Misteri Teror Arwah Mika

Misteri Teror Arwah Mika
Seorang guru yang berhasil


__ADS_3

Tamunya pun duduk di sisi Alex yang kebetulan sedang menyeruput secangkir kopi. Tamu itu melihat Alex sejenak kemudian dia memicingkan matanya dan memiringkan senyumnya. "hei anak muda mau apa kamu ke sini." kata seorang bapak tua pada Alex. "tidak ada apa-apa. Saya kebetulan berhenti di sini dan sekalian bertamu kepada kiyai Halim." sahut Alex. "oh aku kira kamu mau ta'aruf sama anak beliau. Jika benar demikian mending kamu cepat pergi deh, supaya ta'aruf anak saya tidak ada gangguan." kata bapak tua tadi. "sebentar lagi juga saya akan pergi dari sini, tidak usah takut, karena anak beliau bukan tipe saya, dan saya sudah memiliki calon." sahut Alex kemudian kembali menyeruput kopi nya. "halah tidak usah mengelak kamu itu belum melihat betapa cantiknya anak Kiyai Halim jadi tidak usah banyak bicara dulu." kata anak yang bersama bapak tua tadi. "sudah-sudah, jika kedatangan anda ingin menta'arufkan putra anda maka tunggu sebentar karena dia sedang beristirahat." ujar kiyai Halim. Kemudian istri kiyai Halim datang membawakan sepoci teh dan beberapa camilan. Kemudian dia menawarkan kopi kepada Alex. "nak apa kamu mau nambah kopi lagi." tanya istri kiyai Halim. "tidak usah umi, terima kasih, ini saja belum habis." kata Alex menolak halus. Mendengar istri kiyai Halim mengucapkan kata "nak" pada Alex membuat mereka sedikit kikuk. Mereka berdua tidak percaya orang modelan seperti Alex menjadi anak kiyai. "maaf kiyai Halim apa pemuda ini putra anda." tanya pak tua kepada kiyai Halim. "bukan saya bukan anak beliau, kan tadi sudah saya beritahu, jika saya ini adalah tamu beliau." kata Alex. "syukurlah kami memang tidak percaya jika anda adalah putra dari kiyai Halim karena tidak mungkin orang seperti anda menjadi putra nya." ujar pak tua itu. "maaf pak. Sepertinya iqomah sudah mau di dirikan dan para santri sedang menunggu anda. Alangkah baiknya kita segera ke masjid supaya mereka tidak menunggu lama." ujar Alex kepada kiyai Halim. "iya betul juga, pak, nak sekarang kita shalat dulu ya. Setelah itu kita lanjutkan lagi." kata kiyai Halim pada dua tamu itu.

__ADS_1


Mereka kemudian berjalan menuju ke masjid dan diam-diam Alex memberi kode pada kiyai supaya para santri tidak membongkar kedoknya di depan dua tamu sombong itu. Sebelum itu Alex bertemu dengan akito muridnya dahulu. Kemudian dia mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Alex. Namun Alex segera menolak dan memberi isyarat kepada nya agar berpura-pura tidak mengenali dirinya. Akito kemudian berjalan di samping Alex dan hanya diam supaya tamu itu tidak curiga kepada mereka. Setelah sampai di pelataran masjid mereka langsung masuk. Sementara Alex langsung ke tempat wudhu karena dia belum mengambil air wudhu. Tepat setelah selesai wudhu iqomah pun berkumandang. Alex segera memasuki masjid dan tak di sangka dirinya di suruh menjadi imam, karena Alex tidak mau, dia langsung mendorong tamu kiyai Halim tadi untuk mengimami shalat. Dengan kesombongannya dia memimpin shalat Dzuhur itu. Ia seperti ingin menunjukan kebolehannya menjadi seorang imam.

__ADS_1


Karena waktu sudah hampir sore maka Alex berpamitan kepada akito untuk pulang. Akito pun mempersilahkan Alex dan tak lupa dia bersalaman serta mencium tangan Alex. Alex pun berlalu meninggalkan akito yang masih terpatung memandangi gurunya itu. Alex kemudian menuju ke parkiran mobilnya dan segera masuk ke dalamnya. Tapi ia baru saja ingat jika kunci dan tas miliknya tertinggal di rumah kiyai Halim. Dengan terpaksa dia pun harus kembali ke sana dan mengambil barang-barangnya itu.

__ADS_1


__ADS_2