Misteri Teror Arwah Mika

Misteri Teror Arwah Mika
Sebuah misi di balik mencintai Mika


__ADS_3

Namun di sana ia melihat banyak sandal seperti ada sebuah acara. Ia pun masuk dan betapa terkejutnya saat dia melihat Khanza mitona putri kiyai Halim, dia sedang duduk bersama pemuda tadi. Namun Alex hanya melihat sekilas kemudian dia segera mengambil barang-barangnya dan juga berpamitan dengan Kiyai Halim. "kiyai Halim saya pamit dulu ya." teriak Alex pada kiyai Halim. "oh mau pulang nak, ya sudah hati-hati ya." sahut kiyai Halim. Alex pun segera ke luar dari rumah kiyai Halim supaya Khanza tidak terus melihatnya. Namun Khanza langsung bangkit dan segera meraih tangan Alex. Ia kemudian menutupi mukanya dengan ujung kerudung. "Alex-kun, apa benar ini kamu. Kapan kamu datang." tanya Khanza pada Alex. Tapi Alex segera melepaskan tangannya dari genggaman Khanza. Kemudian dia langsung keluar dari rumah itu. Melihat Alex pergi Khanza pun kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil penutup muka miliknya. Setelah itu dia segera mengejar Alex sampai di parkiran. Pria tua dan pemuda itu pun ikut mengejar Khanza, tak terkecuali dengan kiyai Halim dan istrinya dia juga ikut mengejar Khanza. Mereka berdua sebenarnya agak khawatir dengan Khanza karena selama ini yang dia harapkan adalah kedatangan Alex kembali ke pesantren itu.

__ADS_1


Dengan usaha yang keras, akhirnya Khanza berhasil menyusul Alex. Tanpa basa-basi Khanza langsung memeluk erat tubuh Alex. Kemudian dia menangis di pelukan Alex sebagai tangisan rindu padanya. "gimana kabar kamu Alex." tanya Khanza pada Alex. "sudah lah lepaskan pelukanmu ini. Tidak enak di lihat oleh semua santri di sini." ujar Alex saat melihat sekelilingnya banyak santri yang memperlihatkan mereka. Namun bukanya mengendurkan dia justru semakin mempererat pelukannya. Sehingga datanglah kiyai Halim untuk memisahkan mereka berdua. Kiyai Halim sangat kesusahan karena begitu eratnya Khanza memeluk Alex. Namun dengan sedikit bantuan Alex akhirnya Khanza pun melepaskan pelukannya dari badan Alex. "terimakasih kiyai saya pamit dulu." kata Alex kemudian dia langsung menuju ke mobil dan meninggalkan pesantren itu secepatnya. Saat baru saja pergi dia mendengar teriakan Khanza yang memanggilnya dirinya. Namun Alex hiraukan itu karena dia tidak mau lagi berada di kehidupan Khanza. Dia pun langsung menuju ke apartemennya dan segera meluruskan persoalan dengan bundanya. Namun sepanjang jalan, masih terngiang teriakan Khanza di pikirannya. Alex merasa sudah keterlaluan kepada seorang wanita. Namun pikirannya itu dia tepis jauh-jauh karena hanya dengan hal seperti itu lah dia bisa menjauh dari kehidupan Khanza.

__ADS_1


Alex pun langsung memarkirkan mobilnya saat telah sampai di apartemen milik keluarganya. Dia kemudian berjalan menuju lift untuk segera menemui bunda nya. Setelah sampai di lantai tempat apartemennya berada dia langsung masuk ke dalamnya. Di lihatnya Syifa sedang mengompres tangan bundanya yang memerah. Alex pun datang dan segera mencium tangan bundanya. Bunda Alex terus menatapnya dengan tatapan yang sinis kepada Alex. "ohh masih berani ya kamu pulang ke sini." tanya bunda pada Alex. "emang kenapa Bun, aku enggak boleh lagi ya datang ke sini." tanya Alex lembut pada bundanya. "terserah kamu saja lah, kamu itu sudah dewasa kan kamu juga sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi tidak perlu bunda kasih tau kan." ujar bunda pada Alex. "ya sudah jika begitu besok aku bakalan pulang ke Indonesia saja. Tapi aku mau nanya satu hal sama bunda. Kenapa bunda memperlakukan Mika seperti itu tadi. Memang salah dia apa." tanya Alex pada bunda. "bunda kan sudah bilang, kamu itu sudah dewasa dan tau mana baik dan buruk. Jadi pikirin aja sendiri kesalahannya apa. Lagian dia kan pacar kamu." ujar bunda pada Alex. "gimana aku mau tau, tiba-tiba bunda ngebentak Mika dan nampar aku tanpa kami tau alasannya apa." kata Alex. "sudahlah bang biarin bunda tenang dulu. Kasihan tangan bunda memerah setelah menampar Abang tadi." ujar Syifa. Alex pun segera masuk ke kamarnya dan langsung ingin memainkan ponsel miliknya agar dia sedikit lebih tenang. Namun Alex tidak mendapati ponsel itu ada di tas ranselnya. Alex kemudian keluar untuk mengecek di mobilnya apa ponselnya ada di sana. Namun di mobilnya pun tidak ada, dia kemudian mencari lagi di sekitar kamarnya tapi ponselnya tidak ia jumpai juga. Akhirnya dia meminjam ponsel kepada Syifa untuk sekedar melacak ponsel milik Alex. "dek Abang minjam ponsel kamu soalnya Abang lupa ponsel Abang di mana." pinta Alex pada Syifa. Syifa pun memberikan ponselnya dan Alex langsung menghubungi ponsel miliknya itu. Teleponnya pun tersambung dan akhirnya ada yang mengangkatnya. "halo selamat sore." kata seorang dari seberang telepon. "iya selamat sore anda siapa ya. Kenapa ponsel saya berada di tangan anda." tanya Alex pada orang itu. "oh nak Alex, ponsel nak Alex tertinggal tadi. Mungkin nak Alex terburu-buru saat melihat putri kami." ujar orang itu yang ternyata Kiyai Halim. "oh kiyai Halim rupanya. Ya sudah nanti setelah isya saya ke situ untuk mengambilnya. Terimakasih kiyai sudah mau menjaga ponsel saya." kata Alex pada kiyai Halim. " iya nak sama-sama. Nanti saya tunggu ya." ujar kiyai Halim. "ya sudah assalamualaikum." kata Alex. "waalaikum salam." sahut kiyai Halim. Setelah mengetahui keberadaan ponselnya Alex pun merasa lega. Namun dia tak begitu khawatir karena di jepang jika ada barang apapun di jalan maka orang-orang di sana pasti akan memberikan kepada pos polisi terdekat supaya jika ada yang mencarinya tidak terlalu sulit. Setelah mengakhiri obrolan itu Alex segera memberikan ponsel itu kepada adiknya. "udah ketemu bang ponselnya di mana." tanya Syifa pada Alex. "sudah ada di rumah kiyai Halim ternyata." sahut Alex. "Abang kapan ke rumah kiyai Halim rupanya. Ngapain juga ke sana." tanya Syifa pada Alex. "tadi gak sengaja ke situ, setelah pulang mengantarkan Mika. Abang juga singgah ke rumah Kiyai Halim karena di suruh mampir tadi." kata Alex. "Halah bohong. Abang paling mau ketemu sama anaknya kan. Siapa ya namanya, kalau gak salah Khanza." ujar Syifa. "enak aja enggak lah. Abang juga gak tau tiba-tiba aja ada di pesantren itu. Lagian Abang juga gak ada rasa sama Khanza. ingat itu." kata Alex pada Syifa. "kalau sama dia bunda justru setuju, dia baik, cantik, Solehah lagi. Enggak kaya si Mika itu, sudah muka pas-pasan gak punya agama lagi. Ihh." kata bunda pada Alex. "sudah lah bunda Mika jadi urusan aku aja." kata Alex pada bunda tak suka jika Mika terus di ejek olehnya. "pokoknya besok kamu harus ta'aruf sama anak dari kiyai Halim dan segera melangsungkan pernikahan dengannya."kata bunda pada Alex. "pokoknya aku gak mau. Aku laki-laki tidak berhak untuk di paksa soal pernikahan. Aku memilih Mika bukan karena kecantikannya. Tapi sebuah misi yang kalian semua tidak ketahui." ujar Alex kemudian dia masuk ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2