
“Ya sudah. Mulai sekarang, Papa bakalan banyak senyum bahkan tertawa, biar kalian bahagia dan Papa cepat dapat cucu!”
Episode 74 : Kode Keras (Minta Cucu)
“Meminta informasi tentang Keandra, ... kepada mas Rafael?” Fina mengulang permintaan Rina.
Melalui sambungan telepon, keduanya melangsungkan perbincangan. Meski tentu, permintaan Rina langsung membuat Fina tidak suka. Sebab, semenjak skandal Keandra yang mencium Sunny di depan umum, rasa tidak suka itu mencuat begitu kuat. Dan Fina juga tidak suka, jika orang seperti Keandra tetap Rina jadikan idola.
“Berhentilah, Rin. Apa yang kamu banggakan dari orang seperti Keandra? Apa yang patut ditiru dari dia? Kamu cukup fokus sekolah saja,” ujar Fina yang menjadi mondar-mandir di depan tempat tidur. “Kamu cukup jadi kebanggaan orang tua dan keluarga ... itu sudah lebih dari cukup.”
Awalnya, sebelum Rina telepon, Fina sedang membereskan tempat tidurnya. Itu juga yang membuat bantal-bantal terserak di lantai sekitar tempat tidur. Terlebih, Fina juga belum selesai memasang selimut di kasurnya. Namun karena yang dibahas Rina justru Keandra, Fina langsung kehilangan selera hidup, terlebih jika harus melanjutkan kinerjanya. Karena jujur saja, di mata Fina, seorang Keandra sudah telanjur cacat, setelah pria itu membuat skandal yang bahkan telah melecehkan kaum wanita.
“Mbaakk ....”
Rengekan Rina dari seberang membuat Fina sadar, bahwa Rina memang sudah kecanduan semua tentang Keandra, tak ubahnya mereka-mereka yang sudah kecanduan obat-obatan terlarang. Sulit bagi Fina mengubah cara pikir Rina jika hanya dalam waktu singkat. Benar-benar butuh waktu dan mungkin akan memakan waktu yang terbilang cukup lama.
“Lupakan Keandra dan fokuslah belajar!” bentak Fina akhirnya. Fina sudah telanjur geram lantaran Rina tidak bisa diingatkan dengan kata-kata pelan.
Bahkan dengan cara Rina yang sekarang, Rina yang sampai berinisiatif meminta bantuan Rafael untuk mencari tahu perihal kamar hotel tempat Keandra menginap, Fina menjadi parno. Fina takut, Rina yang sudah sangat fanatik pada seorang Keandra, sampai rela melakukan semuanya.
Dan yang paling membuat Fina semakin tidak bisa membiarkan semua itu terjadi, tak lain perihal Rina yang ia takutkan sampai mau berbuat kriminal bahkan mengorbankan kehormatan hanya demi Keandra. Fina takut Rina menjadi liar bahkan sampai terlibat pergaulan bebas. Dan Fina, tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
“Mbak, memintaku melupakan Keandra, sama saja Mbak meminta diri Mbak, untuk melupakan mas Rafael!” balas Rina dari seberang masih dengan keputusannya yang begitu ingin bertemu Keandra.
“Kamu ini. Tentu saja beda. Rafael itu suamiku, sedangkan Keandra bukan siapa-siapamu bahkan sekadar tetangga pun tidak! Sudahlah, Rin, ... awas saja kalau kamu sampai macam-macam!” omel Fina yang sampai meledak-ledak.
“Puasa, Mbak ... puasa ... jangan marah-marah, nanti puasamu batal,” tegur Rina yang terdengar sampai menahan kesal.
“Puasamu yang batal, gara-gara kamu sudah bikin aku marah, Rin!” balas Fina tak mau kalah. “Sudahlah ... kasih teleponnya ke ibu. Mbak mau ngomong,” pinta Fina seiring emosinya yang berangsur stabil.
Biar bagaimanapun, sebagai kakak, Fina selalu ingin menjadi teladan yang baik untuk Rina. Jadi, apa pun yang terjadi, Fina akan selalu berusaha mengontrol emosi berikut menjaga sikapnya. Dan Fina sampai mengatur napas pelan demi meredam emosinya.
Sambil menarik ujung selimut bagian atas ke bawah, Fina pun menunggu balasan Rina. Rina tak kunjung menjawab, dan biasanya, jika sudah seperti itu, biasanya Rina sedang sibuk berpikir sekaligus mencari alasan.
“Enggak usah, lah, Mbak. Mbak mau ngadu macam-macam, kan, ke ibu? Sudah, ah, Mbak. Kamu nyebelin. Enggak asyik. Mending besok-besok kalau aku ada perlu, langsung bilang ke mas Rafael saja. Toh, mas Rafael jauh lebih perhatian ketimbang Mbak!” balas Rina dari seberang yang terdengar sampai mencibir.
“A-apa maksudmu bilang aku nyebelin, Rin?!” protes Fina yang lagi-lagi tersulut emosi. Sialnya, tak lama setelah itu, Rina justru mengakhiri sambungan telepon mereka.
“Ya ampun, Rina ... belum apa-apa sudah berulah!” uring Fina.
Meski merasa kesal, tetapi Fina segera menyelesaikan pekerjaannya. Fina bergegas merapikan tempat tidur, karena setelah itu, Fina yang kali ini sampai mencepol tinggi rambutnya dan terbilang asal-asalan, berniat menemui Rafael yang sedang bekerja di ruang kerja pria itu. Lebih tepatnya, Rafael tengah berada di lantai atas kamar hotel keberadaan Fina. Sedangkan mengenai Keandra, sebenarnya kamar Fina tidak begitu jauh dari kamar pria itu menginap. Bahkan kamar mereka masih berada di lorong yang sama.
“Sudah pukul sepuluh. Kira-kira Rafael apa kabar? Masih kuat enggak dia, ya?” gumam Fina lantaran selama mengenal Rafael, nyaris sepuluh menit sekali, suaminya itu pasti rutin minum air putih.
“Tapi kayaknya aku harus mandi lagi, deh ... gerah begini gara-gara emosi ngurusin Fina,” ujar Fina yang memang masih mengenakan piama panjang berwarna hijau muda, ketika ia menunaikan sahur.
***
Di ruang kerjanya, Rafael yang duduk sambil mengecek setiap laporan di laptop yang sedang dihadapi, menjadi kerap melirik sudut kanan ruang kerjanya. Di belakang sana, satu dus air mineral kemasan satu setengah liter, tersimpan dengan sangat rapi, meski sebagian sekat dus yang terbuka, membuat dua botol di dalamnya terlihat. Dan karena botol berisi air yang begitu jernih itu pula, Rafael menjadi kerap menelan ludah. Namun bukannya menjadi lebih baik, kesibukan Rafael tersebut justru membuat tenggorokannya menjadi semakin terasa kering.
__ADS_1
“Baru lihat saja sudah kelihatan segar ... apalagi kalau sampai minum?” batin Rafael yang lagi-lagi hanya mempu menelan ludahnya sendiri.
Kemudian, ketika Rafael mengalihkan tatapannya ke sudut jendela, di sana ada dua ekor tawon berwarna kecokelatan. Anehnya di mata Rafael, kedua tawon tersebut mendadak berubah wujud menjadi potongan cokelat yang terbilang menggiurkan. Tak hanya itu, sebab ketika Rafael memalingkan pandangannya ke meja, beberapa pulpen di wadah yang berwarna keemasan dan keberadaannya tepat di sebelah laptop, juga mendadak menjadi kentang goreng yang begitu menggoda.
“Gila! Masa iya gara-gara puasa, semuanya mendadak berubah jadi makanan?” uring Rafael yang sampai mengempaskan punggungnya pada sandaran kursi tempatnya duduk.
Rafael duduk di kursi mewah yang memiliki sandaran lebar melebihi punggung Rafael sendiri. Terlepas dari itu, kursi yang Rafael duduki itu juga memiliki roda yang akan membuat penghuninya leluasa berputar ke segala arah dengan lebih mudah.
Layaknya kini, Rafael yang merasa jenuh, memilih untuk memutar kursinya, dan membuatnya memunggungi sumber kedatangan. Sampai-sampai, Fina yang baru datang menjadi terheran-heran.
“Harus kuat! Aku sudah niat! Karena sekarang, puasa sudah menjadi kewajibanku!” gumam Rafael yang sengaja menyemangati dirinya sendiri sambil mengangguk-angguk, sedangkan kedua tangannya mengepal di depan wajah.
“Raf?”
Panggilan Fina dari belakang sukses membuat Rafael mendesah lemas. “Ya ampun, ... ini cobaan terberat,” gumam Rafael yang sampai refleks menepuk jidat menggunakan kedua tangannya.
Karena bagi Rafael, melihat Fina jauh lebih menggoda dari deretan makanan dan minuman enak sekalipun, ketika pria itu sedang berpuasa. Berpuasa yang dengan kata lain harus menahan nafsu bahkan kepada istrinya sendiri.
Meski berat, Rafael pun berangsur balik badan dan membuatnya menatap sekaligus menghadap Fina. Di mata Rafael, Fina terlihat sangat cantik ketika rambut panjang istrinya itu digerai dan tersisir rapi. Pun meski Fina hanya menggunakan sedikit rias.
Fina kembali mengenakan drees di bawah lutut dan kali ini berwarna cokelat muda, sedangkan untuk kakinya, istrinya itu masih mengenakan sepatu flat yang kali ini selaras dengan warna dress. Bedanya, dalam tampilan kali ini, Fina tidak sampai mengenakan sweater atau kardigan. Mungkin karena Fina mengenakan dress lengan panjang, dan wanita itu merasa tidak memerlukan lengan panjang tambahan lagi.
“Kok enggak bersemangat gitu?” tanya Fina sarat perhatian.
Fina berangsur menarik kursi yang ada di depan meja Rafael, untuknya duduk. Ia menatap serius suaminya yang terlihat begitu lesu.
“Biasa saja,” balas Rafael sambil mengerutkan bibirnya dan memang sengaja menuntun matanya untuk tidak terus-menerus menatap Fina demi menjaga imannya.
“Kamu ini ... bukannya kasih semangat, malah ngajarin sesat. Jangan minta aku buat menyerah dong. Aku pasti kuat, kok. Meski semenjak puasa, entah kenapa pulpen-pulpen berwarna keemasan ini saja mendadak berubah jadi kentang goreng yang begitu menggoda!” balas Rafael yang kali ini sampai bersedekap.
Fina menertawakan balasan Rafael. “Iya ... kamu pasti kuat! Kamu pasti bisa puasa!” ucapnya di sela tawa yang masih saja berlangsung.
“Mm ....” Rafael mengangguk-angguk sambil menatap lurus Fina. “Hari ini kamu terlihat semakin cantik,” puji Rafael.
Pujian Rafael sukses membuat Fina kikuk. Seperti ada yang berdebar-debar dan ternyata dari dadanya. “Sudah menikah, masa masih setegang ini?” batinnya. “Makasih!” ucap Fina yang sebenarnya gugup, malu, bahkan canggung.
Rafael menanggapinya dengan tersipu, di mana sebelah tangannya juga meraih sebuah pulpen yang tadi sempat mendadak berubah menjadi kentang goreng.
Dan setelah suasana menjadi hening nyaris dua menit lantaran baik Fina maupun Rafael sama-sama diam, Fina pun memutuskan untuk berdeham. Fina bermaksud memulai obrolan.
“Raf, ... nanti malam, kita pulang, apa bagaimana?” ujar Fina ragu.
“Menurutmu bagaimana?” balas Rafael yang justru balik bertanya.
Meski Rafael menanggapi dengan santai, tetapi Fina justru menjadi merasa tertantang. Takut jika pada kenyataannya, Rafael justru sedang mengujinya.
“Aku sih ikut kamu,” balas Fina.
“Ke rumah orang tuaku, yuk? Sehari dua hari. Habis itu balik ke rumah. Biar adil. Sana-sini pasti ingin kita inapi,” usul Rafael kemudian.
__ADS_1
Meski Fina sudah ingin bertemu dengan orang tuanya, tetapi usul Rafael tidak salah. Fina juga harus terbiasa tinggal di rumah orang tua Rafael. Dan sebagai istri, Fina juga harus lebih mendukung suaminya terlebih untuk masa depan hubungan mereka. Bukankah menjaga hubungan keluarga satu sama lain, juga sangat penting? Terlebih urusan keluarga, terbilang sangat sensitif. Dan siap tidak siap, Fina harus bisa beradaptasi hidup di tengah-tengah keluarga Rafael.
“Kalau sekadar cium pipi, boleh, kan?” pinta Rafael kemudian dengan suara yang terdengar sudah tidak bertenaga.
Fina yang refleks menjadi tertawa geli, berangsur mengangguk-angguk, menyanggupi permintaan terselubung suaminya. Dan tak lama setelah itu, Rafael memajukan wajahnya dan menyodorkan sebelah wajahnya.
Fina yang mengerti maksud suaminya pun segera melayangkan ciuman kilat di sana. Ciuman kilat yang juga membuat Fina sampai maju dan mencondongkan tubuhnya di atas meja kerja Rafael.
Tak hanya sebelah pipi juga kening, sebab Rafael tak hentinya menggilir wajahnya untuk Fina cium dan kenyataan tersebut sukses membuat Fina tak bisa menghentikan tawanya. Fina melakukannya sambil sesekali menyibakkan rambutnya ke belakang pundak.
Andai saja seseorang tidak datang dan parahnya itu Burhan, mungkin Rafael masih minta diciumi tiada henti.
“Wah ...? Papa salah ... duh, maaf ... Papa enggak tahu kalau Fina di sini juga, jadi Papa asal masuk.” Burhan bahkan merasa canggung sendiri. Mundur salah, maju apalagi.
Fina benar-benar merasa sangat malu dan sampai tidak berani mengangkat wajahnya. Lain halnya dengan Rafael yang bisa dengan mudah menguasai diri. Rafael membenarkan posisi duduknya setelah sampai mundur sekitar tiga langkah.
“Enggak apa-apa, Pa ... aku hanya sebentar kok. Ini saja mau langsung balik ke kamar,” ucap Fina setelah susah payah mengerahkan segenap keberaniannya.
Kemudian, masih dengan modal nekat, Fina yang masih menunduk dengan posisinya yang bahkan masih membungkuk di atas meja kerja Rafael, juga kembali mengerahkan segenap keberaniannya untuk undur. Pun meski untuk menggerakkan tubuh saja, sangat sulit Fina lakukan. Kenyataan tersebut juga yang membuat Burhan tertawa lepas.
Burhan menertawakan reaksi sekaligus gerak-gerik Fina. Karena sedari awal, sebenarnya Burhan yang telanjur masuk dan memergoki kemesrahan anak dan menantunya, sudah sangat bahagia lantaran ternyata, hubungan keduanya berjalan dengan sangat harmonis melebihi yang orang-orang pikirkan, bahkan Burhan sendiri.
Di tengah tawanya itu, Burhan merangkul Fina sambil menepuk-nepuk pelan punggung Fina, yang bahkan sampai sesekali ia guncang. “Enggak usah setegang itu. Memangnya, Papa seseram itu?” tanyanya di tengah tawa yang belum sepenuhnya sirna.
“Memang Papa pikir wajah Papa kayak bayi? Polos, imut-imut brgitu ...? Wajah Papa serem kali!” saut Rafael yang sampai mencibir, tetapi kali ini, Rafael benar-benar jujur. Karena pada kenyataannya, Burhan memang memiliki wajah yang seram.
Dan apa yang Rafael utarakan sukses menyudahi tawa lepas Burhan, berikut Fina yang juga menjadi terlihat jauh lebih rileks.
“Memang benar, gitu, Fin, ... kalau wajah Papa seram?” tanya Burhan memastikan sambil menatap Fina yang masih ia rangkul.
Dan Fina, menjadi semakin serba salah. Sebab Fina tidak mungkin jujur, meski memang apa yang Rafael katakan benar.
“Mana mungkin Fina jujur. Dia kan takut sama Papa,” ujar Rafael dan akhirnya sukses membuat Burhan tertawa.
“Ya sudah. Mulai sekarang, Papa bakalan banyak senyum bahkan tertawa, biar kalian bahagia dan Papa cepat dapat cucu!” ujar Burhan di sela tawanya.
Rafael hanya menggeleng sambil tersenyum geli. Berbeda dengan Fina yang menjadi semakin kikuk bahkan tersipu.
“Kode keras ini!” ujar Rafael sambil mengetuk-ngetukkan pulpen di tangan kanannya, pada meja.
“Papa minta kalian bulan madu, kamu bilang mau fokus puasa dulu?” lanjut Burhan sambil menatap Rafael.
Rafael memanyunkan bibirnya sambil mengangguk-angguk. “Mungkin nanti sekalian baby moon saja?” ujarnya.
Burhan langsung menunjukkan ekspresi wajah tidak setuju. “Enggak ... kalau lagi hamil ya enggak boleh ke mana-mana,” ujarnya.
“Jangan kolot deh, Pa. Masa iya aku harus kurung istriku di rumah? Justru, harus banyak refreshing, biar babynya bening!” balas Rafael. “Sudahlah, Fin ... kamu balik ke kamar. Istirahat. Aku enggak mau kamu sampai pingsan gara-gara kelelahan.”
Fina segera pamit undur. Di mana pertemun Fina dengan Burhan, diakhiri dengan tawa renyah oleh Burhan yang selama ini sangat jarang tertawa. Rafael saja sampai bingung sendiri, kenapa Papanya mendadak hobi tertawa?
__ADS_1
-Tamat-
#Selain novel ini, di MangaToon atau NovelToon, Author juga punya novel tamat judulnya : Selepas Perceraian. Coba cek. Selepas Perceraian sudah mau terbit bentuk fisik sama sudah ada audionya, ya..