MISTERI DUNIA PERSILATAN

MISTERI DUNIA PERSILATAN
EPISODE 8


__ADS_3

Setelah keluar dari semak semak, di ujung timur mulai tampak cahaya terang, mengusir kegelapan yang pekat, membuat pekarangan yang gelap itu mulai tampak sedikit terang,


angin meniup membuat tubuhnya merasa agak dingin.


Di jalanan kecil berwarna putih dan berliku tampak banyak mayat yang bergelimpangan, situasi ini terasa lebih mencekam dan dingin.


Dia hanya diam berdiri, dia ingin membuat otaknya yang kacau itu sedikit sadar dan dia membalikkan kepala bertanya, "Apakah Tuan mengenali mayat mayat ini?"


Suara Guan Ning berhenti, dia melihat pelajar berbaju putih itu tampak bingung dan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak ingat.“


"Walau bagaimanapun kita tidak bisa membiarkan mayat mayat ini terjemur matahari dan terkena hujan, kalau keluarga mereka tahu bagaimana cara mati mereka,tentunya mereka akan sedih, sayangnya, aku tidak tahu nama mereka, kalau tidak aku akan memberitahukan kepada mereka, mereka akan kesini untuk mengambil mayat mayat ini," kata Guan Ning sambil menarik nafas.


Nada suara Guan Ning terdengar sedih.


Pelajar berbaju putih terpaku, dia menundukkan kepala dan bicara kepada dirinya sendiri, "Siapakah keluargaku? Aku tidak tahu apakah aku masih mempunyai keluarga atau tidak."


Mereka terdiam dan hanya saling memandang, matahari mulai muncul dari ufuk timur.


Guan Ning tampak sedang menggotong mayat mayat itu,


benda benda yang tertinggal di balik baju mereka dikeluarkannya lalu dibungkus dengan sobekan kain dari baju mereka,walaupun itu hanya barang barang tidak berharga tapi untuk keluarga mereka tentunya benda benda ini sangat besar artinya.


Guan Ning berharap suatu hari dia bisa mengantarkan benda benda ini kepada keluarga mereka. Karena dia tahu hal kecil seperti ini sangat menghibur keluarga yang ditinggalkan.


Ilmu silat pelajar berbaju putih ternyata betul sangat tinggi, dia membantu Guan Ning menguburkan mayat mayat itu, sampai tampak matahari mulai tenggelam di barat, menandakan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan sangat berat.

__ADS_1


Walaupun mereka menguburkan mayat mayat itu tapi Guan Ning dan pelajar berbaju putih tidak tahu siapa saja nama nama mereka, dan hal ini sangat menyedihkan.


Mereka diam tanpa berkata kata karena merasa sangat sedih, tapi hubungan mereka sekarang terasa lebih dekat,walau pun hanya sekedar bertukar pandang tapi mereka mulai saling mengerti.


Persahabatan diantara mereka mulai tumbuh!


Mereka tidak sengaja menginjak genangan darah yang terdapat dijalan kecil itu, mereka kembali ke ruangan besar yang ada di depan.


Begitu melihat keadaan di sana, hati Guan Ning terasa dingin, karena kaget dia sampai tidak bisa bicara.


Laki laki berbaju putih itu tampak bingung melihat sorot mata Guan Ning, Guan Ning melihat kursi dan meja sudah tersusun rapi, lukisan terpasang di dinding, pintu ruangan setengah terbuka, kertas jendela bewarna ku ning muda, tidak tampak ada keanehan, laki laki berbaju putih itu merasa aneh melihat Guan Ning hanya diam membeku.


Karena sekarang dia kehilangan ingatan, kalau dia masih ingat dengan peristiwa yang dulu tentunya diapun akan merasa lebih kaget lagi dibandingkan dengan Guan Ning.


Ternyata benda benda yang ada di atas meja yang pertama kali dilihat oleh Guan Ning sudah tidak ada, begitu pula dengan tujuh belas cangkir teh.


Lalu dia berpikir, "Siapa yang telah mengambil cangkir cangkir itu? Mengapa orang itu mengambilnya? Apakah di dalam cangkir teh itu tersimpan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?“


Pertanyaan itu terus berkutat di otaknya, Guan Ning sadar dengan cara apapun dia berusaha mencari jawabannya,tetap tidak akan mendapatkannya. Karena itu dia berjalan keluar dari ruangan itu.


Di dalam ruangan itu tampak ada mayat, Guan Ning melihat laki laki itu dan mereka tertawa kecut, kemudian mereka pun memindahkan mayat mayat itu ke kamar kosong.


Guan Ning berkata dengan suara kecil, "Apakah di kamar lain ada orangnya?"


“Tadi aku sudah memeriksa kamar kamar yang ada disini, selain kita tidak ada orang lain lagi," jawab laki laki itu. Harapan Guan Ning pupus lagi.

__ADS_1


Keluar dari pintu bercap hitam, Guan Ning melihat ke sekelilingnya. Tampak padi yang baru ditanam dan keadaannya masih tetap seperti tadi hanya saja orang yang telah menanam padi itu tidak bisa menunggu padinya bertumbuh.


Tiba tiba terdengar suara jernih mengikuti arah angin, mereka berdua terkejut dan segera menaiki tangga untuk melihat,tampak diseberang jurang berdiri seorang gadis berbaju hijau,tangan kirinya memegang sebuah lonceng sebesar kepalan tangan, dia terus menggoyang goyangkan lonceng itu,tangan kanannya membereskan rambutnya yang berantakan, matanya terus melihat atap rumah ini.


"Aneh, mengapa lampu lampu yang telah terbakar masih terpasang di tempat yang sama, bukankah pelayan pelayan yang ada disini semua sudah mati?" tanya gadis itu penuh dengan kecurigaan.


Di bawah sinar matahari tampak rambut gadis itu panjang, dan kecantikannya seperti bunga, pinggang yang kecil, hanya selebar dua telapak tangan orang dewasa, suaranya merdu seperti kicauan burung nuri, sangat enak didengar.


Melihat keadaan itu, Guan Ning merasa terkejut, dalam waktu satu malam dia selalu menemukan hal misterius, kejam dan menyedihkan, sekarang dia melihat seorang gadis muncul di gunung terpencil seperti ini, apakah dia harus merasa kaget atau aneh?


Tapi wajah laki laki berbaju putih itu tampak biasa biasa saja, setelah mengalami goncangan berat dan kehilangan ingatan, perubahan perasaan yang terjadi pada dirinya tidak sama seperti orang lain.


Segera Guan Ning berlari ke jembatan dan ingin bertanya pada gadis berbaju hijau, dia ingin menanyakan dari mana datangnya gadis itu.


Baru saja dia berjalan,tampak gadis itu mulai menyeberangi jembatan kecil itu dan dia sudah berada di depan Guan Ning, dia menggoyangkan lonceng emas nya dan berkata, "Minggir kau!"


Lebar jembatan itu hanya satu kaki lebih, di bawah jembatan adalah jurang terjal, tidak ada tempat untuk dua orang jika bersebrangan.


Guan Ning terpaku, "Mengapa gadis ini begitu galak? Aku lebih dulu menyeberang, seharusnya aku yang lewat dulu, mengapa sekarang dia menyuruh ku minggir, apakah dia adalah tuan rumah itu?"


Tampak gadis itu mulai marah, "Apakah kau tuli? Aku menyuruhmu minggir!"


Gadis berbaju hijau itu menunjuk nunjuk Guan Ning dengan jarinya yang lentik, "Mundur kembaii ke tempatmu tadi... kau sudah dewasa, apakah kau tidak mengerti dengan aturan ini?“


Guan Ning hanya terpaku, dalam hati dia berpikir, "Gadis ini begitu cantik, tapi sekali bicara sangat galak dan tidak masuk akal."

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2