MISTERI DUNIA PERSILATAN

MISTERI DUNIA PERSILATAN
EPISODE 34


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Guan Ning ternyata dia sudah mempunyai perasaan aneh kepada Guan Ning, sekarang perasaan anehnya sudah sangat Jelas.


Karena itu dengan bahagia dia tertawa, walaupun pada waktu senja sekarang ini dia akan mati tetapi dia sudah mendapatkan cinta yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya.


Tapi tawanya di mata Guan ning terlihat lebih sedih dari pada pada saat dia menangis, demi pelajar berbaju putih itu, gadis ini telah memberikan obat satu satunya kepada pelajar itu, pada saat dia membutuhkan obat itu supaya bisa meneruskan kehidupannya, ternyata obat itu sudah tidak ada.


“Kalau begitu...." Guan Ning menghembuskan nafas panjang. Ada pepatah yang berkata, 'Aku tidak membunuh Bu Ren (nama orang) tapi Bo Ren mati karena diriku. Guan Ning! Guan Ning, kau selalu menganggap dirimu adalah laki laki sejati, tetapi sekarang kau hanya bisa menyaksikan seorang gadis karena dirimu harus mati di dalam pelukanmu!


Tangannya mengelus rambut Ling ying, tubuhnya terus bergetar kecuali perasaan ini, yang paling membuatnya terpengaruh adalah gadis ini mati karena dia, tapi dia tidak merasa menyesal.


Seumur hidup, dia selalu mendapatkan pujian dan lindungan hal itu sudah tidak terhitung lagi banyaknya, tapi perasaan yang begitu mendalam adalah untuk pertama kali dia merasakan dalam hidupnya.


Ling Ying merasa tangan Guan Ning gemetar, diapun mengerti bagaimana keadaan Guan Ning sekarang.


Karena itu dia memaksa untuk tersenyum, "Kau sama sekali tidak berpengalaman di dunia persilatan, sekarang telah terjadi hal ini dan ini boleh dimaafkan. Tapi aku.-. tadinya aku yakin kalau aku sangat pintar' ternyata aku ternyata orang yang paling bodoh di dunia."


Suaranya yang lemah berhenti sebentar lalu dia menyambung lagi, “Seharusnya aku mengetahui kalau pak tua itu bukan orang baik baik. Sewaktu aku sedang bicara tadi, dia berada dibelakangku, aku tidak menyadarinya,jika orang yang tidak mempunyai ilmu silat setinggi itu mana mungkin bisa melakukan hal itu!"


Dia ingin tertawa tapi hanya bisa menghembus nafas, "Kau lihat bukan kalau aku benar benar bodoh, aku tetap saja meminum teh yang diberikannya, tetapi…"

__ADS_1


Kata katanya belum habis-di luar pintu, di bawah langit gelap terdengar ada seseorang yang tertawa kemudian ada yang menyanyi, "Cita citaku seiring waktu menghilang. Budi dan dendam entah kapan baru bisa diselesaikan, lahir dengan tergesa gesa, matipun akan seperti itu. Hidup selama puluhan tahun ini hanya dalam sekejap akan lewat begitu saja... pergilah, pergi,jangan katakan cita citamu lagi,jangan katakan tentang budi dan dendam. Di kehidupan ini lebih baik nikmati dengan bermain dan melihat pemandangan!"


Suaranya terdengar gagah dan menyanyikan lagu bagian awal dengan sedih, tapi pada bagian akhir setiap kata dalam setiap kalimat mengandung banyak hal yang membuat orang berpikir ulang.


Dengan terpana Guan Ning mendengarkan lagu itu, dia lupa orang yang sedang menyanyi dan tertawa, apakah pak tua yang licik itu?


Suara nyanyian berhenti, suara tawa terdengar lagi kemudian ada suara kuat berkata, "Nasi dicampur setengah tetes air Qi Du Shen Shui (Air sakti tujuh racun). Aku memberi sekali pukulan beracun dipundak. Di dalam teh kuberi setengah bungkus Zhui Hun Duo Ming San tepung pengejar roh perengut nyawa). Telapak air dan tepung itu akan mencabut nyawamu. obat ini akan menutupi tenggorokan, kau adalah murid Huang Shan Cili Xiu, seharusnya kau tahu. Selama dua puluh tahun aku sudah tidak lagi memandang budi dan dendam ada hal yang seingat penting. karena itu aku hanya memberimu setengah tetes racun, telapak beracun tidak kuberikan, ini hanya untuk memperingatkanmu. Jika tidak walaupun kau adalah seorang dewa, kau tetap akan mati tiga kali.“


Suaranya berhenti sebentar lalu dia berkata lagi, "Gadis itu sudah lama terkena racun, tapi racunnya sangat ringan, hanya dengan meminum obat penawar yang kutinggalkan di atas meja, dalam waktu setengah jam, dia akan sembuh,jika pulang nanti tolong beritahukan kepada Huang Shan Cui Xiu, aku adalah musuhnya yang pernah lolos dari tangannya. Walaupun aku tidak mati tapi aku sudah bosan mendengar tentang balas dendam dan balas budi. Semua sudah kulupakan, kalian berdua masih muda, kelak bila kalian berbicara harus hati hati,jika menuruti sifatku yang dulu, kalian berdua sudah mati sejak tadi."


Kata katanya terdengar seperti nyanyian. Setiap kata mengandung nasehat, membuat Guan Ning dan Ling Ying hanya bisa saling memandang dan mata merekapun membesar.


Di malam yang sepi, nyanyiannya terdengar lagi. "Dulu orang merasa senang, sekarang dia hanya menjadi penebang kayu. Budi dan dendam semua sudah dilupakan, dengan senang aku berjalan jalan mengelilingi dunia!"


Suara angin terdengar seperti gelombang. Suara pepohonan seperti suara gelombang, tapi suara nyanyian itu semakin menjauh dan semakin mengecil lalu menghilang.


Akhirnya suasana menjadi sepi, walaupun terdengar sedikit gema, tapi akhirnya menghilang tertiup angin.


Dengan terpaku Ling tang hanya bisa berdiri disisi pintu, dia seperti masih mendengar lagu itu, dadanya dipenuhi dengan gejolak darahnya, dia ingin mengejar paktua yang berjiwa besar dan dia adalah seorang yang sangat bijaksana, dia ingin menyampaikan Pujiannya kepada pak tua itu.

__ADS_1


Dia terdiam lama. Guan Ning menyalakan lampu didalam ruangan itu dan mengambil bungkusan obat yang ada di atas meja untuk diminum oleh Ling ying.


Obat itu terasa pahit, setelah obat pahit itu diminum Ling Ying, dia merasa sangat berterima kasih, dia meiihat Guan Ning dan berkata. “Aku mengira Gou Lou Qi Gui hanya orang orang yang sangat jahat. tetapi salah satu dari mereka ternyata ada yang begitu setia. Ada pepatah yang berkata: Fang Xia Tu Dao, Li Di cheng F0 (Menyimpan golek pembunuh, berpaling kepada Budha). Pak tua itu tidak membunuh musuhnya. Tapi yang dia dapatkan adalah rasa hormat dari musuhnya, bukankah itu lebih baik?"


Betul saja hanya dalam waktu singkat perasaan kaku di tubuh Ling Ying segera menghilang. Tapi pelajar berbaju putih itu tetap masih tidak sadarkan diri.


Ling Ying dan Guan Ning duduk bersama sama. Setelah melewati hal yang membuat mereka kaget, sekarang mereka saling mengetahui perasaan masing masing, diam lebih baik dari pada kata kata manis


Malam semakin larut. Asap dari lampu lilin semakin menebal.


Ling Ting bertanya, "Kau datang dari mana? Dan kau ingin pergi kemana?"


Diam diam Guan Ning bertanya kepada dirinya sendiri, “Aku ingin kemana sebenarnya?“


Dia melihat Ling ying, ternyata Ling ying pun sedang melihatnya diam menunggu jawaban darinya.


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123

__ADS_1


__ADS_2