
Sekarang dia diatur begitu saja oleh musuh bebuyutannya yaitu duduk menyandar ke tubuh Guan Ning, dia benar benar marah, sedih,Juga sakit hati dan ternyata masih ada perasaan lainnya.
Perasaan ini belum pemah dia katakan sebelumnya... dia ingin selamanya duduk di sisi Guan Ning, bersama sama menikmati kegelapan, rasa dingin, tapi semua ini sangat indah dan syahdul
Walaupun Guan Ning sangat pintar tapi dia tidak akan terpikir kalau Du Vu mempunyai perasaan seperti itu kepadanya.
Guan Ning hanya berpikir bagaimana reaksi dan sorot mata Ling Ying sewaktu dia berlalu dari sana, semua ini semakin berat di hatinya, dia tidak menyangka kalau pertemuan mereka di jembatan kecil di wisma Si Ming akan membuatnya teringat kepada Ling ying seumur hidupnya.
Angin kencang membawa salju yang sedang turun dan jatuh di teras panjang itu.
Tiba tiba terdengar langkah orang berjalan ternyata orang itu sedang mencari Guan Ning, “Tuan Muda....Tuan Muda....“
Mata Guan Ning terbuka,terlihat dari luar pintu seperti banyak cahaya lampu dan suara teriakan mang mang itu semakin mendekat.
Guan Ning tahu kalau para pelayan sedang mencarinya.
“Jika mereka melihat Wen Xiang sekarang sedang duduk Bersamaku, apa pikiran mereka?’ Suara panggilan dan langkah kaki tiba tiba berhenti.
Ada seseorang yang berkata, “Sekarang kita berada didepan kamar Wen Xiang, tapi mana mungkin tuan muda berada disana?”
Ada lagi yang berkata, “Di depan begitu gelap, apakah Wen Xiang sudah tidur, lebih baik jangan mengganggunya.”
Kemudian terdengar suara langkah menjauh, tapi terdengar ada yang berkata lagi, “Tapi....dimana tuan muda berada? Benar benar aneh. Jika kita tidak berhasil menemukan tuan muda,maka tuan besar akan....”
Guan Ning menarik nafas panjang. “Jika mereka tidak berhasil menemukanku, bukankah aku harus diam disini semalaman, walaupun mereka berhasil menemukanku, mereka belum tentu bisa membuka totokan”
Kemudian dia berpikir lain. “Sepanjang perjalanan aku diam diam belajar tenaga dalam. Apakah sekarang aku bisa mencoba coba membuka totokan ini sendiri?”
Semua cerita tentang Ru Ying Qing Qian segera terlintas kembali ke dalam otaknya, “llmu silat yang tertulis di atas kain itu apakah akan ada gunanya? Aku akan mencobanya.”
Pertama kali memang sulit,hampir membuatnya putus asa dia tidak tahu jika seseorang sudah ditotok nadinya,ingin mengatur nafas adalah hal yang sulit untuk dimengerti. Jika dia tidak mendapatkan ilmu tenaga dalam yang begitu hebat, walaupun belajar selama sepuluh tahun lagipun,dia tidak akan bisa melakukannya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian dia mulai melasakan kalau nafasnya teratur. Rasanya dia ingin berteriak, tapi diluar terdengar lagi langkah orang berjalan, bercampur dengan suara ribut ribut, kali ini jumlah orangnya lebih banyak dibandingkan tadi.
Waktu itu kamar dipenuhi dengan cahaya lampu, hati Guan Ning bergerak, terlihat ada 2 3 pelayan beserta seorang laki laki setengah baya memasuki kamar.
Keadaan di dalam kamar membuat orang orang yang masuk memsa aneh.
Laki laki itu berteriak, ‘Tuan Muda,tenyata Anda berada disinil’
Dia sama sekali tidak menyangka kalau tuan muda mereka bisa duduk bersama dengan seorang pelayan ditempat sepi seperti ini.
Ketiga pelayan itu benar benar kaget, mata mereka membelalak lebar, saking kagetnya, tanpa terasa lilin yang mereka bawa terjatuh ke lantai.
Du yu segera memejamkan matanya, dia mengerti apa yang dipikirkan orang orang sekarang. Dia merasa malu juga merasa bersalah, dia benar benar ingin bersembunyi di bawah tanah.
Begitu badannya bisa bergerak, Guan Ning langsung berdiri.
Jika totokan Guan Ning tidak bisa dibuka olehnya sendiri dia tidak akan bisa berdiri, itu memang tidak menjadi masalah. Tapi begitu dia berdiri,sepertinya dia akan mendapatkan banyak masalah memusingkan, membuat Du Yu merasa lelah karena semua orang menyangka Guan Ning dengan Du Yu sedang bemain cinta di kama itu.
Laki laki setengah baya itu tak lain adalah pengurus rumah Guan Ning. Dia mengira dia sudah mengganggu kegiatan tuan mudanya di kamar itu.
Dia mundur sambil menghembus nafas. “Sial!”
Tapi mulutnya tetap dengan hormat berkata, “Tuan Muda, ada yang mencari Anda di depan, apakah Anda mau bertemu dengannya atau tidak?”
Orang itu sangat berpengalaman,wajahnya terlihat biasa biasa saja, seperti tidak melihat.
Guan Ning merasa kaget dan tenaga dalamnya Iangsung menyebar melewati nadi nadi yang belum terbuka, sekarang Guan Ning tampak bengong dan hanya bisa berdiri disana.
Dia senang karena berhasil menguasai ilmu silat yang tertulis di dalam Ru Ying Qing Qian.
Begitu pengurus wisma mengulangi lagi kata katanya, dengan bingung dia bertanya, “Siapa dia?”
__ADS_1
Pengurus setengah baya ini melihat Guan Ning yang bertingkah laku seperti itu, dia semakin mengira ngira dan menghubungkan semua itu dengan hal yang lain.
Dia ingin menjawab,tapi.…
Di luar pintu tiba tiba terdengar tawa keras, “Aku baru datang dari jauh, tidak disangka ternyata aku sudah mengacaukan mimpi indah Tuan Muda, aku benar benar berdosa.”
Pengurus wisma, pelayan, Du Yu, Guan Ning sama sama terkejut.
Terlihat ada seseorang berbaju kuning yang biasanya dipakai pendeta masuk ke dalam kamar.
Suaranya keras, hidung seperti elang, mulut seperti singa, mata seperti harimau, masih memakai topi biksu berwarna kuning.
Dengan langkah besar dia memasuki kamar, kedua tangannya membuka lebar, api lampu tampak bergoyang goyang dan segera padam.
Terdengar ada tempat lilin yang terjatuh, hanya menyisakan satu lilin yang masih tampak bergoyang goyang.
Pengurus rumah dan para pelayan karena terkena tenaga ini, tidak bisa menahan angin itu dan mundur beberapa langkah.
Walaupun pengurus rumah marah atas kekasaran pendeta ini,tapi begitu melihat kegagahannya, dia hanya diam tidak bersuara.
Terlihat pendeta berbaju kuning itu seperti tidak melihat ada orang lain disana dan terus berjalan ke arah Guan Ning, kemudian dengan satu telapak yang dimiringkan, yang artinya menyapa.
Kemudian sambil tertawa dia berkata. “Aku sudah menunggu cukup lama di ruang tamu karena itu aku mengikuti pengurus wisma ini masuk kedalam. Ha! Ha! Ha...aku sudah lama diam diluar dan sudah tidak tahu sopan santun, aku yakin Tuan Muda tidak akan menyalahkanku.”
Pangurus wisma itu tampak kaget. Dia berpikir,“Mengapa pendeta ilu sejak tadi mengikutiku,tapi aku sendiri tidak menyadarinya.”
Terlihat Guan Ning mengerutkan keningnya dan bertanya, “Aku tidak kenal dengan pendeta, apa perlu apa denganku?”
Pendeta itu tertawa dan berkata,“tuan Muda pasti tidak mengenalku, tapi aku kenal dengan Tuan Muda...“
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123