
Tapi Wu Bu Yun masih berdiri diluar pintu, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Akhirnya Wu Bu Yun ikut memasukkan kereta kedalam penginapan, pelayan itu cemberut dan berkata, “Di luar begitu dingin, kalau di dalam kereta Tuan Tuan ada penumpangnya, lebih baik turun saja, kalau ada barang bawaan sebaiknya juga dibawa turun juga, kamar di penginapan kami cukup besar, jika Tuan Tuan ingin....“
Wu Bu yun berkata, “Bawa kami terlebih dulu untuk melihat lihat kamar, di dalam kereta kami tidak ada penumpang juga tidak ada barang.”
Pelayan segera menjawab, “Oh!“. “Dia lebih teliti dibandingkan denganku,” pikir Guan Ning.
Mereka mengikuti pelayan berputar putar melihat setiap kamar di penginapan itu, setiap jendela atau pintu tertutup rapat dan tidak ada cahaya lampu, apakah di dalam kamar itu memang tidak ada orang atau para tamu sudah tertidur semua?
Tapi Wu Bu Yun siap memasang kuda kuda dan mengikuti pelayan berputar putar hingga kamar yang terakhir.
Guan Ning ingin tertawa melihat kelakuan Wu Bu Yun. “Ternyata Wu Bu Yun seperti diriku yang selalu berhati hati, penginapan seperti itu apakah harus diwaspadai juga?“
Begitu masuk ke halaman, kamar kamar yang ada didepan halaman penginapan tampak sangat terang, lampu lampu menyinari pekarangan yang gelap.
Mereka menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamar. Guan Ning membersikan salju yang menempel ditubuhnya tapi Wu Bu Yun tidak peduli dengan keadaan baju nya langsung masuk.
Guan Ning melihat pelayan yang terkantuk kantuk tadi sekarang tertawa dengan licik melihatnya, dia merasa pelayan itu sengaja mendorong dari belakang dan berkata, “Kawan, kau pun harus masuk ke dalam.”
Guan Ning kaget, dia merasa kalau hari ini dia akan menemukan peristiwa aneh lagi. Dengan miring dia masuk ke dalam kamar itu.
Terdengar suara serak yang berkata, “Baik, baik sekali, ternyata datang lagi dua ekor kambing gemuk.”
Guan Ning melihat keadaan kamar, di dalam kamar itu ada sebuah meja, di atas meja terpasang tiga lilin, ada beberapa bilah pedang dan pisau. Senjata ini terkena cahaya lampu dan mengeluarkan cahaya yang berkilau.
__ADS_1
Di sisi meja ada lima laki laki berbadan tegap, yang tadi bicara berasal dari salah satu kelima laki laki yang wajahnya ada bekas Luka sabetan pisau.
Begitu Guan Ning melihatnya, dia sadar bahwa ini adalah suatu perampokan.
Pintu kamar, berdiri dua orang laki laki membawa golok tajam, mereka melihat Guan Ning, di kursi di dalam kamar itu tampak ada tiga orang pedagang yang berperawakan gemuk.
Wajah mereka terlihat kaget. Tubuh mereka terlihat gemetar. Getaran tubuh mereka membuat kursi yang mereka duduki terus berbunyi.
Di sisi ketiga pedagang gemuk itu ada seorang laki laki berperawakan kurus berdiri di sisi para pedagang.
Orang itu sangat kurus. Guan Ning belum pernah melihat orang yang kurus seperti orang itu, ditambah lagi dia memakai baju sutra berwarna hitam.
Sekali melihatpun dapat diketahui bahwa orang itu sangat mesum, dia duduk di sebuah kursi lainnya, begitu melihat Guan Ning masuk, dia segera menundukkan kepala. Seperti seekor kambing hitam yang menunggu seseorang untuk memenggal lehernya.
Pandangan Guan Ning beralih dari orang kurus itu. Matanya tampak bercahaya karena di seberang tempat duduk orang kurus itu duduk sesorang perempuan.
Susunan paling bawah tipis seperti sayap tonggeret, menempel dengan rapi di lehernya yang putih, susunan kedua ada anting mutiara, susunan ketiga berada diatas susunan kedua membentuk lingkaran seperti sayap seekor serangga yang memiliki empat sayap.
Guan Ning berdiri di depan gadis itu, Guan Ning merasa gadis itu sangat cantik ditambah lagi batu giok serta mutiara yang menghiasi rambutnya. Matanya terlihat indah, alisnya melengkung, dia benar benar seorang perempuan cantik.
Guan Ning tidak menyangka dia bisa bertemu dengan seorang gadis seperti itu di tempat ini.
Dia terus menatap gadis itu tetapi mata perempuan itu tidak melihat Guan Ning dia hanya menundukkan kepala, hati Guan Ning mulai merasa panas, dia merasa perempuan ini memiliki perasaan sesuatu, karena itu pandangannya segera bergeser lagi.
Sanggulnya berada di bagian belakang, Guan Ning tidak berani melihatnya lebih lanjut.
__ADS_1
Di sudut dinding duduk dua orang pak tua berbaju mewah, tangan mereka memegang pipa rokok, alat itu terbuat dari giok karena berwarna hijau, wajah kedua orangtua itu tidak berekspresi sama sekali, mereka duduk dengan diam di kursinya, sehingga orang lain tidak bisa menebak apa yang sedang mereka pikirkan.
Di sisi pak tua itu ada seorang biksu. Dia memakai baju biksu berwarna abu dan tampak sudah usang. Kedua telapak tangannya dikatupkan. Dia duduk dan menundukkan kepalanya.
Semua orang yang berada didalam kamar ini terlihat ketakutan hanya biksu itu tidak tampak takut dan juga paling tenang, karena hanya dialah yang tidak membawa benda berharga apapun.
Guan Ning melihat lagi ke dalam kamar,walaupun dia menggeser Sorot mata dengan sangat pelan, tapi juga membutuhkan waktu.
Laki laki tegap itu dengan sorot mata tajam terus melihat Guan Ning, kemudian dia berkata, “Kambing adalah kambing,tapi kambing ini tidak gemuk, kalian hanya mengganggu waktu kami.”
Dia menggebrak meja kemudian berdiri.
Sejak tadi Guan Ning merasa kalau orang itu tinggi. Begitu dia berdiri Guan Ning terkejut karena orang ini benar benar tinggi dan besar diantara teman temannya, Guan Ning selalu dijuluki si tinggi, tapi begitu melihat orang itu, dia terlihat pendek, walau pun pukulan itu keras tapi tidak mengagetkan orang orang yang ada disana.
Diam diam dia melihat ke arah Wu Bu Yun. Dia melihat kepala Wu Bu Yun tertunduk lebih dalam, sedikitpun tidak terlihat kalau dia akan melawan mereka, Guan Ning merasa aneh, dia berpikir, “Apakah kami akan dihina begitu saja oleh para perampok ini?”
Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia ingin dengan kemampuan ilmu silatnya mengusir dan melawan para perampok itu dan menolong orang orang yang disebut kambing gemuk
Oleh para perampok itu, apalagi setelah dia melihat gadis Yang rambutnya dipenuhi dengan perhiasan dan cantik itu, kemauannya untuk menolong lebih kuat lagi.
Walaupun kemampuan ilmu silatnya tidak sehebat dan sekuat para perampok itu, setidaknya dia ingin mencobanya terlebih dulu.
Tapi sikap Wu Bu Yun seperti itu membuat Guan Ning menjadi curiga, ditengah tengah keraguan Guan Ning,terdengar laki laki tegap itu berkata, “Malam malam begini, aku menyuruh Teman teman kesini, untuk apa coba...Hei, hei setelah dipikir pikir teman teman disini seperti dalam pepatah yang berbunyi: ‘orang buta makan pangsit, tapi pangsit masuk kedalam perut entah apa rasanya!”
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123