
Mengapa dia bisa menjadi seperti itu? Guan Ning tidak mengerti.
Dia terus bertanya kepada dirinya sendiri, “Siapakah dia sebenarnya? Mengapa dia harus membunuh semua keluarga Du?”
Dia melihat Du Yu yang juga sedang melihatnya, didalam mata Du Yu, ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan.
Dia menghembuskan nafas dan berkata, “Aku sama sekali tidak mengerti dengan kata kata yang Nona ucapkan,tapi aku tahu pasti ada alasannya dan Nona pasti sudah salah paham. Jika Nona percaya kepadaku, katakan saja kepadaku, asalkan aku bisa membantu, aku pasti akan berusaha.”
Mata Du Yu terlihat sedikit berkilau, tapi dia masih terus melihat Guan Ning, seperti ingin melihat hingga ke dalam hati Guan Ning.
Lama.... dan lama.
“Apakah Nang Er dibunuh oleh perempuan yang Anda bawa itu?“ “Kau mengatakan apa?”
“Namanya adalah Ling ying.... dan dia sangat sadis.”
“Apakah benar?” Guan Ning tampak melotot.
Nama Ling ying yang disebut Du Yu pada saat didengar oleh Guan Ning, membuat Guan Ning merasa gametar. Dia merasa nada bicara Du yu seperti penuh dengan kesadisan dan sulit dimengerti. Dalam hati Guan Ning berpikir, “Mengapa dia bisa tahu nama Ling Ying?Apakah diantara mereka ada dendam tersembunyi?”
Guan Ning melihat Du Yu yang juga dengan dingin sedang melihatnya, kemudian bertanya, “Apakah kau tahu siapa dia sebenarnya?”
Guan Ning menggelengkan kepala.
“Dia adalah orang yang telah membunuh ayahku… dia juga orang yang telah membunuh Nang Er, apakah benar?“ Kata katanya terdengar semakin berat dan pelan.
Guan Ning merasa kata katanya seperti ribuan paku yang beratnya ratusan kilogram memukul mukul kejantungnya.
Terdengar dia berkata lagi, “Bukan dia yang membunuh adikmu.… Mengapa dia harus
__ADS_1
Hati Guan Ning terasa sangat kacau.
Du Yu tertawa dengan sedih, “Untuk apa demi dirinya Anda harus berbohong. Aku sendiri melihatnya membunuh ayahku,walaupun aku tidak melihatnya membunuh Nang Er,tapi.…”
Guan Ning mencoba untuk menenangkan dirinya.
Dia tahu kalau dia terus seperti itu, kesalah pahaman ini akan semakin dalam, dia memotong kata kata Du yu dan menegakkan dadanya, “Sejak kecil aku selalu bersekolah, aku belum pernah berbohong,jika Nona percaya kepadaku, kau pun harus percaya bahwa bukan dia yang membunuh adikmu.…“
Du yu sedikit terpana, dia merasa kalau pemuda ini berkata dengan benar, sehingga membuat orang mempercayai kata katanya.
Guan Ning berkata lagi, “Tentang kematian ayahmu… Ling Ying saat itu masih muda, berkelana di dunia persilatan belum terlalu lama, mungkin Nona Du sudah salah lihat, dan Nona tidak bisa memastikan kalau itu adalah dia.”
Air mata Du Yu menetes lagi, pedang yang dipegangnya terjatuh ke bawah begitu saja.
Malam sudah tiba, kamar bertambah gelap. Du Yu masih berdiri dengan terpaku kemudian dia mundur beberapa langkah lalu duduk disisi ranjang.
“Tujuh tahun yang lalu, suatu malam. Ayah, Nang Er dan aku duduk di bawah sebuah pohon berbunga ungu yang merambat, cahaya bulan membuat bayangan rangkaian bunga ini terlihat panjang terjatuh ke tubuh ayah. Ibu membawakan sepiring semangka yang baru saja dipotong.”
Walaupun Guan Ning sangat disayang oleh ibu dan ayahnya tapi sepertinya dia belum pernah menikmati rasa ini.
Dia terpaku, Du Yu masih tenggelam dalam kebahagiaan tujuh tahun lalu dan untuk sementara melupakan kesedihannya sekarang ini.
Angin berhembus dari luar membawa masuk kedalam kegelapan yang lebih gelap lagi.
Guan Ning tidak bisa melihat dengan jelas wajah Du Yu, dia hanya bisa melihat tubuh Du Yu seperti kucing jinak, hatinya tergerak, dia segera teringat pada sesosok gadis polos seorang lagi.
Du Yu berkata, “Kami sedang makan semangka itu dengan nikmat, mendengar ayah bercerita Tentang jaman dulu, pada saat ayah masih muda saat ayah berkelana di dunia persilatan. Ibu menyandar ketubuh ayah. Nang Er menyandar ke tubuh ibu, matanya terpejam seperti tertidur. Kata ayah hari sudah malam,tidurlah. Tidak disangka,...tidak disangka...”
Hembusan nafas panjang mengakhiri kata katanya yang belum selesai.
__ADS_1
Guan Ning tidak ingin mendengar cerita berikutnya karena Guan Ning tahu kalau cerita Berikutnya pasti cerita sedih. Guan Ning tidak ingin mendengar cerita yang sedih berikutnya.
Tapi kaki Guan Ning tidak bergeser selangkahpun,
“Ayah baru saja berdiri, dari luar terdengar suara dingin seorang perempuan dan dia tertawa.
Suara perempuan itu berkata. Du....”
Dia tidak mengatakan nama ayahnya, dan terus berkata, “Perempuan itu menyuruh ayah cepat mati.... aku kaget dan mendekati ayah. Ayah berdiri tapi tidak bergerak, hanya mengelus rambutku, menyuruhku supaya jangan takut. Tapi aku merasa kalau ayah
Gemetar”
Mata Du Yu dipejamkan, dia seperti mengingat masa lalunya, menahan air matanya yang akan menetes.
Guan Ning mendengar nafas yang dihembus, dia takut hembusan nafas itu akan mengganggu pikiran Du yu.
Du Yu berkata lagi, “Suara itu sudah tidak terdengar lagi, lama tidak ada orang yang bicara, sambil mengelus kepalaku, ayah berpesan kepada ibu supaya cepat membawa aku dan Nang Er pergi dari sana, tapi ibu tidak mau, dia malah menyuruh orang yang berada diluar sana supaya cepat keluar.... apakah kau tahu kalau ilmu silat ibuku sangat tinggi....”
Dia tertawa sedih, seperti menertawakan dirinya sendiri, mengapa harus mengatakan hal hal yang tidak berguna pada orang lain. Tapi tawanya mengandung kemarahan.
Terdengar nafasnya bertambah berat.
“Kata kata ibu belum selesai, dari luar tiba tiba terasa ada Angin yang berhembus kemudian dihalaman sudah terlihat dua bayangan orang. Malam itu adalah malam terang bulan, di bawah sinar bulan terlihat kalau mereka adalah dua orang perempuan. Yang satu tampak lebih tua, yang satu lagi seumur denganku, mereka memakai baju dengan warna yang sama, aku terus melihat ke luar dinding,tapi aku tidak melihat bagaimana cara mereka bisa masuk.“
Hati Guan Ningterasa dingin, “Baju hijau?!“
Du yu tidak peduli dengan perkataan Guan Ning dan berkata lagi, “Ayah melihat mereka berdua,tangan yang mengelus kepalaku semakin gemetar, tapi dia tetap membentak dengan lantang, ‘Nona Cui Xiu, ada keperluan apa datang kemari?
Perempuan muda itu tertawa dingin lalu dari balik bajunya mengeluarkan sebuah bola besi berwarna hitam, dia melemparkan bola itu ke bawah dan berkata, “Namaku Ling ying.’ Ayahku melihat bola besi hitam itu dan mendengar nama gadis itu disebut,tiba tiba ayah mengangkatku dan melemparkanku keluar tembok. Aku takut sekaligus kaget, aku berteriak tapi sudah terlempar keluar tembok.“
__ADS_1
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123