
Dia mencabut pedangnya, secepat kilat berlari kearah Guan Ning. Walaupun jarak antara gadis itu dan Guan Ning sangat dekat,tapi dia tetap terlambat satu langkah dari laki laki itu.
"Siapa orang itu sebenarnya? Ilmu silatnya begitu tinggi tapi sikapnya seperti orang bodoh yang tidak tahu apa apa."
Gadis itu dengan bingung melihat laki laki berbaju putih lalu melihat Guan Ning.
Sorot mata Guan Ning melihat ke bawah dengan bengong. di bawah tergeletak pedang panjangnya, sinar matahari menyinari pedang dan mengeluarkan sinar berwarna.
Seharusnya pagi hari adalah dimulainya hari terang dan dilewati dengan bersemangat tapi ketiga orang yang berada di bawah siraman sinar matahari itu seperti tiga patung batu, diam dan tidak bicara apapun.
Awan putih, langit biru,orang yang terdiam seperti batu. Tiba tiba...
Terlihat ada dua bayangan orang berwarna abu tua memasuki semak semak rumah batu itu, kemudian ada senjata yang terbawa angin dengan cepat meluncur menyerang mereka.
Di bawah matahari setiap suara angin membawa titik hitam. Wajah gadis itu segera berubah,walaupun pikiran kacau tapi dari pengalamannya selama ini, dia langsung mengetahui ada sembilan senjata rahasia yang menyerang pada ketujuh titik nadi.
Walaupun sebelumnya dia pernah melihat senjata rahasia ini tapi dari suara angin yang tajam dan menderu, dia tahu kalau senjata rahasia itu berbentuk kecil dan orang yang menembak mempunyai tenaga dalam yang kuat. Mereka pasti termasuk pesilat tangguh di dunia persilatan.
Pikiran itu baru saja melintas dalam otaknya, dia sudah merasa sangat kaget, segera dia meloncat seperti asap hijau naik ke atas langit.
Senjata rahasia itu menuju ke arah Guan Ningdan lelaki berbaju putih yang masih bengong itu.
Gadis berbaju hijau itu meloncat ke atas. Dia tahu Guan Ning tidak akan bisa menahan senjata rahasia itu tapi sekarang dia sudah ada di atas, walaupun dia turun dengan kecepatan tinggi rasanya sudah tidak sempat untuk membantu Guan Ning menahan serangan senjata senjata yang datang seperti hujan.
Dia berteriak….
Tiba tiba dia melihat Laki laki berbaju putih itu dengan ujung matanya,tampak dia tertawa dingin, lengan bajunya melambai.
__ADS_1
Gadis itu merasa ada angin kencang melewati kakinya dan puluhan macam senjata rahasia itu mengikuti angin kencang ini dan berjatuhan.
Waktu itu, pasir dan batu tampak beterbangan, gadis itu tampak berputar di udara, dia melihat di balik semak semak rumah batu ada dua bayangan orang yang sedang melayang ke atas seperti
Dua ekor bangau berwarna abu abu,terbang melalui sisi jurang.
Guan Ning masih bingung melihat apa yang terjadi barusan, tampak peristiwa ini seperti tidak ada hubungan sama sekali dengannya, dia sudah tidak peduli dengan hidup dan matinya lagi.
Dalam hati pemuda angkuh ini merasa malu, untuk menghindari senjata rahasia itu saja dia tidak mampu.
Dia menarik nafas putus asa, dari jauh terlihat gadis itu sudah turun,tapi segera meloncat lagi, tampak dia sedang mengejar dua bayangan berwarna abu abu itu.
Laki laki berbaju putih itu dengan pandangan kosong melihat ke depan,tampaknya dia tidak melihat ada dua bayangan abu abu di balik semak semak, dia juga tidak perduli dengan gadis yang sedang mengejar dua bayangan itu.
Begitu gadis itu sudah berada di tempat jauh,wajahnya baru terlihat ada sedikit perubahan. Tiba tiba dia melambaikan lengan bajunya, tubuhnya yang kurus seperti panah meluncur ke depan.
Hanya dalam waktu singkat dua bayangan itu sudah menghilang di balik semak semak.
Begitu melihat bayangan mereka sudah menghilang, Guan Ning terus bertanya kepada dirinya sendiri. “Guan Ning, Guan Ning, apa yang sudah kau lakukan dalam waktu satu malam? Kau mendapat banyak persoalan yang membingungkanmu juga mendapat penghinaan besar dalam hidupmu. Nang Er yang lucu pun demi dirimu sudah kehilangan nyawanya, siapa yang bersalah dalam hal ini?”
Dia menatap langit. Langit bersih seperti baru saja dicuci, kadang kadang terlihat awan putih yang melintas tapi dalam waktu singkat sudah menghilang.
Guan Ning berharap kesulitannya juga bisa menghilang secepat awan putih itu, hanya lewat lalu menghilang.
“Tapi semua yang terjadi begitu jelas mengukir didalam hatiku, mana mungkin aku dengan cepat bisa melupakannya?“
Tarikan nafas yang panjang, mata yang redup melihat sekeliling tempat itu, hutan masih seperti dulu, rumah batu,jurang masih tetap seperti dulu.
__ADS_1
Tapi perubahan yang terjadi begitu besar, benar benar tidak terbayangkan oleh siapa pun.
Sampai kemarin malam dia masih tercatat sebagai pelajar yang riang dan tidak tahu apa yang disebut dengan kesedihan. Dia bertamasya dengan riangnya, begitu keinginan hatinya datang, dia akan membuat puisi puisi yang indah.
Bertemu dengan penebang kayu, dia akan berhenti dan mengobrol dengan mereka, hatinya selalu merasa tentram. Tentram dan santai seperti awan dan bangau.
Tapi sekarang hatinya tidak merasa tentram lagi.
Pendekar pendekar yang mati di Wisma Si Ming sebenarnya tidak ada hubungan dengannya sama sekali tapi sekarang dia sudah masuk ke dalam pusaran ini.
Apalagi dia sudah bertekad akan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi? Dan dalam hidupnya selama ini, dia jarang mengubah keputusan yang sudah diambilnya.
Tapi persoalan ini sangat sulit baginya, dia sadar dari segi pengalaman atau ilmu silat, dia sangat kurang, dan keinginannya untuk berkelana di dunia persilatan tentunya akan sulit baginya, apalagi bila sampai dia ingin mencari tahu tentang hal hal misterius ini, tentunya itu akan lebih sulit lagi, ditambah lagi dengan identitas mayat mayat itu, dia belum tahu sama sekali.
Masih terngiang tawa penghinaan gadis itu dan sorot matanya yang terus melihatnya. Kata kata penghinaan itu membuatnya teringat selalu dan sulit untuk dilupakan.
Karena itu dia menjadi kehilangan arah. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang?
Laki laki berbaju putih yang misterius itu, gadis berbaju hijau yang kelihatan galak ternyata sudah meninggalkannya. Dia tahu kalau mengejar mereka benar benar akan sulit, seperti memanjat ke atas langit.
“Apakah aku harus menunggu mereka disini?”
Karena itu dia membalikkan badannya dan berjalan kejembatan kecil, lalu dengan hati hati dia mulai menyeberang.
Diam diam dia berkata pada dirinya, “Persoalan ini begitu misterius dan rumit, mengandung dendam dan permusuhan dunia persilatan. Bila hanya mengandalkan tenagaku sendiri, selamanya aku tidak akan bisa mengetahui peristiwa yang sebenarnya, apalagi persoalan ini tidak ada hubungannya denganku. Kelak jika ada kesempatan aku baru akan mencari tahu, lebih baik sekarang aku melupakan dulu semua peristiwa ini.“
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123