
Liana begitu kaget, rupanya bukan hanya dia yang di teror oleh arwah Mika namun temanya juga di teror olehnya. Ia pun bimbang untuk melanjutkan berdagang karena rasa takut yang tiba-tiba menghantuinya. Namun ia tetap memaksakan untuk berdagang karena dari situ lah ia belajar mandiri. Ia pun segera mengangkat gorengannya yang sudah matang dan mematikan kompor yang ada panci masakannya. Setelah itu ia memasukan adonan gorengan lagi ke minyak dan lanjut menggoreng supaya pikirannya teralihkan. Tak lama setelah itu seseorang pembeli pun datang dan membeli barang dagangan Liana. Liana pun melayaninya sembari sesekali memperhatikan pembeli itu. Ia takut jika dia adalah jelmaan dari arwah Mika. Setelah melayani pembeli itu Liana kemudian melanjutkan menggoreng lagi, ia menyelinginya dengan membungkus nasi sembari mendengarkan musik. Sejenak Liana melupakan hal yang menimpa dirinya dan juga kabar dari temannya. Ia tak habis pikir jika Mika sampai seperti itu, ia sudah tidak ada namun banyak kejadian yang seolah mengisyaratkan ia butuh dengan dirinya. Tapi rasa takut lah yang membuat Liana tidak memahami situasi itu dengan jelas. Setelah semua barang dagangannya telah di sajikan Liana pun duduk menunggu pembeli datang sembari memainkan sosial medianya. Ia membaca artikel tentang kenapa arwah bisa gentayangan padahal dia orang yang baik. Di sebutkan di dalam artikel itu bahwa arwah bisa gentayangan jika ada suatu hal di dunia yang belum ia tuntaskan dan tidak ada yang mengetahui hal tersebut kecuali dirinya. Oleh sebab itu arwah orang tersebut akan bergentayangan guna menyelesaikan masalahnya di dunia. Liana kini sudah paham dengan situasi tersebut, ia memutuskan untuk bertemu dengan seorang temanya yang katanya bisa melihat makhluk halus.
__ADS_1
Cahaya pagi pun bersinar cukup terang, di musim panas ini pagi seperti agak sedikit cepat dari biasanya, dan sore akan terasa sedikit lama. Seperti biasa jika hari sudah mulai terang Liana kebanjiran pembeli, untung saja ia sudah mempersiapkannya walaupun harus mendadak karena kejadian semalam. Setelah semua barang dagangannya habis, Liana pun langsung kembali ke rumahnya untuk bersiap menuju ke sekolah. Liana bergegas mandi dan langsung mengganti pakaiannya serta langsung menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya. Saat sampai di ruang makan Liana melihat ayahnya sedang menelpon seseorang, ia nampak serius dengan percakapan itu namun sesaat kemudian telpon pun di tutup. "ayah tadi nelpon siapa." tanya Liana. "ini rekan bisnis ayah yang akan menjadi konsultan di perusahaan ayah. Katanya ia mengundurkan waktu pertemuan karena suatu alasan yang tidak bisa di sebutkan, jadi ayah hanya bisa menunggu dia beberapa saat lagi." sahut ayah. "ya udah kalau begitu yang sabar ya ayah insyaallah nanti akan ada jalan terbaik buat ayah." sahut bunda sembari memberi piring berisi makanan pada ayah. Mendengar hal itu Liana agak sedikit tidak sabar dengan konsultan ayahnya itu. Ia merasa ingin cepat-cepat bertemu dengan konsultan ayah nya agar pikirannya menjadi sedikit tenang. Namun pikiran dan perasaan itu ia tepis jauh-jauh karena ia yakin orang yang akan menjadi konsultan ayahnya bukan orang muda lagi melainkan sudah memiliki keluarga. Liana pun hanya terdiam sembari menyuapkan makanan di mulutnya. Pikirannya selalu ingin cepat bertemu konsultan itu namun ia selalu menepisnya karena di rasa terlalu berlebihan.
__ADS_1
Pagi itu Alex bangun dengan sangat malas, ia di bangunkan oleh alarmnya yang ia pasang semalam sebelum tidur. Setelah ia bangun Alex langsung menuju ke kamar mandi untuk buang hajat dan berwudhu. Setelah itu ia langsung pergi ke masjid untuk menunaikan shalat subuh secara berjamaah di sana. Ia berjalan sempoyongan karena masih merasa ngantuk yang teramat sangat. Alex tak sadar jika ia sedang di awasi oleh sepasang mata yang seperti ingin membalaskan sesuatu padanya. Tak lama kemudian sampailah Alex di masjid itu, ia langsung menunaikan shalat sunah dan segera duduk di barisan paling awal. Sesaat kemudian iqomah pun berkumandang dan ia di tunjuk oleh seseorang untuk mengimami shalat subuh itu. Tanpa penolakan Alex pun segera maju dan mengimami shalat subuh dengan sangat syahdu. Setelah selesai shalat Alex kemudian memberikan sedikit tausiyah pada mereka dan banyak dari mereka yang mendengarkan tausiyah Alex hingga selesai. Setelah menyelesaikan tausiyah itu Alex langsung kembali ke apartemennya. Ia kemudian mandi dan bersiap untuk menjemput kekasihnya. Setelah mandi Alex langsung menuju ke dapur menanyakan sarapan pada bunda. Namun ternyata mereka sudah menunggu di sana untuk makan bersama. "kak anterin aku ya ke sekolah." kata Syifa pada Alex. "males ah kakak mau nganterin Mika soalnya." sahut Alex. "ihh kak bareng aja pake mobil kita, lagian aku sama kak Mika searah kok." kata Syifa memaksa. "udah anterin aja sesekali kamu disini lho." kata ayah membela Syifa. "iya deh tapi gak usah banyak tingkah kamu nanti. Kalau sampai banyak tingkah kakak turunin nanti di jalan." kata Alex mengancam. "iya deh abangku yang super baik." kata Syifa memuji Alex. Setelah itu Alex langsung pergi ke parkiran dan segera memanasi mobilnya. "yah mobil aku jarang di pake ya." tanya Alex pada ayahnya yang sama-sama sedang memanasi mobil. "di pake kok kemarin ayah make buat ke mall. Ayah agak sedikit gak nyaman soalnya pake mobil itu, jadinya sesekali doang ayah makenya." sahut ayah. "ya elah gaya bener gak mau make beginian." sahut Alex meledek ayahnya. Setelah di rasa cukup panas Alex pun memanggil Syifa untuk segera berangkat karena waktu sudah agak siang. Syifa pun segera datang ke parkiran dan melihat Alex sedang menunggu di mobil nya. "kak, Kakak beneran pake mobil ini." tanya Syifa pada Alex. "lha emang kenapa. Ada yang salah ya." tanya balik Alex pada Syifa. "ya enggak sih, cuma ya apa gak berlebihan kalau make mobil ini." jelas Syifa. "aduh udah lah kalau mau di antar Abang ya ayok, kalau enggak ya sudah." ujar Alex kemudian memasuki mobilnya. Karena ayah sudah berangkat Syifa pun langsung ikut Alex memasuki mobilnya. Setelah itu mereka langsung meluncur ke arah rumah Mika. Tak lupa mereka berdua pamitan dengan bunda. Sepanjang jalan tidak seperti biasanya Syifa hanya diam saja. Ia seperti menyembunyikan sesuatu tentang mobil itu. "dek kenapa sih sama mobil ini, tolong jujur sama kakak." tanya Alex sedikit mengancam. "enggak ada apa-apa kok kak. Ya aku cuma enggak enak aja di antar mobil mewah ini ke sekolah." kata Syifa beralasan. "udah dek sekarang kamu jujur ada apa dengan mobil ini. Kakak enggak mau di bohongi." ujar Alex
__ADS_1