MISTERI DUNIA PERSILATAN

MISTERI DUNIA PERSILATAN
EPISODE 2


__ADS_3

Angin gunung berhembus begitu kencang, membuat baju panjangnya berbunyi terus. Di bawah terdengar suara air mengalir dengan kencang, dia melihat kebawah, dia berjalan dengan hati hati, sedikit pun tidak tampak gelisah.


Hanya dalam waktu sekejap dia berhasil menyeberangi jurang itu, tampak di depan jembatan adalah sebuah hutan lebat, ada sebuah rumah kecil disana dan di dalamnya ada sebuah lampu yang menyala, lampu itu berwarna merah.


Dia ingin membalikkan kepalanya dan berpesan kepada pelayan yang membawa bukunya,ternyata anak itu pun sudah menyeberangi jembatan dan berada disisinya.


“Tidak disangka,ternyata kau juga berani menyeberangi jembatan ini.“ dia berkata sambil tertawa.


“Tuannya seorang pemberani, mana mungkin pelayannya penakut? Jika aku seorang penakut pasti akan ditertawakan orang lain.“


Pemuda berbaju mewah itu mengangguk dan menepuk nepuk pundaknya memuji.


Terdengar Nang Er berteriak, “Tuan mudaku tersesat di gunung ini, kami ingin beristirahat di tempat Anda, apakah tuan rumah mengijinkan?“


Terdengar gema suaranya, "....apakah mengijinkan....mengijinkan....“ Suara itu datang terus menerus, tapi rumah kecil yang terbuat dari batu itu tidak terdengar ada jawaban.


Tuan muda itu mengerutkan dahi, dia berjalan kearah rumah itu. Begitu melihat dengan dekat rumah itu, wajahnya menjadi pucat, dia terus mundur, badannya tampak limbung dan hampir jatuh.


Ternyata di dalam rumah itu, di sisi meja tampak ada dua sosok mayat yang terbaring, kelihatan mereka adalah laki laki berbadan tegap tapi kepalanya sudah hancur, bagian mata atau hidung sudah tidak bisa dibedakan lagi, cahaya lampu yang menyorot dari lampu yang ada di meja itu menyinari kedua mayat, membuat suasana gunung yang sepi dan sunyi itu bertambah seram.


Tiba tiba ada seekor jengkrik terbang kemudian berbunyi.


Nang Er menjadi gemetar dengan takut dia berkata, “Tuan Muda, mari kita cepat pergi dari sini.“


Pemuda itu mengerutkan dahinya, dia tidak menjawab tapi dia tampak sedang berpikir, “Sebenarnya dimana letaknya tempat ini? Mengapa mereka disini bisa mati begitu mengenaskan? Lampu di atas meja belum padam, berarti mereka belum lama mati, kemanakah pergi pembunuhnya? Mengapa sewaktu aku naik gunung tidak tampak ada orang yang turun gunung atau apakah setelah orang itu membunuh, dia langsung lari ke tempat lain?“


Tangan kanannya memegang pedang,tapi telapak tangannya sudah berkeringat dingin. Dia berpikir, "Aku belajar ilmu pedang selama tiga tahun meskipun belum lulus, tapi di ibukota jarang ada pesilat yang bisa menandingiku. Kebanyakan mereka bukan lawanku, sewaktu aku belajar ilmu silat, guruku pernah berkata kepadaku, 'Pendekar pendekar di dunia persilatan tidak boleh egois, harus siap membantu orang lain memecahkan masalah, juga harus membantu pihak yang lemah, itu baru bisa dikatakan pendekar. Sekarang setelah bertemu dengan hal seperti ini, apakah aku harus lari,? Paling sedikit aku harus tahu apa penyebab semua ini?"

__ADS_1


Terpikir hal ini, pemuda itu menjadi bersemangat, dia melihat di sebelah rumah batu itu terdapat sebuah jalan berundak,jalan ini berliku liku sampai ke bawah jurang.


Di bawah jurang, percikan air membuat bintang bintang dilangit tampak terang dan bisa dihitung dengan jari.


Bayangan yang terpantul di air itu tampak ada sawah, di belakang sawah tampak rumah dan lampu.


Nang Er sangat ketakutan, dia melihat tuan mudanya, dia berharap mereka segera pergi dari tempat ini, meninggalkan tempat misterius ini.


Tapi pemuda itu malah tampak sedang berpikir, kemudian dia melangkah ke undakan jalan itu sambil menarik nafas, Nang Er dengan terpaksa mengikuti tuan mudanya dari belakang.


Angin berhembus melewati lembah, gunung ini seperti tertutup


oleh rasa dingin yang menyedihkan.


Dengan cepat pemuda itu berjalan melewati sawah,tampak disebelah kiri terdapat sungai yang lebarnya kira kira enam meter, air mengalir sangat deras, di bawah sinar matahari, gunung batu dan hutan itu tampak misterius dan berwarna ungu.


Di luar rumah itu terdapat pagar yang tingginya sekitar tiga meter lebih, pintunya dicat dan tampak berkilauan, rumah itu menghadap ke arah selatan, pintunya terbuka, gelang yang terpasang di pintu, dibawah sinar bulan tampak seperti es.


Pemuda itu berdiri di depan pintu, dia mengetuk dengan gelang pintu itu,5uaranya menggema yang terdengar terus menerus.


Dari dalam rumah tetap sepi, tidak ada yang menjawab, pemuda itu mengerutkan dahi, baru saja dia bersiap siap melangkah


masuk, dibelakangnya terdengar suara G E.


Dia kaget, lalu segera meloncat sejauh tiga kaki kemudian mencabut pedangnya dan memasang kuda kuda, di bawah sinar bulan hanya tampak seekor kodok yang meloncat ke sawah.


Nang Er melotot melihat tingkah lakunya, di sekeliling mereka tetap sunyi dan sepi, rasa sepi yang menakutkan.

__ADS_1


Pemuda itu menertawakan dirinya sendiri, dia merasa malu kemudian masuk ke dalam rumah itu.


Di balik pintu yang dicat hitam itu, tampak banyak mayat yang bergelimpangan, keadaan mereka Sama seperti kondisi dua orang laki laki tegap yang mati dirumah batu itu.


Di tubuh mereka tidak tampak ada bekas luka tapi kepala mereka semua hancur, sinar


bulan menyinari darah yang tergenang di bawah dan sudah berubah warna menjadi ungu.


Cahaya redup keluar melalui kertas jendela yang tipis,walaupun pemuda itu sangat berani tapi setelah melihat keadaan seperti ini, keringat dingin terus menetes dari dahinya.


Di belakang Nang Er menepuk nepuk bajunya, dia tidak bisa bicara juga karena keta kutan.


Pemuda itu memegang pedang dan berdiri dengan sikap waspada, angin malam meniup pada tubuhnya, udara terasa semakin dingin, kakinya sudah merasa ingin kembali.


Tapi setelah dia berpikir sejenak dia berkata pada dirinya, “G uan Ning, Guan Ning, kau


sudah berada disini,walaupun bagimu ini merupakan keberuntungan atau bencana, kau harus siap menghadapinya, biasanya kau paling tidak menyukai cara kerja orang lain. ada kepala tidak ada ekor, apakah kau juga sekarang ingin sama seperti orang lain?“


Segera dia membusungkan dadanya, pedang diangkat, dia melewati pekarangan yang dipenuhi dengan mayat tapi tidak berani untuk melihat keadaan mayat mayat itu.


Dari pintu gerbang sampai pintu ruangan jaraknya hanya beberapa puluh meter, tapi dalam pikirannya sekarang seperti menempuh jarak ribuan kilometer.


Dengan perlahan dia menaiki tangga, menggunakan ujung pedangnya dia mendorong pintu yang tertutup setengah itu, kemudian dia berteriak, "Apakah di dalam ada orang? Mohon jawab!"


Dari dalam rumah tidak ada yang menjawab, pintu ruangan pun dibukanya, di dalam tidak tampak ada bayangan seorang pun.


Fb@ardhy ansyah

__ADS_1


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2