Misteri Teror Arwah Mika

Misteri Teror Arwah Mika
harapan yang tidak pasti


__ADS_3

Karena kaca rumah Alex tidak tembus cahaya siang, mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya. Setelah Alex selesai dipijat, dia bangkit dan mencoba berjalan. Meskipun belum pulih sepenuhnya, dia sudah bisa berjalan perlahan-lahan. Alex mempersilakan tukang pijat untuk duduk terlebih dahulu. Mereka semua kemudian minum kopi yang dibuat oleh Leo dan makan gorengan yang dibeli oleh Andri.


"Kapan kamu kecelakaan, Nak Alex?" tanya salah seorang warga.


"Semalam, Pak, waktu beli air untuk acara," sahut Alex.


"Ada yang nabrak atau gimana ya, Nak?" tanya bapak yang lain.


"Tidak, jadi saya ngebut terus tidak tahu kalau di situ ada tikungan, jadinya aku jatuh dan kehilangan keseimbangan," sahut Alex.


"Oh gitu. Lain kali hati-hati ya," ujar salah seorang bapak yang lain.


"Ya, Pak, makasih," sahut Alex.


Setelah berbincang cukup lama, mereka langsung pulang untuk segera berladang. Tak lupa, Alex memberikan amplop pada tukang pijat itu dan menyelipkan uang untuk orang yang mengantar-jemput tukang pijat itu. Setelah semua pulang, Leo pergi ke kandang ayam untuk memanen telur dan memberi pakan, sementara Andri pergi berladang di belakang kosan. Alex hendak bangkit untuk memasak sarapan, tetapi ponselnya berbunyi oleh telepon masuk. Dia langsung mengangkatnya dan ternyata itu orang yang menabraknya semalam.


"Halo, Nak, gimana kabarnya?" tanyanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Bu, baik," sahut Alex.


"Syukurlah. Jadi, semalam ada yang sakit atau terluka, atau motornya rusak tidak?" tanya orang itu.


"Kalau aku sih tidak, Bu, cuma lututnya yang agak nyeri. Tapi aku sudah dipijat kok, jadinya sudah lumayan membaik. Soal motor, hanya peot sedikit, tapi aku sudah bawa ke bengkel, jadi aman," jawab Alex.


"Oh gitu ya. Em, di bengkel mana, Nak, biar ibu bayar ongkosnya?" tanya ibu itu.


"Udah, Bu, gak usah. Selain itu, bengkel itu kebetulan punya teman saya yang banyak utang, jadi aku tinggal bawa ke situ aja. Hehehe," jawab Alex.


"Oh gitu ya. Sekali lagi, ibu meminta maaf ya, Nak, soal semalam. Ibu benar-benar tidak melihat kamu," ujar ibu itu.


"Ya, udah deh, kalau begitu, sehat-sehat ya, Nak. Nanti kalau ketemu lagi, ibu akan kenalkan kamu sama anak ibu, boleh kan?" ujar ibu itu.


"Boleh kok, Bu. Ini, mobil ibu gimana, ada kerusakan tidak?" tanya Alex.


"Cuma peot dikit, jadi aman lah. Lagian itu, mungkin pas nabrak motor, kamu kena bawahnya, paling jadinya peot deh. Tapi tidak apa-apa, kamu gak usah mikirin itu. Ibu bisa benerin sendiri kok," jawab ibu itu.

__ADS_1


"Boleh minta alamat ibu tidak?" tanya Alex.


"Boleh aja. Emm, mau apa, Nak?" tanya ibu itu.


"Ya, mungkin kalau sempat, aku mau silaturahmi ke rumah ibu," kata Alex memberi alasan.


"Ya udah, nanti ibu share lokasi. Maaf ya, Nak, ibu mau beresin rumah dulu, jadi udah dulu ya," ujar ibu itu.


"Iya, Bu. Maaf ya, Bu. Assalamualaikum," kata Alex.


"Waalaikumsalam," sahut ibu itu dan menutup teleponnya.


Setelah itu, Alex langsung menghubungi rekannya yang paham tentang mobil peot. Dia menyuruh orang itu untuk datang ke alamat ibu tadi. Alex juga bilang, jika ditanya siapa yang mengirim, jawablah dari Alex. Setelah menyelesaikan semua urusannya semalam, Alex pun langsung ke dapur untuk memasak sarapan pagi.


Tak butuh waktu lama, sarapan itu pun jadi, dan dia langsung pergi ke halaman depan untuk bersantai dan menunggu kedua saudaranya pulang dari bekerja. Saat dia baru saja duduk di kursi depan, dia langsung dihampiri oleh seorang dari kos putri. Dia menanyakan soal kejadian pagi tadi. Alex menjawab bahwa dia dipijat karena engsel kakinya tergeser sedikit. Mendengar itu, gadis itu lantas berlari ke arah Alex, tetapi Alex mencegahnya. Kemudian Alex bertanya tentang keadaannya sekarang, dan Alex menjawab bahwa dia sudah baik-baik saja. Kemudian Alex bertanya pada gadis itu tentang temannya yang kesurupan. Alex meminta gadis itu untuk memanggil orang itu agar dapat bertemu dengannya. Setelah mereka bertemu dan duduk di hadapan Alex, Alex langsung menanyakan perihal alamat sekolahnya. Kemudian dia memberi arahan pada gadis itu agar rencana mereka berjalan mulus. Gadis itu memenuhi seluruh syarat yang Alex berikan kepadanya, dan Alex menyuruhnya kembali untuk bersiap. Gadis itu pun kembali ke kosan untuk segera ke sekolah.


Sementara Alex kembali bersantai sembari sesekali memijat kaki yang masih agak nyeri. Gadis yang tadi bertanya pada Alex tiba-tiba datang kembali dan memberikan Alex segelas jus mangga yang dibuatnya sendiri. Alex pun menerima pemberian itu dan langsung menanyakan harganya. Gadis itu menegaskan bahwa dia harus membayar dengan membantunya nanti malam. Alex pun berkata sembari bercanda, "Oh, ini sogokan ya supaya aku mau membantumu." kata Alex. "Bukan kok, itu mah supaya kakak rileks aja. Aku minta tolong karena ada hal yang aku gak bisa lakukan," kata gadis itu memelas. "Oh, pasti mindahin lemari ya kan?" kata Alex bercanda. "Ih, bukan kak. Pokoknya kakak mau apa tidak nanti malam membantuku." tanya gadis itu. Alex pun berpikir sejenak, setelah mendapat jawaban yang pasti, ia langsung mengutarakan, "Emm, kalau aku tidak mau, ini jusnya kamu ambil lagi enggak?" tanya Alex. "Emm, ya enggak dong, kak. Tapi, please ya, aku butuh banget pertolongan kakak," pinta gadis itu memelas. "Ya udah deh, tapi aku tidak janji ya. Soalnya, aku belum pulih betul, jadinya kalau aku tidak bisa, kamu minta tolong aja sama Bang Leo atau pun Andri aja ya," tegaskan Alex. Gadis itu pun menyanggupi, dan dia langsung kembali ke kosan.

__ADS_1


Saat Alex baru saja berpaling, gadis itu memanggilnya dan mengembalikan jus itu. Namun, gadis itu menolak ketika Alex menawarkannya kembali dan ia langsung bergegas pergi meninggalkan sisi rumah Alex. Namun, tidak jauh dari situ, Alex memanggilnya kembali dan meminta bantuan untuk membuatkan teh hijau kesukaannya. Gadis itu pun kembali ke rumah Alex dan mengambil teh hijau miliknya. Kemudian, Alex meminta tolong agar teh itu dibuat dengan cepat dan tidak diberi gula. Gadis itu pun langsung kembali ke kosannya sembari berpikir dalam hatinya, "Semoga ini pertanda bahwa aku akan bisa membuatkan minuman untuknya setiap pagi nanti, setelah semuanya benar-benar resmi." Itulah harapan gadis itu dalam hatinya.


__ADS_2