MISTERI DUNIA PERSILATAN

MISTERI DUNIA PERSILATAN
EPISODE 4


__ADS_3

Tangan Nang Er tetap memegang erat wadah tinta, sorot matanya mengikuti gerakan tuannya, dia bengong melihat mayat yang belum roboh itu, melihat baju putih yang melekat di badannya, di pinggangnya tampak tali pinggang berwarna putih terbuat dari sutra.


“Mungkinkah sebelum orang ini mati dia adalah laki laki tampan? Sayangnya kepalanya menunduk sehingga aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya.“


Guan Ning pun tidak berani mendekati mayat itu untuk melihat dengan jelas seperti apa wajah laki laki itu.


Guan Ning memikirkan masalah lainnya.


“.... pendeta berbaju biru, pengemis pincang, pasangan pengantin berbaju merah, ditambah dengan pelajar berbaju putih, semuanya berjumlah lima belas orang, sedangkan cangkir yang ada di ruangan itu berjumlah tujuh belas....


berarti masih ada dua Mayat yang belum kutemukan, apakah kedua orang itu adalah pembunuhnya? Siapakah mereka.? Apakah pembunuhnya adalah tuan rumah ini? Ataukah tamu yang bertandang kesini? Hai... sekarang mereka semua sudah mati, tidak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan ini.“


Dia melihat lagi keadaan sekeliling dan berpikir, “Mayat mayat yang ada disini pasti jago jago dunia persilatan, mereka mati tanpa sebab disini, sekarang orang yang mengu burkan mayat mereka saja tidak ada... kelak kalau aku bisa mencari tahu siapa yang telah membunuh mereka dan alasannya membunuh mereka, entah siapa yang benar dan siapa yang salah... orang itu adalah orang yang kejam.“


Walaupun semua ini tidak ada hubungannya dengan Guan Ning tapi pemuda jujur ini merasa sangat marah, dia terus memikirkan hal yang tidak ada hubungan dengannya.


Bulan semakin tinggi bayangan pondok itu semakin gelap, angin malam berhembus dari timur dan berhembus ke belakangnya, tiba tiba...


Bersamaan datangnya angin itu terdengar tawa seseorang yang dingin dari tempat gelap, suara tawa ini seperti ujung jarum yang menusuk punggungnya, begitu dingin menusuk tulang, hanya dalam waktu singkat menyerang ke seluruh tubuhnya.


Dia merasa kaget tiba tiba dia membalikkan badan, dia melihat Di luar pondokan di atas tangga tampak ada seorang pak tua


Pelan pelan berjalan ke arahnya, pak tua itu sangat kurus seperti tiang bambu, rambutnya disanggul dan ditusuk oleh sebuah tusuk konde, tulang pipinya tinggi, wajahnya cekung ke dalam, sepasang matanya seperti mata burung elang, dia menatap lurus ke arah Guan Ning.

__ADS_1


Dalam keadaan seperti itu, sekalipun Guan Ning adalah seorang yang pemberani, di dalam hatinya tetap terasa dingin, tanpa terasa dia mundur beberapa langkah, ujung pedangnya mengenai tanah menimbulkan suara yang tidak enak didengar bercampur dengan sebuah tawa yang seram, benar benar sangat menusuk telinga.


Pak tua kurus itu berjalan ke arahnya,tapi dari tubuh bagian atas hingga ke bawah tidak tampak ada gerakan, tubuhnya yang kurus berjalan pelan masuk kedalam pondokan.


Guan Ning berusaha menahan gejolak hatinya, dia membentak, “Siapa kau? Apakah kau yang telah membunuh mereka semua?”


Sudut mulut pak tua itu tampak sedikit terangkat tampak hawa membunuh dari matanya, dia siap mencengkram ke dada Guan Ning.


Tampak telapak tangannya hitam dan kering, ujung jarinya bengkok, dan kukunya yang panjang tampak menggulung menjadi lingkaran kecil, Guan Ning terkejut, tangannya sedikit terangkat, pedang diletakkan di dadanya.


Pak tua itu tertawa dingin lagi. Tiba tiba kuku yang menggulung itu secepat kilat terbuka, kukunya putih seperti giok, dingin seperti besi,juga seperti lima pedang pendek yang sangat menyeramkan.


Guan Ning kaget, dia mundur beberapa langkah, tampak sepasang tangan itu datang sangat pelan,tapi tangan ini terus mengikutinya walaupun dia berusaha untuk menghindar, kemana pun dia menghindar jari seperti pedang itu terus mengikutinya.


Dalam keadaan bahaya itu,tiba tiba dia membentak, pedang panjangnya menusuk ke depan kearah pak tua yang kurus kering seperti setan itu.


Tapi begitu pedang Guan Ning baru saja sampai ditengah tengah, dia merasa badan bergetar, pergelangan tangannya terasa sakit, kemudian pedang yang dipegangnya tanpa sadar telah berpindah tangan.


Pak tua yang kurus kering itu sekarang telah memegang pedangnya, hanya dengan sedikit gerakan pedang itu patah menjadi dua.


Pedang patah itu pun dilemparkannya ke atas dan menancap ke tiang kayu pondokan itu, hanya tersisa sedikit bagian pedang dan mengeluarkan cahaya hijau.


Guan Ning selalu iri kepada para pendekar, beberapa tahun Yang lalu dengan bersusah payah dia berguru pada seseorang, mempelajari ilmu pedang, dia menganggap ilmu pedangnya sudah lumayan, tapi sekarang di depan pak tua yang kurus kering itu, dia baru tahu apa yang selama ini dipelajarinya hanyalah setitik air yang ada di lautan, tidak ada satu sepersepuluh ribu dari kemampuan pak tua itu.

__ADS_1


Tapi sayang, dia terlambat mengetahuinya, sepasang tangan pak tua itu pelan pelan mencengkramnya,walaupun dia sadar dia tidak akan bisa melawan pak tua itu, tapi dia juga tidak mau menutup mata menunggu kematiannya, karena itu dia berusaha melawan pak tua itu.


Tapi sewaktu dia bersiap siap mengeluarkan tenaganya,terdengar dari sisinya ada yang membentak, kemudian terdengar kelepak angin yang membawa bayangan seseorang lalu menyerang pak tua yang kurus kering itu.


Pak tua itu tampak mengerutkan alisnya, dia seperti kaget, kemudian bayangan hitam itu disambutnya, benda yang dipegangnya terasa dingin dan basah.


Dia merasa kaget, senjata rahasia jenis apakah ini?


Begitu dia melihatnya,ternyata benda yang disambutnya adalah sebuah tempat tinta, dia marah, didepan mata tampak ada telapak tangan yang menyerangnya. Walaupun angin yang dihasilkan telapak tangan tidak begitu kencang tapi jurus yang dikeluarkan sangat aneh,walaupun ilmu silatnya tinggi, serangan tadi tetap harus dihindari.


Perubahan yang terjadi begitu tiba tiba membuat Guan Ning juga terkejut, begitu melihat lebih jelas, dia lebih terkejut lagi karena orang yang menyerang pak tua itu dengan cepat tidak lain adalah Nang Er,yang biasa membantunya membawa buku.


Begitu pak tua itu menghindar, lengan bajunya tampak melambai, dia berhasil menggetarkan orang yang menyerangnya dan orang ini terpelanting ke atas, begitu melihat orang yang menyerangnya hanya seorang bocah, dia merasa aneh dan terpaku.


Serangan Nang Er sudah tergetar oleh angin dari lengan baju pak tua itu.


Nang Er merasa kaget, “Ilmu silat pak tua ini benar benar tinggi.“


Karena itu dia mundur beberapa langkah, setelah tubuhnya mantap dia membentak, “Siapa sebenarnya dirimu Mengapa kau menyerang tuan mudaku?” Dia membusungkan dadanya dan berjalan ke depan pak tua itu.


Nang Er tampak melotot, sikapnya yang penakut tadi sekarang sudah tidak tampak lagi.


Fb@ardhy ansyah

__ADS_1


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2