
Perjalanannya yang panjang membuat Guan Ning menikmati kelembutan yang belum pernah dia dapatkan, tapi jika malam tiba dia tetap tidak bisa melupakan keadaan di Wisma Si Ming yang dipenuhi darah, karena itu dengan teliti dia memeriksa satu persatu kain yang terdapat dalam uang, kemudian....
Dia mulai mengetahui ilmu silat yang belum pernah dia pikirkan sebelumnya, dulu ilmu silat yang dipelajarinya hanya setitik kecil dari ilmu silat yang ada.
Sapu tangan yang tersimpan di dalam uang itu tertulis tentang ilmu tenaga dalam yang sangat diinginkan oleh semua orang persilatan, setiap malam sampai larut, dia seperti pelajar yang sedang menghadapi ujian, semalaman terus mencari tahu tentang ilmu ilmu tenaga dalam, dia tidak menemukan kesulitan mempelajarinya.
Satu hari, dua hari.…
Pagi hari dia menunggang kuda, seharusnya ini adalah perjalanan yang sangat melelahkan, malam hari dia tidak pernah tidur nyenyak, dia ingin mencari tahu tentang dalamnya ilmu tenaga dalam yang tertulis dalam kain itu.
Anehnya, setiap hari dia begitu sibuk, dia tidak pernah terlihat lesu malah kondisinya lebih baik dibandingkan dulu, begitu udara menjadi dingin, pada malam hari dia tetap tidak tidur, dengan baju tipis dia duduk sendiri, dia tidak pernah merasa kedinginan.
Karena itu dia sadar kalau usahanya selama ini tidak sia sia, dia mulai mengerti mengapa Ru Yi Qing Qian selalu diperebutkan oleh orang dunia persilatan, sakalipun itu harus ditukar dengan nyawanya.
Tapi selama perjalanan jarak jauh, menyimpan suatu rahasia dari seseorang yang kita cintai adalah hal yang sangat sulit, beberapa kali dia berniat memberitahukan rahasianya kepada Ling Ying.
Tapi berkali kali pula dia mengurungkan niatnya, karena dalam hatinya selalu ada rasa takut yang tidak bisa dijelaskan.
Dia takut hanya karena seuntai Ru Yi Qing Qian, maka akan membuat dia dan Ling Ying bertengkar, diapun mengetahui kalau Ru yi Qing Qian adalah benda pembawa sial, berita ini sudah menyebar luas dikalangan persilatan.
Jadi diapun merasa tidak perlu menceritakan rahasia ini kepada Ling Ying,walaupun Ling ying adalah orang yang paling dekat dengannya, tapi seuntai Ru yi Qing Qian yang bukan miliknya. Dia harus mengembalikan Ru yi Qing Qian ini kepada si empunya yaitu.... Gong Sun Zuo Zu.
Kadang kadang dia merasa marah kepada dirinya sendiri, mengapa hanya dia sendiri mempelajari ilmu silat yang terdapat di dalam Ru yi Qing Qian.
Tapi diapun berusaha menenangkan pikirannya dan memikirkan kembali dampaknya bila dia memberitahukan Ru Yi Qing Qian kepada Ling ying.
__ADS_1
“Seuntai uang ini dilempar begitu saja oleh Gong Sun Zuo Zu lalu aku memungutnya."
Sekarang dia melihat dinding megah yang ada di kota Bei Jing, dia sudah melupakan hal hal yang membuatnya pusing.
Dia berpikir, “Orang yang pergi akhirnya kembali juga ke rumah"
Bukankah kota Bei Jing sedang mengulurkan tangannya untuk menyambut kepulangannya?
Saat memasuki kota Bei Jing, Ling Ying berteriak kegirangan, jalan di kota Bei Jing lurus dan rata,walaupun pohon pohon yang berada di kedua sisi jalan tampak berguguran, daunnya dan rantingnya tampak kering, tapi dari suasana ini kita dapat membayangkan jika musim semi atau musim panas tiba,tempat itu pasti sangat rimbun.
Di sisi jalan masih ada seorang pak tua yang sedang berteriak, "Panggang ubi....“
Suaranya yang keras terdengar sampai ke tempat jauh, membuat orang serasa melihat ubi yang masih hangat.
Kota Bei Jing adalah kota yang sangat indah dan sederhana. Ling Ying yang sudah terbiasa berkelana didunia persilatan pada saat melihat kota ini, darah yang berada di dadanya mengikuti teriakan pak tua itu melayang mengikuti arah angin,terbang di antara salju yang turun.
Selama ratusan dan ribuan tahun, perasaan ini belum pernah berubah, hanya teriakan pedagang sederhana saja sudah cukup untuk meninggalkan kenangan yang sulit dilupakan.
Tiba tiba ada sebuah kereta dengan empat ekor kuda penarik kereta dengan cepat berlari. Kusirnya tampak bersemangat melambai lambaikan pecutnya.
Begitu melihat Guan Ning dia segera menghentikan keretanya dan tertawa sambil berteriak, “Tuan Muda Guan, kau sudah pulang, sudah dua tahun Anda baru kembali sekarang, untung kau masih ingat, dengan kota Bei Jing dan juga masih ingat pulang!“
Guan Ning tertawa senang, dalam hati dia berpikir, "Sudah dua tahun berlalu, kota Bei Jing ternyata tidak melupakanku.“
Diapun berteriak, “Pak Laa San,ternyata kau masih ingat kepadaku...."
__ADS_1
Suaranya belum selesai, dari dalam kereta sudah ada kepala yang terjulur keluar dari jendela, kepala itu dipenuhi dengan tusuk konde yang terbuat dari giok dan mutiara.
Begitu melihat Guan Ning, segera terdengar suara manja setengah berteriak. “Tuan Muda Guan kau sudah pulang, kami benar benar rindu kepadamu Kau pergi kemana saja? Kau tidak pernah menulis sepucuk surat untuk kami, lihat kau sekarang begitu kurus, walaupun di luar sangat menyenangkan, tapi pasti lebih nyaman berada dirumah."
Suaranya membuat Ling ying yang berada disisi Guan Ning melihat dan mendengar. Hatinya merasa tidak enak, untung Lao San langsung membawa kereta kuda itu pergi dari hadapan mereka.
Begitu Guan Ning berjalan disisi Ling ying, dengan sedikit marah Ling ying berkata, "Pantas kau ingin cepat cepat pulang ke kota Bei Jing, ternyata begitu banyak orang yang sedang menunggumu.“
Tiba tiba suara Ling ying berubah menjadi tajam, "Kau sekarang menjadi begitu kurus, kalau tidak cepat pulang, kau akan menjadi seekor kera kurus"
Sambil berkata seperti itu Ling ying tertawa,walaupun dia cemburu tapi dia masih bisa menahan diri.
Guang Ning tidak berkata apa apa, dalam tawanya yang hangat, mereka melewati beberapa jalan. Disepanjang jalan banyak orang yang menyapa Guan Ning, ada pendekar muda yang berbaju mewah ada pula yang lainnya.
Begitu mendengar Guan Ning pulang, mereka menunggu disisi jalan untuk sekedar menyapa,
ada seorang pelajar yang berasal dari ibukota, mereka menanyakan apa hasil karya Guan Ning selama ini.
Untuk pertama kali Ling ying melihat Guan Ning benar benar tertawa lepas, dia mulai tahu bahwa Guan Ning adalah milik penduduk ibu kota Bei Jing dan sepertinya Bei Jing pun telah memilikinya.
Akhirnya mereka masuk ke sebuah jalan besar,jalan yang berada selatan terdapat sebuah pintu berwarna merah, di depan pintu terdapat dua patung batu singa, diam berjongkok.
Ling Ying berpikir, “Mungkin ini adalah rumah Guan Ning."
Sepanjang jalan dia selalu berpikir jika dia berkunjung ke rumah Guan Ning, seperti apakah reaksinya?
__ADS_1
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123