Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 54 : Ipul Patah Hati


__ADS_3

“Kalau aku terlalu berharga dan jauh lebih baik dari pria mana pun, ... kenapa mai oli wan lebih memilih si Kafur, Bue?”


Episode 54 : Ipul Patah Hati


“Ya ampun, Ipul ... kamu ngapain masih di situ? Sudah sana pulang! Ya Alloh ...,” tegur Fina sesaat setelah kepergian Rafael.


Baru saja, Rafael langsung berlalu tanpa berkomentar dan sangat kontras dari biasanya. Yang membuat Fina cukup menaruh perhatian pada Rafael, tadi, setelah ikut menatap dan memastikan keadaan Ipul, pria itu mendadak murung. 


“Atau jangan-jangan, ... Rafael sudah telanjur sebal sama Ipul, jadinya dia juga malas menanggapi?” pikir Fina.


Ipul berangsur melipir, membuatnya berdiri di hadapan Fina. Jendela kamar Fina sendiri tingginya sedada Fina. Dan di tengah suasana yang masih remang-remang itu, sosok Ipul yang masih mengenakan pakaian koko ketika pria itu diangkat hingga akhirnya dijatuhkan dan  dibiarkan begitu saja lantaran Ipul mendadak kentut beraroma sangat busuk, benar-benar nyaris tak terlihat. Hanya baju koko warna putih yang tampak jelas. Bahkan jika pria itu tak bersuara, Fina bisa mengiranya sebagai hantu.


“Mai oli wan,” rengek Ipul manja. “Mai oli wan ... harapan terbesar dalam hidupku memang melihat wajahmu di awal aku membuka mata. Tapi ya enggak begini juga. Aku di luar, kamu di dalam sama si Kafur ....”


“Orang kami sudah menikah ... Rafael suamiku, kamu ganggu saja!” keluh Fina mulai terpancing emosi.


“Fin, handukku, mana?” tanya Rafael yang tiba-tiba kembali datang.


Fina langsung balik badan. “Suda aku gantung di kamar mandi sekalian pakaianmu.”


Rafael menatap bingung sekaligus kagum Fina yang ternyata sudah menyiapkan semua keperluannya. 


“Eh dalah, Fin! Lehermu kenapa? Digigitin codot?!” seru Ipul tiba-tiba.


“Apaan sih, rese kamu ah! Sudah sana pergi ... pulang sana!” omel Fina yang sampai menoyor kepala Ipul dengan cukup bertenaga.


Setelah Ipul sampai mental, Fina buru-buru menutup jendelanya kembali.


“Mai oli wan ... aku belum aku masih mau ngobrol ....”

__ADS_1


Setelah berhasil menutup jendela, Fina berangsur melangkah mendekati kasur sambil memijat pelipis berikut punggungnya yang kali ini terasa sangat pegal melebihi ketika ia sedang datang bulan. Fina duduk di bekas Rafael tidur. “Aku enggak sangka kalau malam pertama tubuhku jadi seremek ini ... lebih remek dari nggegendong padi puluhan kilo ...,” batinnya.


“Sembarangan banget si Ipul ... masa iya dia nyamain aku sama codot ...,” batin Rafael yang kemudian kembali fokus kepada punggung Fina. Wanita itu terlihat begitu setres hanya karena menghadapi Ipul. “Kalau kamu memang enggak subuhan, kenapa enggak tidur lagi saja?”


“Mmm ...?” Teguran Rafael refleks membuat Fina menoleh. “Kamu masih di situ? Sudah sana mandi, biar bisa sholat subuh berjamaah di mushola.”


Rafael mengangguk-angguk tanpa berkomentar lagi. “Fina sudah memberiku semuanya ... benar-benar semuanya ... jadi tak seharusnya aku justru kembali memikirkan Sunny yang bahkan sudah bersuami!” batin Rafael yang memarahi dirinya sendiri.


“Tumben si bayi tua enggak bawel apalagi rese? Menurut begitu ...?” pikir Fina yang kemudian memilih untuk membereskan tempat tidurnya. Ia berniat mengganti sprai yang sudah bernoda tersebut dengan sprai yang diambilnya dari lemari.


“Kira-kira ... satu bulan lagi, aku sudah hamil belum, ya?” pikir Fina yang tiba-tiba saja menjadi sangat bersemangat, kendati ia sedang susah payah membuang noda darah yang bahkan masih basah di kasur, menggunakan tisu basah. Noda darah yang menjadi tanda jika beberapa jam lalu, keprawanannya telah hilang dimiliki si bayi tua Rafael.


*** 


Di sepanjang perjalanan, Ipul yang berjalan kaki benar-benar merasa sangat hancur. Ipul patah hati dan sampai ingin mati. Namun, kendati demikian, Ipul juga takut mati. “Tapi masa iya, aku justru mati sedangkan mai oli wan dek Fina ena-ena sama Kafur?” raungnya.


Ipul sampai di rumah. Ia menggedor-gedor pintu rumahnya yang tak biasanya sampai dikunci.


Sumi menatap bingung sang anak sambil menyanggul asal rambut panjangnya yang terurai. “Kamu dari mana? Bukannya tadi baru diurut gara-gara punggungmu retak?”


Karena setahu Sumi, Ipul ada di kamar untuk beristirahat setelah ia dan sang suami datang ke rumah Fina untuk membawa pulang Ipul langsung. Tepatnya, setelah Sumi dan Sukat mendapat laporan dan tetangga yang mengantarkan bandulan kenduri di rumah Fina, dan mengatakan jika Ipul kembali berulah. 


Jadilah, Sumi dan Sukat sepakat menyewa gerobak untuk mengangkut Ipul. Sumi dan sukat bekerjasama mendorong gerobaknya susah payah mengingat tubuh Ipul teramat berat, sedangkan orang-orang tidak ada yang mau membantu mereka, dengan dalih, tubuh Ipul sangat bau.


“Bue ... aku sudah berusaha agar mai oli wan Fina enggak ena-ena sama si Kafur,” tangis Ipul sambil terisak-isak.


Sumi menggeleng tak habis pikir, kemudian merangkul punggung Ipul dan menuntunnya untuk segera masuk. “Ayo, masuk! Kamu ini kenapa masih mengharapkan Fina? Dia sudah menikah, dan kamu terlalu berharga buat Fina, Pul.” Sumi berusaha meyakinkan sambil menuntun Ipul menuju kamar.


“Kalau aku terlalu berharga dan jauh lebih baik dari pria mana pun, ... kenapa mai oli wan lebih memilih si Kafur, Bue?” rengek Ipul tepat ketika mereka akan memasuki kamar Ipul.

__ADS_1


“Ya karena Fina bodoh!” balas Sumi mantap tapa pikir panjang. “Fina itu sangat bodoh, makanya dia enggak bisa melihat ketulusanmu yang sempurna. Sudah, ... lupakan saja Fina. Lagian Bue enggak setuju kalau kamu justru dapat janda ... bekas, Pul!”


Mereka memasuki kamar Ipul yang masih dalam keadaan gelap. Di sana, beberapa pakaian kotor tak hanya menumpuk di sudut kasur, melainkan juga di lantai yang bahkan sampai disertai motor berikut ranjang pengangkut kambing.


Ipul dan Sumi duduk di tepi kasur sambil berhadapan. Ipul menatap saksama mata sang ibu yang masih memberinya wejangan.


“Tapi aku tetap sayang, cinta sama mai oli wan, Bue ... aku hanya mencintai mai oli wan seorang!” Ipul terisak-isak seiring ia yang sampai menunduk. Dan bersamaan dengan tangis Ipul yang pecah, hujan deras juga mendadak menggilas kehidupan.


“Langit saja menangis gara-gara aku patah hati. Jangan sampai rasa sakit gara-gara patah hatiku ini, juga bikin kebo dan kambing-kambingku mati ....”


“Hus ... ya jangan sampai! Kalau kebo sama kambing-kambing mati lagi, ya kita tambah rugi, Pul ....”


Ipul mengabaikan Susi. Ia berangsur meringkuk seiring tangis berikut raungannya yang semakin pecah. “Dek Fina ... mai oli wan ... kenapa kamu begitu bodoh dan masih belum menyadari kesempurnaan cintaku? Aku jauh lebih bisa membahagiakan kamu ketimbang si Kafur, tahu!” raungnya.


Sumi menggeleng sambil menghela napas tak habis pikir. “Ya sudahlah ... biar Ipul nangis sepuasnya. Toh, ... nanti malam si Fina juga pada goewey ... mereka akan minggat semuanya. Jadi lebih baik, aku juga mengunci Ipul di kamar, biar Ipul enggak nekat lagi. Karena kalau Ipul sampai tahu Fina bakalan pindah ke Jakarta, Ipul pasti nekat lagi!” Dengan keyakinan tersebut, Sumi segera mengambil kunci dari balik pintu kamar Ipul, kemudian buru-buru menutup pintu dan menguncinya dari luar. “Aman!” gumamnya lega setelah sampai mencabut kunci dari tempatnya. Ia berlalu begitu saja meninggalkan kamar Ipul yang masih menjadi sumber raungan sangat keras tak ubahnya raungan kucing yang akan kawin.


Bersambung .....


Hallo, sudah baca Ipul patah hati? hahaha


Sampul baru, ya! Manis! Semoga kalian syuka. Author pesan khusus ini ke desain cover 😂😂😂


Buat kalian yang punya bayangan sosok Ipul, maksudnya ada foto2 visual sesuai apa yang kalian bayangkan, boleh lho, share di grup chat. Author penasaran 😂😂😂


Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya, biar banyak yang baca juga. Ditargetkan untuk selalu up meski sehari sekali. Oh, iya, novel : Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh) hiatus dulu. Author mau fokus garap novel ini, sama Selepas Perceraian Season 3.


Ikuti dan dukung selalu, yaaa.


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2