MISTERI DUNIA PERSILATAN

MISTERI DUNIA PERSILATAN
EPISODE 17


__ADS_3

Dia berkata, “Sebenarnya tidak ada benda yang istimewa. Seuntai mutiara kudapatkan dari tas *** Hang. Dua piring kudapatkan dari baju biksu Shao Lin, buku suci dari pendeta Wu Dang, dan sepucuk surat dari balik baju pak tua yang memakai baju berwarna biru, hanya itu saja, tidak ada yang lainnya.“


Yi Juan, Fei Shen, dan pendeta berbaju biru itu kelihatan sangat kecewa.


Guan Ning berpikir sebentar,tiba tiba dia berkata, “Di dalam tas Gong Sun ada seuntai mata uang. Uang ini bukan uang yang dipakai sekarang, tapi....”


Kata katanya belum selesai.Wajah Fei Shen,Yi Juan, dan pendeta itu tampak terkejut. Hampir bersamaan mereka bertanya, “Dimana sekarang uang itu?”


Mereka saling memandang kemudian secara bersamaan bertanya lagi. “Apakah uang itu diikat dengan tali berwarna kuning, bentuk uang itu lebih besar dari uang sekarang?”


Guan Ning sedikit terpana, dia tidak menyangka kalau uang berbentuk sederhana itu bisa membuat pendekar pendekar itu tampak bergejolak perasaannya, yang membuatnya lebih merasa aneh adalah uang biasanya diikat dengan tali berwarna hitam,tapi uang itu diikat dengan tali berwarna kuning. Pendeta berbaju biru Itu belum pernah melihat, mengapa dia bisa tahu?


Guan Ning berpikir lagi, “Apakah dalam untaian mata uang Itu tersimpan sebuah rahasia besar? Apakah rahasia ini ada hubungannya dengan peristiwa kemarin malam? Tapi aku tidak parcaya kalau untaian uang itu menyimpan rahasia,” karena itu dia mengangguk dan


menjawab, “Betul, uang itu diikat oleh tali berwarna kuning, tapi hanya ada sepuluh ribu keping saja.”


Terlihat orang yang berdiri disana seperti merasa sangat senang, Sepertinya uang uang itu lebih mahal dibandingkan dengan batu Berlian dan mutiara.


Tangan pendeta berbaju biru pelan pelan turun menuju pinggang dan mengarah pada pegangan pedangnya.


Dia terus melihat Guan Ning dan berkata, “Untaian mata uang itu Sangat penting, bila disimpan oleh Tuan begitu saja, ini tidak baik, lebih baik serahkan saja kepadaku.”


Yi Juan dan Fei Shen serempak berteriak, “Nanti dulu.“ Mata pendeta berbaju biru itu seakan bertanya, “Kenapa?” Tangannya tampak memegang pedang lebih kuat lagi. Pendeta itu juga terlihat tegang.


Yi Juan tertawa, “Tuan Pendeta, menurutku lebih baik uang itu Serahkan saja kepada kami.”


Tiba tiba pendeta berbaju biru itu tertawa terbahak bahak. “Menurut orang orang yi Juan dan Fei Shen selalu berhati hati tapi menurutku tidak demikian.“


Wajah Yi Juan dan Fei Shen langsung berubah,tangan yang tadinya tersimpan di belakang segera memberi tanda kepada laki laki yang ada dibelakangnya, para laki laki itu segera bersiap siap, seperti siap untuk menghadapi pertarungan besar.

__ADS_1


Wajah pendeta berbaju biru itu tidak tersenyum lagi.


“Sekarang ini di tempat ini, kalau kau ingin mendapatkan untaian Ri Yi Qing Qian (Mata uang hijau keberuntungan) tampaknya masih terlalu dini. Menurutku lebih baik kalian berdiri jauh jauh,“ katanya.


Tadinya wajah itu selalu tersenyum dan kata kata selalu diucapkan dengan pelan dan penuh dengan sopan santun, sekarang tawanya Sangat seram.


Bagitu melihat, ternyata wajah itu tidak seperti wajah seorang Pendeta lagi. Logat dan nada bicaranya menusuk perasaan orang lain.


Guan Ning melihat orangnya tidak mirip dengan seorang pendeta Lagi malah mirip seorang perampok Guan Ning merasa aneh.


Terdengar Yi Juan berkata, “Belum tentu!” Pedang panjang yang ada di belakangnya segera dikeluarkan.


Bersamaan waktu itu juga, disana sini terdengar suara Padang dikeluarkan. Empat pendeta berbaju biru juga segera mengeluarkan pedang mereka.


Enam pedang mengurung Guan Ning.


Guan Ning berteriak, “Untuk apa kalian memperebutkan seuntai mata uang itu. Uang itu bukan milik kalian dan aku tidak akan Memberikannya kepada siapapun!”


Suara Guan Ning sangat keras, tapi orang orang itu tampaknya tidak mendengar teriakannya, sekalipun mendengar, mereka tidak akan mau peduli.


Terdengar pendeta berbaju biru itu tertawa dingin lagi, sorot matanya seperti kilat terus melihat ke arah “ Juan dan Fei Shen juga melihat kepada kelima laki laki yang di belakang mereka.


Dia berkata, “Aku akan menghitung dari satu sampai lima, kalau kalian tidak mundur, kalian boleh rasakan akibatnya!”


Pendeta berbaju biru itu mulai berhitung, “Satu....dua....“ Matanya melihat ujung pedang, seperti tidak melihat orang orang disana.


Belum selesai dia berhitung,“ Juan sudah berteriak, pedang yang berkilau biru mulai menebas ke arah pergelangan tangan pendeta yang sedang memegang pedang, gerakannya sangat cepat.


Waktu itu juga, Fei Shen mendekati Guan Ning.

__ADS_1


Kelima laki laki yang ada dibelakangnya secara bersamaan mencabut pedang mereka, lima pedang tampak berkilauan, berwarna biru dan menebas kearah ketiga pendeta itu.


Tujuh arang pesilat pedang datang dari Luo Fu. Mereka bergerak sangat cepat dengan menggunakan waktu sangat tepat.


Luo Fu Cai Yi bisa terkenal di dunia persilatan bukan asal nama saja.


Walaupun gerakan mereka sangat cepat, tapi keempat pendeta tertinggi yang datang dari Wu Dang mereka bergerak lebih cepat lagi dibandingkan dengan mereka.


Empat cahaya pedang berkilau secara bersamaan, seperti ada sebuah dinding bercahaya.


Guan Ning merasa bingung melihat kilauan pedang dan dinginnya hawa pedang yang terayun, kemudian terdengar suara pedang beradu lalu berhenti.


Empat pedang milik pendeta Wu Dang, hanya dalam waktu singkat tertutup oleh tujuh pedang milik Luo Fu Cai Yi.


Guan Ning mundur dari arena pertarungan, dia melihat empat bayangan pendeta Wu Dang yang membelakanginya.


Pedang itu terus digerakkan. Pedang mengeluarkan cahaya dingin, cahaya pedang seperti


Sebuah jalan terang, cahaya pedang dan dinginnya hawa pedang membuat Guan Ning hanya bisa melihat dengan terpana, sorot matanya tidak bergeser ke tempat lain.


Dalam waktu satu hari ini, dia sebagai seorang laki laki dengan kemampuan ilmu silat biasa saja, dia tahu di dunia persilatan banyak pesilat tangguh, sekarang ini, pertama kalinya dia melihat ilmu silat begitu hebat.


Dia memang suka ilmu silat, dia tidak akan belajar ilmu pedang jika lingkungannya tidak memaksanya, melihat ilmu silat yang begitu hebat dimainkan didepan matanya, dia seperti seorang anak yang mendapatkan makanan yang sudah lama diidamkannya.


Keempat petinggi Wu Dang itu berdiri dengan formasi sangat rapi, boleh dikatakan setetes air pun sulit menembus formasi ini.


Yi Juan dan Fei Shen merasakan ada empat kilauan pedang seperti dinding terang yang tidak bisa diserang dari manapun. Hanya dalam waktu singkat mereka sudah menyerang sepuluh jurus.


Fb@ardhy ansyah

__ADS_1


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2