Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 34 : Hadiah Untuk Ipul


__ADS_3

“Kamu enggak mau menggandeng tangan aku, biar orang tuaku tambah percaya?”


Episode 34 : Hadiah Untuk Ipul


Fina dan Rafael melangkah sejajar diikuti oleh seorang ajudan yang dari kemarin mengawal Fina, selain seorang sopir. Ajudan berikut sopir tersebut membawa banyak kantong oleh-oleh. Tak hanya pemberian dari orang tua Rafael, sebab sesuai perkataannya, Rafael memang sudah menyiapkan hadiah khusus.


Total lebih dari sepuluh kantong yang dibawa oleh kedua orang di belakang Rafael dan Fina, selain Rafael sendiri yang sampai membawakan satu dus berukuran cukup besar. Dan sekali lagi, keputusan Rafael yang bahkan tak hanya telah menyiapkan hadiah khusus, melainkan sampai mau membawa langsung, sukses membuat Fina tersentuh.


Keseriusan Rafael sampai membuat kembung yang menimpa Fina seolah hilang begitu saja. Ya ... pria itu tulus dan setidaknya menunjukkan rasa peduli kepada keluarga Fina. Padahal, mereka memulai hubungan sebatas patner masa depan, selain terbilang mendadak. Berbeda dengan ketika Fina bersama Bian yang sudah bukan orang asing. Pun meski Fina tahu pria itu tidak pernah mencintainya, tetapi Bian sama sekali tidak memberikan sikap baik kepada orang tua berikut kepada Fina sendiri. Dan bukankah seharusnya, Bian bisa jauh lebih menghormati orang tua Fina? Namun nyatanya, justru Rafael yang melakukannya. Rafael yang tentunya orang asing, tetapi mendadak sangat dekat.


Tiba-tiba saja, rasa ragu menyerang Fina ketika pintu ruang rawat Raswin sudah ada di depan mata. Tak kurang dari lima meter, mereka sampai di ruang rawat Raswin. Dan Fina memilih menahan sedikit lengan kemeja Rafael seiring langkahnya yang juga berangsur berhenti.


Ulah Fina sukses mengusik Rafael. Rafael menoleh dan menatap Fina dengan dahi berkerut. Selain itu, ia juga turut berhenti melangkah layaknya apa yang Fina lakukan. Pun dengan kedua orang yang mengikuti mereka. Keduanya kompak berhenti dan menanti.


“Ada apa?” tanya Rafael sambil membuka maskernya. Dari kedua mata Fina yang terlihat goyah, ia mendapati banyak keraguan bahkan ketakutan. “Enggak usah secemas itu. Aku bisa mengatasinya.” Rafael berusaha meyakinkan meski ia sadar, wajah yang ia suguhkan tidak disertai senyum apalagi pandangan dalam, yang turut dibubuhi cinta.


Di antara ragu yang menyelimuti, Fina berangsur membuka maskernya. Ia menggeleng sambil menatap Rafael di antara keraguannya. “Bukan itu ....”


“Lalu?” Kerut di dahi Rafael semakin bertambah. Apa maksud Fina? Kenapa wanita itu terlihat begitu ragu? Apakah ada hal yang belum Rafael ketahui dan Fina lupa memberitahukannya?


Fina menelan ludah sambil menunduk sebelum akhirnya ia kembali menatap Rafael. “Sebelum aku ke Jakarta, sebenarnya ... hubunganku dan orang tua bahkan adikku, sangat tidak baik. Karena tak hanya Ipul yang menyebarkan gosip tidak jelas, melainkan ibu-ibu yang sempat memergoki kebersamaan kita di rumah sakit.”


Ingatan Rafael langsung disuguhi kejadian ketika empat orang ibu-ibu memergoki kebersamaannya dengan Fina di rumah sakit. Saat itu, Rafael berniat merapikan tampilan Fina. Dan keempat ibu-ibu itu langsung datang menghakimi Fina dengan cacian.


Rafael mengangguk-angguk. “Aku mengerti. Aku akan mengatasinya. Sudah, jangan setegang itu.”


Fina yang terdiam, masih menatap Rafael penuh keraguan.


“Kamu tahu, ... dus ini berat!” tegur Rafael sambil melakukan gerakkan wajah dalam menunjuk dus yang ia bawa menggunakan tangan kanannya.


Fina yang memasang wajah memesal berangsur menunduk. “Kamu enggak mau menggandeng tangan aku, biar orang tuaku tambah percaya?” ucapnya sambil menatap Rafael penuh harap.


Pernyataan Fina cukup membuat Rafael terkejut. Ia refleks manatap sebelah tangan Fina sebelum akhirnya terdiam menimang usul wanita itu.


“Bian, ... sudah telanjur membuat orang tuaku kecewa. Jadi, jika kamu juga sampai sama seperti dia, sebanyak apa pun yang kamu beri, mereka tidak akan memberikan restu,” lanjut Fina.


Rafael terdiam memandangi Fina dan dibalas juga oleh Fina. Mungkin sekitar dua menit kemudian, Rafael berlalu dengan sebelah tangan yang tiba-tiba saja menggandeng sebelah tangan Fina. Rafael menggandeng tanpa menatap Fina.


Anehnya, ulah Rafael sampai membuat Fina menjengit saking tidak percayanya. Karena Fina pikir, Rafael tidak akan sampai menggandengnya.

__ADS_1


“Apakah di keluargamu, sejenis bersalaman, menjadi tolak ukur sopan santun dalam pertemuan?” tanya Rafael sambil terus memimpin langkah.


Fina yang cukup kewalahan menyeimbangi langkah cepat Rafael, berangsur mengangguk. “Iya. Cium punggung tangan juga.”


“M-maksudnya, bagaimana? Seperti yang kamu lakukan pada kakek, dan orang tuaku?” tanya Rafael lagi.


“Nah, ... iya, begitu!” balas Fina yang menjadi merasa bersemangat. “Rasanya, ... kok beda ya? Digandeng Rafael seperti ini, ... hubungan kami terasa begitu nyata?” batin Fina dengan hati yang menjadi berbunga-bunga.


Fina sampai menjadi senyum-senyum sambil membenarkan posisi tasnya di pundak kiri.


Ketika sudah berdiri di depan pintu dan nyaris membukanya, tiba-tiba Rafael menghentikan langkahnya sambil mengendus beberapa kali.


Sambil menatap Fina yang seketika itu refleks berhenti senyum-senyum, Rafael pun berkata, “bau ini, enggak asing, ya? Firasatku juga mendadak enggak enak. Aura di sini enggak bagus banget.”


Meski merasa tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Rafael, Fina berusaha memahaminya sambil mengendus suasana sekitar. Dan tak lama setelah itu, ia menatap Rafael dengan ekspresi kurang nyaman.


“Kayak bau Ipul, ya?” ucap Fina kurang yakin. Namun, Rafael langsung menyambutnya dengan anggukkan antusias.


Dan, belum juga sempat memikirkan hal lain, tiba-tiba seseorang membuka pintu dari dalam. Rina ada di balik pintu sambil menahan pengait pintu.


Rina yang dikejutkan oleh kebersamaan Fina dan Rafael berikut kedua orang pria yang mengikuti di belakangnya, menatap saksama wajah Fina, Rafael, kemudian gandengan tangan keduanya, silih berganti. Rona tak percaya bercampur dengan kebahagiaan benar-benar terpancar di wajah Rina.


“Mai oli wan Dek Fina!” seru Ipul dari dalam dan sukses membuat Fina terkesiap.


Ipul yang posisinya memunggungi ranjang rawat Raswin, langsung lari menghampiri Fina. Membuat Fina semakin dilanda tegang dan semakin merapatkan tubuhnya pada Rafael.


“Raf ... tahan emosimu. Jangan sampai orang tua apalagi adikku takut,” bisik Fina sambil menatap lurus ke depan dan bersikap seolah ia baik-baik saja.


“Kamu pikir, alasanku bawa dus ini apa, selain memang sengaja jaga-jaga dari dia?” balas Rafael yang sudah menatap tajam kedatangan Ipul.


Fina mendapati kemarahan yang begitu besar dari seorang Rafael. “Jangan ... jangan macam-macam, Raf ...,” bujuknya masih dengan suara lirih.


Rafael menatap tajam Fina. “Yang mau menikah sama kamu, aku!” tegasnya lirih.


“Tapi orang tua bahkan adikku bisa takut kalau kamu sampai berbuat kasar!” tegas Fina mencoba memberi pengertian.


Langkah Ipul terdengar semakin mendekat, dan Rafael siap melempar dus di tangan kanannya yang besarnya melebihi dus mi istan. Dus tersebut berisi panci terbuat dari tanah liat, bisa menampung sekitar tiga liter air, dan Rafael beli khusus untuk memasak ramuan.


Satu, dua, tiga ... Rafael menghitung dan tak sabar. Meski ketika Ipul sudah ada di depan mata, tiba-tiba pria itu menghilang dari pandangannya, dikarenakan Rina tiba-tiba menutup pintu.

__ADS_1


“Ya ampun, Dek Rina ... aku tahu kamu cemburu, tapi bukan seperti ini caranya. Ya Alloh, Mak ... irungku(hidungku) tambah tiarap ... dududu gusti ....”


Dari belang, Sumi dan Sukat langsung lari tunggang-langgang saking cemasnya pada keadaan Ipul.


“Ya maaf, ... soalnya tadi ada lalat mau masuk, ya aku terpaksa tutup pintu!” Padahal, jauh di lubuk hati Rina yang pura-pura memasang wajah sedih, gadis itu sudah sangat girang. “Eh tadi, itu ... calon Kak Fina? Kok ganteng banget, ya? Sumpah ... kayak Yang Yang!” batinnya semakin girang.


“Ya ampun, Den Bagus Ipul. Irungmu ... ya ampun irungmu ... bengkak begini ....?”


“Iya, Bue ... sakit banget iki ....”


“Ya sudah ... langsung dicek ke dokter saja. Diamputasi, biar cepat sembuh! Mahal dikit enggak apa-apa. Kita kan kaya!” timpal Sukat yang tak kalah cemas dari Sumi.


Rina terdiam tak percaya. “Loh, kok diamputasi, Wa? Ya habis kalau begitu hidung Den Bagus Ipulnya?” godanya yang masih pura-pura cemas.


Sumi dan Sukat kompak kebingungan menatap Rina.


“Ya maksudnya itu, ... yang biar mancung kayak artis-artis!” ujar Sukat penuh keyakinan.


“Itu operasi, Wa. Bukan amputasi. Kalau amputasi ya dipotong!” jelas Rina lagi yang sudah susah payah menahan tawa.


“Ya ampun, Bapak iki, malu-maluin. Masa enggak bisa bedain operasi sama amputasi!” gerutu Ipul masih meraung-raung kesakitan.


“Iya ini, Bapak malu-maluin saja!”


“Lah lah ... kalian kok malah marah-marah ke Bapak? Memangnya sebelumnya kalian tahu juga, apa bedanya amputasi sama operasi?” balas Sukat masih tidak mau disalahkan.


Ipul dan Sumi kompak diam sambil menggeleng pasrah.


“Ehm! Anggap saja itu hadiah, ya, Pul! Dan kalau memang mau diamputasi, ya sudah ... bress saja!” gumam Rina yang diam-diam berkode mata dengan Murni. Di dekat Raswin, baik Murni maupun Raswin sama-sama sibuk menahan tawa. Keduanya sampai menggunakan sebelah tangan untuk menekap mulut demi menghala tawa.


***


Raungan Ipul dan orang tuanya yang terdengar dari dalam, sukses membuat Fina sibuk menahan tawa sambil memegangi perutnya. Pun dengan Rafael yang ternyata sampai menjadi senyum-senyum. Karena tak beda dengan Fina, Rafael juga terlihat sangat bahagia.


Bersambung ....


Hari ini, mau up 2 episode ya.


Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2