MISTERI DUNIA PERSILATAN

MISTERI DUNIA PERSILATAN
EPISODE 40


__ADS_3

 


Guan Ning berteriak Du Yu berkata lagi, “Ayah sudah memperhitungkan lemparannya ditambah lagi aku pernah belajar ilmu silat karena itu aku tidak akan terluka parah, segera aku berdiri kemudian kulihat Nang Er pun dilempar keluar, dia menangis,waktu itu dia masih sangat kecil, hanya karena dasar ilmu silatnya kurang kuat maka dia terjatuh dengan berat, segera dia menangis. Tapi dihalaman sudah terdengar suara ayah dan ibu. Mereka sedang bertarung sambil diselingi tawa perempuan itu, aku ingin meloncat masuk kembali ke balik dinding tapi Nang Er tampak ketakutan, akupun menjadi kebingungan. Aku berpikir saat itu lebih baik menyuruh Nang Er jangan menangis kemudan setelah itu baru kami akan masuk.”


 


Suaranya sekarang terdengar sangat pelan, dia berhenti cukup lama kemudian menangis lagi.


Walaupun dia tidak meneruskan kata katanya, tapi Guan Ning tahu bahwa ceritanya belum selesai.


Guan Ning berdiri dengan diam. Dia merasa tubuhnya sudah kaku dan tidak bisa bergerak, lebih lebih tidak tahu apa yang harus dikatakan olehnya sekarang.


Malam sudah tiba....


Di rumah mewah itu tampak lampu lampu dinyalakan, hanya di sudut rumah masih terlihat gelap.


Papan nisan yang terbuat dari kayu putih, di dalam kegelapan tampak lebih menarik perhatian.


Di mata Guan Ning, papan nisan ini seperti setan yang mengenakan baju putih. Seakan akan papan nisan itu terus membesar.


Guan Ning memejamkan matanya, tapi papan nisan itu tetap terlihat ada didepan mata.


Suara tangis Du yu seperti suara Nang Er pada saat dia hampir meninggal....


Sekarang dia mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Nang Er Ternyata Nang Er ingin mengatakan ingin membalaskan dendam ayahnya.


“Nang Er mati demi diriku.... mana mungkin aku bisa menolak


Permintaan terakhirnya, apalagi aku sudah berjanji kepada Nang Er.”


Tapi musuhnya kali ini adalah orang yang sudah memberinya kehangatan, kelembutan,juga perhatian.


Jika Tuhan menyuruh mereka harus mati salah satu dari mereka, lebih baik dia memilih mati sendiri.


Tapi sekarang demi membalas budi, demi kebenaran, apakah dia harus membunuh Ling Ying? Sekarang apa yang harus dia lakukan”!

__ADS_1


Guan Ning melihat pedang yang tergeletak di bawah, dia terperangkap ke dalam kesedihan yang dalam.


Du Yu terus berkata, “Walaupun aku tidak memberitahumu, Anda pun pada akhirnya pasti akan tahu, dalam waktu singkat mereka berhasil membunuh ayah dan ibuku, walaupun aku tidak bertemu dengan pembunuh itu lagi, tapi seumur hidup aku tidak akan bisa melupakan wajah mereka....”


Walaupun kata kata Du Yu sangat pendek tapi hal itu sudah membuat otot otot diseluruh tubuh Guan Ning membeku dan tidak bisa bergerak.


Guan Ning menundukkan kepalanya, bayangannya masih terlihat diam disisi tempat tidur.


Du Yu seperti menunggu jawaban Guan Ning tapi Guan Ning tidak tahu apa yang harus dijawab?


Mereka saling berhadapan, walaupun mereka tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka masing masing,tapi mereka bisa mendengar suara jantung yang berdebar debar dan desahan nafas karena kamar itu begitu sunyi.


Tapi....


Di luar pintu tiba tiba masuk sesosok bayangan, dia seperti hantu gentayangan masuk tanpa bersuara, bayangan itu berhenti di depan pintu tiba tiba berlari kesisi Guan Ning.


Tiba tiba dia menotok Guan Ning kemudian kedua telapak tangannya membawa Guan Ning ke dekat dinding, dengan ringan dia meletakkan Guan Ning di sebuah kursi yang berada di dekat dinding.


Semua yang terjadi begitu tiba tiba dan sangat cepat.


Du Yu kaget dan berteriak, “Siapa kau?”


Bayangan itu tertawa dingin, “Masa kau tidak mengenalku? Bukankah tadi kau mengatakan kalau seumur hidupmu kau tidak akan bisa melupakan wajahku?”


Wajah Du Yu berubah,tanpa terasa dia mundur tapi tubuhnya sudah mepet ke pinggir ranjang.


Tiba tiba dia meloncat dan memungut pedang yang tergeletak dibawah dan berteriak, “Kau Ling ying”


Di dalam kegelapan terlihat bayangan orang itu tertawa, “Betul, aku adalah Ling Ying Aku adalah orang yang telah membunuh ayahmu”


Du Yu berteriak. Pedang panjangnya secepat kilat menusuk Ling Ying.


Ling Ying tertawa, dia hanya bergeser sedikit untuk menghindari tusukan pedang Du Yu. Pedang itu masuk menembus dinding.


Ling Ying tertawa, “Hanya mempunyai ilmu silat seperti itu saja kau sudah ingin membalaskan dendam ayahmu. Hal Hal Ha.... masih terlalu pagi!“

__ADS_1


Du Yu sangat marah, dia lupa kalau dia adalah perempuan dan dia terus berteriak,”Perempuan ******.... kau perempuan ******.... kau harus mengganti nyawa ayahku”


Walaupun berkata seperti itu, kata kata sadis tetap tidak bisa diucapkan, “Kau perempuan jalang”


Karena marah, ilmu pedang Du vu menjadi lebih bertenaga.


Tapi Ling ying menganggap itu semua hanya jurus silat anak kecil. Walaupun kamar itu kecil tapi ilmu meringankan tubuh milik Ling Ying sudah digunakan, semua jurus dengan mudah dihindari olehnya.


Guan Ning dengan kondisi lemah duduk di kursi itu karena dia sudah ditotok oleh Ling Ying.


Dia hanya bisa melihat bayangan orang yang terus bergerak, dia tidak bisa membedakan mana Du Yu, mana Ling Ying, tapi dia tahu di antara kedua wanita itu tersimpan dendam Yang sangat dalam, salah satu dari mereka pasti akan roboh. Yang satu telah berbudi kepadanya,yang satu lagi mencintai dirinya!


Hati Gaun Ning seperti digores, dia ingin sekali memisahkan mereka tapi sekarang dia hanya seperti sebuah patung kayu, kecuali dengan mata dia bisa menyaksikan pertarungan mereka, yang lainnya sama sekali tidak bisa dilakukan.


Tiba tiba.... Pedang Du Yu terjatuh.


Kali ini bukan karena hatinya bergetar tapi karena jurus Ling ying membuat dia tidak bisa menahan serangannya.


Du Yu mundur tapi Ling ying seperti bayangan terus menempelnya, tangan Ling ying seperti menyerang kearah dada, tapi begitu ditangkis, ternyata tangannya malah ditotok.


Ling Ying tertawa, “Kau berbaring saja disinii“


Ling Ying mengangkatnya kesisi Guan Ning lalu menepuk lutut mereka kemudian dia mulai bernyanyi, “Duduk bersama sama, makan buah bersama sama. Teman yang baik, hati gembira.…”


Dia menyanyikan sebuah lagu rakyat, tapi nyanyiannya terdengar penuh dengan kesedihan,


Sampai pada bagian terakhir dia bukan menyanyi tapi menangis tersedu sedu.


Hati Guan Ning seperti banyak gelombang yang sedang naik turun juga seperti ada bongkahan batu besar, satu per satu masuk menindih hatinya.


Dia berharap bisa berteriak, lebih berharap dia bisa menangkap tangan Ling ying, tapi Ling Ying malah menundukkan kepala, dia sedang menangis tersedu sedu.


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123

__ADS_1


__ADS_2