
Guan Ning membiarkan air matanya terus mengalir.
“Nang Er, kau… untuk apa kau berbuat begitu baik kepadaku, sekarang bagaimana aku bisa membalas budi kepadamu?” tanya Guan Ning sambil menghapus air matanya.
Senyum di wajah Nang Er belum menghilang dengan terbata bata dia berkata, “Tuan Muda sangat baik terhadap Nang Er.... Walaupun Nang Er mati dan tidak sempat membalas budi, ini.... ini, kalau tidak ada Tuan Muda.... Nang Er dan kakak sudah mati kedinginan dan Kelaparan.”
Dengan menahan sakit dia memutar badannya, dia merasa hatinya tenang, “Asalkan Tuan Muda bisa terus hidup, Nang Er matipun tidak apa apa, hanya saja.... Nang Er mempunyai keinginan yang belum tercapai.”
Guan Ning menahan rasa sedihnya dan bertanya, “Apa yang kau khawatirkan, sekalipun itu adalah hal yang sulit.... tapi Nang Er, kau tidak perlu merasa khawatir, Nang Er tidak akan mati, kau orang baik, kalau kau mati dunia ini benar benar tidak adil.”
Nang Er tertawa dan menutup matanya, kemudian dengan nada sedih dia berkata, “Kalau Nang Er mati, aku berharap Tuan Muda bisa mengurus kakakku, kakak perempuanku sangat baik, kalau Tuan Muda sudah menikah suruhlah kakakku membantu istri Tuan Muda, kakakku sangat baik,tapi Nang Er sudah tidak bisa melihat kakak lagi, apakah kakak akan sedih?”
Air mata Guan Ning terus menetes. Kesedihan yang sangat membuatnya tidak bisa bicara.
Nang Er membuka matanya, dia mengangguk dan tersenyum, lalu dengan suara kecil dia berkata lagi, “Masih ada satu hal yang ingin Nang Er mohon kepada Tuan Muda, Nang Er berharap Tuan muda menyetujuinya, Nang Er mempunyai…”
Suaranya berhenti,walaupun tadi dia mengatakannya dengan cepat,tapi baru saja diucapkan separuh dia sudah berhenti.
Mulut Nang Er masih menyunggingkan senyum,walaupun hidupnya pendek tapi begitu bercahaya dan berkilau,walaupun dia hidup sengsara tapi dia mati dengan tenang dan senang, dia tidak berhutang kepada kehidupan ini, melainkan kehidupan ini yang berhutang kepadanya....
Kehidupan. Bukankah hidup ini sering tidak adil’!
Dia menelungkupkan tubuh Nang Er, Guan Ning menangis dengan sedih, apa yang tersimpan di dalam hatinya keluar bersama dengan air matanya, siapa yang mengatakan hanya orang lemah yang menangis? Orang yang kuat tidak akan meneteskan air mata tapi begitu dia meneteskan air mata, air matanya lebih banyak dari pada orang lemah
Lama dia menangis,tiba tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang, dia merasa kaget,tampak laki laki berbaju putih tadi sudah berdiri di belakangnya, dia masih tampak kebingungan, dia bertanya. “Siapakah aku? Apakah kau tahu?“
__ADS_1
Hatinya terasa kosong, setelah menangis sekarang Guan Ning kebingungan dia hanya menggelengkan kepala, “Siapa dirimu, aku tidak tahu, siapapun dirimu, apakah ada hubungannya denganku?”
Laki laki setengah baya yang mengenakan baju putih itu terpaku lalu mengangguk, “Aku tidak berhutang denganmu, kalau begitu Semua ini berhubungan dengan siapa?“ tanyanya.
“Ada hubungannya dengan siapa? Kau tanya kepadaku, aku pun tidak tahu jawabannya.“
Tiba tiba laki laki itu mencengkram leher Guan Ning dari bawah dan berteriak, “ Kau tidak tahu, aku pun tidak tahu, lalu siapa
Yang tahu? Di sini hanya ada orang mati, kalau aku tidak bertanya kepadamu apa aku harus bertanya kepada orang orang mati itu?”
Pundak Guan Ning yang dicengkram terasa sakit menusuk hingga ke tulang, dia memberontak dan melepaskan diri dari cengkraman itu,tapi tangan laki laki berbaju putih itu seperti terbuat dari besi.
Walaupun sudah mengerahkan seluruh kekuatannya tetap saja Guan Ning tidak bisa lepas, dia marah dan membentak, “Siapa dirimupun kau tidak tahu, untuk apa kau masih terus hidup di dunia ini? Lebih baik kau mati saja!”
Kedua alis laki laki berbaju putih itu tampak berkerut, dia menunduk dan berkata, “Siapa diriku, akupun tidak tahu, untuk apa aku hidup di dunia ini?” Tiba tiba dia melepaskan tangannya, Guan Ning didudukkannya di bawah, “Benar benar, lebih baik aku mati saja”
Lalu diberikannya tongkat itu, badannya bergerak secepat setan.
Guan Ning merasa sedih mendengar kata kata laki laki itu, dia hanya terpaku dan berpikir, “Apakah orang ini sudah gila? Mengapa di dunia ini ada orang yang tidak tahu siapa dirinya? Kalau dia gila dia tidak akan berkata seperti itu.”
Laki laki setengah baya itu menunggu dengan lama, dia melihat Guan Ning masih menunduk dan sedang berpikir.
“Walaupun tongkat ini sangat berat, tapi kau mempunyai tenaga 2000 3000 kg untuk
Mengangkatnya, karena itu aku yakin kalau Tuan bisa mengangkatnya, mohon Tuan segera bertindak”
__ADS_1
Dia memberikan tongkat itu dengan kedua tangannya, segera Guan Ning menggelengkan Kepalanya, “Aku tidak bisa membunuh orang, kalau Tuan benar benar ingin mati, lebih baik lakukan sendiril”
Laki laki itu melotot dan tampak dia sangat marah, “Kau manyuruhku mati tapi kau sendiri tidak mau membunuhku, apakah aku harus membunuh diriku sendiri? Orang sepertimu begitu plin plan, lebih baik aku yang membunuhmu“
Guan Ning berpikir, “Tadi aku hanya memberontak sedikit tapi dia sudah bisa menebak kekuatanku, berarti dia bukan orang gila!“
Dia berpikir lagi, “Orang ini ingin aku membunuhnya, pasti dia sedang berpura pura, ilmu silatnya begitu tinggi, mana mungkin dia akan membiarkanku tanpa alasan membunuhnya?“
Terpikirkan hal ini dengan dingin Guan Ning berkata, “ Kalau Tuan benar benar ingin mati, aku akan melakukannya untuk Tuan.”
Guan Ning merebut tongkat hitam itu dan mengangkat
Tinggi tinggi, sewaktu dia bersiap memukul laki laki itu, dia melihat laki laki itu memejamkan matanya, seakan akan menunggu Maut menjemputnya,tongkat yang sudah terangkat tidak bisa diturunkan lagi.
Pikiran Guan Ning seperti gelombang air, dia berpikir banyak untuk persoalan ini.
Tongkat hitam masih terangkat tinggi tinggi, dia berpikir, “Sewaktu kecil aku pernah membaca sebuah buku rahasia, di dalam buku itu tertulis seorang manusia normal karena shok berat terkadang dia akan melupakan semua peristiwa yang berhubungan dengannya, semua berusaha dilupakannya...“
Dengan pelan dia memperhatikan kepala laki laki yang tampak terpelajar itu, tampak di kepalanya ada bekas luka, itu adalah bekas luka yang dipukul dengan tenaga besar.
selamat membaca dan menikmati novel ini,walapun mungikin masih ada kekuranagan dari cara saya menulis dalam membuat novel ini semoga para pembaca dapat terhibur dengan adanya novel ini,saya sebagai author sangat berterima kasih kepada para pembaca atas aspirasinya agar kedepannya novel ini menjadi lebih menarik lagi dan tentunya membuat para pembaca puas
salam hangat dari author
ardhy ansyah
__ADS_1
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123