
Masih banyak pesilat tangguh hanya karena mata uang ini mereka harus kehilangan nyawanya, juga banyak saudara atau teman baik hanya karena mata uang ini mereka meniadi musuh dan mati karena harus bertarung.
Seuntai mata uang sekecil ini ternyata lebih menarik dari seorang perempuan cantik dan harta yang berlimpah.
Tapi sekarang mata uang yang dicari cari oleh para pesilat dunia persilatan saat ini dipegang oleh Guan Ning.
Dia tahu setelah dia mendapatkan uang ini, dia bisa mempelajari ilmu silat nomor satu di dunia ini.
Jika Anda menjadi dia dan sekarang Anda sedang memegang seuntai Ru Yi Qing Qian, apakah Anda akan sama seperti dia? Atau hati Anda lebih bergejolak lagi?
Lama dan lama, dia baru teringat disisinya ada seseorang yang sedang terbaring karena keracunan.
Walaupun orang ini bukan temannya,tapi dia tidak akan lepas tangan dan tidak mau menolongnya.
Dia menghentikan pikirannya yang kacau, untaian uang itu dipungut lalu dibungkusnya dengan saputangan dan dimasukkan ke baju atas di bagian dadanya.
Dia membersihkan air hujan yang menetes kewajahnya lalu menggendong pelajar berbaju putih dan turun gunung.
Dia tahu jalan turun gunung sangat jauh, dalam waktu semalam ini dia telah melewati banyak peristiwa yang mengejutkan, sedih, dan kebingungan.... bermacam macam siksaan perasaan, lemas dan lapar....seharusnya dia tidak berani melakukan perjalanan panjang.
Apalagi dibelakang punggungnya masih ada seseorang yang terkena racun yang setiap saat bisa meninggal.
Anehnya, dia sekarang tidak merasa lelah atau langkahnya terasa berat, hati yang bergejolak,siksaan perasaan dan batin semua seakan telah hilang.
Sambil berjalan dia berpikir mengenai 16 kata yang tertulis di Saputangan itu.
“Apa arti dari keempat kalimat itu? Baris pertama semua orang Pasti mengerti. Sedangkan kalimat kedua adalah...." Dia membaca lagi, "Yang palsu bukan yang palsu. Yang asli bukan yang asli.“ Apa arti kalimat ini?
Dia berpikir. "Apakah orang dunia persilatan mengira yang palsu itu malah yang asli. Palsu dan asli sebenarnya sulit dibedakan. Angka sembilan dan satu dibalikkan. Apakah Ru Yi Qing Qian hanya ada sembilan untai dan yang palsu hanya ada satu?"
__ADS_1
Guan Ning menarik nafas lalu berkata pada dirinya sendiri, “Walaupun di dunia ini banyak orang bodoh tapi mengapa kau harus mempermainkan orang orang di dunia ini?"
Mengingat banyak orang persilatan yang mati hanya karena seuntai mata uang hijau ini, ada juga karena mata uang ini mereka sampai harus mengorbankan nyawanya.
Tapi pada terakhir Ru w Qing Qian tetap dibuang begitu saja. Dia merasa kasihan kepada orang orang itu.
Guan Ning kembali membaca kalimat itu. Dia merasa dari balik kalimat itu. Tetua pesilat tangguh ini berhasil mengalahkan semua pesilat tangguh yang ada di dunia persilatan, akhirnya yang dia dapatkan hanya kesepian, maka dia memutuskan untuk bersembunyi di gunung di tempat terpencil.
Dia merasa mengapa orang orang di dunia ini begitu bodoh? Mengapa dia harus
menurunkan semua ilmu silatnya yang tertinggi hanya untuk orang orang yang bodoh itu....
Guan Ning berkata sendiri lagi, “Mungkin ini adalah perasaan yang dialami oleh tetua itu, dengan semacam ramuan obat tetua itu menulis sembilan bagian ilmu silat tertinggi yang dia miliki dan memasukkannya ke dalam sembilan untai uang hijau.
Tapi dia pun tidak lupa membuat satu bagian yang palsu.... tampaknya waktu itu dia
Dia menarik nafas lagi lalu berpikir, "Mengapa orang orang yang berhasil mendapatkan seuntai uang itu tidak mencari tahu rahasia dibaliknya. Malah hanya ingin merebutnya.... orang hidup masih bisa tertipu oleh orang yang sudah mati. Pantas tetua itu begitu menyombongkan kepintarannya serta menertawakan kebodohan orang orang, hanya saja...."
Dia menghentikan pikirannya sebentar lalu melihat hujan yang sudah mulai reda.
Hutan yang bewarna hitam seperti mata raksasa yang dengan diam melihat bumi, seperti seorang raja yang sedang melihat kegiatan rakyatnya sambil menertawakan mereka.
Guan Ning berpikir lagi, "Orang pintar dan orang bodoh. Bumi dan langit apa bedanya? Jika kau adalah orang yang paling pintar, apa yang bisa kau dapatkan? Apakah kau akan membawa kesombonganmu hingga menjelang kematian? Jika kau selalu menyombongkan diri, bukankah seperti seorang jutawan pelit memegang dengan ketat uangnya sendiri?"
Hanya dalam waktu singkat pemuda yang tidak berpengalaman ini seperti mengerti banyak persoalan yang sebelumnya tidak begitu dimengerti.
Dia pun merasa orang yang ceria dan senang adalah orang yang bodoh, karena dia tidak perlu menahan rasa sepi seperti yang dilakukan orang pintar. Walaupun dia dipermainkan tapi dia tidak akan merasa kehilangan sesuatu.
Dia tertawa sendiri lalu berkata pada dirinya sendiri, “Mungkin ini adalah alasannya mengapa banyak orang merasa harus menjadi orang bodoh! Jika seseorang dalam hidupnya bisa sedikit berlaku bodoh, bukankah dia akan merasa lebih senang?"
__ADS_1
Kadang mengeluh, kadang tersenyum, hatinya sering bergejolak dan tidak tenang, hujan besar ini entah kapan baru akan berhenti.
Dia tidak tahu entah kapan jalan gunung mulai rata. Awan hitam tertiup angin. Dia baru sadar ternyata dia sudah berada di kaki gunung.
Di kaki gunung ada seorang penebang kayu tua sedang membuka membuka pintu rumahnya. Dengan terkejut dia melihat dan merasa aneh mengapa dibawah guyuran hujan yang begitu besar masih ada wisatawan turun dari gunung.
Dengan aneh dia melihat orang yang terluka di gendongan Guan Ning. Guan Ning berjalan mendekatinya.
Penebang kayu itu sangat berpengalaman, dia sudah mengetahui maksud pemuda berbaju mewah ini.
Karena itu dia segera bertanya, "Apakah temanmu terluka? Cepatlah bawa masuk dan buka pakaianmu yang basah untuk dikeringkan.“
Dengan aneh Guan Ning melihat penebang kayu tua ini, anehnya adalah kata kata paktua ini begitu sederhana dan terbuka.
Bagi pemuda yang sejak kecil sudah hidup mewah, seorang penebang kayu memanggilnya dengan panggilan 'Kau', ini benar benar peristiwa yang aneh.
Dia tidak tahu pak tua itu sudah hidup lama digunung, seakan akan semua membuat pak tua dan gunung ini seperti sudah menyatu.
Dia tidak iri dengan kekayaan milik orang lain, dia hidup dengan tenang digunung ini dan sepertinya gunung ini suka rela menerima kedatangan orang orang ke tempatnya.
selamat membaca dan menikmati novel ini,walapun mungikin masih ada kekuranagan dari cara saya menulis dalam membuat novel ini semoga para pembaca dapat terhibur dengan adanya novel ini,saya sebagai author sangat berterima kasih kepada para pembaca atas aspirasinya agar kedepannya novel ini menjadi lebih menarik lagi dan tentunya membuat para pembaca puas
salam hangat dari author
ardhy ansyah
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1