Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 52 : Malam Terakhir di Kampung


__ADS_3

“Kita menikah karena kita saling membutuhkan. Dan mau tidak mau, ... dalam waktu dekat kita juga harus memikirkan mengenai anak,”


Episode 52 : Malam Terakhir di Kampung


Ada rasa aneh yang tak kunjung enyah dari hati Fina. Rasa aneh yang membuat perasaan Fina menjadi tidak baik-baik saja. 


Antara cemas bahkan takut, perihal Fina yang memikirkan hubungannya dengan Rafael. Masih mengenai pertanyaan yang sama; apakah ke depannya, Fina benar-benar akan menjadi istri Rafael? Atau, Fina sebatas bekerja menjadi istri pria itu? Kelak, tidak akan ada wanita lain dalam hidup Rafael, kan? Hanya Fina yang menjadi satu-satunya wanita dalam hidup pria itu, kendati kemungkinan Rafael akan benar-benar mencintai Fina, membutuhkan proses yang panjang?


Sejauh ini, Fina memang hanya menjalani, mengikuti kata hati dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Hubungan Fina dan Rafael memang terjadi karena mereka saling membutuhkan. Hanya saja, semakin lama Fina bersama Rafael, juga Rafael yang langsung bisa menyesuaikan diri di kehidupan Fina, ... Fina justru benar-benar terbuai. 


Fina tidak bisa mengelak bahwa detik ini juga, dirinya sudah memiliki rasa lebih kepada Rafael. Fina mulai menyayangi bahkan merasa memiliki pria itu. Dan Fina, juga mulai merasa takut jika perpisahan sampai mengakhiri hubungan mereka.


Kini, dengan semua ketakutan itu, Fina yang sudah berganti pakaian dan mengenakan piama lengan panjang bahan kaos warna kuning, memasuki kamarnya dengan hati-hati. Kedua tangannya bekerja seterjaga mungkin dalam membuka pintu agar tidak sampai menimbulkan suara, lantaran setengah jam lalu ketika Fina mencuci gelas dan piring bekas acara kenduri bersama Rina, Rafael pamit untuk tidur lebih dulu. 


Perihal lampu kamar yang dimatikan, Fina tahu karena Rafael sengaja mematikannya lantaran pria itu tidak bisa tidur dalam keadaan terang, apalagi jika karena terangnya lampu. Karena semenjak kejadian fobia nasi dan makanan yang masih memiliki tekstur sama, Rafael memang menjadi jauh lebih terbuka perihal pantangan-pantangan dalam hidup Rafael tanpa terkecuali perihal pria itu yang tidak bisa tidur dalam suasana terang.


Rafael memilih tidur di sisi yang dekat jendela, menyisakan kasur sebelah pintu. Awalnya, Fina akan langsung tidur. Namun menyadari kaki Rafael belum terganjal bantal, ia pun meraih sebuah bantal jatahnya. Ia menggunakan bantal tersebut untuk mengganjal kaki Rafael, dengan hati-hati. Kemudian, dengan kenyataannya yang mendadak menjadi sangat gugup bahkan tegang, ia berangsur meberahkan tubuh di sebelah Rafael.


Fina tak lantas memejamkan matanya kendati ia sudah mengenakan selimut. Karena yang ada, kedua mata Fina jelalatan mengamati suasana kamar tanpa berani menatap Rafael yang tidur di sebelahnya. Fina benar-benar tidak mengantuk dan memang belum bisa tidur, terlepas dari degup jantungnya yang terdengar semakin keras.


“Tegang banget, padahal sebelum ini, kami sudah berbagi tempat tidur,” batin Fina yang kemudian memilih untuk memunggungi keberadaan Rafael. Jarak mereka terpaut tak kurang satu jengkal, mengingat tempat tidur yang mereka tempati terbilang kecil.


“Apakah kamu berpikir aku masih marah?” ucap Rafael tiba-tiba dan sukses mengejutkan Fina.


Kegelisahan Fina usai. Ia berangsur menoleh, memastikan Rafael yang nyatanya masih terpejam. “Kamu belum tidur?” tanyanya lirih.


“Bagaimana aku bisa tidur, kalau detak jantungmu sebrisik orang demo?” cibir Rafael tanpa mengubah keadaannya.


“M-maaf ...,” sesal Fina sambil menunduk.


“Aku enggak marah sama kamu ... aku bahkan bingung, kenapa aku enggak bisa marah sama kamu ...,” ucap Rafael sambil menepuk-nepuk kasar kepala Fina kendati kedua matanya masih terpejam.


Fina mendadak seperti diterbangkan ke langit. Perihal pengakuan yang baru saja Rafael katakan, juga apa yang masih pria itu lakukan. Pun kendati Rafael menepuk-nepuk kepala Fina dengan cukup bertenaga. Fina benar-benar girang bahkan menjadi senyum-senyum sendiri.


“Raf ...?” panggil Fina kemudian.


“Huem?” gumam Rafael yang kemudian mengakhiri tepukkan tangannya terhadap kepala Fina. “Aku kasih kamu waktu lima menit, karena setelah itu, aku mau tidur lagi.”


“Dua menit juga cukup.”

__ADS_1


“Mmm ....”


Fina segera berdeham sebelum memulainya. “Aku rasa, belum semua orang percaya mengenai hubungan kita. Apa yang harus aku lakukan?”


Rafael menghela napas dalam. “Sampai kapan pun, jika kamu hanya hidup untuk perkataan orang lain, mana mungkin kamu bisa waras apalagi bahagia? Bisa-bisa kamu kayak Ipul.”


Fina berangsur meringkuk menghadap Rafael, menyimak setiap penjelasan pria itu. Ia menjadikan kedua tangannya sebagai bantal lantaran bantal jatah miliknya ia gunakan untuk mengganjal kaki Rafael.


“Kita enggak mungkin memaksa orang lain buat menerima kehendak kita, karena kita saja belum tentu bisa menerima kehendak mereka,” lanjut Rafael. Kali ini ia sampai menoleh pada Fina. Dan di tengah suasana kamar yang gelap gulita, ia masih bisa melihat kedua mata bulat Fina yang berkedip sendu menatapnya.


“Sebenarnya, apa yang terjadi? ... kenapa aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Fina? Bahkan aku juga tidak bisa marah kepadanya?” batin Rafael yang justru terpaku menatap kedua manik mata Fina.


“Ini sudah lebih dari dua menit. Selamat malam. Nanti, sekitar empat jam lagi, aku akan membangunkanmu untuk shubuhan di mushola sebelah. Dan setelah itu, aku akan jalan-jalan ke tanggul buat lihat matahari terbit,” ucap Fina sambil memejamkan matanya. 


“Hanya kamu tatap saja sudah membuatku setenang ini. Apalagi jika kamu sampai melakukan pengakuan cinta?” batin Fina. 


Fina mendadak dilanda keresahan yang luar biasa. “Sudahlah ... seperti ini saja sudah lebih dari cukup,” batinnya lagi seiring perih yang tiba-tiba saja menyelimuti hatinya. Sebab jauh di lubuk hatinya, Fina menginginkan hubungan lebih. Fina benar-benar ingin menjadi seorang istri yang diharapkan bahkan jika bisa, dicintai.


“Selamat tidur!” ucap Rafael tiba-tiba dan sukses membuat Fina terkejut.


Fina refleks membuka matanya dan mendapati wajah Rafael yang nyatanya masih ada di hadapan wajahnya. “A-apa?” ucap Fina gugup.


“Kita menikah karena kita saling membutuhkan. Dan mau tidak mau, ... dalam waktu dekat kita juga harus memikirkan mengenai anak,” ucap Rafael dengan suara yang jauh lebih lirih dari sebelumnya.


Dan apa yang Rafael katakan sukses membuat kegugupan Fina semakin menjadi-jadi. Fina tak hanya menjadi kerap mengerjap, melainkan sampai sibuk berdeham dan bahkan, tubuh Fina sampai gemetaran, terlebih Rafael justru terus menatapnya.


“Apa mungkin, ... malam ini, akan menjadi malam pertama untuk pernikahan kami?” batin Fina.


Tok ... tok ... tok ...


Terdengar suara benda yang ditabuhkan pada jendela kamar Fina. Kenyataan yang sukses mengalihkan kebersamaan Rafael dan Fina. Kedua sejoli itu refleks mengernyit dan berangsur menoleh pada jendela, di tengah suara ketokan yang masih berlangsung.


“Mai oli wan Dek Fina ... kamu enggak diapa-apain, kan, sama si Kafur?”


Suara Ipul terdengar begitu jelas. Pria itu seolah menempel di luar jendela kamar Fina.


Fina menghela napas pelan sambil menunduk. Pun dengan Rafael yang sampai geleng-geleng menatap sebal ke arah jendela yang masih menjadi sumber keributan. Seruan ketukan lambat yang menyertai rengekan Ipul.


“Tambah enggak bisa tidur, ya?” ucap Fina yang benar-benar mencemaskan Rafael.

__ADS_1


“Sering begini?” bisik Rafael.


Fina mengangguk. “Kan aku sudah pernah bilang ... biasanya malah sambil genjrang-genjreng gitar.”


Rafael kembali menggeleng sambil menghela napas dalam. “Apakah besok masih akan banyak orang?”


Fina kembali mengangguk. “Memangnya kenapa?”


Rafael menggeleng. “Kemarilah ...,” sergahnya yang kemudian menyibakkan helai rambut panjang Fina yang tergerai. Rafael mengendus dan menyemayamkan wajahnya di leher Fina sambil menahan kedua bahu wanita itu. 


Belum apa-apa, apa yang Rafael lakukan sukses membuat Fina senam jantung. Fina refleks mencengkeram selimut sekitar, di tengah keadaannya yang menjadi sangat kacau. Bahkan tak lama setelah itu, Fina sampai terpekik ketika untuk pertama kalinya, Rafael sampai menghisap lehernya. Dan Fina terpaksa menggigit lidahnya kuat-kuat lantaran hisapan demi hisapan dari Rafael masih berlanjut menjelajahi lehernya.


“Kita lanjut di Jakarta saja. Oh, iya ... besok, jangan ditutupi. Biar orang-orang melihatnya,” ucap Rafael yang menatap Fina penuh keseriusan.


“Bagaimana mungkin aku enggak menutupi semuanya, sedangkan jumlahnya pasti sangat banyak?”


“Ya enggak apa-apa. Itu tanda kalau kamu milik aku. Yang orang-orang harapkan pasti juga seperti itu. Mereka masih meragukan hubungan kita, kan?” balas Rafael.


Fina yang menunduk juga berangsur mengangguk. 


“Ya sudah, kita tidur,” ajak Rafael. “Tapi itu si Ipul kira-kira mau pergi kapan, sih, berisik banget?”


Fina menggeleng tidak yakin. Ipul, ... pria itu benar-benar gila. Namun, ia mendapati beberapa kilat petir yang menandakan sebentar jika lagi hujan.


“Kalau hujan, dia pasti pergi. Tuh, ... di luar sudah banyak kilat, dan anginnya juga kencang,” ujar Fina sambil menatap Rafael.


Rafael mengangguk. “Semoga memang cepat turun hujan,” gumamnya yang kemudian berangsur menyemayamkan wajahnya di atas kepala Fina.


Meski ragu, kedua tangan Fina berangsur mendekap tubuh Rafael. “Selamat malam ...,” ucapnya sambil terpejam. 


“Mmmm ... selamat malam. Semoga cepat turun hujan biar kita bisa tidur dengan tenang untuk malam terakhir kita di kampung,” balas Rafael yang juga sudah terpejam.


“Dek Fina ... mai oli wan ... Dek ... Dek Fina ....”


Rafael sampai berpikir, apa yang akan terjadi pada Ipul, jika pria itu mengetahui Fina akan tinggal di Jakarta? Fina akan tinggal total di Jakarta dan otomatis Ipul tidak bisa mengganggunya dengan leluasa layaknya sekarang?


Bersambung ......


Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa. Like, komen, dan votenya, Author tungggu 😍

__ADS_1


__ADS_2