MISTERI DUNIA PERSILATAN

MISTERI DUNIA PERSILATAN
EPISODE 13


__ADS_3

Tapi peristiwa ini seperti sehelai benang laba laba yang melilit di dalam otaknya. Walaupun ingin dibuang tapi tetap saja tidak bisa.


Dengan langkah berat dia berjalan kembali kejalan yang kemarin dia pernah lalui ke Wisma Si Hui.


Dia berpikir, “Tidak lama lagi aku bisa turun gunung dan aku akan bertemu dengan orang orang normal lagi, aku bisa melupakan semua peristiwa yang sudah terjadi disini.”


Tapi....


Di belokan jalan gunung itu tiba tiba terdengar suara ‘TUK, TUK, TUK’ yang sangat aneh, seperti uang logam yang beradu,juga seperti kayu dan batu saling memukul, suara keras itu terdengar di telinganya.


Matahari masih bersinar dengan terang, angin pagi berhembus seperti biasa, langit terang dan awan berwarna putih, mendengar suara itu, Guan Ning segera menghampiri bunyi itu.


Baru saja dia mengangkat kakinya untuk melangkah, dia kaget bukan kepalang, ternyata kakinya tidak bisa diangkat.


Jurang menutupi matahari yang bersinar dan menjadikan tempat itu menjadi teduh, di tempat teduh itu tiba tiba muncul seseorang.


Bajunya compang camping, sepasang kakinya tidak beralas, kaki itu kurus seperti kayu, rambutnya berantakan seperti rumput liar, hanya sepasang matanya tampak tajam seperti kilat, dia melihat Guan Ning, tapi yang membuat Guan Ning terkejut adalah keadaan pengemis ini,tampak kakinya pincang dan dia membawa sebatang tongkat kayu yang diselipkan diketiaknya.


Dia masih ingat dengan sangat jelas kondisi mayat pengemis yang ada di Wisma Si Ming, dia ingat tongkat besi yang menancap di tanah, dia juga ingat kalau dia sendiri yang menguburkan mereka dan sewaktu memindahkan mayat pengemis itu, diapun pernah melihat wajahnya yang penuh dengan darah dan jelas jelas dia melihat semuanya.


“Kalau begitu, siapa yang berdiri di depanku sekarang? Apakah dia adalah....” Dengan kaget dia bertanya kepada dirinya sendiri juga dengan kaget dia berhenti berpikir.


Sepasang mata pengemis pincang itu melihat Guan Ning dari atas ke bawah,tiba tiba dia tertawa dan berkata, “Dari mana kau datang?”


Suaranya pelan dan rendah seperti titik air yang terjatuh dari tempat sangat tinggi, masuk ke dalam jurang yang sangat dalam, juga seperti suara tambur yang memukul terus ke dalam jantung.


Guan Ning mengangguk dan menunjuk kebelakang.

__ADS_1


Suara pengemis pincang itu seperti tenaga yang tidak bisa ditolak, dia tidak ingat mengapa pengemis yang tidak dikenalnya bisa bertanya seperti itu kepadanya.


Pengemis itu tertawa, seperti berkata, “Baiklah, baiklah.”


Terdengar suara tongkatnya. Pengemis itu berjalan melewati sisi Guan Ning.


Guan Ning hanya berdiri dan tidak bergerak, dia melihat sesuatu dan berpikir, “Betul juga, pengemis ini pincang di sebelah kiri, sedangkan yang satu lagi pincang di sebelah kanan.”


Karena alasan itu semua kecurigaan dan rasa terkejutnya langsung menghilang.


Dia menghembuskan nafasnya,tapi pertanyaan kedua muncul kembali di kepalanya, “Mengapa dia bisa begitu mirip dengan pengemis yang sudah mati kemarin. Apakah mereka adalah kakak beradik?”


Kemudian dia berpikir lagi, “Mungkin dia ingin pergi ke Wisma Si Ming, aku harus memberitahukan kabar duka ini kepadanya, kalau benar mereka adalah kakak beradik, aku akan mengembalikan barang peninggalan pengemis yang sudah mati itu kepadanya.”


Pemuda ini lupa pada masalahnya sendiri, dia merasa jika bisa membantu orang lain, ini adalah hal yang sangat menyenangkan, karena itu dia segera membalikkan kepalanya dan melihat


Dengan kaget Guan Ning berteriak, dia merasa semua hal yang ditemukannya benar benar sangat misterius,jika bukan dengan mata sendiri melihat semuanya, diapun tidak akan percaya.


Dia berdiri dengan bengong dan berpikir, “Apakah aku harus mengejar pengemis itu? Tapi pengemis itu jalannya sangat cepat, mana mungkin aku bisa mengejarnya?“


Dia pun berpikir lagi, “Di dalam tas pengemis pincang itu, kecuali ada sedikit barang tidak ada barang lainnya, walaupun aku tidak menyerahkan benda benda ini kepadanya sepertinya tidak akan menjadi masalah, apalagi dia berjalan sangat cepat, mungkin nanti dia akan kembali lagi,jika nanti aku bertemu dengannya lagi, aku akan menyerahkan semua barangnya kepada pengemis itu.“


Karena itu dia memutuskan untuk meneruskan perjalanannya, angin gunung meniup bajunya yang melambai lambai tertiup.


Guan Ning mulai merasa lelah,walaupun dia bukan pelajar yang lemah,tapi seharian ini dia belum makan dan minum, semua terasa menjadi melelahkan, apalagi gejolak gejoiak yang timbul di dalam hatinya tadi cukup membuat seseorang merasa cepat merasa lelah.


Di belokan jalan gunung itu, dia teringat kalau disana ada sebuah tempat yang sangat indah, air sungai yang jernih dari sebelah kiri mengalir dengan perlahan.

__ADS_1


Suara air mengalir dengan kicauan burung ditambah dengan suara daun daun yang tertiup angin, benar benar tersusun menjadi


Sebuah suara musik yang sangat indah.


Pada pagi hari kau bisa melihat bayangan gunung yang berwarna hijau, di bawah pohon kau mendengarkan musik alam ini, malam hari terlihat sinar bulan dan sinar bintang, disini malam hari mirip seperti yang dilukiskan oleh para penyair. Jika kau pernah melewati tempat ini satu kali, maka kau akan selalu teringat selama lamanya.


Walaupun hati Guan Ning sangat kacau, tapi dia tetap ingat pada tempat itu, dia berharap bisa beristirahat di tempat itu juga berharap bisa berpikir dengan tenang, menyimpan pikirannya sementara dan dia bisa beristirahat disana sambil mencari jalan


Untuk menentukan ke arah mana dia harus pergi.


Guan Ning masih muda, dia tidak tahu bahwa perubahan besar dalam hidup bukan dia sendiri yang menentukan mengaturnya.


Baru saja dia melewati belokan di sisi jalan gunung, di bawah pohon terlihat banyak laki laki berbadan tegap dan membawa pedang, kelihatannya mereka sangat santai tapi dari wajah mereka terlihat kalau mereka sedang merasa cemas juga khawatir, apalagi ada dua laki laki yang pendek dan gendut berdiri dibaris depan, mereka tampak mengerutkan dahi, dengan sorot mata cemas mereka terus melihat ke arah jalan, seperti sedang menunggu seseorang yang tidak kunjung datang.


Segera Guan Ning berpikir, “Apakah mereka masih ada hubungan dengan peristiwa malam yang terjadi di Wisma Si Ming?”


Kedua laki laki setengah baya itu berjalan ke arah Guan Ning, sikap mereka sangat hormat tapi juga ragu ragu, membuat sorot mata mereka terlihat bertambah sedih dan cemas.


Selamat membaca dan menikmati novel ini,walapun mungikin masih ada kekuranagan dari cara saya menulis dalam membuat novel ini semoga para pembaca dapat terhibur dengan adanya novel ini,saya sebagai author sangat berterima kasih kepada para pembaca atas aspirasinya agar kedepannya novel ini menjadi lebih menarik lagi dan tentunya membuat para pembaca puas


Salam hangat dari author


Ardhy ansyah


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123

__ADS_1


__ADS_2