
Guan Ning merasa kaget juga malu,tidak disangka bocah yang ditolongnya dari hujan salju di ibukota beberapa waktu lalu, mempunyai ilmu silat lebih tinggi darinya.
Tapi Nang Er tidak pernah menonjolkan keahliannya, sedangkan dia yang baru belajar beberapa jurus ilmu pedang saja sudah menganggap dirinya seperti seorang pendekar hebat, dia merasa malu dan membuat tidak berani mengangkat kepala.
Sorot mata pak tua itu melihat Guan Ning lalu melihat Nang Er, dia diam tidak bersuara.
Nang Er berkata lagi, “Tuan mudaku hanya seorang pelajar, tidak ada dendam dengan kalian, mengapa kau harus membunuhnya? Umurmu sudah tua,tapi masih ingin membunuh seorang anak muda, apakah kau tidak merasa malu?”
Pak tua yang kurus kering itu tertawa dingin, dengan suara tajam dia berkata, “Jurus Long Fei Feng Wu (Naga terbang Phoenix menari) dari mana kau mempelajarinya? Ada hubungan apa antara kau dan Jin Wan Tie Chang Tu Chang?” suaranya terdengar tajam seperti teriakan serigala.
Wajah Nang Er berubah, segera dia menenangkan dirinya dan menjawab, “Kau tidak perlu menanyakan asal usul guruku, walaupun kau terus bertanya aku tidak akan mengatakannya kepadamu, yang terpenting tuan mudaku bukan orang persilatan, dia hanya sedang tamasya ke gunung ini dan tidak sengaja datang ke sini, dendam permusuhan di antara kalian tidak ada hubungannya dengan kami. Walaupun kau membunuh semua orang yang ada disini, kami tidak akan mengatakannya kepada orang lain, kalau hari ini kau melepaskan kami, maka kami akan merasa sangat berterima kasih, kami tidak akan menutup mulut untuk masalah ini.“
“Bocah, kau benar benar sangat lucu, tadinya aku tidak mau melukaimu, tetapi...” kata pak tua itu sambil tertawa dingin.
Telapak tangan kirinya melayang,wadah tinta yang tadi disambutnya sekarang secepat kilat meluncur kearah Nang Er.
Nang Er hanya melihat ada bayangan hitam meluncur ke arahnya tapi dia tidak sempat menghindar lagi, wadah tinta itu tepat mengenai wajahnya.
Pak tua yang kurus dan kering itu tanpa ekspresi melihat Nang Er yang berteriak kesakitan lalu pelan pelan ambruk.
“Kalian telah salah memilih tempat,” kata pak tua itu.
Pak tua itu melihat ke arah Guan Ning yang sudah berlari ke arah Nang Er.
“Aku harus bertindak lebih sadis lagi,” kata pak tua itu.
Pelan pelan dia mendekati Guan Ning,telapak tangannya yang kurus seperti cakar elang itu mulai terjulur ke depan.
__ADS_1
Guan Ning melihat Nang Er yang sedang tumbuh besar, karena dirinya Nang Er kehilangan nyawanya, dia benar benar merasa sedih, dia berdiri dengan tatapan penuh dengan kebencian dia malihat setan kejam itu. Kalau orang itu menyerangnya dia akan melawan dengan sekuat tenaga.
Begitu pak tua itu melihatnya,tampak tubuhnya bergetar, wajahnya tampak menyiratkan ketakutan, pundaknya bergoyang, lalu dia meloncat tinggi dan secepat kilat berlalu dari sana, hanya tampak baju yang dipakainya tampak berkibar,tubuhnya yang kurus seperti tiang bambu dengan cepat menghilang di dalam kegelapan malam.
Guan Ning terpaku, dia tidak percaya dengan mata kepalanya sendiri walaupun dia adalah seorang yang pintar, tapi karena dia baru berkelana di dunia persilatan dan baru bertemu dengan hal seperti itu, dia hanya bisa merasa aneh,jangankan dirinya, orang yang berpengalaman di dunia persilatan pun tidak akan mengerti apa yang telah terjadi.
Dia hanya berdiri dengan terpana dan merasa aneh, lalu dia pun membalikkan badannya, dia benar benar kaget, darah yang mengalir di tubuhnya sekarang seperti berhenti mengucur.
Mayat yang tadi sempat dilihatnya berdiri dengan posisi kepala menunduk, sekarang kepalanya terangkat dan telapak tangan yang menancap di tiang pondok itu sekarang secara perlahan terlepas dari tiang itu.
Didalam kegelapan tampak tulang pipi orang itu sangat tinggi, wajahnya pucat seperti ukiran giok, darah yang keluar dari rambutnya melewati alisnya yang hitam, ke kelopak mata, hidung, dan merembes masuk ke dalam janggutnya.
Wajahnya tampak pucat dan wajah itu seperti diukir, baju sutranya panjang dan putih, dia tampak seperti patung orang suci.
Tapi darah merah yang mengalir itu membuatnya tampak sangat menyedihkan.
Hati Guan Ning segera menciut, dia sadar kalau dia sudah masuk ke dalam lingkaran masalah yang rumit dan misterius.
Apakah dia beruntung atau rugi?
Walaupun belum tahu jawabannya tapi sudah tampak kalau hal ini tidak menguntu
ngkannya, begitu tersadar dari pikirannya, tampak laki laki berbaju putih itu sudah berjalan mendekatinya pasti
Ini tidak menguntungkan baginya, dia hanya bisa berdiri tanpa bergerak menanti apa yang akan menimpa dirinya.
Tapi begitu laki laki berbaju putih itu hanya tinggal dua langkah lagi dekatnya, dia berhenti lalu menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Guan Ning merasa aneh.
“siapakah aku? Siapakah aku….” Terdengar dia berkata pada dirinya sendiri. Dia menjulurkan tangannya lalu memukul kepalanya sendiri sambil terus berkata, “Siapakah aku’! Siapakah aku....”
Suaranya semakin membesar, akhirnya dia berlari keluar dari Pendokan itu dan berlari ke tangga, masih terdengar dia terus berteriak, “Siapakah aku.… siapakah aku....”
Suaranya semakin lama semakin menjauh, akhirnya lenyap ditelan kegelapan.
Guan Ning yang tadinya kebingungan sekarang seperti masuk ke dalam kabut tebal dan hitam, sedikit pun tidak terpikir olehnya semua kejadian ini, dia yang biasanya berpikiran tajam sekarang tidak bisa memikirkan apapun, dia hanya merasa sedih, menyesal, aneh, dan hatinya diliputi oleh banyak pertanyaan, semua seperti merobek perasaannya menjadi berkeping keping.
Sebenarnya apa yang terjadi disini tidak ada hubungan dengannya sama sekali tapi sekarang malah mengubah nasibnya, saat dia menyeberangi jembatan kecil itu dia tidak menyangka akan terjadi semua peristiwa ini.
Tiba tiba....
Terdengar rintihan dari sisinya, segera dia membalikkan badan dan mulai mencari sumber suara itu.
Nang Er tadi terjatuh di sisi pasangan suami istri berbaju merah, sekarang dia merintih wajahnya penuh dengan darah, hidungnya Yang mancung sekarang berdarah dan hancur.
Dia berusaha membuka matanya untuk melihat keadaan Guan Ning, dia ingin melihat apakah tuan mudanya selamat atau tidak, Wajahnya berlumuran darah tapi dia tertawa senang dia merasa senang karena semua pengorbanannya tidak sia sia.
Perasaan Guan Ning dalam waktu yang singkat berubah menjadi kesedihan yang sangat dalam, dua butir air mata keluar dari sudut matanya....
Air mata yang dingin jatuh di wajahnya yang panas dan mengalir ke dalam hatinya yang panas.
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1