
Dia menghembuskan nafas lega, membalikkan kepalanya untuk melihat Nang Er,tampak anak itu masih ketakutan mengikutinya di belakang,tangan kirinya yang membawa tempat tinta tampak bergetar, tinta yang masih memenuhi tempatnya menjadi bercipratan ke bawah.
Dia memegang pundak anak ini, lalu melewati ruangan dan melihat keadaan di dalam ruangan itu, cangkir cangkir masih tertutup dan tersusun rapi diatas meja.
Dia berpikir, "Air teh masih ada, di mana orang yang meminum teh ini? Dilihat dari kondisi mayat, mereka seperti para pelayan, orang yang meminum teh ini pasti tuan rumah ini."
Diam diam dia menghitung cangkir teh yang ada di atas meja, semuanya berjumlah tujuh belas.
Dia berpikir lagi, "Tadi disini pasti ada banyak tamu tapi kemana tamu tamu itu sekarang? Di depan hanya ada mayat pelayan, apakah pelayan pelayan itu dibunuh oleh para tamu?“
Dia mengangguk dan menyetujui kesimpulannya sendiri, dia merasa semua perkiraannya masuk akal tapi dia tidak tahu apa Penyebabnya.
Dia melewati ruangan besar itu, kemudian keluar dari pintu samping.
Di luar ada pekarangan yang ditata dengan sangat bagus, di luar pekarangan terdapat sebuah jalan kecil yang disusun dari batu kecil yang bertumpuk,jalan ini menuju pekarangan dalam.
Sambil membawa pedangnya yang panjang, selangkah demi selangkah dia berjalan, dia melihat di sisi jalan itu ada sesosok mayat seorang laki laki berjanggut dan berbaju mewah, golok yang terselip di pinggangnya baru dicabut separuh, ditubuhnya tidak terdapat luka, tapi kepalanya hancur, darah yang mengalir sudah merembes masuk ke dalam tanah.
Pemuda yang bernama Guan Ning benar benar terkejut, tapi dia terus berjalan, baru beberapa langkah berjalan, dia melihat ada
dua bilah pedang di jalan itu. Kedua pedang itu masih mengeluarkan cahaya berkilau.
Langkahnya terhenti menyelidik, di sisi jalan lainnya tampak lagi dua sosok mayat, tubuh orang yang mati kali ini agak gemuk.
Yang satu tangan kirinya sedang memegang pedang, sedangkan yang lain tampak tangan kanannya memegang pedang, kedua ujung pedang saling beradu, tapi jarak kedua mayat itu tidak terlalu dekat dan mereka dalam keadaan tertelungkup, luka mereka masih sama seperti mayat mayat yang dilihat Guan Ning tadi.
__ADS_1
Pamuda ini terus melihat mayat mayat yang bergelimpangan, dia tidak hanya terpana, dia juga merasa pusing dan kaget.
Beberapa langkah dari tempatnya berdiri ada mayat seorang Pak tua yang berjanggut panjang, di depan sana ada tiga mayat Pendeta berbaju biru, kemudian ada dua mayat biksu tua, keadaan mereka masih sama seperti itu, tidak ada bekas luka,tapi kepala mereka semua hancur.
Baru saja melewati jalan berbatu ini,walaupun sekarang adalah musim semi yang agak dingin tapi baju panjangnya tampak sudah basah.
Di ujung jalan terdapat sebuah pondokan berbentuk segi enam, tempat itu berdiri di atas batu gunung.
Guan Ning terus berjalan ke pondokan itu,tampak ada darah yang mengalir dari tempat itu, tidak perlu dilihat lagi di dalam pondokan itu pasti banyak mayat dan keadaan mayat mayat itu pasti sama seperti mayat mayat yang dilihatnya tadi.
Diam diam dia berpikir,"Laki laki berjanggut,laki laki gemuk yang memegang pedang, pak tua, pendeta berbaju biru, biksu, semua berjumlah sepuluh orang, sedangkan cangkir yang ada di ruang dapan berjumlah tujuh belas, berarti masih ada tujuh mayat lagi yang belum kutemukan."
Bagitu dia melihat lagi mayat yang pertama, kecuali kaget dan takut, perasaannya bercampur dengan marah dan sedih. Siapa pun jika melihat kondisi mayat seperti itu, dia pasti akan merasa sedih.
Menginjak tangga terakhir, dia melihat, di dalam pondokan itu ada seorang pengemis pincang berbaju compang camping, keadaannya terbaring di atas tangga, kepala dan rambutnya yang berantakan berada di luar pondokan, darah yang keluar dari kapalanya terus mengalir ke tangga lalu menetes ke bawah.
Seorang pak tua kurus berbaju hitam berada di sisi pengemis itu, tongkatnya yang berwarna hitam mengkilat menancap Sangat dalam, panjang tongkat itu ada setengah meter, papan batu dipukul hancur hingga bera ntakan, kelihatannya sebelum pengemis yang pincang ini mati dia menancapkan tongkatnya dengan tenaga yang sangat kuat.
Tapi Guan Ning tidak memperhatikan hal ini lagi karena sorot mata tertumbuk pada sosok perempuan cantik berbaju pengantin merah, di sisi mayat perempuan ini ada seorang mayat laki laki berbaju merah dan berumur setengah baya, di bawah sinar bulan kepala mereka pun hancur, suatu pemandangan yang begitu menyeramkan,tidak tertutup oleh ketampanan dan kecantikan Pasangan pengantin ini.
Guan Ning menarik nafas, Nang Er yang ada dibelakangnya ikut menarik nafas tapi dia tidak bisa membedakan apa arti tarikan nafas ini? Apakah karena takut, kaget atau kemarahan yang bercampur menjadi satu?
Pedang yang dipegangnya terarah ke bawah, ujung pedang mengenai papan batu yang ada di bawah dan mengeluarkan suara 'TANG'.
Matanya mengikuti ujung pedang, sorot matanya melihat mayat sepasang laki laki dan perempuan itu, mereka mengenakan sepasang sepatu yang bertuliskan huruf 'Fu' (rejeki).
__ADS_1
Dia hampir tidak berani menggeser pandangan matanya ke atas karena sepasang kaki yang mangenakan sepatu bertuliskan huruf'Fu' itu berdiri tegak.
"Apakah disini masih ada seseorang yang hidup?“ Dengan kaku dia melangkah mundur,tapi sorot matanya pelan pelan melihat ke atas...
Seseorang dengan badan kurus tinggi dan berbaju putih, menempel di tiang pondok yang berwarna merah, sepasang telapak tangannya yang kurus, kelima jarinya seperti kaitan mecengkram ke tiang itu,jari jarinya menancap ke tiang kayu berwarna merah tapi kepaIanya tertunduk dengan lemas ke sisi pundaknya.
"Dia juga sudah mati," Guan Ning menarik nafas, "Hanya dia yang tidak jatuh dan roboh ke bawah."
Melihat mayat yang tidak roboh itu, dia bengong dan tidak sadar sepasang sepatunya menginjak genangan darah itu.
Awan menutupi sinar bulan, membuat bumi yang gelap bertambah gelap dan sedih.
Sinar bintang berwarna putih, cahaya bulan putih seperti angin, hanya genangan darah di tanah....
Seharusnya genangan darah berwarna apa?
selamat membaca dan menikmati novel ini,walapun mungikin masih ada kekuranagan dari cara saya menulis dalam membuat novel ini semoga para pembaca dapat terhibur dengan adanya novel ini,saya sebagai author sangat berterima kasih kepada para pembaca atas aspirasinya agar kedepannya novel ini menjadi lebih menarik lagi dan tentunya membuat para pembaca puas
salam hangat dari author
ardhy ansyah
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1