
“Ya sudah. Begitu lebih baik. Tapi ingat, Nak Rafael. Kamu harus benar-benar menjaga Fina. Tidak perlu yang berlebihan, asal kalian saling melengkapi sekaligus menghargai, itu sudah lebih dari cukup!”
Episode 42 : Mendadak Menikah
Marah, masih menjadi satu-satunya hal yang Rafael rasakan. Bahkan, pria itu sama sekali tidak bisa menyembunyikannya. Rafael juga yakin, kini wajahnya sudah terlihat bengis bahkan sangat menakutkan.
Andai, Rafael tidak ingat jika wanita di sebelahnya jauh lebih terpukul, ... juga, perihal keluarga Fina, mungkin Rafael sudah bertindak kasar. Tak sekadar melakukan kekerasan fisik, melainkan juga melaporkan tindakan ketiga pria yang kali ini menggiringnya menuju ruang rawat Raswin, ke polisi.
Rafael dan Fina akan menjalani pernikahan dalam hitungan beberapa menit lagi sesegera mungkin. Dan ketika mereka sudah sampai di depan ruang rawat Raswin, Fina masuk lebih dulu sedangkan Rafael tinggal di luar bersama ketiga pria yang menyertai kepergian mereka.
“Beri dia waktu untuk membicarakan pernikahan ini kepada keluarganya,” ucap Rafael dan memang belum sudi menatap wajah ketiga pria di sekitarnya. Ketiga pria yang sama-sama memakai jubah berikut peci berwarna senada.
Rafael bersedekap dengan dada yang tiba-tiba saja terasa sangat sesak. Tak tega rasanya membiarkan Fina mengurus apalagi menanggung semua beban sendiri, sedangkan apa yang terjadi pada mereka juga bermula dari Rafael. Karena andai Rafael bisa menahan diri untuk tidak menemui Fina dini hari ini juga, pasti pernikahan mendadak kali ini juga tidak akan terjadi.
“Sebentar ...,” ujar Rafael yang kemudian memilih masuk menyusul Fina.
Ketiga pria yang menyertai mengangguk setuju melepas kepergian Rafael.
***
Ternyata, di dalam, Fina masih kebingungan dan malah meratapi wajah ketiga orang yang masih terlelap di sana. Dan mendapati itu, Rafael yang sempat terdiam sekaligus berhenti melangkah, segera menyusul.
Rafael tahu, selain sangat terpukul sekaligus bingung, Fina pasti juga merasa sangat bersalah pada keluarganya. Bahkan, bisa jadi, jika kali ini, Fina juga sedang merasa berada di titik paling buruk.
Rafael yang sudah berdiri di belakang Fina, dengan jarak tak kurang dari satu jengkal, berangsur menghela napas dalam. Sebab, melihat Fina yang sedang terlihat menyedihkan layaknya sekarang, membuat dada Rafael terasa sangat sesak. Rafael sendiri tidak tahu kenapa itu sampai terjadi? Dan bahkan karena itu juga, emosi Rafael menjadi berangsur surut.
“Kamu yang bangunin mereka, nanti biar aku yang bilang,” lirih Rafael yang mencoba berlapang dada. “Maaf, Fin ... aku enggak tahu kalau dampaknya sampai separah ini.”
Fina yang terisak-isak, berangsur menyeka air matanya menggunakan punggung jemari kedua tangannya tanpa membalas atau sekadar melirik Rafael.
Satu hal yang membuat Fina merasa beruntung untuk khasus yang menimpanya kali ini. Pertama, mengenai Rafael yang tetap bertanggung jawab. Pria itu tidak cuci tangan apalagi lari. Juga, ... Rafael yang akhirnya akan menjadi mualaf. Dan Fina sadar, bersedih-sedih tanpa melakukan perubahan juga tidak akan mengubah keadaan bahkan sekadar perubahan kecil.
“Kamu serius bantuin ngomong. Awas saja kalau enggak!” gerutu Fina dan kali ini sengaja menggunakan telapak tangannya untuk mengelap tuntas air matanya. Ia mengatakan itu tanpa menatap atau sekadar melirik Rafael yang ada di belakangnya.
“Iya ....” Rafael masih terjaga di belakang Fina dan berusaha bersikap setenang mungkin. Menjalani sekaligus menyelesaikan masalah yang ada dengan pikiran jauh lebih tenang.
__ADS_1
Akan tetapi, Rafael mendadak berpikir, benarkah yang tengah menimpa mereka masalah? Bukankah apa yang terjadi justru berkah? Rafael ingin secepatnya menikah agar tidak terjebak dalam perjodohan, kan? Juga ... Rafael yang akhirnya akan mengenal Tuhan? Sang pemilik kehidupan yang selama ini Rafael lupakan?
Pertama-tama, Fina yang sampai membungkuk, berangsur membangunkan Murni. Fina menepuk-nepuk pelan lengan sang ibu dan sukses membuat wanita itu bangun.
“Bu, Maaf ... Rafael mau membahas hal serius,” ucap Fina kemudian dengan keadaannya yang masih membungkuk di hadapan Murni.
Dan dengan dada yang berdebar-debar, Fina berangsur mundur, memberi Rafael tempat untuk mengutarakan tujuan mereka.
Rafael yang tiba-tiba saja merasa tegang juga menjadi cukup gugup. Dengan kenyataannya yang semakin gugup bahkan dadanya semakin berdebar-debar, ia pun menghela napas dalam. “Bu, maaf ... kabar dari kami pasti akan membuat Ibu sekeluarga sangat terkejut.”
Ketika Rafael memulai untuk meminta restu, Rina yang merasa cukup terganggu dengan suara Rafael berikut Fina yang berbisik-bisik, memilih membuka mata untuk memastikan. Cukup terkejut, lantaran Rafael benar-benar ada dalam kebersamaan, sedangkan selain waktu yang sedang berlangsung masih sekitar pukul tiga pagi, Fina yang terlihat sangat bersedih bahkan matanya sampai sembam, mendekap perlengkapan sholat miliknya. Rina berpikir, kakak perempuannya itu baru saja shalat malam sejenis tahajud atau istikharah.
Namun, yang membuat Rina terkejut, bukanlah semua itu. Melainkan, ... Rafael yang ternyata sedang meminta restu untuk menikahi Fina secepatnya.
“Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Bu. Demi kebaikan bersama. Sedangkan perihal resepsi, akan segera kami rundingkan.” Rafael masih menunduk sopan.
“Rasanya ... seperti mimpi ... kenapa aku harus menikahi wanita dengan drama seperti ini?” batin Rafael.
Murni yang kebingungan sampai sulit berkata-kata. Baru bangun tidur, sedangkan waktu yang berjalan saja baru lewat pukul tiga pagi, Rafael tiba-tiba datang meminta restu untuk menikahi Fina sekarang juga, sedangkan di luar sana sudah ada tiga orang yang akan memimpin pernikahan.
Sembari bangkit dan bergegas, Murni pun berkata, “ya sudah, ... Ibu bangunkan Bapak dulu.”
Meski merasa bersedih atas pernikahan Rafael dan Fina yang begitu mendadak, tetapi melihat Rafael yang begitu bertanggung jawab, Murni menjadi tidak begitu bersedih karena dengan kata lain, anaknya akan hidup dengan pria yang tepat. Pun meski pada akhirnya, air mata Murni tetap lumer dan bahkan tak hentinya mengalir.
Kemudian, Murni mengutarakan niat baik Rafael kepada Raswin yang ia bangunkan, sambil sibuk menyeka air mata.
Tak lama setelah Murni berbicara, Raswin yang kebingungan refleks menatap Rafael dan Fina, silih berganti.
“Kok mendadak banget?” lirih Rina. “Tapi ... Mas Rafael, ... sudah mualaf?” lanjutnya masih dengan suara lirih.
Baik Rafael maupun Fina memang tidak membahas perihal mereka yang dipaksa menikah oleh pria yang memergoki kebersamaan mereka.
Fina menatap cemas Rina kemudian Rafael perihal pertanyaan yang baru saja sang adik layangkan.
Rafael yang refleks menatap Rina setelah mendengar pertanyaan gadis itu pun mengangguk tanpa keraguan. “Iya ... sebentar lagi,” sergahnya yang kemudian bergegas menghampiri Raswin untuk meminta restu.
__ADS_1
Fina yang kemudian menepikan seperangkat sholat yang awalnya ia dekap pada Rina dan diterima oleh gadis itu, juga segera menyusul Rafael. Dan Raswin sampai dibantu untuk duduk oleh Rafael yang juga menyangga punggung calon mertuanya itu.
“Maaf, Pak ... sebenarnya ini berawal dari salah paham. Tadi, saya enggak sengaja nungguin Fina shalat di mushola, dan kebetulan ada yang datang, sedangkan orang itu mengira kami telah berbuat macam-macam. Jadi, daripada menimbulkan banyak fitna terlepas dari kami yang memang sebenarnya akan menikah, lebih baik pernikahan memang dilaksanakan sekarang juga.” Rafael mengatakan itu dengan intonasi tertata tanpa jeda. Dan setelah berucap seperti itu, Rafael merasa sangat lega.
Rafael sampai terdengar mendesah setelah sampai menarik napas dalam. Fina yang berdiri di sebelah sedikit belakang pria itu, diam-diam mengamati.
“Ya sudah. Begitu lebih baik. Tapi ingat, Nak Rafael. Kamu harus benar-benar menjaga Fina. Tidak perlu yang berlebihan, asal kalian saling melengkapi sekaligus menghargai, itu sudah lebih dari cukup!” tegas Raswin penuh peringatan.
Apa yang Raswin katakan, sukses membuat hati Fina, Murni, bahkan Rina yang tidak ikut nimbrung, menjadi terenyuh. Ketiganya refleks berderai air mata sebelum akhirnya sibuk menyeka air matanya sendiri-sendiri.
“Iya, Pak. Saya janji dan Bapak bisa pegang janji saya!” sanggup Rafael sambil mengangguk mantap di tengah kedua matanya yang balas menatap serius Raswin.
Semuanya, berjalan dengan begitu cepat. Fina yang masih sibuk menyeka air mata segera berlari ke sisi pintu selaku keberadaan sakelar lampu ruang rawat Raswin. Tak mau ketinggalan, Rina juga beranjak. Rina merapikan meja di ujung ruangan yang disertai beberapa sofa empuk.
Sedangkan yang terjadi pada Rafael, pria itu langsung keluar menemui ketiga orang yang sudah menunggu. Dan Murni, dengan perasaannya yang menjadi campur aduk, antara sedih dan bahagia bahkan kesal kenapa anaknya harus dinikahkan paksa, merapikan tampilan Raswin. Murni menyisir rambut Raswin menggunakan jemarinya, selain merapikan kemeja lengan pendek yang pria itu kenakan dan memang cukup berantakan.
***
Setelah semuanya siap dengan meja di sudut ruangan yang sampai dipepetkan pada ranjang rawat Raswin, disaksikan Fina sekeluarga juga ketiga orang yang tadi menyertai, Rafael mengucapkan kalimat syahadat dituntun oleh pria yang memergoki kebersamaan Rafael dengan Fina, yang nyatanya begitu tahu tentang agama.
Dan kebersamaan penuh khidmad tersebut nyaris membuat Fina sekeluarga merinding, ditutup dengan hamdalah setelah Rafael yang langsung lancar mengucapkan syahadat, akhirnya resmi menjadi seorang mualaf.
Setelah mendengarkan penjelasan dari pak Sholeh selaku pria yang menuntun Rafae menjadi mualaf, ijab kobul pun langsung dilakukan. Menjadikan uang tunai sebesar dua juta dan sebuah kunci mobil sebagai mas kawinnya, acara yang begitu membuat Fina dan Rafael dililit banyak rasa tegang itu akhirnya berakhir dengan kata ; sah!
Dan masih dituntun oleh pak Sholeh, Rafael memberikan tangan kanannya untuk disalami dan dicium Fina. Membuat kebersamaan yang dihiasi rantai air mata haru itu berakhir dengan sempurna.
“Semoga, ini pernikahan yang terakhir meski aku harus menjadi istri Tuanku,” batin Fina yang masih mencium punggung tangan kanan Rafael.
“Kok rasanya aneh begini? Deg-degan ... tapi lega juga,” batin Rafael menatap tak percaya Fina yang masih mencium tangan kanannya sambil menunduk.
Bersambung ......
Ayooo, dukung terus ceritanya karena cerita ini juga Author ikutkan ke kontes menulis 😍😍😍. Like, komen, vote, dan rate, yaaa 😍
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.