
Tiba tiba pendeta berbaju biru bersiul kemudian menusuk....
Sedangkan ketiga pendeta lainnya segera membalikkan pergelangan tangan mereka, cahaya pedang secara bersamaan keluar.
Selama sepuluh tahun mereka terus berlatih dan gerakan mereka sekarang sangat kompak. Mereka menyerang dan bertahan, dari posisi bertahan berubah menyerang, hal itu terus dilakukan.
Jurus jurus itu adalah jurus ilmu Wu Dang yang telah menggegerkan dunia persilatan yang bernama Jin Gong Lian Huan.
Vi Juan, Fei Shen, dan kelima murid Luo Fu yang tiba tiba diserang, mereka mundur beberapa langkah.
Mereka sama sekali tidak menyangka kalau ilmu Luo Fu yang terdiri dari lima jurus, di depan keempat petinggi Wu Dang itu tidak bisa dikeluarkan.
Jika satu lawan satu, belum tentu akan terjadi keadaan seperti itu, karena mereka menyerang dengan berkelompok maka keadaan menjadi tidak sama, keempat petinggi Wu Dang memang terkenal dengan formasi pedangnya yang sempurna.
Sepuluh jurus lebih sudah dikeluarkan,tiba tiba“ Juan dan Fei Shen membentak, “Huang Fengche (jurus lebah)!"
Mendengar suara bentakan itu, mereka mu ndur beberapa langkah, tiba tiba badan mereka
berputaran. Punggungnya menghadap kepada keempat orang
Wu Dang,tapi pergelangan membatik menyerang dengan tiga serangan.
Serangan tiga jurus pedang ini bertentangan dengan ilmu silat yang ada dari semua perkumpulan, karena menghadapkan punggung kepada musuh.
Tidak ada orang yang mau memunggungi musuh sambil mengeluarkan serangan. 'WU Dang Si Yan' (Empat walet dari Wu Dang) sangat senang. Mereka mengira karena lelah kedua orang itu tidak bisa mengendalikan diri lagi,tapi begitu tiga jurus itu menyerang mereka, setiap jurus sangat tajam dan aneh.
Walaupun melihat ada kesempatan menyerang punggung mereka, tapi dengan terpaksa mereka harus menghindari tiga jurus itu.
Tadinya Wu Dang si Yan merasa mereka pasti akan menang, tapi serangan tiga jurus itu, memaksa mereka mundur, sebelum bisa mengambil napas, Fei Shen dan Vi Juan sudah berteriak lagi, "Huang Feng Sa (jurus ular)!"
Mereka memutar pergelangan tangan lagi. Pedang yang dipegang dilepaskan dan merekapun terbang melayang, seperti guntur yang membawa petir dan angin kencang, mereka lalu menyerang Wu Dang Si Yan, tubuh mereka mengikuti kekuatan pergelangan bergerak ke depan.
__ADS_1
Mulut seperti ular hijau,jarum lebah adalah racun yang paling ganas. Ular mematuk, racun menyebar ke seluruh tubuh.
Lebah menyengat jamm di tubuh lebah akan terputus. Jamm terputus, lebah akan mati karenanya. Racun hanya bisa disebarkan satu kali.
Sebetulnya sengatan lebah lebih ganas racunnya dibandingkan dengan patukan ular.
Jurus pedang Luo Fu terkenal, setiap jurus sangat ganas dan sadis, ini adalah jurus Huang Feng Sa. Walau pun ganas dan sadis tapi juga seperti lebah, hanya bisa menyengat satu kali.
Begitu jurus dikeluarkan, pedangnya dibuang. Jika jurus ini tidak berhasil membuat musuh mati, orangnya juga tidak akan bisa selamat,]urus ini begitu dikeluarkan dan orangnya harus bersiap siap melarikan diri.
Sekalipun dia adalah pesilat tangguh,tapi sesudah menggunakan jurus ini, dia harus bisa menjaga dirinya,tidak mungkin dia bisa menyerang musuhnya lagi.
YI Juan dan Fei Shen tahu mereka tidak akan mampu mengalahkan Wu Dang Si Yan. Jika terus bertahan, mereka pasti akan dihina oleh mereka.
Nama Luo Fu sekarang sedang naik dan, mereka tidak akan mau karena mereka membuat orang lain dengan seenaknya menghina Luo Fu Cai Yi, maka mereka sepakat melarikan diri setelah menggunakan jurus itu.
Tadinya Wu Dang Si Van kaget melihat pedang terlepas dan meluncur ke arah mereka, tapi mereka lebih terkejut lagi,jarak pedang dengan tubuh mereka sangat dekat Pedang datang secepat kilat.
Tapi....
Dari balik semak semak terdengar ada seseorang yang membaca kitab suci, kemudian terasa ada angin kencang keluar dari balik semak semak.
Kemudian terdengar suara keras, dua bilah pedang yang meluncur itu sekarang mengikuti anah angin yang berhembus kencang lalu terjatuh, terdengar lagi suara orang yang membaca kitab suci.
Bayangan seseorang berbaju abu abu mengikuti suara 'A Mi Ta Ba' tanpa suara keluar dari balik semak semak.
Jika semua ini dicatat dengan pena pada sebuah buku pasti ada awal dan akhir, tapi sebenarnya semua terjadi dan berakhir secara bersamaan.
Wu Dang Si Van melihat dijalan gunung yang sepi, dua bayangan orang berbaju kembang sudah menghilang.
Kemudian kelima bayangan lainnya pun ikut menghilang, ketujuh belas murid Luo Fu Cai W sudah menghilang dalam sekejap di balik pegunungan.
__ADS_1
Yang berdiri di depan sekarang ini adalah Wu Dang si Van, biksu tua yang kurus kering seperti bambu.
Guan Ning yang berdiri di belakang Wu Dang Si Yan belum melihat dengan jelas apa yang telah terjadi.
Dia hanya merasa mendengar suara hentakan kemudian ada seseorang yang membaca kitab suci lalu disusul dengan dua suara keras.
Terlihat orang orang menjadi kacau kemudian suasanapun menjadi diam, akhinya Wu Dang Si Van berdiri dengan bengong.
Seorang biksu tua yang kurus kering, dengan hidung seperti burung betet dan tulang pipi yang tinggi berdiri sambil tersenyum melihat Wu Dang SiYan. Dan di bawah terdapat dua pedang panjang dan dua untai tasbih.
Hanya sebentar Wu Dang Si Yan kembali tenang, mereka terus meiihat biksu tua ini kemudian saling bertukar pandang seakan bertanya.
Segera pendeta berbaju biru itu berkata, "Terima kasih, Guru sudah menggunakan tasbih menolong kami, budi pertolongan Guru pasti akan kami balas."
Kemudian Wu Dang Si Yan membungkukkan badan memberi hormat.
Biksu tua itu tertawa. Dia memungut tasbih itu sambil berkata, "Menurut kitab suci agama Budha, kita adalah manusia, untuk hal seperti ini tidak perlu mengucapkan berterima kasih, aku hanya ingin membantu yang memang harus kulakukan"
Biksu tua ini suaranya terdengar seperti air yang mengalir di gunung juga seperti lonceng yang berbunyi, suaranya dengan jelas masuk ke dalam telinga,tenaga dalamnya ternyata sangat kuat.
Pendeta berbaju biru itu tampak berterima kasih lagi. Kemudian dia bertanya, "Kami hanya orang bodoh,apakah kami boleh bertanya, 'Tenaga dalam Gum begitu tinggi, apakah Anda adalah guru Shao Lih,yaitu Guru Mu Zhu?"
Biksu itu sambil tertawa menjawab. "orang lain sering memuji banyak murid murid Wu Dang yang berbakat, sekarang setelah bertemu dengan mu rid Wu Dang sepertinya memang benar seperti itu. Begitu melihat, kalian langsung mengenaliku, pantas Wu Dang Pai bisa menjadi perkumpulan besar dan makmur.“
Selamat membaca dan menikmati novel ini,walapun mungikin masih ada kekuranagan dari cara saya menulis dalam membuat novel ini semoga para pembaca dapat terhibur dengan adanya novel ini,saya sebagai author sangat berterima kasih kepada para pembaca atas aspirasinya agar kedepannya novel ini menjadi lebih menarik lagi dan tentunya membuat para pembaca puas
Salam hangat dari author
Ardhy ansyah
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123