Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 30 : Makan Malam : Bagian 1


__ADS_3

“Raf, ... aku muslim. Dan aku enggak bisa makan sembarangan apalagi mengenai daging. Aku makan sayuran saja. Kalau bisa sih, enggak ikut makan. Takut tersedak dan justru malu-maluin,”


Episode 30 : Makan Malam : Bagian 1


Tidak ada rekayasa. Semuanya berjalan dengan sendirinya. Layaknya air yang akan selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah.


Baik Rafael maupun Fina benar-benar mengikuti kata hati mereka. Mereka yang sama-sama butuh, juga ... mereka yang sedang berjuang mengobati luka hati yang bahkan telanjur membuat mereka trauma.


Rafael memimpin perjalanan. Sedangkan Fina yang terpaut tak kurang dari dua jengkal, selalu siaga mengikuti. Jadi, ketika Rafael sekadar memelankan langkah sekalipun, Fina juga akan langsung menyeimbangi.


Yang Fina bingungkan, kenapa orang kaya sekelas Rafael sampai tidak disertai pengawal? Hanya ada seorang pengawal pria yang tadi sempat terjaga untuk Fina, yang mengikuti mereka. Pengawal pria yang Rafael bilang akan membantu sekaligus melindungi Fina, ketika Rafael tidak ada.


Sedangkan mengenai ketiga wanita yang mengubah penampilan Fina dan masih di kamar hotel Fina ditampung Rafael, Rafael bilang, selanjutnya, ketiganya juga akan tetap bekerja membantu Fina.


***


Ternyata, mereka tak lantas meninggalkan hotel. Karena setelah keluar dari lift, bukannya ke arah keluar, mereka justru menuju sebuah ruangan SUPER VIP layaknya keteran di area sana.


“Jadi, ... acaranya masih di sini?” tanya Fina yang seberanya sudah sangat penasaran. Apakah di acara nanti, akan banyak minuman beralkohol dan akan dituangkan pada gelas wine berkaki panjang, layaknya ketika ia membaca cerita-cerita kehidupan orang kaya di komik, berikut menontonnya di layar kaca?


“Acara makan malamnya benar-benar privasi. Kamu enggak usah setegang itu,” tegur Rafael yang sampai menghentikan langkahnya.


Fina yang ikut menghentikan langkahnya pun menatap heran Rafael bersama bayangan perihal makan malam, yang seketika berakhir dari pikirannya. “Memangnya, ... aku terlihat tegang juga? Padahal, kamu yang sampai keringetan begitu?” ucapnya yang justru balik bertanya.


Wajah Rafael tak hanya berkeringat. Sebab pria itu juga sampai terlihat pucat. Rafael terlihat sangat tegang bahkan kali ini sampai menjadi menggeragap. Dan kali ini, tiba-tiba saja Rafael justru membingkai wajah Fina, menatap kedua manik mata wanita itu penuh keseriusan. Dan apa yang Rafael lakukan sukses membuat Fina sangat tegang. Bahkan jantung Fina menjadi berdegup sangat kencang.


“R-raf ...?” Bagi Fina, Rafael terbilang sulit dimengerti. Terlebih, pikiran dan perasaan Rafael juga gampang


berubah.


“Ingat. Yakinkan orang tua dan juga kakekku, kita benar-benar serius akan menikah secepatnya!” tegas Rafael. Meski caranya membingkai wajah Fina tak ubahnya pasangan yang akan melayangkan ciuman, tetapi melalui keadaan sekarang, ia hanya mencoba meyakinkan sekaligus memberikan dukungan agar wanita itu berhasil menjalankan misi mereka.


Sebab, Rafael telanjur parno. Pria itu tidak mau hidupnya sampai terjebak dalam perjodohan. Dan meski hidup dengan Fina juga tidak akan begitu berbeda dengan hidup menjalani perjodohan, tetapi bersama Fina, Rafael merasa bisa berkomunikasi bahkan menjadi teman yang baik.


“S-secepatnya? Bagaimana dengan perceraianku? Bahkan meski aku sudah bercerai, aku juga enggak bisa langsung menikah. Aku harus menjalani masa iddah, kan?”


Rafael tidak paham dan merasa asing dengan kosa kata terakhir yang Fina ucapkan. “Masa iddah itu apa?” tanyanya sambil menatap Fina dengan mengernyit.


Pertanyaan Rafael sukses membuat Fina menelan ludah. Dan bersamaan dengan itu, kedua matanya menatap saksama setiap lekuk wajah Rafael. Pria bermata sipit dan memiliki alis tebal tegas itu bahkan memiliki warna kulit yang jauh lebih terang dari Fina.

__ADS_1


Rafael terlihat jelas memiliki darah thionghoa. Pertanyaannya, apa agama Rafael? Fina tidak yakin jika Rafael juga beragama sama denganya. Dan jika dugaan Fina benar, langkah mereka menuju pernikahan juga akan semakin sulit.


Ketika Fina dan Rafael masih bertatapan kendati pemikiran mereka menyelami pertanyaan berikut ketakutan masing-masing, seseorang justru membuka pintu tempat keduanya terjaga, dari dalam.


Rafael dan Fina refleks menoleh. Fina sudah langsung menahan kedua tangan Rafael dan menuntun pria itu untuk mengakhiri bingkaian tangannya, tetapi Rafael justru tidak peka dan masih saja membingkai wajah Fina.


Raden yang ada di balik pintu ruang yang akan Fina dan Rafael kunjungi, menatap tak habis pikir Rafael. “Kamu ini ya, Raf ... makanan sudah sampai datang, kamu baru muncul.”


Teguran Raden sukses membuat Rafael terperanjat. Rafael menjadi salah tingkah dan sebisa mungkin mencoba menguasai diri sambil sesekali berdeham bahkan menghela napas pelan. Lain halnya dengan Fina yang segera menunduk untuk menyalami Raden.


Raden tersenyum kagum menanggapi sopan santun Fina. Dan lantaran Rafael tak menyusul menyalaminya juga, bahkan ia sudah sampai menyodorkan tangan kanannya, ia pun menepuk wajah cucu pria semata wayangnya itu tak ubahnya sengaja menepuk nyamuk juga lalat.


“Ya ampun, Kek ... sakit!”


Ketika Rafael terdiam dan jelas menahan kesal akibat ulah Raden, Fina menunduk sambil menahan senyum. Mengagumi kedekatan keduanya yang terlihat begitu dekat layaknha hubungannya dengan Bian, sebelum mereka menikah.


“Sudah dikasih contoh sama Fina, biar lebih sopan, malah diam saja. Sudah, cepat masuk!” tegur Raden kemudian. Ia membuka pintu lebih lebar dan menggiring Rafael maupun Fina untuk segera masuk ke dalam ruangan keberadaannya.


***


Ruang yang baru Fina masuki begitu beraura dingin dan sukses membuat wanita itu perlahan-lahan dikalahkan oleh rasa tegang. Sebab, salain AC di ruangan itu yang terpasang begitu dingin, kedua paruh baya berpenampilan terbilang glamor di sana, langsung menatapnya tak kalah dingin. Fina berpikir, keduanya merupakan orang tua Rafael. Ada garis wajah Rafael yang ia dapati di wajah keduanya yang sampai tampak merah saking putihnya.


Fina benar-benar merasa sangat tegang. Sebelumnya, ia belum pernah merasa setegang sekarang. Terlepas dari itu, sebisa mungkin ia berdiri di sisi Rafael. Ia hanya sedikit di belakang Rafael sambil memasang senyum seramah mungkin.


Fina benar-benar terus tersenyum kendati wanita itu sadar, senyumnya pasti tak kalah terlihat masam bahkan gugup, layaknya perasaanya sekarang.


Ketika sebelah tangan Rafael menyelinap dan mengunci pinggang Fina kemudian menuntunnya, lebih tepatnya memamerkan Fina kepada orang tuanya, Fina merasa jika detik itu juga, neraka dan surga kehidupannya diciptakan. Pintu keduanya berangsur terbuka dan sewaktu-waktu siap menelannya.


“Mom ... Pap ... ini Fina.” Rafael mulai membuka obrolan.


Seperti yang Fina amati, Rafael jauh bersikap lebih sopan kepada orang tuanya dibanding pada Raden yang justru terlihat seperti bersikap kepada temannya sendiri. Karena saat bersama Raden, Rafael tak segan jail bahkan tak jarang menjebak satu sama lain.


Wajah papa Rafael terlihat begitu garang tak ubahnya ketika Rafael sedang marah. Fina yakin, Rafael mendapatkan ekspresi menakutkan itu dari dari sang papa. Sedangkan kali ini, Fina dikejutkan oleh sambutan mama Rafael yang sampai mengulas senyum kepadanya, hingga bibir mungil wanita itu yang bahkan masih terlihat sangat segar mengalahkan bibir anak muda, tertarik ke samping dengan sempurna.


“Fina ... ini, orang tuaku,” lanjut Rafael kemudian sambil menuntun Fina untuk tak berjarak dengannya, melalui rangkulan pinggang yang ia lakukan. Rangkulan pinggang yang Rafael yakinkan akan membuat hubungannya dan Fina terlihat mesra.


Fina merasa ada benderang perang yang ditabuh keras-keras di dalam dadanya, terlepas dari puluhan kembang api bahkan petasan yang meledak-ledak tepat di atas kepalanya. Bertemu orang tua Rafael, ... sukses membuat Fina sangat tegang. Bahkan saking tegangnya, tubuh Fina sempat kaku untuk beberapa detik.


“Fina ... jangan sampai gagal! Ayo ... ayo, kamu bisa!” batin Fina berusaha menyemangati dirinya sendiri. Ia berangsur menghela napas dan berusaha sesantai mungkin.

__ADS_1


“Ayo, semangat! Daripada hidupmu direcokin terus sama Ipul, lebih baik perang melawan tegang sekarang, bahkan meski nantinya kamu akan mendapat cibiran atau malah tanggapan enggak menyenangkan!” Sekali lagi, Fina masih menyemangati dirinya sendiri, melawan ketegangan yang juga berusaha menyelimuti bahkan melilitnya lebih erat.


“Malam Om, ... Tan ...?” ucap Fina akhirnya. Terus memasang senyum sambil membungkuk sopan.


“Akhirnya ...,” batin Rafael sambil mengembuskan napas lega lantaran Fina berani menyapa orang tuanya.


Ketika mama Rafael balas mengulas senyum, tanggapan papa Rafael masih saja datar. Pria berwajah galak berkacamata min itu hanya melirik beberapa detik pada Fina.


Raden yang mellihat ketegangan itu langsung meminta Fina untuk duduk. Dan Fina langsung duduk dituntun Rafael yang sampai menarikkan kursi untuk Fina duduk.


Di ruangan kebersamaan mereka tak ubahnya restoran mini. Tiga orang koki tampak meracik di ujung belakang sana, sedangkan tiga orang pelayan berdatangan menghidangkan air minum kemasan botol kaca.


Di meja keberadaan mereka sudah tersaji beberapa makanan. Ada sepiring steak yang masing-masing tersaji bersama rebusan sayuran seperti potongan wortel, buncis dan brokoli selain saus berwarna cokelat yang menyelimuti.


Fina jadi bertanya-tanya, apakah semua makanan di sana aman dan bisa ia konsumsi? Jadi, dari pada ia salah, ia yang masih memasang senyum sengaja berbisik di sebelah telinga Rafael.


“Ini daging apa?” bisik Fina.


Rafael yang sudah memegang garpu berikut pisau dan mengarahkannya pada steak miliknya, menjadi mengernyit. “Kenapa?” balasnya ikut berbisik tanpa sampai menoleh terlebih Fina masih berada tepat di sebelah telinganya.


“Raf, ... aku muslim. Dan aku enggak bisa makan sembarangan apalagi mengenai daging. Aku makan sayuran saja. Kalau bisa sih, enggak ikut makan. Takut tersedak dan justru malu-maluin,” bisik Fina lagi.


Rafael terdiam untuk beberapa saat. Mengenai pengakuan Fina perihal wanita itu yang muslim. Dulu, Sunny juga begitu. Jadi, meski Rafael memang non-muslim, Rafael cukup tahu apa yang harus ia lakukan pada Fina karena ia sudah memiliki pengalaman ketika mendekati Sunny.


“Ini steak sapi. Aman,” bisik Rafael kemudian.


Meski tidak tahu perihal apa yang dibahas Rafael dan Fina, tetapi interaksi keduanya sukses menyejukkan mata sekaligus hati Raden. Pun untuk kedua orang tua Rafael yang urung menyantap steak kendati tangan mereka sudah memegang garpu dan pisau. Mey--mama Rafael kembali tersenyum, sedangkan Burhan--papa Rafael masih dengan wajah dinginnya.


Ketiganya, terus mengamati gerak-gerik Rafael dan Fina.


Bersambung ....


Nanti, ceritanya bakalan ada sedikit unsur religinya. Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya. Like, komen, sama votenya, Author tunggu.


Selamat siang dan selamat menjalankan aktivitas. Tetap jaga kesehatan kalian dan yang enggak bisa #dirumahaja, harus tetap jaga-jaga 💜


Salam Sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2