Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 51 : Fobia yang Aneh


__ADS_3

“Aku beneran enggak bisa makan yang masih mirip sama nasi, Fin. Jangan main-main, kalau aku sampai pingsan bagaimana?”


Epiaode 15 : Fobia yang Aneh


Rafael memelankan langkahnya ketika mendapati Fina berdiri di depan meja dapur. Di meja dapur yang dipenuhi pacitan berikut aneka makanan lainnya, termasuk nasi dan lauk-pauk tersebut, Fina sedang mengaduk kopi hitam.


Ada lima gelas kopi hitam yang masih mengepulkan asap dengan aroma wangi begitu kuat, dan kemudian Fina taruh di atas lambar, sebelum akhirnya diletakkan di nampan yang Rina sodorkan.


“Sudah, ... kasih ke pak Otoy sama pak Didin, sisanya taruh di meja sebelah buat yang rewang, sekalian nanti dibawakan lemper sama pacitan juga,” ucap Fina.


“Oke, Mbak,” balas Rina sambil berlalu membawa nampan berisi kopi dengan hati-hati.


Rina keluar dari dapur menuju pintu samping. Dan di luar sana, beberapa wanita juga masih terdengar suaranya berbarengan dengan suara air yang mengucur, selain suara perabotan yang saling berdenting. Rafael yakin, salah satu atau beberapa dari mereka, sedang mencuci perabotan.


“Baru dua hari di sini, Didin dan Otoy sudah tambah hitam. Jangan kasih mereka kopi hitam terus. Nanti kalau istri mereka sampai enggak mengenali gara-gara Didin sama Otoy makin hitam, bagaimana?” tegur Rafael.


Fina hanya tersenyum sambil menggeleng tanpa menatap Rafael. “Biar enggak ngantuk, Raf.”


“Kalau memang ngantuk ya enggak bisa diganggu gugat. Yang ada bukannya melek, perut mereka justru tambah buncit bahkan kembung,” balas Rafael.


“Kalau kembung, pasti enggak akan mereka minum,” balas Fina dengan santainya sambil membereskan piring-piring di meja.


Bagi Fina, meski pengertian, tetapi Rafael terbilang rese. Rafael merupakan orang yang tergolong perfeksionis.


Fina mengambil beberapa kantong dari dus di bawah meja untuk mengantongi sebagian pacitan di meja.


Setelah sampai memelankan langkah hanya karena sengaja mengamati Fina yang begitu cekatan beres-beres, bahkan kali ini Fina sampai meraih sapu dan tampaknya akan menyapu lantai dapur yang terbilang kotor, Rafael pun melanjutkan langkahnya untuk mendekati wanita itu.


“Seharian ini sudah sibuk banget, memangnya enggak capek?” ujar Rafael sembari menyimpan kedua tanganya di sisi celana bahan berwarna hitam yang dikenakan. Ia berhenti tepat di belakang Fina yang mulai menyapu.


Fina menoleh dan menengadah, menatap Rafael sambil terus menyapu menuju pintu samping dapur di hadapannya yang masih dibiarkan terbuka. “Nanggung ... biar cepat beres.”


“Memang paling ribet, ya, kalau ada acara besar, bahkan sekadar syukuran?” ujar Rafael kemudian sambil mengamati suasana meja yang sudah jauh lebih rapi.


Fina yang sudah beres menyapu, segera menyisikan sapunya, kemudian masuk ke kamar mandi yang keberadaannya ada di lorong seberang meja makan.


“Fin, ... makanan sebanyak ini dibagi-bagikan saja,” ucap Rafael sambil menoleh dan menatap Fina yang baru kembali dari kamar mandi dengan tangan yang basah. Rafael yakin, istrinya baru saja cuci tangan.


“Iya, ... itu saja mau aku bagikan kepada yang rewang,” balas Fina sambil mengeringkan tangannya menggunakan beberap helai tisu yang baru ia ambil dari meja. “Kamu mau makan apa?” tanyanya sambil menatap Rafael.


Rafael menggeleng. “Aku kalau lihat makanan terlalu banyak, justru jadi langsung kenyang sebelum makan.”


Fina menertawakan balasan Rafael. “Tapi iya, sih. Aku juga gitu. Tapi kalau ada kue-kue gini rasanya sayang kalau enggak makan. Nih, ... ini moci khas sini. Kue ku, arem-arem, lemper, lapis, wajik, sempora ada cucur juga. Apem. Dan semua ini disebut pacitan.”


Rafael menyimak saksama apa yang Fina jelaskan. Bahkan semakin lama, raut wajahnya menjadi semakin serius. “Kamu bisa buat semua kue ini, juga?”

__ADS_1


“Memangnya kenapa?” balas Fina sambil memakan kue kukus berbahan tepung ketan dan kelapa parut muda. Kue yang Fina bilang bernama sempora itu memiliki perpaduan dua warna dengan warna bawah yang jauh lebih berdominan, sedangkan atasnya hanya sebatas untuk mempercantik saja.


“Iya. Kalau bisa, nanti bisa jadi bagian proyek di hotel. Nanti, mama yang bakalan kasih arahan ke kamu,” jelas Rafael yang sampai meraih satu-persatu kue di piring.


“Oh, gitu? Boleh ... boleh.” Fina menjadi bersemangat mendengar tawaran Rafael.


“Sudah, jangan hanya diamati, sekalian icip-icip!” Fina langsung menyuapkan sepotong kecil kue sempora yang sedang dimakan, pada Rafael.


Awalnya, Rafael mengunyah tanpa beban. Namun lama-lama, raut wajah pria itu menyiratkan rasa tidak nyaman. “Kok rasanya aneh, ya, Fin?”


“Aneh gimana? Enggak enak?” balas Fina. “Masa iya, tepung ketan pun, enggak doyan, hanya karena masih berbahan beras?” batinnya.


Rafael bergidik dan buru-buru menarik beberapa helai tisu untuk menampung lepehan kue sempora dari mulutnya.


Fina menatap bingung Rafael.


“Ini tepung ketan?” tebak Rafael sambil membuang tisu lepehan kue semporanya ke tempat sampah di depan pintu samping dapur.


Setelah kembali dari membuang tisu berisi lepehannya, sepiring pisang masak di meja menjadi pilihan Rafael. Rafael buru-buru mengupasnya dan kemudian memakannya.


“Aku beneran enggak bisa makan yang masih mirip sama nasi, Fin. Jangan main-main, kalau aku sampai pingsan bagaimana?” keluh Rafael sambil memenuhi mulutnya dengan pisang.


Wajah Rafael menjadi sangat merah. Ada ketakutan yang begitu besar dan terpancar nyata di sana. Kenyataan tersebut pula yang membuat Fina merasa sangat bersalah. Fina bahkan sampai menaruh sisa potongan kue yang awalnya masih ia pegang menggunakan tangan kanan, di meja begitu saja.


Fina meraih kulit pisang yang Rafael tahan, kemudian menahan kedua lengan Rafael, di mana dengan sendirinya, Fina juga menyandarkan tubuhnya pada tubuh Rafael.


Dengan wajah yang dipenuhi rasa kesal sekaligus ketakutan, Rafael sama sekali tidak mengindahkan permintaan maaf Fina yang sampai menyandar padanya. Rafael bahkan menatap lurus ke depan tanpa melirik Fina sedikit pun. Membuat Fina yang menyadaro Rafael belum bisa memaafkannya, menjatuhkan kulit pisangnya begitu saja.


“Kenapa fobia Rafael begitu aneh? Masa ia takut ke nasi?” batin Fina.


***


Langkah tergesa yang dikuasai amarah Ipul berangsur memelan, bahkan benar-benar berhenti, ketika pria itu mendapati Fina justru sedang menyandar manja pada Rafael.


“Mai oli wan!” bentak Ipul kemudian.


Fina berangsur menyudahi sandarannya. Ia menatap Ipul dengan cukup berjaga. Pun dengan Rafael yang melakukan hal serupa. Rafael bahkan sampai mrmbelakangi Fina dan berjaga untuk wanita itu.


Dengan napas yang memburu, Ipul kembali melanjutkan langkah menghadapi Rafael penuh amarah. Pun meski pada kenyataannya, di langkah ke dua, ia justru menginjak kulit pisang dan sukses membuatnya terpeleset.


“Bedebah!” seru Ipul seiring tubuhnya yang terbanting dan berakhir terlentang di lantai dapur yang masih berminyak.


Fina dan Rafael langsung terbahak-bahak. Bahkan keduanya buru-buru keluar dari dapur, membiarkan ibu-ibu yang masih rewang, memastikan keadaan Ipul.


“Ya ampun Pul Pul ... insyaf kenapa?”

__ADS_1


“Sudah tua, bukannya mikir, eh bikin onar terus.”


“Kalau gitu, mendingan kamu pulang sana.”


“Iya. Pulang saja. Sebentar lagi kendurinya dimulai. Kalau kamu bikin onar, mana kusyu baca doanya.”


“Duh Gusti ... punggungku remuk ... encok ... tolongin dong ... kok kalian tega banget!” keluh Ipul yang bahkan sampai tidak bisa bergerak.


Mau tidak mau, ke empat ibu-ibu yang melongok keadaan Ipul dari pintu pun bertindak. Meski tak lama ketika keempatnya akan mengangkat tubuh Ipul, Rafael melarang dan memanggil Otoy berikut Didin yang duduk di teras depan rumah Fina, untuk mengambil alih.


Didin dan Otoy siap mengangkat tubuh Ipul. Didin yang memiliki tubuh lebih kecil sengaja mengangkat bagian kaki, sedangkan Otoy yang memiliki tubuh tegap, terjatah untuk menenteng dari ketiak Ipul.


Tubuh Ipul diangkat keluar dari dapur dan masih dikerumuni keempat ibu-ibu yang rewang, berdiri di depan pintu, berikut Rafael dan Fina yang masih menyertai.


Namun, tepat ketika baru meninggalkan area samping dapur, Ipul yang tiba-tiba kentut dengan aroma begitu busuk, sukses membuat Didin dan Otoy yang tidak tahan, menjatuhkan tubuh Ipul begitu saja.


“Ya ampun busuk begini, Pul! Kamu habis makan apa?!”


“Bahkan lebih busuk dari bau bangkai!”


“Kami angkat tangan, Bos. Enggak lagi-lagi!”


“Iya, Bos ... perut saya sampai mual lagi!”


Otoy dan Didin kabur, menyusul jejak ke empat ibu-ibu yang rewang, berikut Fina dan Rafael yang langsung bubar. Mereka yang kompak memipat hidung, berangsur menepi. Fina dan Rafael kembali masuk ke dapur dalam rumah, sedangkan keempat ibu-ibu yang rewang, memilih menepi ke ujung dapur dadakan beratap tenda biru. Keempatnya kembali bahu-membahu mencuci perabotan yang tinggal wajan dan panci berukuran besar.


“Pae .... Bue ... tolong aku!”


Tangis Ipul yang meraung-raung, membuat bapak-bapak yang akan memulai kenduri sibuk memastikan. Benar-benar hanya memastikan lantaran mereka sudah muak dengan ulah Ipul yang bahkan baru saja menolak mentah-mentah nasehat mereka.


Bahkan mereka yang sampai keluar rumah, hanya sebatas melongok dan buru-buru kembali masuk rumah.


“Ya ampun ... kenapa kalian jahat banget?” raung Ipul terdengar sangat nelangsa.


***


Di dalam dapur, Fina yang kembali berdiri bersebelahan dengan Rafael, menjadi dilanda tegang. Bukan perkara Ipul yang sepertinya memang tidak akan ada titik akhir atas ulah gila pria tersebut. Melainkan perkara hubungannya dengan Rafael. Mereka sudah menikah. Bahkan syukurannya pun sedang dimulai.


Namun, apakah selanjutnya mereka akan melakukan hubungan suami istri? Hubungan mereka benar-benar akan nyata, kan? Fina bukan sebatas patner masa depan yang harus bekerja menjadi istri Rafael? Memikirkan semua itu, ada kecemasan luar biasa yang menyertai ketakutan Fina. Semoga, Fina benar-benar menjadi istri Rafael sepenuhnya.


Bersambung ....


Ikuti dan dukung ceritanya, yaa .. like, komen, vote juga.


Salam santun,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2