
Palayan?!" itu menyampaikan bahwa Nona Du sekarang sedang menutup diri di kamarnya, dia sudah diberitahu bahwa tuan muda memanggilnya,tapi dia tidak mau mendengarnya.
Dari kata kata pelayan itu, sepertinya dia tidak suka dengan sikap Nona Du. Dia ingin agar pengurus wisma bisa mengajari Nona Du Supaya bersikap sopan kepada majikan mereka.
Guan Ning berpikir sejenak dan berkata, "Antarkan aku kesana.“
Tuan muda datang sendiri ke kamar pelayan perempuan, di rumah orang kaya manapun belum Pernah terjadi hal seperti itu, tapi begitu Guan Ning sampai di kamar Nona Du, langkah Guan Ning terlihat agak ragu, dia teringat Sewaktu Nang Er akan meninggal, dia sudah berjanji kepada Nang EL...
Dia menyuruh pelayan yang mengikutinya dari belakang berhenti, dengan langkah besar dia berjalan dan mengetuk pintu kamar itu.
"Nona Du. Nona Du,ini aku!" Terdengar jawaban dari dalam. "Masuk"
Guan Ning masih terlihat ragu,tapi akhirnya dengan langkah berat dia masuk ke dalam kamar.
Sifat Guan Ning lurus tidak kolot terhadap aturan. Jika tidak, dia tidak akan berani masuk ke kamar itu.
Kamar itu agak gelap, terlihat gadis yang bernama Nona Du itu sedang berdiri disisi tempat tidur, rambutnya berantakan, matanya masih terlihat sisa sisa air mata, tapi dia sudah memakai baju berwarna hitam yang ketat, dengan wajah sangat sedih dia melihat Guan Ning. Guan Ning terpaku.
Terdengar Nona Du tertawa dingin. "Tuan Muda sengaja datang kemari, apa yang ingin Anda sampaikan? Cepat katakan, kalau tidak.... aku tidak berani menyuruh Tuan Muda tinggal lebih lama disini!"
Suaranya walaupun terdengar lembut tapi sangat dingin.
Guan Ning terpaksa tertawa kecut kemudian dia berkata, "Aku datang kemari karena memang ada hal yang ingin kusampaikan kepadamu.…"
GUan Ning berhenti bicara sebentar. Nona Du masih berdiri di depan pintu, dia tidak bermaksud menyuruh Guan Ning masuk, terpaksa Guan Ning langsung menceritakan kejadian pada saat dia naik gunung, masuk ke Wisma Si Ming, lalu bertemu dengan hal hal aneh.
Kemudian hal mengenai kematian Nang Er semua diceritakannya dengan jelas, sampai pada akhirnya Guan Ning berkeringat, dia merasa kali ini, bercerita adalah hal yang paling menyulitkan dalam hidupnya.
Nona Du ini masih berdiri dengan terpaku, sepasang matanya terlihat kosong dan melihat keluar, seperti sebuah patung batu.
Wajahnya sama sekali tidak ada ekspresi, tapi apa yang sedang dipikirkannya di dalam hati?
Guan Ning merasa dingin, seharusnya gadis ini menangis setelah dia mendengar kata kata Guan Ning,tapi gadis ini malah bereaksi seperti itu.
__ADS_1
Baru saja dia berpikir seperti itu, gadis ini berlari kesebuah meja kecil. Lalu dia berkata, “Ayah, putrimu yang tidak berbakti merasa bersalah kepada ayah.... bersalah kepada ayah...”
Suaranya terdengar sangat sedih.
Guan Ning terpaku.
Dua tetes air mata bergulir dari matanya, “Nuna.... Nuna….” Apa yang harus dikatakannya sekarang, dia tidaktahu.
Baru saja dia berjalan dua langkah, dia menjadi bengong, karena di atas meja itu ternyata ada sebuah papan nisan putih berukuran satu kaki, disana terlihat ada sepiring bola besi kecil yang tampak berkilau dan sebilah pedang panjang yang terlihat dingin dan bercahaya.
Papan nisan itu tertulis: ‘Jin Wan Tie Jian, Ketua Biao Du Sao Zhang’.
Cahaya redup menyinari papan nisan dan pedang juga sepiring bola besi serta menyinari pundak gadis yang sedang menangis itu, membuat kamar itu dipenuhi dengan kesedihan dan suasana bertambah sedih lagi.
Guan Ning merasa kepalanya berat dan tidak bisa bernafas.
Sambil menghapus air matanya, dia berkata, “Nona, walaupun Nang Er sudah tiada. Dendam Nona yang dalam ini, sekalipun aku bukan orang berguna,tapi....“
Tiba tiba gadis itu berhenti menangis. Dia berdiri. Pedang panjang itu diambil lalu diserahkannya kepada Guan Ning.
Guan Ning dengan bingung melihat ujung pedang yang tampak bergetar di depannya, diapun
Merasa seram melihat pedang itu, dia tidak berani bergerak karena jika gadis ini berniat membunuh saat ini, dia tidak akan menghindar.
Dari dalam kegelapan, terlihat kedua alis gadis itu seperti pedang, matanya sebesar lonceng, sorot mata itu penuh dengan kebencian dan terlihat sadis.
Guan Ning menghela nafas dan berkata, “Adikmu memang bukan aku yang membunuh tapi karena akulah maka dia mati. Jika Nona Du ingin membalas dendam untuk adikmu, bunuh saja aku, matipun aku tidak akan menyesal.“
Guan Ning berpikir dalam kesedihannya gadis ini pasti menganggap Guan Ning lah yang harus bertanggung jawab atas kematian adiknya.
Tapi begitu Guan Ning selesai bicara, gadis ini sudah memutar pegangan pedang yang panjang itu, pedang itu berputar di udara kemudian ibu jari dan telunjuk seperti kilat
Memegang ujung pedang.
__ADS_1
Posisi pedang sekarang adalah, ujung pedang berada di dalam dan pegangan pedang berada dibelakang.
Guan Ning terpaku.
Gadis ini sudah menjejalkan pedang itu ke tangan Guan Ning dan tertawa dingin, “Aku dan adikku memang bernasib buruk, karena kami diterima oleh Tuan Muda, maka kami baru bisa mempunyai tempat untuk berlindung. Nang Er mati karena yang menjadi kakak tidak bisa menjaga adik. Ini bukan salah Tuan Muda.”
Walaupun suaranya terdengar sedih tapi juga sangat dingin dan penuh dengan amarah.
Guan Ning belum pernah mendengar ada orang yang bicara dan bersikap seperti itu.
Terdengar dia berkata lagi, “Hanya saja Du Yu ingin bertanya kapada Tuan Muda, adikku yang malang mengapa bisa mati begitu saja? Kalau Tuan Muda tidak ingin menjawab, Anda boleh membunuh Du Yu. Tidak perlu.... tidak perlu....”
Dia menangis lagi dan pembicaraan ini tidak bisa dilanjutkan. Guan Ning merasa aneh. Mengapa Nona Du bersikap demikian.
“Kematian adikmu, sudah aku jelaskan semuanya kepada Nona. Memang aku merasa menyesal tapi aku tidak berbohong. Kalau Nona....”
Suaranya belum selesai, Du Yu menyambungnya dengan nada dingin, “Tuan Muda adalah orang yang pintar,tapi Anda jangan mengangap kalau orang lain bodoh. Jika Tuan Muda ingin membantunya membasmi keluarga kami, mengapa.... mengapa dia harus meninggalkanku seorang diri. Aku.... aku rela mati ditangan Tuan Muda….“
Pergelangan tangannya berputar.
Guan Ning mundur untuk menghindar pedang yang diberikan oleh Nona Du.
Dengan bengong dia hanya bisa melihat,terlihat wajahnya penuh dEngan air mata, tapi dia berusaha menutupi kesedihannya dengan tawa dingin.
selamat membaca dan menikmati novel ini,walapun mungikin masih ada kekuranagan dari cara saya menulis dalam membuat novel ini semoga para pembaca dapat terhibur dengan adanya novel ini,saya sebagai author sangat berterima kasih kepada para pembaca atas aspirasinya agar kedepannya novel ini menjadi lebih menarik lagi dan tentunya membuat para pembaca puas
salam hangat dari author
ardhy ansyah
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1