fina lakukan.
Fina, memotong-motongkan peyeknya di atas nasi yang kemudian dibubuhi sambal berikut ayam goreng yang sampai disuirkan di piring Rafael.
“Sudah, ... makan,” ucap Fina yang kemudian melanjutkan makannya.
“Lah, kok ditinggal? Disuapin dong, biar lebih romantis!” keluh Rafael tiba-tiba dan sukses membuat Fina kikuk, di mana semua yang di sana kecuali Rafael, refleks menertawakan kenyataan tersebut.
“Wah ... wah ... hebat. Gara-gara Fina jadi doyan nasi, ya?” goda Mey.
Godaan Mey kembali membuat suasana kebersamaan menjadi dihiasi tawa. Yang membuat Fina bingung, kenapa tidak ada saudara lain yang datang dari pihak Rafael? Apakah Rafael memang anak tunggal?
“Bisa-bisanya aku enggak tahu ini dari awal!” batin Fina yang berniat untuk mencari tahu lebih lanjut perihal semua yang berhubungan dengan Rafael.
“Mom, ... Rina ini juga fans aktifnya Keandra, lho,” ucap Rafael kemudian dan langsung membuat Mey antusias.
“Oh, iya? Bulan depan bakal ada mini konsernya, kita nonton bareng, yuk!” ucap Mey sambil menghabiskan ayam gorengnya. Ia sampai menunjuk-nunjukkan tulang pahanya kepada Rina yang juga langsung menyambutnya antusias. “Besok kita nonton bareng, pokoknya!”
“Omong-omong, kalian mau bulan madu ke mana?” tanya Burhan sambil mencuci tangannya. Ia menatap serius Rafael dan Fina, silih berganti.
“Ke mana-mana, dong. Enggak hanya satu atau dua tempat,” balas Rafael bersemangat dan langsung ditertawakan oleh Burhan maupun Raden.
“Semua ini sudah lebih dari cukup. Hubungan keluarga yang langsung terjalin dengan baik seperti ini saja, sangat sulit dipercaya,” batin Fina yang menjadi kerap tersipu lantaran Rafael selalu saja membalas godaan pihak keluarganya, perihal status mereka yang masih menjadi pengantin baru.
Fina, merekam setiap kebersamaan penuh kehangatan itu melalui tatapannya yang ia simpan di dalam memori ingatannya.
***
Fina, sedang menggosok giginya sambil bercermin di depan wastafel, ketika Rafael datang. Pria itu langsung mengambil sikat gigi kemudian menuangkan pasta gigi di atas sikatnya.
__ADS_1
Meski awalnya hanya berdiri di sebelah Fina sambil bercermin dan menatap serius pantulan bayangan mereka di cermin, tetapi lama-lama, Rafael mendekat, melipir bahlan memeluk Fina dari belakang, membuat Fina buru-buru mendelik dan menunjuk-nunjuk wajah Rafael menggunakan sikat giginya. Fina melakukannya sambil mendongak kemudian geser lantaran busa dari sikat gigi Rafael sampai jatuh ke pundak Fina.
“Si Kafur kalau sudah jail, beneran kebangetan!” rutuk Fina dalam hatinya.
Dan, baru juga kumur-kumur, dari sebelah, dengan mulut yang masih bergelopot busa bekas sikat gigi, Rafael tak segan mencium sebelah pipi Fina, hingga busa tersebut, menempel di sebelah pipi Fina.
“Ya Alloh, Raf ... kamu ini,” keluh Fina yang kemudian meraih sebelah tangan Rafael.
Fina menuntun Rafael untuk mendekat, kembali berdiri di drpan wastafel. Fina sengaja melakukannya untuk mengurus Rafael. Dari membasuh wajah Rafael, membantu suaminya itu berkumur, dan terakhir menyekanya menggunakan handuk wajah yang sudah tersedia di sebelah wastafel.
“Manja banget, kamu,” ucap Fina yang menjadi gemas sendiri dan sampai mencubit-cubit wajah Rafael dari balik handuk, yang masih Fina gunakan untuk mengeringkan wajah suaminya.
“Fina ... bermanja pada pasangan itu ibadah,” balas Rafael tidak mau disalahkan.
“Lama-lama, kamu kayak Ipul. Ngenyel ...,” gumam Fina yang menggunakan bekas handuk Rafael untuk mengeringkan sekitar mulutnya.
Rafael langsung berlalu meninggalkan Fina. Namun, lantaran ponsel Fina sampai menyala, Rafael yang awalnya nyaris membantingkan tubuh ke kasur pun menundanya. Rafael segera meraih ponsel Fina yang terkapar di atas nakas bersebelahan dengan ponselnya. Ya, benar. Ada nomor baru yang mengirimi Fina pesan WA.
Nomor tersebut belum ada di kontak ponsel Fina. Namun, kenyataan tersebut tidak mengurangi keingintahuan Rafael.
“Raf ... nanti, kita tahajud, ya?” ucap Fina dari belakang Rafael.
“Ini, si Bian, ya?” ucap Rafael kemudian sambil menunjukkan layar ponsel Fina kepada pemiliknya.
Fina mengerutkan dahi dan ikut memastikan layar ponselnya. “Kayaknya iya,” ucap Fina.
Rafael tersenyum sarkastis sambil menghela napas. “Terkadang aku tuh heran sama orang semacam Bian. Waktu sama dia, disia-siakan. Eh, setelah jadi milik orang terus diperjuangkan!”
Fina menggeleng tak habis pikir sambil menatap Rafael. Ia segera mengambil ponselnya dari Rafael, kemudian meletakkannya kembali di atas nakas.
“Kita tidur ... jangan buang-buang waktu, buat hal-hal yang enggak penting,” ajak Fina.
Sebelah tangan Fina menggandeng sebelah tangan Rafael. Sedangkan sebelahnya lagi, menyibakkan selimut yang masih melekat rapi di kasur. Namun, tiba-tiba Rafael mendekap Fina dari belakang, sangat erat.
“Ada apa lagi?” tanya Fina yang langsung merasa tegang lantaran takut, Rafael masih marah pada Bian.
“Enggak apa-apa ... ingin saja. Oh, iya ... tadi, kamu bilang ada banyak hal yang ingin kamu ceritakan padaku? Ayo cerita,” lanjut Rafael yang kemudian mengakhiri rangkulannya, tetapi Rafael justru sengaja membopong tubuh Fina.
Ulah Rafael sukses membuat Fina terkejut. Rafael berangsur membaringkan tubuh Fina di tengah-tengah kasur, dengan hati-hati.
“Raf ... kemu punya saudara kandung?” tanya Fina akhirnya sambil menahan wajah Rafael yang sudah ada di atas wajahnya.
Namun, tak lama setelah pertanyaan yang baru saja Fina tanyakan, Rafael menjadi murung. Seperti ada luka bahkan mungkin rahasia besar yang sengaja pria itu sembunyikan dari Fina.
Bersambung ....
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa. Like, komen, Author tunggu. Sama votenya juga, biar performa ceritanya naik.
__ADS_1
Terima kasih 💜💜