
“Patner masa depan. Bekerja menjadi istriku. Menikahlah denganku!”
Episode 26 : Terpuruk
“Nona Sunny sudah menikah.”
“Hari Minggu kemarin, di salah satu hotel ternama di Bandung. Dan sekarang, ... sekarang Nona Sunny tinggal bersama suaminya.”
Suara itu, ... penegasan yang dipenuhi sopan santun, tak hentinya terngiang di ingatan Rafael. Dan bersamaan dengan itu, ... bersamaan dengan penegasan perihal kabar terbaru Sunny yang ia dapat dari orangnya, kemarahan Rafael semakin memuncak. Emosi pria itu mendidih seiring rahangnya yang menjadi menegang, membuat gigi-giginya bertautan kencang. Pun dengan kedua tangannya yang kian mengepal kencang. Dan kini, di balik meja kerjanya, Rafael menutup bingkai berukuran sepuluh R berisi foto Sunny. Bahkan tak lama setelah itu, bingkai foto yang baru digeletakkan di meja itu sampai Rafael sempar hingga akhirnya terkapar setelah sampai pecah di lantai.
“Ketika semua wanita yang mendekatiku hanya melihat fisik dan kekayaanku, ... kamu sebagai satu-satunya yang kucintai justru terus menolakku dan sekarang ... sekarang kamu sudah menikah, Sun?” batin Rafael sambil berlinang air mata. Rafael menengadah sambil terpejam. Sungguh, ... jauh di lubuk hatinya, ia sudah berulang kali meronta, berharap kesakitan perihal kabar terbaru Sunny yang begitu menyiksa dan sampai membuatnya terpuruk, segera berakhir. Namun apa daya. Karena jangankan berakhir, yang ada Rafael justru semakin terpuruk.
Rafael benar-benar patah hati. Tak ada lagi semangat apalagi cinta yang tersisa dalam dirinya. Semua perhatian berikut ketulusan yang selama lima tahun terakhir ia tuangkan hanya untuk Sunny, hilang tanpa sisa bersama kabar pernikahan wanita itu. Sunny, ... wanita yang Rafael cintai memang sudah bahagia. Namun wanita itu bahagia bersama pria lain, bukan Rafael. Dan Rafael yang telanjur cinta, benar-benar tidak bisa menerima kenyataan itu. Sebab, Rafael sangat ingin menjadi pria yang bisa bersanding sekaligus hidup bahagia bersama Sunny.
***
Fina masih terduduk di sudut kasur empuknya setelah Rafael meninggalkannya. Dan meski Rafael sampai menyiapkan semuanya termasuk makanan mewah berikut orang yang siap mengubah penampilan Fina, tetapi wanita itu masih menolak. Fina tidak mau menerima apa pun yang Rafael siapkan tanpa terkecuali makanan mewah yang sampai dilengkapi segelas susu rendah lemak, sedangkan sebenarnya, Fina sudah sangat lapar. Fina hanya akan menerima semua itu setelah Rafael memberinya kejelasan, termasuk kebebasan yang tiba-tiba saja, turut pria itu renggut. Sebab kini, bukan hanya tiga wanita yang siap mengubah penampilan Fina. Karena seorang pria bertubuh tinggi kekar tak ubahnya pengawal pribadi, juga terjaga untuk Fina dan siap menjaga Fina selama dua puluh empat jam sesuai titah yang Rafael berikan.
Jadi, demi mengatasi semua hal tersebut, Fina berniat menghubungi Rafael. Ia yang duduk di sebelah nakas keberadaan ransel berikut ponsel yang ada di atasnya, segera mengambil ponsel tersebut untuk menghubungi Rafael. Namun, sial begitu sial, baru juga Fina meraih ponsel tersebut, pesan WA masuk dari kontak Ipul sukses membuat Fina kaget dan refleks menjatuhkannya.
“Kok, si Ipul bisa WA aku lagi, sih?” gumam Fina yang kemudian jongkok untuk mengambil ponselnya. “Ya ... tambah pecah, deh ...,” sesalnya menatap sedih ponselnya yang tampilan layarnya menjadi semakin jelek. Namun, demi mengakhiri rasa penasarannya atas kenyataan Ipul yang justru mengiriminya WA, padahal seharusnya pria itu dipenjara, Fina menggunakan ponsel itu untuk memastikannya.
Di pesan yang dikirim oleh Ipul, ada kiriman dua foto yang masih berputar-putar belum terunduh. Sedangkan di bawahnya, ada pesan yang tertulis.
--Dek Fina sayang ... akhirnya Mas dibebaskan. Bapak sama Ibu Mas enggak rela lihat Mas dipenjara. Terlebih mereka sudah sangat ingin melihat kita duduk manis di depan penghulu, mendoakan kita jadi keluarga samawa. Tak apa jika kambing-kambing Mas harus digiring tuntas buat nebus Mas di penjara. Asal Dek Fina selalu sama Mas, ... jangankan kambing, ribuan kerbau pun bisa Mas beri buat Dek Fina. Tunggu Mas pulang, ya! lope lope ... Dek Fina mai oli wan!--
“Mai oli wan? Dan sekarang, dia manggil aku Dek ...? Ipul beneran sinting! Hih!” gumam Fina yang memang bergidik merasa ngeri.
Dan keadaan Fina menjadi semakin kacau lantaran tiba-tiba, sebuah jemari mengambil alih ponselnya. Rafael. Pria itu datang setelah hampir empat jam meninggalkan Fina.
__ADS_1
Rafael menatap layar ponsel Fina dengan saksama di tengah keadaannya yang memang sampai jongkok di hadapan Fina, bahkan sebelah lututnya sampai bertumpu di lantai.
Yang membuat Fina bingung, sejak kapan Rafael ada di sana? Kapan pria itu datang?
“Ipul, ... ditebus?” ucap Rafael tak percaya sekaligus tak bersemangat.
“Sepertinya begitu,” balas Fina yang memang menjadi kesal lantaran ujung-ujungnya, Ipul keluar dari penjara dan otomatis, pria itu akan kembali menggangunya. Dari pesan yang pria itu kirimkan saja, Ipul terlihat semakin menggila. Dan kini, setelah Rafael mengembalikan ponselnya, ia mendapati kiriman foto Ipul. Dua foto tersebut berisi foto Ipul bersama dua orang polisi. Dan di kedua foto tersebut, ketika Ipul terlihat begitu girang menjulurkan lidah, kedua polisi yang di belakangnya terlihat sangat tersiksa dan keduanya kompak memipat hidung.
Rafael menghrla napas. “Kamu sampai menyimpan nomornya?” lanjutnya masih tak bersemangat.
Setelah mendengkus, Fina yang sampai menatap sebal Rafael pun berkata, “sudah berulang kali aku blokir, tapi sebanyak itu juga dia ganti nomor.”
Sambil bangkit dan mengakhiri jongkoknya, Rafael berkata, “kalau begitu, kamu juga harus ganti nomor.” Kemudian ia menatap keempat orangnya yang berdiri berjejer di belakangnya. “Tolong tinggalkan kami,” pintanya.
Keempat orang tersebut langsung membungkuk sopan sebelum kepergian mereka. Dan Fina yang menyadari hal tersebut juga berangsur mengakhiri jongkoknya.
Rafael yang awalnya melepas kepergian keempat orangnya, memastikan keempatnya benar-benar menutup rapat pintu kamar keberadaannya, berangsur menoleh dan menatap Fina. Namun sebelum itu, tatapannya sempat berhenti pada nampan berisi menu makan untuk Fina yang masih utuh di meja rias.
“Aku enggak mau makan dan menerima semua perintahmu, sebelum kamu menjelaskan semuanya, sejelas-jelasnya!” ucap Fina yang menyadari Rafael mempermasalahkan nampan berisi makanan untuknya.
“Aku akan menjelaskan sejelas-jelasnya kepadamu.” Rafael menatap serius Fina sambil mengantongi kedua tangannya di saku sisi celananya. Sekali lagi, ia kembali menghela napas tanpa mengurangi apalagi mengakhiri keseriusannya.
Fina balas menatap serius pria gagah di hadapannya yang kali ini mengenakan setelan jas berwarna biru tua. “Iya. Jelaskanlah.”
“Patner masa depan. Bekerja menjadi istriku. Menikahlah denganku!” ucap Rafael tanpa keraguan.
Fina yang menyimak dibuat menggeragap saking bingungnya. Namun, di balik keseriusan Rafael, pria itu terlihat sedang menyimpan banyak luka. Mata Rafael saja terlihat merah bahkan sembam. Apakah Rafael baru saja menangis bahkan dalam waktu lama? Pikir Fina.
“Aku serius, ingin menikahimu!” tegas Rafael kemudian. “Mari kita menikah saja. Mengakhiri semuanya!”
__ADS_1
Fina yang terkejut refleks menelan ludah. “K-katakan kepadaku, ... kenapa kamu bersikeras menikahiku, sedangkan kamu tahu, keadaanku? ... bahkan kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku, kan?”
Fina sampai genetaran saking tegangnya. Dan anehnya, hatinya juga sampai berdebar-debar.
“Karena aku tidak mungkin mencintai, ... sedangkan aku diharuskan untuk secepatnya menikah. Dan kamu ... kamu dengan semua luka sekaligus bebanmu. Aku akan memberikan semuanya termasuk banyak uang untukmu asal kamu mau menikah, selalu di sisiku! Kita sama-sama membutuhkan, Fin!” balas Rafael yang memang masih merasa sangat terluka akibat kabar terbaru Sunny.
“T-tapi, Raf ....”
“Kebahagiaan orang tuamu akan menjadi taruhannya. Tidak ada kebahagiaan termasuk uang yang tiba-tiba datang apalagi jatuh dari langit, kan?” Rafael menatap sinis Fina.
Tiba-tiba saja, kepala Fina menjadi pening.
“Lima detik dari sekarang, ... kamu harus bilang ya!” tuntut Rafael kemudian tanpa menatap Fina. Ia menghela napas pelan sambil menganati situasi sekitar, demi mengurangi rasa sakit di hatinya yang sampai membuat dadanya terasa sangat sesak akibat pernikahan Sunny.
“Jangan lima detik,” pinta Fina memohon dan sampai menangis.
“Baiklah. Aku yakin kamu setuju. Kebahagiaan keluarga nomor satu, kan? Dan selain itu, aku juga akan memulihkan nama baikmu termasuk hubunganmu dan orang tuamu.” Rafael kembali menatap serius Fina.
“Kebahagiaan keluarga, nama baik, termasuk hubunganku dengan keluargaku? Benarkah Rafael akan memberikan semua itu? Demi Tuhan Fina ... kamu benar-benar masuk ke dalam drama! Rafael mengajakmu berperan dalam dramanya!” batin Fina masih tidak percaya. Sedangkan Rafael yang ada di hadapannya, masih menatapnya dengan banyak luka. Sebenarnya, ... pria itu kenapa? Apakah Rafael sedang sangat patah hati?
Dan jika memang Rafael bisa memberikan semuanya, Fina memang tidak mungkin menolak.
Bersambung ....
Buat yang sudah baca, tolong tinggalkan jejak kalian, yaaa
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1